
Sunyi, senyap hanya terdapat bunyi jangkrik dan sesekali bunyi tikus mencicit, detak jarum jam menunjukkan angka tepat pukul 01.00 suasana sudah menjelang pagi saat Dira terbangun dari tidurnya dalam keadaan lemah.
"Aaahhhh...Lemes banget badan Gue." keluh Dira bangun dari tidurnya.
Krucuuukkk
Suara panggilan perut Dira jelas terdengar cacing-cacing berdemo tanda minta diberi asupan makan.
"Laperr!" keluh Dira sambil memegangi perutnya.
"Aduh rasanya sampai melilit gini perut Gue malam ini, apa seharian gue nggak makan apa-apa ya? Huh, dasar arwah ogeb! Mentang-mentang dia arwah nggak butuh makan seenaknya aja dia nggak peduli tubuh Gue. Robot aja butuh makan butuh dicas buat pulihin tenaga, emang dasar arwah nggak tahu diri kalau bukan karena Gue udah janji dan juga permintaan si jutek ogah banget gue pinjemin raga Gue buat si arwah ogeb." gerutu Dira.
"Astaga naga ini sekarang gue ada di mana lagii?" seru Dira saat menyadari bahwa sekarang dia sedang tidak ada di kamarnya.
Dira beranjak dari tidurnya lalu duduk di tepi ranjang berukuran kecil, pandangannya menyapu setiap sudut kamar dan juga barang-barang yang ada di ruangan itu. Manik matinya terhenti pada satu foto yang ada di atas meja belajar.
"Siapa ya cewek cantik ini?" tanya dia pada dirinya sendiri.
Ada dua bingkai yang tertata rapi di atas meja belajar, Dira mengambil foto satunya lagi dan dia langsung mengenali cowok yang ada di foto itu.
"Apa cewek ini pacar si jutek?" satu pertanyaan kembali membangkitkan jiwa keponya.
"Masbo lah. sekarang gue tahu ini pasti rumah entah itu teman pacar atau siapanya sih jutek pastinya." monolog Dira.
Krucuuukkk
Kembali punya perut ya merontak minta diisi.
Dira beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati sebuah kulkas kecil yang ada di salah satu sudut kamar.
"Moga aja ada yang bisa Gue makan selain daging mentah," gumam Dira berharap.
Begitu tangannya mah bukan pintu kulkas bila terlihat lemas.
"Yaelah nih orang yang punya kamar kere amat sih, masak kulkas isinya cuman air putih 3 botol sama es batu doang." gerutu Dira kesal tak mendapatkan apa yang dibutuhkan.
"Udahlah, mending Gue minum daripada tar mati kehausan juga." akhirnya tangan Dira terulur mengambil salah satu botol air mineral yang ada di pintu kulkas.
__ADS_1
Glek glek glek glek glek..
Dira menghabiskan hampir sebotol airnya yang dihasilkan hanya sedikit saja.
"Aahhh, seketika kenyang sama air perut Gue." monolog Dira sambil mengusap perutnya.
"Gue harus pulang ke rumah malam ini juga." ucap Dira lalu menyambar tas sekolahnya dan keluar dari kamar sepupu Dika.
Begitu keluar dari rumah kost yang mirip seperti apartemen lantai 4, Dira berjalan gontai menuju gerbang. Suasana jelang pagi tanpa sepi tak tampak satu orang berlalu lalang ada di luar, begitu juga kendaraan hanya sesekali melintas yang lalu-lalang.
Sayup-sayup hanya terdengar suara hubungan anjing dan bunyi cicit tikus, Dira terus berjalan tanpa rasa takut menyusuri pekatnya malam menjelang pagi. Sesekali ada motor atau mobil yang melintas, ingin rasanya Dira memberhentikan untuk meminta tumpangan tapi dia urungkan karena takut belum tentu bertemu dengan orang yang baik dan tulus menolongnya.
Udara malam juga mulai terasa dingin menusuk pula ditambah lagi bulan ini adalah bulan Desember hujan rintik mulai turun tanpa jaket ataupun hoodie sebagai pelindung tubuhnya dari dinginnya malam Dira terus berjalan.
"Sialan, bener-bener nyusahin tuh arwah! Kenapa juga tuh arwah nggak bawa HP Gue bener-bener ogeb tuh arwah!" gerutu Dira kesal.
Saat melewati sebuah kuburan di pinggir jalan, tiba-tiba bulu kuduk Dira mulai berdiri. Hampir pori-pori di sekujur tubuhnya meregang tidak mempercepat langkahnya hingga dia tidak berhati-hati dan menginjak sebuah batu yang membuat Dira jatuh terjungkal tepat di depan pintu gerbang kuburan yang berpagar teralis dengan pohon asam besar di dalamnya.
