
Sonya tidak mampu memejamkan matanya kembali. Kalimat demi kalimat yang Arya kirim semakin memutar di kepala Sonya. Bahkan saat ini ia masih terisak mendapatkan keputusan sepihak seperti ini.
Tepat pukul 3 pagi, Sonya memilih bangun dan bersiap untuk memasak. Ia mulai memilih bahan masakan yang akan ia buat, setidaknya ia harus sahur terlebih dahulu sebelum meratapi nasibnya kembali.
"Kamu udah bangun?"
Vera terbangun ketika mendengar suara wajan dan spatula mulai beradu di dapur. Vera memang tidak bisa memasak, tapi setidaknya ia bisa membantu menyiapkan bahan-bahannya.
"Eh tunggu, kamu kenapa? Kok seperti habis nangis?" tanya Vera heran ketika baru menyadari mata Sonya membengkak karena kebanyakan menangis.
Sonya hanya terdiam, sepertinya untuk mengucapkan sepatah kata pun ia tidak sanggup. Sonya memilih meneruskan masaknya meskipun tiba-tiba air matanya mengalir kembali ketika mengingat statusnya saat ini.
"Hey, jawab dulu. Itu nanti ingusmu jatuh ke masakan jika kamu menangis seperti itu" ujar Vera kesal.
"Diamlah" jawab Sonya asal.
Mereka akhirnya terdiam hingga berbagai masakan selesai mereka hidangkan. Ketika Sonya mulai mengambil nasinya, Vera kembali membuka suara karena masih heran dengan sikap sahabatnya tersebut.
"Kamu ini kenapa? Kok jadi pendiam seperti ini. Padahal biasanya kamu tuh ceria, paling ramai diantara yang lain" tanya Vera pelan.
Sonya yang ditanya seperti itu justru menutup wajahnya dengan tangannya. Ia mulai terisak kembali, bahkan makanan di hadapannya tidak mampu membuatnya berselera makan terlebih dahulu.
"Lah kok malah nangis?" tanya Vera semakin bingung.
"Arya Ver" jawab Sonya pelan bahkan hampir tidak terdengar.
"Arya? Kenapa?" tanya Vera makin terheran-heran.
Sonya justru makin terisak ketika akan menceritakannya kepada Vera. Bahunya bergetar dengan suara tangisan Sonya yang tertahan. Perlahan Sonya menyodorkan ponselnya ke Vera. Vera yang membaca pesan tersebut pun ikut terkejut dan tanpa sadar memukul meja makan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Brengsek" umpat Vera kesal.
"Bisa-bisanya dia memutuskan sepihak seperti. Apa tidak ingat kalau dulu yang mengejar kamu juga dia. Yang memulai semua ini hingga kita dipindahkan kesini juga karena dia. Dan sekarang dia malah meninggalkan kamu dengan gampangnya. Otaknya dimana coba?" lanjut Vera makin emosi.
Sonya berusaha menyuapkan nasi ke mulutnya, setidaknya ia harus sahur pagi ini. Tetapi baru 2 suapan, Sonya sudah merasa kenyang. Apa lagi dari tadi dia mendengar Vera mengumpat karena Arya.
"Bajingan" umpat Vera lebih kesal.
"Jaga omonganmu Vera. Arya tidak sebajingan itu" bela Sonya tidak terima.
Vera terkekeh mengejek mendengar pembelaan dari Sonya. Vera menertawakan kebodohan Sonya yang semakin mengakar hanya karena cinta.
"Sudah disakiti saja kamu masih mau membela Nya? Begitu bodohnya kah kamu? Buka matamu Nya, lihat! Dia sudah mencampakkan kamu. Harusnya kamu tidak perlu membela laki-laki brengsek seperti dia" sahut Vera semakin kesal.
