
Keadaan semua telah berubah. Sonya benar-benar mencoba menetap di kota Solo. Sebenarnya Sonya sangat merindukan rumah dan keluarganya, tapi ia merasa belum cukup kuat mental untuk menghadapi keluarganya.
Sonya sebenarnya sudah mengikhlaskan dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Namun tidak dengan neneknya. Bahkan nenek Sonya jadi sering sakit-sakitan mendengar Arya telah menikah dengan wanita lain. Semua itu yang membuat Sonya belum berani pulang. Dia lebih fokus ke pekerjaannya saat ini.
"Huft, mau sampai kapan aku seperti ini terus. Aku harus bangkit. Kamu pasti bisa Sonya" gumam Sonya menyemangati dirinya sendiri.
Ketika tengah fokus dengan pekerjaannya, sebuah tepukan di bahu Sonya membuatnya terkejut.
"Ada apa?"
Sonya menatap datar ke arah Anwar yang justru tengah tersenyum kepadanya.
"Eh ini Mbak, anu" ujar Anwar gagap.
"Anu apaan?" tanya Sonya tidak sabar.
"Udah jam istirahat, ke kantin bareng yuk"
Sonya memutar bola matanya merasa jengah dengan kehadiran Anwar. Bukan membenci, hanya saja ia malas berurusan dengan laki-laki jika itu tidak penting.
__ADS_1
"Duluan aja" jawab Sonya malas.
"Yah kalau mau duluan, percuma dong Mbak aku ke sini"
Sonya hanya menutup pekerjaannya dan langsung bergegas menuju kantin tanpa menjawab perkataan dari Anwar. Semakin dijawab, semakin banyak alasannya. Mungkin jika semakin cepat dia makan, semakin cepat juga menghindar dari laki-laki tersebut.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Sonya. Dan pengirim pesan tersebut adalah Myra. Karena sonya pikir Myra sudah berubah, akhirnya ia langsung membuka pesan tersebut.
"Mbak, kamu masih menyimpan barang produksi milik suami aku tidak? Dulu kan katanya akan dikembalikan setelah perhitungan dalam pekerjaanmu selesai"
"Suruh minta sendiri saja" balas Sonya cuek.
Ting!
"Kalau suami aku minta sendiri ke Mbak, yang ada nggak bakalan dikasih sama Mbak"
"Lagian Mbak seperti tidak tahu malu banget. Mbak nggak malu apa memeras laki-laki sampai segitunya"
__ADS_1
"Bahkan suami aku ke rumah bawa bolu aja yang katanya mau dibayar, ehh malah nggak dibayar"
"Malu kan Mbak, aku bongkar semua aib kamu"
Sonya merasa geram dengan semua kalimat yang Myra tulis. Bahkan ia meremas kuat sendok yang tengah ia pegang.
"Apa? Meremas harta laki-laki? Hanya karena barang itu yang senilai Rp 100.000, hanya karena setiap keluar jalan aku dikasih jajan paling seharga Rp 20.000? Dan apa itu, bolu yang dia bawa ke rumah? Ah astaga, aku kira karena dia inisiatif membawa buah tangan jika ke rumahku. Ternyata ia mengharapkan bayaran yah. Seberapa banyak sih yang sudah Arya berikan kepadaku. Sekaya apa sih sampai mengumpat aku itu matre hah? Bahkan aku yang menemani dia dari 0. Apakah dia tidak berfikir apa yang sudah aku korbankan? Ah benar-benar pasangan tidak punya otak" umpat Sonya dalam hati.
Sonya menyesal telah menyangka Myra sudah berubah menjadi baik. Tapi ternyata sama saja. Myra tetaplah menjadi wanita yang mempunyai banyak muka, sampai-sampai Sonya terkecoh dengan muka seakan penuh penyesalan.
Sonya kini hanya mengacak-acak makanannya penuh kesal. Ia justru menyesal karena dibilang matre tapi tidak mendapatkan apa-apa dari Arya.
Tanpa Sonya sadari, Anwar sedari tadi menatap Sonya kebingungan. Pasalnya tatapan Sonya lurus ke depan tapi terlihat jelas ada amarah di dalamnya, dan makanannya sudah tidak berbentuk saat ini.
"Mbak, are you okay?" tanya Anwar khawatir.
Sonya tersentak kaget mendengar pertanyaan Anwar. Ia tidak sadar bahwa saat ini ia tengah bersama Anwar dan sedang berada di tempat umum.
Sonya langsung pergi meninggalkan Anwar sendirian. Ia sudah tidak peduli dengan sekitar. Yang ia inginkan hanya menenangkan dirinya saat ini. Entah kenapa Sonya merasa begitu sakit hati dikatai matre oleh orang yang sudah ia temani dari 0 dan juga orang yang telah ia berikan segalanya.
__ADS_1