
PYAAARRRRRR
"Astaghfirullah! Allahu Akbar Allahu Akbar!" Lilis art Selena berdiri mematung dengan mata membulat dan tangan gemetaran hingga nampan di genggamannya yang berisi sarapan untuk Selena ikut bergetar.
"A*****!!!" teriak Selena melengking hampir memenuhi ruangan di lantai 2 rumahnya.
"Apa gak usah masuk aja ya, Nona lagi ngamuk bisa-bisa kalau aku masuk aku yang akan kena imbasnya. Aku tidak mau tubuhku akan jadi sasaran kemarahannya." seketika aliran darah menjalar cepat di tubuh Lilis dengan dada berdebu kencang dan juga bulu kuduk bergidik.
Lilis satu-satunya art yang masih bertahan di rumah Selena untuk melayaninya, hampir semua art tidak ada yang betah lebih dari seminggu bekerja di rumah Selena karena tabiat Selena yang sangat kasar dan juga arogan terhadap orang-orang di sekitarnya.
Selena seperti seorang gadis yang berkepribadian ganda, jika di lingkungan luar rumahnya dia adalah sosok gadis yang lemah lembut, penyabar, perhatian penuh kasih sayang dan juga dia dermawan. Dia tidak pernah menghitung apapun yang dikeluarkan apalagi yang bersifat materi, sifat yang benar-benar sempurna sebagai seorang manusia dengan kecantikannya terlihat dan terpancar bukan hanya dari luar tapi juga dari dalam.
Tapi semua sifat itu adalah kepura-puraan, kebohongan hanya untuk pencitraan. Sesungguhnya Selena adalah gadis yang sangat kejam, dia bisa melakukan apa saja bukan hanya untuk menyakiti secara fisik ataupun secara mental. Tapi dia bisa melakukan sesuatu yang lebih dari itu, itulah yang membuat orang-orang di sekitar Selena menjauh dan pergi meninggalkannya.
"LILISSS!!!" lengkingan keras suara Selena membuat Lilis tersentak kaget dan membuat dia dan membuat dia mau tidak mau harus melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar Selena.
"LU BUDEK YA! LU TULI YA? DASAR BABI!" bentak Selena begitu melihat kemunculan Lilis di pintu kamarnya.
Lilis mulai memasang wajah datar dia hafal benar tabiat Putri tunggal majikannya yang satu ini.
"Ini sarapannya nona." suara Lilis tenang sambil meletakkan sarapan di meja yang terletak tepat di samping kursi malas Selena.
setelah meletakkan nampan berisi sarapan Selena, Lilis hendak berjalan keluar tapi tiba-tiba dengan sangat kasar Selena menjambak rambutnya dan mencengkeramnya dengan kuat membuat wajah Lilis meringis menahan sakit.
Lilis berusaha menahan suara kesakitannya di tenggorokan, giginya saling beradu dengan mulut tertutup rapat. Selena menarik kasar rambut Lilis yang ada di cengkeramannya mendekat ke arah meja rias dengan kaca yang terpampang besar.
"Lo lihat baik-baik, apa gue masih tetap cantik dan menarik?" tandas Selena dengan tatapannya yang tajam bagai pedang lewat pantulan kaca cermin.
"Iya nona saya selalu melihat anda paling cantik dan menarik, tidak ada gadis yang lain yang lebih cantik dan menarik daripada Anda."balas Lilis dengan suara berat karena menahan rasa sakit akibat jambakan rambut Selana yang sangat kuat.
__ADS_1
"BOHONG! KENAPA LU BOHONG SEPERTI MEREKA!" hardik Selena sambil melempar kasar melepaskan cengkramannya pada rambut Lilis hingga membuat Lilis terhuyung jatuh ke lantai.
Tubuh Lilis mengkerut dengan wajah tertunduk menatap lantai sambil tangannya menghapus perlahan rambut bekas jambakan Selena.
Selena menatap tajam dengan hidung mendengus sambil mengangkat salah satu sudut bibir kanan ke arah Lilis wajahnya yang cantik seketika berubah menjadi wanita dengan wajah yang sangat sangar dengan tatapan mata yang merah penuh dengan kebencian dan juga kemarahan.
Selena menyambar tongkat bisbol yang ada di salah satu sudut kamarnya, melihat majikan membawa tongkat bisbol berjalan ke arahnya membuat Lilis semakin mengerutkan tubuhnya. Sepertinya kali ini untuk yang kesekian kali dia harus menjadi tempat pelampiasan kemarahan anak majikannya.
Pasrah itulah yang ada di dibenak Lilis mendapatkan perlakuan buruk dan semena-mena yang sangat keji dari Selena. Lilis bukan hanya seorang pembantu di mata Selena, tapi dia lebih tepat disebut budak yang harus mau diperlakukan seperti apapun oleh Selena.
"Bangun!" suara perintah Selena yang terdengar pelan tapi dalam dan juga membuat bulu di sekujur tubuh Lilis mulai meregang.
Perlahan Lilis bangun dari duduk simpuhnya lalu berdiri dengan pandangan tetap menunduk menatap lantai tanpa berani menatap Selena.