"Ya tapi kita belum tahu alasan Arya kenapa berbicara seperti itu Ver"
"Bodoh"
Sonya mengirim pesan kembali kepada Arya. Ia hanya ingin mengetahui alasan apa yang membuat Arya memilih pergi. Tapi lagi-lagi ponsel Arya tidak bisa Sonya hubungi.
"Kenapa hubungan kita kau buat seperti layangan Arya? Kenapa harus kau tarik ulur seperti ini jika akhirnya akan kau lepas?" gumam Sonya pelan sambil memandangi foto mereka saat masih bersama.
Vera yang tidak benar-benar meninggalkan Sonya mendengar gumaman kecil dari bibir Sonya. Ia pun merasakan sakit hati tersebut.
Tanpa sepengetahuan Sonya, Vera diam-diam mengirim pesan kepada Arya. Berbagai pertanyaan dan umpatan telah tertulis di sana. Tetapi sama halnya dengan Sonya, ponsel Arya belum bisa dihubungi kembali.
***
Hari demi hari telah berlalu. Bahkan sekarang kehidupan Sonya seperti telah kehilangan motivasi. Hidup segan, mati tak mau.
__ADS_1
"Sonya, kemarin aku chat Arya. Aku cuma bertanya tentang alasan dia meninggalkan kamu. Dan kamu ingin tahu jawabannya?" tanya Vera menggantung.
"Apakah dia membalas pesanmu?" tanya Sonya tidak percaya.
Vera hanya mengangguk sebagai respon atas pertanyaan Sonya tersebut. Padahal pesan Sonya sedari awal tak pernah Arya baca, apa lagi sampai dibalas.
"Apa yang dia katakan?"
"Kamu baca sendiri saja ya" pinta Vera.
Sonya mengangguk dan menerima ponsel Vera yang sudah menampakkan isi pesan antara Vera dan Arya beberapa jam yang lalu.
"Sonya itu tidak bisa profesional. Aku hanya tidak mau urusan pekerjaan dicampur dengan urusan pribadi"
"Aku sudah resign dari perusahaan dan aku ingin menjauh dari orang-orang kantor. Termasuk Sonya dan juga kamu. Aku akan pergi ke luar Jawa setelah ini"
"Apa kamu tahu? Aku sering ditegur oleh Pak Bayu karena Sonya sering mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan aku dan membawa-bawa Myra"
Deg!
Air mata Sonya lagi-lagi menetes. Ia tidak mempedulikan apakah puasanya hari ini batal atau tidak. Kalimat terakhir yang Arya kirim membuat Sonya berpikir keras.
'Kapan aku pernah mengirim pesan kepada Pak Bayu. Bahkan selama ini selalu Pak Bayu terlebih dahulu yang mengirim pesan. Aku pun tahu batasan, aku pun tahu harus profesional dalam bekerja. Mengapa justru ini menjadi salahku?' ujar Sonya dalam hati.
Vera langsung merangkul Sonya untuk menenangkan hatinya. Vera pun tahu kalau Sonya tidak pernah mengirim pesan kepada Bayu, manager Arya. Tapi entah kenapa justru Arya seperti membalikkan fakta seolah di sini Sonya yang bersalah.
"Sudah jangan terlalu kamu pikirkan. Kamu harus fokus menjalani hidup kamu sekarang. Lihatlah! Kamu sangat kurus, seperti tulang berjalan saja" ledek Vera menghibur Sonya.
Sonya hanya tersenyum tipis dan mengembalikan ponsel Vera. Sekarang yang menjadi sandarannya sudah pergi meninggalkan dia. Apa lagi dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal, bahkan tidak pernah Sonya lakukan.
__ADS_1
'Ayah yang merupakan cinta pertamaku sudah meninggalkanku sedari dulu. Lalu sekarang Arya yang sudah aku anggap sebagai cinta terakhirku juga pergi meninggalkan aku. Lantas, laki-laki seperti apa yang harus aku percayai lagi?' batin Sonya menahan sesak yang menghimpit dadanya.