
Butuh waktu seminggu untuk pihak forensik mengeluarkan jasad Hapsari dari coran semen yang ada di dalam sebuah tong, Jasad di temukan dalam keadaan meringkuk dan hanya tinggal kerangka serta rambut panjangnya yang masih utuh.
Sementara seragam sekolah yang dipakainya sudah tidak berbentuk lagi.
"Dari jasad yang ditemukan minim sekali dengan barang bukti Bang," ucap Alimi kepada Putra saat mereka berdua ada di ruang forensik gimana jasad Hapsari sedang diteliti.
"Iya Al, ini salah satu kasus yang menantang untuk kita pecahkan karena barang bukti yang minim dan juga waktu pembunuhan yang sudah cukup," balas Putra.
"Kasihan sekali gadis Malang ini, begitu sadisnya para pembunuh menghabisi nyawanya dengan sangat keji," gumam Putra yang dibalas dengan anggukan kepala Alimi.
"Bagaimana dengan penyelidikan di tempat TKP Al?" tanya Putra kepada Alimi yang notabene dia adalah bawahannya.
"Sama saja bang sangat minim barang bukti, cuma seperti perkiraan kita di awal tersangka pasti adalah orang yang aktif di sekolah itu, Sementara orang-orang yang membuang tong itu ke sungai mereka cuman orang bayaran Bang," lapor Alimi.
"Hmm," saut Putra.
"Bagaimana dengan saksi yang masih hidup yang membuang tong itu Ke sungai?" tanya Putra.
"Dia dalam keadaan stres dan tertekan sehingga sulit sekali untuk di mintai keterangan darinya Bang," jawab Alimi.
"Awasi perkembangan dia, semoga stress nya hanya sesaat jadi dia tetap masih bisa dijadikan saksi atau tersangka," lanjut Putra memberi perintah.
"Siap Bang," sambut Alimi
***
Setelah urusan penyelidikan jasad Hapsari selesai, pihak kepolisian menyerahkan jasad Hapsari kepada pihak keluarga Hapsari untuk di makam kan secara layak.
Hari ini Hapsari akan di makam kan, pelayat datang memadati rumah duka, selain tetangga dan kerabat. Pihak SMU Nusantara juga hampir seluruh jajaran yayasan dan guru hadir, begitu juga dengan seluruh siswa.
Di antara para pelayat hadir juga dari pihak kepolisian terutama penyidik kasus Hapsari yaitu Putra dan Alimi serta beberapa orang polisi berpakaian dinas.
"Awasi dengan jeli para pelayat terutama pihak sekolahnya, besar kemungkinannya ada beberapa orang yang bisa saja terlihat. Ini hanya dugaan sementara, siapapun harus kita curigai," titah Putra kepada Alimi dan jajaran nya.
"Siapp Bang,"
Dika sendiri tampak berdiri bersandar di salah satu pohon mangga yang ada di depan rumah di kelilingi oleh para sahabatnya. Kesedihan tampak jelas di wajahnya. setiap mata Dika menatap ke arah peti jenazah Hapsari yang ada di ruang tamu matanya tampak tergenang.
"semoga lu bisa lebih tenang Mine dengan pemakaman ini," batin Dika dengan tatapan sedih.
"Gue janji akan berusaha sekuat tenaga buat nyari siapa pelaku pembunuhan lu Mine," ucap Dika lirih.
"Gue akan bantu dan juga dukung Lo bro, siapapun yang membunuh Sari harus menerima hukuman yang setimpal. Gedek banget gue kalo ingat dan mikirin," saut Robi.
"Sama gue juga pengen gue bejek-bejek kek perkedel tuh, kalau gue tahu dan nemuin pembunuh tak berhati nurani," timpal Agung sambil mengepalkan tangan kanannya dan memukul-mukul kan ke telapak tangan kirinya.
"Gue sih setuju banget sama pemikiran kalian berdua tapi yang bikin penasaran gue, siapa diantara orang-orang sekolah kita yang tega melakukan itu sama Sari, karena gue yakin pembunuh Sari pastilah orang-orang dari SMA Nusantara. Taki siapa?" tanya Hans.
"Iya Hans lu bener, tapi setahu gue Sari itu baik nggak pernah gue lihat dia berantem dengan salah satu murid di sekolah kita." usut Agung berpikir sambil tangan kanannya memegang dagu.
"Dia pasti tahu," bisik Dika dengan tatapan mata tertuju ke arah Dira yang duduk bersama kedua sahabatnya agak jauh dari mereka.
"Siapa?" tanya Robi tapi tak ada jawaban dari Dika, hanya lirikan mata tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Gue? Kalau gue tahu dah pasti gue lapor polisi dari jaman baheula bro." Robi terang-terangan memprotes.
"Diam lu! Bukan waktunya bercandaan sekarang!" tandas Dika pelan penuh penekanan.
"Oke! Oke." Robi berkata tak bersuara sambil mengangkat kedua tangannya.
Dira, Nisa dan Sasha Duduk membentuk lingkaran kecil saling berdekatan.
"Gue penasaran pengen liat jasadnya tapi gak boleh, petinya langsung di segel dari rumah sakit," kata Nisa lesu.
"Dira lu tau kan beb? siapa orang yang telah bunuh Sari?" tanya Nisa kepo.
"Sari pasti kasih tau siapa yang bunuh dia kan?" Sasha ikut nimbrung bertanya.
Dira tidak menjawab pertanyaan kedua sahabatnya, dia hanya menggelengkan kepala dengan tatapan mata memandang ke arah pintu masuk rumah Hapsari.
"RAA!" panggil arwah Hapsari sambil melambaikan tangan kanan.
