Tiga Tahun Penantian

Tiga Tahun Penantian
Bab 14


__ADS_3

Waktu terus berjalan begitu saja. Dan tepat hari ini adalah hari lebaran yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Sonya menangis terduduk setelah selesai sholat Ied.


"Nenek, maafkan Sonya" gumam Sonya lirih nyaris tidak terdengar.


Sonya menggenggam erat tangannya, entah bagaimana cara mengekspresikan hatinya saat ini. Seharusnya ia tengah berkumpul bersama keluarga besar lainnya, tapi justru ia memilih bertahan di kota orang.


Sonya terlalu malu untuk menampakkan wajahnya di hadapan keluarga besarnya. Tentu saja karena berita tentang lamarannya sudah menyebar, dan akhirnya dibatalkan begitu saja.


Sonya terus menangis karena ia tahu persis pasti saat ini neneknya juga menangisi Sonya yang memilih tidak pulang ke kampung halaman. Sonya seakan menutup dirinya dari lingkungan keluarganya.


"Hallo Nya, kamu bagaimana?" tanya Vera melalui video call.


"Aku baik-baik saja"


"Aku sebenarnya tidak tega meninggalkan kamu sendirian, tapi kamu begitu keras kepala tidak mau pulang" ujar Vera terlihat sedikit kesal.


Sonya hanya terkekeh melihat sahabatnya mengomel. Memang benar yang dikatakan Vera, harusnya Sonya tidak keras kepala untuk tetap bertahan di Solo seorang diri.


"Kemarin Arya mengirim pesan" ujar Sonya sedikit gemetar.


Sonya memang masih suka menangis ketika mengingat Arya. Apa lagi hubungan mereka berakhir begitu saja.


"Untuk apa dia masih menghubungimu?"


"Entah, dia hanya meminta maaf karena sudah memilih pergi"


"Maaf? Cihh, dasar tidak tahu malu" cibir Vera sinis.

__ADS_1


"Dia mengatakan apa lagi?"


"Tidak ada, hanya itu saja"


Vera menekuk wajahnya kesal ketika mengetahui bahwa Arya masih menghubungi Sonya


"Lain kali tidak usah dibalas. Kalau perlu blockir saja nomornya. Aku tidak ingin kamu kembali bersedih. Hidup tanpa harapan seperti mayat hidup"


Sonya lagi-lagi terkekeh mendengar celotehan Vera. Padahal Vera lebih muda dari Sonya, tapi tentang percintaan tentu Vera lebih unggul dibanding Sonya.


Setelah panggial video tersebut berakhir, Sonya menengadahkan kepalanya. Ia menatap awan dan beberapa burung yang berterbangan di langit. Semua kenangan indah tiba-tiba terlintas kembali.


Senyuman terukir indah ketika Sonya mengingatnya. Namun senyum tersebut perlahan memudar dan menjadi raut wajah sedih. Sebuah serpihan kaca seperti tengah menusuk dasar hatinya. Wajahnya menjadi berubah murung, seperti halnya langit yang kini perlahan menjadi mendung seperti merasakan kepedihan Sonya.


***


Sonya sudah mulai aktivitas kerja setelah libur selama seminggu. Ia kini bekerja sendiri, Vera sudah memilih resign dan tidak bisa menemani Sonya kembali.


"Huh, biasanya ada Vera yang menemani. Sekarang apa-apa sendiri. Jadi ingin kembali ke kantor cabang Purwokerto saja" gerutu Sonya pelan.


Sonya memasang airpods di telinganya, sambil menikmati makan siangnya sendirian. Sonya sekarang sedikit susah bergaul. Bahkan tidak mau berbicara terlebih dahulu jika tidak kenal.


Puk! Puk!


Sonya terlonjak kaget saat pundaknya ditepuk oleh seseorang. Ia melepas airpodsnya dan menoleh secara langsung.


"Ada apa?" tanya Sonya dingin.

__ADS_1


"Emm, boleh makan bareng?"


Sonya hanya menangguk dan menyuruh orang tersebut segera duduk. Kemudian Sonya hanya fokus kembali kepada makanannya.


"Aku anak baru di sini? Boleh berteman?" tanya seorang laki-laki tersebut.


Sonya hanya mengangguk dan terus melanjutkan makannya. Sikap Sonya membuat laki-laki tersebut sedikit canggung. Sonya dapat menangkap hal tersebut dari raut wajahnya.


"Makan dulu, baru ngomong" ujar Sonya terlihat tidak enak kepada orang tersebut karena sudah mengacuhkannya tadi.


"Ehh, iya maaf" balas laki-laki tersebut dan langsung menghabiskan makanannya.


Melihat seorang laki-laki sebagai karyawan baru dan mengajaknya berkenalan, membuat Sonya kembali mengingat sosok Arya. Dulu juga Arya seperti ini, dan berakhir menjadi sangat dekat hingga nekat berpacaran.


Mata Sonya sudah terlihat berkaca-kaca. Sonya segera menatap ke atas untuk mencegah air matanya turun.


"Ehm, kamu kenapa?"


Sonya langsung mengedipkan matanya cepat agar bisa kembali menguasai diri.


"Tidak apa-apa" jawab Sonya sambil beranjak bangkit dan melangkah pergi.


"Tunggu" cegah laki-laki tersebut.


Sonya hanya berhenti tanpa menoleh kembali ke belakang. Ia hanya menunggu apa yang akan laki-laki tersebut tanyakan. Dan kini laki-laki tersebut bahkan sudah ada di sebelahnya.


"Siapa namamu? Oh iya perkenalkan, namaku Anwar" ujar laki-laki tersebut sambil menjulurkan tangannya.

__ADS_1


"Sonya"


Setelah menjawab itu, Sonya benar-benar langsung pergi dan kembali ke ruangan kerjanya. Bukannya sombong, Sonya hanya tidak ingin terlalu dekat dengan laki-laki. Dan perkenalnnya dengan Anwar tadi membuat Sonya teringat dengan sosok Arya yang mungkin saat ini tengah berbahagia dengan Myra.


__ADS_2