
..."Jangan pedulikan siapapun dan apapun kecuali diriku. Maaf aku egois karena cintaku padamu"...
...~Hapsari~...
LIKE VOTE NYA KAKAKπ€π€
...~~~~~~~~~~...
"Mine kamu nggak lupa kan caranya manjat?" tanya Dika sambil memandang wajah Dira.
Hapsari tersenyum sambil mengangguk, Hapsari menunduk ke tanah mata menyapu tanah rerumputan di sekitarnya.
"Kamu cari apa Mine?" tanya Dika heran sambil ikut melihat ke tanah.
Hapsari membungkuk mengambil sebuah karet gelang lalu mengangkat tepat di depan wajah Dika.
"Nih!" jawab Hapsari dengan senyuman mengembang hingga terlihat gigi pepsodent nya.
Dika tersenyum menatap wajah Dira entah mengapa Dika merasa bahwa raga Dira seperti menyatu dengan kepribadian Hapsari, dalam pandangan Dika saat ini Dira adalah Hapsari dan Hapsari adalah Dira.
"Berikan padaku." pinta Dika sambil mengulurkan telapak tangannya ke arah Hapsari.
"Jangan Mars saat ini aku sedang ingin bersama kamu, jika kita saling bersentuhan aku akan terpental keluar dari tubuhnya. Biar aku sendiri yang mengikat rambutku." ucap Hapsari mengerti keinginan Dika untuk mengikat rambutnya.
Ada wajah kecewa yang Hapsari tangkap dari wajah tampan di depannya. Hapsari bisa mengerti, dulu setiap kali rambutnya terurai dan Hapsari ingin mengikatnya, Dika selalu lebih dulu mengikat rambut Hapsari dan ini sesuatu yang sangat menyenangkan keduanya.
"Cantik." puji Dika saat melihat rambut Dira yang diikat sedikit ke atas dan acak-acakan.
"Mars! Kok kamu puji wajah orang lain, ini kan bukan wajah aku." ucap Hapsari dengan nada merajuk.
"Sorry Mine! Aku bukan sedang memuji cewek lain tapi-. "Dika terlihat bingung menjelaskan maksudnya kepada Hapsari.
Hapsari tersenyum menggoda.
"Udah jangan gugup gitu Mars. Aku tau kok maksud mu. Hal terpenting buatku saat ini adalah masih bisa bersama mu." ucap Hapsari lembut tampak jelas sekali pancaran bahagia di matanya.
"Aku Naik dulu ya." ucap Dika mulai memanjat pohon asem untuk mencapai puncak tembok yang tinggi nya kurang lebih 4 meter.
Pohon asem satu-satunya jalan untuk bisa memanjat tembok, lewat salah satu dahannya seorang bisa meniti dan sampai ke atas tembok tapi ini sangat sulit jika apes dan kurang hati-hati bisa jatuh.
"Ayo Mine!" teriak Dika yang sudah berdiri di atas tembok melambaikan tangan ke arah Hapsari untuk naik.
Tatapan mata Hapsari terpaku melihat wajah tampan rupawan dengan senyum indahnya. Wajah itu dulu selalu jadi sasaran kejahilan tangannya, cubitan gemas selalu disematkan jari nakalnya untuk menarik hidung mancung milik Dika.
"Kenapa kamu tetap selalu memesona ku Mars." bisik Hapsari penuh sinar kagum di matanya.
Dika memetik buah asem berukuran kecil lalu melemparkan ke arah Hapsari.
"Sampai kapan mau bengong tar kemasukan lo Mine!" teriak Dika.
"Mana ada arwah kemasukan arwah hahaha." seloroh Hapsari dengan tawa miris.
Dika Diam dia seperti sedang menyesali ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Hmm, sekarang kamu yang diam Mars. Awas loh ada yang-" Hapsari sengaja menggantung kata terakhirnya sambil menatap Dika tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Apa?" tanya Dika penasaran.
"Curi hati kamu hahaha," jawab Hapsari tertawa riang.
Dika memperhatikan tawa itu ada senang dan sedih, Dika menarik napas.
"Hati ku tak akan bisa di curi siapa pun karena kamu lah pemilik hati itu." jawab Dika membuat darah nya berdesir.
Blushing
Rona merah tampak di pipi tirus Dira, sinar cinta bagai mentari pagi cerah menyapa.
"Kalau kayak gini alamat kita gak jadi kabur yang ada kita kena SP Pak Bahrudin MIne!" ucap Dika menyadarkan Hapsari untuk cepat memanjat pohon asem.
Hapsari mulai memanjat pohon asem bergelayut dari satu dahan ke dahan lagi.
"Ternyata Mine masih lihai memanjat." gumam Dika sambil tersenyum.
"Tadaa! lihat Jane mu Tarzan Mars aku lihai mengikuti mu hahaha." Hapsari Berkata sambil tertawa lepas.
"Ya udah sekarang Gue loncat duluan." ucap Dika dan di sambut anggukan Hapsari.
