Tiga Tahun Penantian

Tiga Tahun Penantian
Bab 15


__ADS_3

Sonya kini sudah terbiasa untuk mandiri. Apa pun ia lakukan sendiri. Tanpa kekasih, tanpa sahabat yang selama ini memberi support padanya.


"Sonya, nanti setelah laporan itu selesai tolong kamu ke ruangan saya" ujar Deny kepada Sonya.


"Baik Pak" jawab Sonya sopan.


Sonya bergegas melanjutkan pekerjaannya. Fokusnya saat ini hanya bekerja, karir, dan keluarga. Tidak ada lagi kamus percintaan untuk saat ini.


"Ah, akhirnya selesai juga"


Sonya langsung beranjak untuk menemui managernya. Entah ada hal penting apa sampai-sampai Sonya dipanggil ke ruangannya.


"Permisi Pak" sapa Sonya setelah mengetuk pintu.


"Silahkan duduk Sonya. Ada yang ingin saya bicarakan"


Sonya hanya menurut untuk duduk di hadapan Deny. Jantungnya berdetak cepat, takut ia melakukan kesalahan belakangan ini. Namun jika diingat kembali, kinerja Sonya bahkan berubah lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


"Sonya, sudah lama kamu bekerja di sini. Sudah saatnya kamu mencoba melatih anak baru dan menjadi supervisior" ujar Deny tegas.


"Apakah saya tidak salah dengar Pak?" tanya Sonya sedikit tidak percaya.


"Ya tentu saja tidak salah. Mulai besok kamu harus lebih giat lagi bekerja. Saya angkat kamu menjadi supervisior sejak hari ini" jawab Deny sambil menjabat tangan Sonya.


Sonya mengangkat tangannya untuk membalas jabatan tangan Deny. Entah mimpi apa ia semalam, hingga siang ini ia mendengar kabar membahagiakan ini.


"Terima kasih Pak" tunduk Sonya hormat.


"Ya, kamu bisa keluar sekarang"


****


Sonya yang baru saja selesai menunaikan sholat maghrib berniat mengecek ponselnya sebentar. Sebuah notifikasi menarik perhatiannya dan membuka pesan tersebut.


...ARYA BAGAS SAPUTRA...

__ADS_1


...&...


...MYRA OKTRIANI...


Sebuah sampul undangan terpampang jelas dalam ponsel Sonya.


"Hallo Mbak, jangan lupa datang ya ke perniakahan aku dan calon suami aku" isi pesan tersebut.


Air mata Sonya lagi-lagi luruh tanpa permisi. Padahal kemarin ia sudah biasa saja ketika mengingat Arya. Tetapi entah kenapa saat ini ia tidak bisa menahan emosi dalam hatinya.


'Baru satu bulan hubungan kita berakhir. Dan kini undangan ini telah sampai padaku. Bukankah dulu harusnya namaku yang bersanding dengan namamu? Mengapa sekarang justru namaku berada dalam daftar tamu undangan?' ujar Sonya dalam hati.


Bohong jika Sonya mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Bohong jika Sonya tidak begitu terpukul hatinya, meskipun ia sudah mengetahuinya beberapa waktu lalu. Sonya hanya kecewa mengapa Arya tidak cukup dengan satu wanita. Dan juga mengapa Arya tidak mengatakan sejak awal bahwa ia menghamili Myra. Justru malah harus membuat Myra berkali-kali meneror Sonya, hingga membuat kesehatan mental Sonya sempat terganggu.


Dengan keadaan masih menggunakan mukenah, Sonya kembali bersimpuh menumpahkan air matanya.


"Tuhan, aku sudah kotor. Bahkan orang yang membuatku kotor telah pergi memilih wanita lain. Cabut saja nyawaku Tuhan. Aku malu. Aku malu dengan dosa-dosaku di masa lalu. Aku malu suatu saat nanti harus jujur kepada calon suamiku" gumam Sonya di tengah isakannya.

__ADS_1


Semua bayang masa lalunya kembali hadir membuat Sonya makin tersedu. Keadaan dimana ia dipaksa menuruti keinginan Arya, dan kini sangat ia sesali semuanya. Tangisan Sonya tak kunjung berhenti, membuatnya sedikit susah bernafas. Bahkan suaranya saja sudah mulai melemah.


"Cabut saja nyawaku Tuhan" ujar Sonya pelan sebelum semuanya menjadi gelap dan Sonya tak sadarkan diri.


__ADS_2