Titipan Mata Arwah

Titipan Mata Arwah
Pawang Segalanya


__ADS_3

Dika dan Lina saling menatap dengan wajah bingung atas perubahan sikap Dira yang lupa ingatan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Lina sambil memegang bahu Dira.


Dira menatap sejenak wajah yang biasa dihiasi senyum teduh milik sang mama dengan perasaan hancur.


"Maafkan Dira Mah," batin Dira menatap sedih Lina.


"Anda siapa? Kenapa panggil saya sayang?" tanya Dira berpura-pura bingung.


Lina menutup mulutnya dengan mata membulat kaget dia tidak bisa menerima kenyataan, kalau Putri satu-satunya hilang ingatan. Kedua sudut mata Lina berembun dan air itu begitu cepat memenuhi kelopak matanya hingga jatuh di kedua pipinya.


"Ya Allah cobaan apa lagi ini," gumam Lina sambil mengusap dada.


Rasa sesak seketika memenuhi rongga pernapasannya hingga dadanya bergemuruh ingin meledak tidak terima dengan kenyataan yang terjadi pada Dira. Tak kalah terkejutnya dengan Lina dialami juga oleh Dika.


"Ra, jangan bercanda nggak mungkin Lo nggak ingat sama orang yang sudah melahirkan Lo," ucap Dika tak percaya dengan kejadian yang menimpa Dira.


"Nyonya Lina, anak Nyonya ini mengalami luka yang sangat serius di kepala. Jadi wajar kalau dia sampai kehilangan ingatan tapi saya rasa ini sifatnya tidak permanen karena dari hasil pemeriksaan kami walaupun lukanya cukup parah tapi masih bisa diupayakan untuk diperbaiki ." Dokter Malvin mencoba memberi penjelasan kepada Lina dan Dika.


"Dok, apa Putri saya akan hilang ingatan selamanya?" tanya Lina pada dokter khawatir dengan air mata bercucuran.


"Seperti yang saya jelaskan di awal bahwa ini sifatnya tidak permanen jadi nanti akan kembali normal memorinya dan dia akan kembali mengingat seiring memorinya kembali." Penjelasan dokter yang terakhir membuat Lina menarik nafas sedikit lega.


"Yang penting terus ajak dia berkomunikasi untuk mengingat masa lalunya saat bersama dengan keluarga atau orang-orang terdekatnya." Kembali dokter memberikan saran.


Setelah mendengarkan penjelasan dokter yang bertanggung jawab terhadap kesembuhan Dira, Lina lalu mengajak Dira untuk mengingat masa lalu mereka berdua.


"Kamu masih ingat sayang, saat mata kanan kamu terkena tembakan angin?" tanya Lina dengan sangat hati-hati kembali mengingatkan Dira tentang tragedi rusaknya mata kiri Dira 13 tahun silam.


Dira tidak menjawab dia hanya diam tapi pikirannya kembali pada saat kejadian 13 tahun saat dia kehilangan mata kirinya.


"Aduh kepalaku sakit!" keluh Dira berbohong sambil tiba-tiba memegang kepalanya.


"Sayang kamu nggak apa-apa kan?"tanya Lina khawatir sambil tangannya terulur hendak menyentuh kepala Dira.


Dira menepis tangan Lina lalu tubuhnya mundur menjauh dari Lina sebagai bentuk penolakan atas perhatian Lina. Melihat hal itu membuat Lina semakin merasa sedih tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali sabar menunggu Dira cepat sembuh.


"Tante lebih baik pulang saja biar saya yang jaga Dira di sini. Kalau Dira terus dipaksa mengingat sesuatu takutnya membuat Dira makin sulit mengingat masa lalunya Tan," ucap Dika supaya Lina tidak kecewa melihat kondisi Dira saat ini.


Sikap dan perhatian Dika membuat Hapsari yang memperhatikan menjadi kesal.


"Mars, kamu ngapain malah makin peduli sama dia? Nyebelin. Kalau tahu akhirnya begini lebih baik aku tidak menyuruh Dira untuk pura-pura hilang ingatan." gerutu Hapsari menyesali idenya.

__ADS_1


"Tapi Tante nggak bisa tenang di rumah ninggalin Dira sendiri walaupun ada kamu Dik," ucap Lina tidak rela jika harus pulang ke rumah meninggalkan Dira di rumah sakit.


"Tapi di antara kita berdua harus ada yang istirahat pulang kalau di sini semua nanti kita malah jatuh sakit semua Tan.” balas Dika memberi alasan agar Lina mau pulang untuk beristirahat sebentar.


Sejenak Lina diam menatap Dira dengan perasaan sangat sedih tapi dia tidak bisa berbohong kalau saat ini kondisi tubuhnya juga sudah sangat letih.


"Baiklah kalau begitu tante titip Dira ya tolong kalau ada apa-apa kamu segera hubungi tante."akhirnya Lina dengan berat hati menyetujui usul Dika.


Sepeninggal Lina situasi menjadi lebih canggung, Dika yang duduk di kursi tunggu pasien lebih banyak tertunduk sibuk dengan hp-nya satu kesibukan yang tepat untuk mengalihkan kecanggungan.


Sesekali Dira mencuri pandang ke arah Dika dengan tatapan kesal atas situasi di mana dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mengikuti keinginan Hapsari.


"Seandainya lu tahu gue pengen banget berteriak sama lo! Kalau gue tertekan gara-gara mantan pacar lo yang udah jadi arwah gentayangan," geram Dira yang hanya bisa membatin dalam hati merutukin nasibnya.