"Satu... dua... tiga!
Buk
Dika jatuh dalam posisi jongkok dan dia pun langsung berdiri.
"Hati-hati Mine!" teriak Dika.
"Jangan biarkan saja kalau aku jatuh dan terluka!" tolak Hapsari.
"Raga ini bukan milikku, kalau aku terluka aku tak akan merasakan sakitnya." sambung Hapsari lagi.
"Awas Mars aku mau loncat sekarang!" teriak Hapsari berdiri di atas tembok sambil merentangkan kedua tangannya.
"Astaghfirullah! kalau Mine jatuh gimana, bisa lemah jantung Gue. Tapi kalau gue tangkap arwah Mine akan keluar dari tubuh cewek itu. Aduh Gue jadi bingung harus gimana?" batin Dika.
"Satu... Dua... Tiga!" teriak Hapsari.
Buk
Bluss
Duk
Jidat Dika dan Dira saling berbenturan cukup keras..
"Aaaaa!" teriak Dira yang jatuh tepat di atas tubuh Dika saling bertindihan.
"Aaaww!" Dika teriak sambil meringis kesakitan saat siku tangan kanannya membentur sebuah batu yang cukup besar.
Sepersekian detik mereka diam hanya saling menatap.
"Awas minggir!" bentak Dika menyadarkan Dira.
__ADS_1
Dira cepat-cepat berdiri lalu menepuk-nepuk baju dan roknya.
Dika bangun dari Posisi tidurnya, dia duduk selonjor memperhatikan sikunya yang terlihat mulai mengucurkan darah segar.
Dira melirik luka Dika, lalu Dira mengambil botol minum dari dalam tas selempang nya begitu juga dia mengambil sapu tangan.
"Nih! Lu bersihin luka Lu biar gak infeksi." Dira berkata sambil menyodorkan sapu tangan dan botol air minum.
Dika diam tak menerima, Dira mendengus kesal melihat sikap Dika sok jaim. Dira berjongkok di depan Dika lalu dia menarik tangan Dika yang terluka.
"Gue nggak punya motif apa-apa! Gue cuma nggak suka lihat orang terluka di depan mata Gue." decak Dira sambil mengguyur luka di siku dengan air.
Dira mengusap pelan luka Dika, Dika terlihat Canggung tapi dia juga tidak menolak Apa yang dilakukan oleh Dira.
Sementara di Arwah Hapsari yang bersandar di batu nisan makam salah satu kuburan Cina mendengus kesal.
"Mine! Kenapa kamu tangkap Dira? biarkan saja dia yang terluka bukan malah kamu yang terluka." gumam Hapsari.
"Semua gara-gara Lu!" protes Dira menatap ke arah Hapsari.
Dika menoleh ke arah Dira yang sedang menatap tajam marah ke arah sebuah bangunan batu nisan makam cina sambil berbicara sendiri.
Visual makam Cina
"Apa dia masih di situ?" tanya Dika penasaran.
Dira melirik Dika dengan ujung matanya tangannya berhenti membersihkan luka di siku Dika. Dira tidak menjawab pertanyaan Dika. Dira berdiri tanpa bicara apapun dia hendak melangkahkan kaki meninggalkan Dika.
"Mau kemana Lu?" Dika bertanya sambil mencekal ujung lengan bawah Dira kuat.
Dika berdiri tangannya masih memegang lengan Dira dan menatap tajam ke arah mata Dira, Dira tidak menghindari tatapan itu. Bahkan dia terkesan menantang.
"Pulang." Dira menjawab dengan singkat tanpa mengalihkan pandangannya.
"Lu harus bantu gue dulu untuk nemuin jasad Hapsari!" paksa Dika.
"Bukan urusan Gue! Lepasin tangan Gue! Gue mau pulang! Gue capek hari ini, Gue nggak mau mikir apapun," tolak Dira berusaha meronta melepaskan tangannya.
Dika mengendorkan cekalan tangannya dengan mudah Dira bisa melepaskan tangannya dari cekalan tangan Dika. Dika hanya bisa berdiri mematung, dia memang tidak punya hak untuk memaksa Dira membantunya menemukan jasad Hapsari.
Dira berlalu meninggalkan Dika, yang Dira ingin lakukan saat ini adalah pulang ke rumah dan melepaskan semua penat dalam hati dan pikirannya.
Dika masih berdiri di tempat nya menatap punggung Dira yang makin menjauh berjalan di antara barisan batu nisan makam cina.
"Aku harus temuin Dira!" dengus arwah Hapsari pandangannya matanya tak melepaskan dari Dika.
...πΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈ...
Apa yang akan dilakukan arwah Hapsari selanjutnya.
Apakah dia semakin menggila mengendalikan raga Dira.
Yuk ikuti episode selanjutnya Titipan Mata Arwah.
__ADS_1
Terima kasih untuk semua like vote gif dan juga komentarnya mohon dukung terus kakak π€π