"AAAUUUWWW!" pekik Dira saat lututnya membentur jalan konblok.
"Hiiiiii...hiiiiiiii.....hiiiiii.....,"
"Astaghfirullahaladzim! Allahu Akbar!" teriak Dira begitu manikmatannya menangkap sosok kuntilanak yang berdiri tepat di bawah pohon asam.
Dira bergegas beranjak dari posisinya lalu berjalan cepat hampir berlari sejauh mungkin menjauh dari kuburan.
"Astaghfirullah! Kemana softlens Gue! Dasar arwah gila!!" pekik Dira kesal jika mengingat Apa yang dilakukan Hapsari kepadanya.
Krucuuukkk
"Laper," keluh Dira saat merasa perutnya terasa melilit kembali.
Mata Dira membulat bersemangat saat Indra penciumannya mencium bau khas sedapnya nasi goreng.
"Nasi goreng," gumam Dira lalu bergegas berjalan kembali menyusui pekatnya malam untuk mencari sumber bau nasi goreng.
__ADS_1
Tak sampai 5 menit Dira menemukan penjaja nasi goreng yang mangkal di pinggir jalan sedang melayani seorang pembeli.
Dira berjalan sambil membungkuk menahan rasa lapar di perutnya dan juga rasa sakit yang melilit. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya. Dalam balutan dress warna putih dan legging cream membuat Dira terlihat seperti pesakitan yang sedang berjalan.
"Bang, Minta bikinin nasi gorengnya." suara lirih Dira hampir tak terdengar karena tubuhnya yang lemas akibat tidak makan seharian.
"Iya Neng, tunggu sebentar." kata si abang penjual nasi goreng tanpa melihat ke arah Dira.
"Kok tiba-tiba bulu kuduk Saya berdiri ya Bang ya." ucap membeli nasi goreng yang berdiri tepat di depan Dira.
"Biasa Mas, daerah sini mah kadang-kadang suka ada aja yang jahil," dengan santainya Abang nasi goreng menjawab.
"Yang ganggu biasanya apa Bang?" tanya sang pembeli penasaran sambil mengusap tengkuknya.
"Biasanya mah sejenis Kunti gitulah mereka kadang kayak kelaparan minta nasi goreng kata penjual yang kemarin saya kan baru dua hari gantiin dia Mas. Tapi selama ini sih saya belum pernah nemuin mungkin cuman mitos Mas." jelas si penjual nasi goreng yang masih terlihat muda sambil sibuk menggoreng nasi goreng pesanan si pelanggan.
"Hhhffffff." Dira menghembuskan nafasnya untuk mengusir dinginnya udara pagi yang menusuk kulitnya.
"Kok berasa ada yang niup tengkuk saya ya bang?" kata si pembeli itu sambil kembali mengusap tengkuknya.
pedagang nasi goreng itu sudah selesai memasak nasi goreng yang dipesan si pembeli cowok yang berdiri di depan Dira.
Begitu selesai menuangkan nasi goreng di atas kertas nasi penjual nasi goreng sempat melihat ke arah Dira dan keduanya saling bertatapan.
"Kun...Kun....kuntiiiillll!" teriak pedagang nasi goreng itu shock saat melihat Dira yang menatap tajam ke arahnya dengan wajah hampir ditutupi sebagian rambut panjangnya.
Pedagang nasi goreng itu Langsung melempar penggorengan yang ada di tangannya lalu berlari meninggalkan gerobak dagangannya.
"Aaaa...aaahh...." cowok pembeli nasi goreng terlihat gemeteran tubuhnya bahkan suaranya juga.
Perlahan dia membalikkan tubuhnya, dan begitu wajahnya dan wajah Dira saling berhadapan mata cowok itu langsung melotot dengan mulut menganga.
"Han... Han.. Hantuuuuuu!!" ucap si cowok itu langsung menuntun motornya secepat mungkin meninggalkan Dira yang memandang kedua orang dengan heran.
"Astajim, masa gue cantik kayak gini dikira hantu." gumam Dira sambil geleng-geleng kepala.
"Sayang tuh nasgor, apalagi perut Gue lagi laper akut. Sorry bang hutang dulu ya ntar kalau lewat sini Gue bayar, suer," janji Dira.
__ADS_1
Dengan sangat bernafsu Dira menyantap nasi goreng dan menghabiskan nya.