
"Ya ampun Sonya, kok sekarang kamu terlihat kurusan ya? Kamu sedang diet?" tanya Vera yang melihat Sonya makin hari makin kurus.
"Ah tidak, aku masih menjaga pola makanku seperti biasa" jawab Sonya bingung.
Sonya memang sedang tidak melaksanakan program diet, tapi Sonya juga merasa baju yang ia pakai semakin longgar.
"Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?"
Sonya hanya membuang nafas saat mendengar pertanyaan Vera. Tentu saja ada hal yang mengganggunya akhir-akhir ini. Sonya tidak pernah seserius ini memikirkan masalah hati, tapi kali ini benar-benar mengusik kehidupannya.
"Kamu pun tahu jawabannya Vera" jawab Sonya masih tersenyum.
"Sudah-sudah. Jodoh tidak akan kemana Sonya. Jangan terlalu banyak fikiran, percaya saja pada Arya" ucap Vera sedikit menenangkan Sonya.
Sonya hanya tersenyum dan mengangguk mendengar nasihat dari Vera. Apa lagi hubungannya dengan Arya masih berjalan dengan baik. Bahkan Arya semakin bersikap manis kepada Sonya akhir-akhir ini.
Vera dan Sonya akhirnya berjalan beriringan ke arah pasar tradisional. Ini hari minggu, tentu saja mereka gunakan untuk jalan-jalan dan berbelanja sayuran. Di tengah perjalanan Sonya kembali bertemu dengan Mustofa, laki-laki yang sempat ingin melamarnya namun ditolak secara halus oleh Sonya demi Arya.
Mustofa tersenyum manis kepada Sonya. Mungkin jika Mustofa hadir sebelum Arya, Sonya akan lebih memilihnya. Namun takdir baru mempertemukan mereka beberapa bulan yang lalu. Kedua pasang mata mereka bertemu, masih terlihat begitu jelas rasa tulus dari pantulan mata Mustofa.
__ADS_1
Flashback on
Sonya berjalan tergesa menuju kantornya, ia bangun terlambar hari ini. Karena tidak fokus Sonya menabrak seseorang yang tidak pernah ia temui.
"Aduh, maaf Mas. Saya buru-buru jadi tidak fokus tadi" ucap Sonya sopan kepada Mustofa.
"Iya Mbak tidak apa-apa. Lain kali hati-hati ya Mbak" balas Mustofa halus.
"Iya terima kasih Mas, saya permisi dulu" pamit Sonya.
"Tunggu! Siapa namamu?" tanya Mustofa tanpa sadar.
"Sonya" jawab Sonya singkat lalu kembali bergegas pergi karena waktu sudah semakin siang.
Hingga suatu hari, Mustofa memberanikan diri ingin bertemu dengan Sonya. Setelah berpikir panjang, Sonya akhirnya menerima ajakan Mustofa. Tentu saja setelah meminta izin kepada Arya. Karena bagi Vanya, komunikasi adalah hal paling terpenting dalam sebuah hubungan. Apa lagi hubungan jarak jauh dari Purwokerto-Solo.
"Sonya" panggil Mustofa pelan.
Suara Mustofa terdengar begitu halus di telinga Sonya. Bahkan Sonya seperti merasa candu dengan suara itu. Tapi selalu Sonya tepis rasa kagum tersebut, karena Sonya masih sadar bahwa dirinya milik Arya.
__ADS_1
"Iya Mas" balas Sonya sopan.
Mustofa terlihat memainkan jarinya. Sepertinya dia benar-benar gugup saat ini. Bahkan sesekali Mustofa menggigit bibir bawahnya karena grogi.
"Saya..emm saya menyukai kamu. Bolehkah saya mengenalmu lebih jauh? Jika kamu berkenan, saya ingin bertemu dengan orang tuamu. Saya ingin melamarmu untuk menjadi pendamping hidup saya. Melengkapi separuh agama saya"
Mustofa terlihat begitu lega ketika berhasil mengatakan hal tersebut. Sedangkan Sonya justru terpaku dengan mata berkaca-kaca. Ia bingung harus menjawab apa. Sonya terharu karena ini pertama kalinya ada laki-laki yang mengucapkan seperti ini. Tetapi mengapa laki-laki itu justru Mustofa, bukan Arya?
"Mas" panggil Sonya pelan.
"Maaf Sonya belum bisa. Sonya sudah memiliki kekasih, tidak mungkin Sonya akan mengkhianatinya. Mas juga berhak mendapatkan yang lebih baik dari Sonya. Maaf ya Mas" tolak Sonya secara halus.
Mustofa tersenyum samar. Terlihat ada sebuah kekecewaan dari sorot matanya.
"Tidak apa. Saya menghargai keputusan kamu. Tapi biarkan saya tetap mengagumimu meskipun dari jauh" jawab Mustofa masih tersenyum.
"Maaf Mas, sudah malam. Sonya pamit ya. Semoga bertemu kembali di titik terbaik menurut takdir" pamit Sonya dan dibalas senyuman oleh Mustofa.
Flasback off
__ADS_1
Sonya memutus kontak matanya dengan Mustofa. Ia tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan Arya.
Sonya langsung bergegas ke tempat tujuannya tanpa mempedulikan Mustofa yang masih menatapnya penuh kekaguman.