"Sial! Baru kali ini seorang Andika terjebak dalam situasi super canggung di mana gue nggak bisa berbuat apa-apa karena Gue bingung harus gimana," batin Dika tak kalah kesalnya sama dengan perasaan Dira.


Kurang dari 10 menit perasaan Dira tiba-tiba tidak enak, tengkuknya serasa ada yang mending hingga berdiri dan merasa merinding kulit tubuhnya. Insting Dira mengajaknya untuk menyapu seluruh ruangan tanpa inci pun yang terlewat oleh kedua matanya.


Saat manik matanya jatuh pada wastafel yang terletak di depan kamar mandi pasir tidak langsung memejamkan matanya dan menutup mulut rapat-rapat agar tidak bersuara.


Dika beranjak dari duduknya menimbulkan suara kursi yang didorong membuat Dira mau tidak mau membuka mata.


"Jangan pergi!" cegah Dira setengah berteriak sambil tangannya terulur menahan.


"Sorry, tapi gue kebelet," balas Dika mulai melangkah hendak meninggalkan Dira.


Dira makin ketakutan aku detak jantungnya makin cepat saat matanya reflek melihat ke arah hantu bermata sebelah itu berdiri menatapnya tajam seperti ingin menerkamnya.


"Gue ikut!" seru Dira mulai menyibakkan selimutnya dan beranjak turun dari ranjang.


"Gila lu ya! Masak gue mau ke belakang lu ikut?!" hardik Dika makin heran dengan sikap Dira.


Dira mengacuhkan perkataan Dika, dia beranjak dari tidurnya dan tangannya berusaha meraih kursi roda yang tak jauh dari ranjang kemudian mendudukinya. Kedua tangan dira mengayuh roda kursi roda itu mendekati Dika, lalu begitu jarak mereka bersebelahan Dira langsung menggamit dan memegang kuat lengan Dika.


Seketika hantu di depan kamar mandi itu menghilang dan Dira tidak bisa melihatnya, tidak menarik nafas lega.


Jika melirik dengan sudut matanya tepat di mana tangan dia sedang memegang kuat lengannya ada senyum yang terkulum dan juga debar kebahagiaan yang menyusu di sudut hati Dika.


"Alhamdulillah." ucapnya bersyukur sambil mengusap dada.


"Lepas Ra, Gue mau ke kamar mandi!" pinta Dika.


"Ya udah, Gue ikut." saut Dika kekeh tak ingin ditinggal.

__ADS_1


"Lu nggak malu ikut gue ke kamar mandi?"tanya Dika heran sekaligus ingin memastikan.


"Ngapain malu pokoknya gue mau ikut lu ke mana pun lu pergi." jawab Dira terkesan cuek nggak peduli.


"Ya udah, tapi lepasin dulu tangan Gue!" Akhirnya Dika menyerah juga mengikuti kemauan Dira.


"Gak mau!" Dira menjawab ketus dan makin memperkuat pegangannya di lengan Dika.


Melihat sikap Dira membuat Dika salah tingkah dan juga serba salah bagaimana mungkin dia membawa Dira masuk ke dalam toilet sementara dia ingin buang air kecil.


"Ck, serah lu deh," ucap Dika lalu berjalan menuju toilet.


Begitu sampe di depan pintu toilet Dira menahan lengan Dika dengan memegangnya kuat.


"Apa?" tanya Dika mendelik ke arah Dira sambil mengangkat kedua alisnya.


"Masa iya sih gue ngelihat.... Nggak nggak gue nggak mau melihat!" batin Dira sambil terpejam dan menggeleng-gelengkan kepala.


Dika mengulum senyum geli melihat sikap Dira yang mulai gugup.


"Buruan! Lo mau ikut gue ke dalam apa tunggu di sini?" Penawaran yang sulit Dika berikan pada Dira.


"Kalau gue masuk ke dalam gue lihat anunya Dika, tapi kalau gue di luar gue lihat mata arwah itu yang benar-benar menyeramkan matanya seperti ingin membunuh gue." Pilihan sulit seperti dilema yang harus Dira pilih.


Perlahan Dira mulai merenggangkan pegangan tangannya di lengan kanan Dika dan saat lengan itu terlepas.



"AAAAAA...!!" Mata hantu itu tempat berada di depan wajah Dira membuat Dira ketakutan luar biasa dan juga panik hingga tanpa sadar dia memeluk Dika.


Dika tersenyum penuh kemenangan melihat tubuhnya dipeluk oleh Dira.


"Please gue takut, hiksss," ucap Dira diantara isak tangis karena deraan rasa takut.


Tangan Dika terayun di udara tepat berada di atas pucuk kepala Dira, ingin sekali rasanya tangan itu mengusap lembut rambut Dira yang hitam legam tergerai sampai ke bahu.


"Gue nggak akan pernah biarin hal buruk terjadi sama diri lu sorry gue sedikit iseng." kata hati Dika sambil tersenyum dan menengadahkan wajahnya ke atas menatap langit kamar.


"LEPASKAN MARSSS! DIA MILIKKU!!" suara Hapsari begitu lantang tepat di telinga Dira.


Tapi semua sia-sia karena dengan memeluk Dika wujud ataupun suara Hapsaritidak bisa terlihat atau terdengar lagi oleh Dira.


"Gue akan terus jadi penjaga dan pawang elo sampai kapanpun." bisik Dika di telinga Dira membuat Dira makin dalam memeluk Dika

__ADS_1


__ADS_2