"Heh! Jawab sekali lagi, apa Gue masih cantik dan menarik?" tanya Selena sambil mendelik ke arah Lilis.
"Bego Lo! Ya jelaslah gue satu-satunya cewek yang paling cantik dan menarik di mata lu! Karena selama lu lahir sampai sekarang lu nggak pernah lihat dunia luar! Bodoh banget sih lo." kata kasar Selena sambil mengalahkan tongkat bisbol tepat di dahi Lilis dan mendorongnya hingga membuat rilis beberapa langkah mundur ke belakang.
"kalau gue orang yang paling cantik dan menarik, kenapa selama ini Dika nggak pernah suka dan jatuh cinta sama aku kenapa sih selalu memilih cewek lain yang lebih rendah dan lebih jelek daripada gue." ucap Selena seperti pada dirinya sendiri.
"Hapsari... lo udah hilang kenapa sekarang muncul lagi si Dira!" geram Selena sambil menggenggam kuat tongkat bisbol di tangannya.
"Ya Allah moga nona tidak kalap." batin Lilis memohon.
Selena mengambil hp-nya lalu membuka tombol on dan mengklik galeri yang ada di layar hp-nya begitu ruang galeri terbuka jempolnya dengan lincah naik turun menscroll. begitu manik matanya menemukan beberapa foto Dira tatapan mata itu langsung berubah merah menyala dengan penuh kebencian.
"Dasar murahan! kalau sampai Lo berani mengambil Dika dari sisi gue, gue akan membuat Lo lebih menderita di banding Hapsari." dengus Selena dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
"GUE BENCI LO! GUE BENCI LO! DASAR MURAHAN! DASAR CEWEK KEGATELAN! GUE BAKAL HABISIN LOOOO!!" teriak Selena sambil memukul-mukul layar hp-nya dengan kepalan tangan kanannya.
__ADS_1
Tidak puas dengan memukul hp nya Selena membanting hp-nya yang terpampang foto Dira di lantai sehingga membuat layar HP itu retak. Tidak sampai situ saja belum puas memukul dengan kepala tangannya, Selena mengayunkan tongkat bisbol ke arah hp-nya dan beberapa kali memukulnya dengan sangat kuat hingga HP itu tidak lagi berwujud HP tapi lebih seperti barang rongsokan yang hancur layarnya tidak berbentuk.
Lilis menelan ludah melihat perilaku arogan nona majikannya, dia juga menarik nafas dalam karena sampai saat ini tubuhnya masih terselamatkan karena HP milik nona majikannya.
"HAAAAAAA!!!!" lengking suara saya membuat hati yang mendengarnya terasa bergidik dan ngeri.
Selena menjatuhkan tubuhnya di lantai sambil bersimpuh lalu sekuat tenaga dilemparkan tongkat bisbol ke sembarang arah hingga berhenti membentur tembok yang persis ada di depannya.
"Dika...hiks hiks.... Lo yang bikin gue jadi jahat, sampai kapan lu akan nolak gue apa terlalu sulit buat lo untuk mencintai gue. seandainya lu bisa mencintai gue, Gue nggak harus mengorbankan banyak nyawa untuk melampiaskan semua kekecewaan gue. Hiks hiks hiks huuuuu...!" ratap dan tangise enak tiba-tiba pecah.
Selena menjamak rambutnya, kemarahan kekecewaan ambisi dn obsesinya pada Dika memunculkan dengan sikap arogan dan keji hingga membuat Selena tampak begitu mengerikan dan menakutkan sekaligus juga sangat memprihatinkan.
"Bunda hiks bawa Lena pergi bersama bunda hiks hiks hiks." kembali Serena melata memanggil sang Bunda.
Selena merangkak mendekati meja rias lalu dia membuka salah satu laci paling atas, tangannya bergetar saat membuka laci itu dengan pandangan nanar dan berlinang air mata Selena mengambil foto berbingkai.
"Bunda kenapa bunda pergi dengan cara seperti itu, kenapa bunda pamit sama Lena dengan cara itu hiks hiks hiks." ucap Selena pilu diantara tangisnya sambil memandangi foto sang Bunda yang ada di genggamannya.
Selena mengusap lembut foto wanita cantik dengan gaun putih dan senyum menawan nan manis yang terpampang di bingkai itu setiap kali melihat foto itu ada kemarahan dan juga kehancuran dalam hatinya.
Selena kembali mengulurkan tangan meraih laci meja riasnya, jari-jari tangannya berapa setiap sisi laci untuk menemukan benda yang dia inginkan hanya dalam hitungan detik jari-jari itu keluar dari laci dengan kata tergenggam di tangannya.
"Nona! Tolong jangan lakukan itu! nona sadar nona jangan lakukan itu!" cegah Lilis begitu tahu Selena sudah megang karter di tangan kirinya dengan tatapan kosong dan hampa.
...~~~...
Apa yang akan dilakukan Selena dan teka-teki Apa dibalik kematian Bunda Selena apakah ini ada pengaruhnya dengan kepribadian ganda Selena?
yuk kepoin episode berikutnya TITIPAN MATA ARWAH
__ADS_1