Dira menengok ke kanan dan ke kiri matanya berkeliling lalu tatapannya berhenti di pintu masuk rumah Hapsari di mana Hapsari berdiri mematung dengan wajah sangat sedih.
Dira berdiri dari kursinya lalu berjalan perlahan menerobos diantara pelayat.
"Ra! Mau kemana?" tanya Nisa menarik tangan Dira.
Dira menepiskan lembut tangan Nisa dan menoleh ke belakang ke arah Nisa.
"Dia manggil gue Nis," ucap Dira.
Nisa pun melepaskan tangannya, dia tahu siapa yang dimaksud dia oleh Dira. Dira terus berjalan mendekat ke arah pintu.
tatapan mata Dika terus memperhatikan Dira yang berjalan semakin mendekat ke arah rumah Hapsari, dan berhenti tepat di pinggir pintu masuk.
"Ra, tolong pinjam raga sebentar aja, gue pengen meluk Ayah sama Bunda untuk yang terakhir kali," kata Hapsari memohon.
Dira menatap mata hitam legam Hapsari, ada rasa haru sekaligus kesedihan di hatinya. Walaupun Hapsari sering membuatnya jengkel tapi apa yang dialami Hapsari tak urung membuat hatinya ikut merasa sedih dan simpati.
"Janji bentar meluk ortu lu doang ya, jangan pake lama," ucap Hapsari menegaskan.
"Iya gue janji bentar aja," saut Hapsari menyakinkan Dira.
"Ya udah kalau gitu silahkan." Dira berucap sambil bersiap.
"Makasih Ra," saut Hapsari.
BLUSS
Tubuh Dira tersentak dan langsung terjatuh ke lantai untuk sepersekian detik, Dira kembali bangkit berdiri tegak.
"Mine," gumam Dika langsung tahu kalau Hapsari sudah memasuki tubuh Dira.
Kedua orangtuanya Hapsari tak berhenti menangis dan bundanya pun entah sudah berapa kali tak sadarkan diri. Mereka berdua bersimpuh dekat dengan peti jenazah.
"Bunda," ucap Hapsari yang ada di tubuh Dira mulai mendekati orang tuanya.
__ADS_1
Beberapa orang menyingkir memberi jalan kepada Hapsari. Mereka menyangka kalau Hapsari yang ada di tubuh Dira adalah salah satu teman Hapsari di sekolah yang ingin mengucapkan bela sungkawa kepada orang tua Hapsari.
"Bun-da," panggil Hapsari ikut duduk tepat di depan Mayang dan Yayan orang tua Hapsari.
"Ka-mu?" tanya Mayang yang hapal benar dengan suara Hapsari.
Mata Dira mulai berlinang Hapsari menangis tangannya menyentuh tangan Bundanya dengan ragu takut arwah nya terpental sama kalau dia menyentuh Dika.
"Sari," lirih suara Mayang.
"Bun-da, Ikhlasin Sari Bun," ucap Hapsari mencium telapak tangan Mayang dengan berlinang air mata.
"Oh! Putri cantik kesayangan Bunda hiks hiks hiks hiks. Jangan pergi meninggalkan Mama sayang, Mama gak bisa hidup tanpa kamu sayang hiks hiks hiks hiks," Mayang menangis tersedu sambil memeluk erat tubuh Dira.
"Sayang sudah jangan begitu, kasihan putri kita," ucap Yayan menenangkan istrinya.
"Sayang jangan pergi Bunda mohon huaaaaa!" Mayang meraung memeluk erat tubuh Dira.
"Bun, Bunda sayang Sari kan? Tolong Ikhlasin Sari Bunda. Sari mohon, ini berat buat Sari Bunda," bisik Hapsari di telinga Mayang.
"Sari cuma ingin dikuburkan secara layak dan didoakan dengan khusyu' agar arwah tenang Bun hiks hiks hiks," pinta Hapsari tersedu-sedu.
Semua pelayat yang ada di ruangan itu heran menatap Dira dan Bunda Hapsari saling berpelukan seperti ibu dan anak yang hendak berpisah. Selena yang sedari tadi memperhatikan keduanya juga dibuat bingung.
"Gak mungkin, cewek itu kenapa dekat dengan orang-orang disekitar Hapsari? pertama Dika sekarang orang tua Hapsari siapa sebenarnya cewek itu?" batin Selena curiga menatap Dira.
"Gue harus awasi dan cari tahu tentang dia," batin Selena kembali.
Ting.
📥 Gue ada di luar.
Satu pesan masuk ke WA Selena, setelah membaca pesan itu Selena langsung keluar dari ruang tamu di mana peti jenazah Hapsari berada. Hapsari melepaskan pelukan Mayang entah firasat apa hingga membuat Hapsari ingin mengikuti Selena keluar.
"Sariii!" teriak Mayang saat Hapsari yang berada dalam tubuh Dira pergi meninggalkan dia keluar.
"Sayang dia bukan putri kita, sadarlah sayang!" ucap Yayan kembali menenangkan istrinya.
"SARIIi!" pekik Mayang sebelum kembali tak sadarkan diri.
Hapsari mengejar Selena dengan langkah terburu hingga beberapa kali menabrak pelayat. Saat di pintu pagar Hapsari melihat Selena menemui cowok memakai Hoodie warna hitam dan memakai masker. Mereka berdua sedang ngobrol serius.
"Citrus, dia orang yang telah membunuh ku," desis Hapsari langsung berjalan mendekat sambil mengangkat kursi plastik dan memukuli cowok itu tanpa ampun.
"Pembunuh! pembunuh!" teriak Hapsari histeris mengundang perhatian pelayat.
-
-
- Bersambung ...
Maaf jarang up 🙏🙏
__ADS_1
Terimakasih untuk dukungan dan jejak nya 🙏🙏