
Berita penemuan mayat Hapsari menjadi heboh dan viral bukan hanya di televisi atau di sosmed, tak sedikit wartawan yang meliput tempat kejadian atau rumah Hapsari dan juga SMA Nusantara tempat pertama kali tong tempat jenazah Hapsari ditemukan sebelum dibuang ke sungai.
Beberapa orang wartawan mengunjungi SMU Nusantara untuk mencari berita, baik itu mewawancarai teman sekelas Hapsari, kepala sekolah atau pengurus sekolah yang lain.
Juga dengan polisi yang masih mondar mandir ke SMU Nusantara untuk meneliti dan menyelidiki tempat kejadian perkara karena di sekolah inilah kemungkinan besar Hapsari meninggal.
BRAKK!
Pak Roni kepala sekolah SMU Nusantara wajah merah dan mata melotot menggebrak meja sekuat tenaga, membuat beberapa guru yang hadir di ruang rapat tersentak kaget.
"Keterlaluan kenapa kita bisa kecolongan dengan masalah besar seperti ini? Apa kerja kalian selama ini!" teriak Pak Roni meradang.
"Bagaimana saya harus bertanggung jawab terhadap ketua yayasan, kasus ini benar-benar telah merusak nama baik SMU Nusantara yang kita jaga selama ini!" cecar Pak Roni wajah nya merah bak kepiting rebus saus Padang.
"Pokoknya saya tidak mau tahu kalau sampai ada yang terlibat diantara kalian siapapun itu saya yang pertama kali akan melaporkan ke pihak berwajib, camkan itu baik-baik!" ancam Pak Roni.
"Mulai sekarang! jika ada hal sekecil apapun yang kira-kira menceritakan langsung laporkan kepada saya. Dan saya tegaskan kepada semua jajaran guru juga pegawai lain di lingkungan SMU Nusantara ini, apabila diantara kalian di mintai keterangan pihak berwajib harap bekerjasama dengan baik. Selamat siang." Pak Roni selaku kepala sekolah akhiri rapat siang ini di ruang guru.
Sementara di ruang kelas XII IPS 2 suasana sangat rame dan heboh, hampir semua mulut bersuara. Kelas yang biasa siswanya sibuk dengan ponsel dan hanya terdengar beberapa celoteh di selingi sendau gurau di saat waktu belum mulai belajar, kali ini hampir semua siswa berkelompok berghibah.
"Iiihh! gue merinding tau pas liat beritanya di sosmed, itu sapa orang biadab yang berbuat keji kek gitu. Padahal setahu gue Sari orang nya baik banget." ucap Puput bergidik.
Puput adalah siswa yang duduk tepat di sebelah meja Hapsari, matanya melirik kearah bangku Hapsari di mana Dira sedang duduk merebahkan kepalanya di meja.
"Tapi gue heran sama bocah baru, kok dia nyaman banget ya duduk di situ padahal pas pertama kali duduk dia ampe teriak sekencangnya bikin seisi kelas kaget. Tapi sekarang sekarang kayaknya dia fine fine aja," saut Ambar menimpali.
"Gue pengen pindah sekolah, gue takut." Laras yang super penakut wajahnya selalu kelihatan tidak tenang.
"Iya gue juga pengen pindah sekolah auto paling enggak pindah kelas lah biar nggak kebayang sama Hapsari. Mana dulu gue deket banget lagi sama dia, udah kayak bestfriend beneran jadi gue ngerasa sedih banget setiap kali melihat ke bangku itu bayangan Hapsari muncul lagi di pikiran gue hiks hiks hiks," ucap yunisa sambil terisak.
"Ya elah napa kelas kita pagi-pagi jadi drama kayak gini, udah daripada ghibahin orang yang udah mati mendingan kita doain," celetuk Nisa yang di sambut nyinyiran oleh teman-temannya.
"Wooii! Sapa yang ghibah?" teriak Desi viral Nisa dari masa ospek yang gak pernah akur.
"Lah tu kalean ngapain kalau nggak ghibah? emang dengerin ceramah apa? Lagian gue kan cuman ngomong kalo orang yang udah mati enggak usah diomongin, kok lu sewot!" cetus Nisa.
"Dengar ya cebong! Gue cuman pengen nunjukin rasa simpati buat temen yang udah mati. Jangan mentang-mentang lu deket sama Hapsari lu ngebelain dia." balas Desi tak mau kalah.
__ADS_1
"STOP KALIAN PUNYA BA**T!" teriak suara Dika menggema membuat seisi kelas langsung menutup mulutnya.
"Huh!" dengus Nisa kepada Desi sambil melengos dan di balas oleh Desi dengan cara yang sama.
Dira mengangkat kepalanya berat, ini dikarenakan hampir semalaman Dira tidak bisa tidur akibat dari badannya yang kecapean dan sakit semua setelah hampir tenggelam untuk menemukan tong jasad Hapsari.
"Bisa gak sih Lo kalau ngomong jangan teriak!" geram Dira kepada Dika sambil memasukkan kedua telunjuknya ke dalam telinga dan mengeceknya.
Dika menatap Dira tajam dengan wajah juteknya, tapi saat tatapan Dika jatuh pada bibir Dira, Dika langsung menoleh ke depan dan kembali duduk membelakangi Dira.
"Cuih! Napa bayangan nafas buatan itu tiba-tiba nongol, Njiir sebel amat!" dengus Dika dalam hati.
"selamat pagi!" sapa Pak Haris guru MTK.
Dengan perawakan yang tambun dan bersuara Barito serta mata yang tajam tampak senyum di wajahnya membuat Pak Haris menjadi guru dengan julukan the killer teacher. Tak jarang selama proses belajar kalau ada siswa yang tidak disiplin, Pak Haris akan memberikan hukuman yang membuat murid menjadi kapok.
Hukuman diberikan Pak Haris bukan berupa lari keliling lapangan atau membersihkan toilet sekolah tapi dia akan menyuruh murid yang tidak mengerjakan tugas sekolah atau mencontek untuk menampar pipinya sendiri sampai 50 kali.
Apabila murid tidak mau melakukan Pak Haris akan menyeret murid itu masuk ke dalam gudang perpustakaan lalu menguncinya sampai jam pelajaran sekolah selesai.
"Kumpulkan tugas Kalian Minggu lalu." perintah Pak Haris.
"Cepetan mana buku lo Bim?" tanya Dika menagih.
Bimo tidak menyahut atau menjawab pertanyaan Dika dia malah berjalan ke depan menghampiri Pak Haris.
"Maaf Pak, buku tugas saya tertinggal di rumah." ucap Bimo pelan.
"Hmm," jawab Pak Haris menatap Bimo sekilas lalu matanya kembali melihat buku panduan guru yang sedang dia baca.
Plak Plak Plak Plak Plak Plak Plak Plak
Bimo menampar pipi kanan dan kirinya bergantian berkali-kali, siswa cowok yang melihat hanya menatap acuh sementara para siswi yang melihat kejadian itu ikut meringis dan memejamkan mata dengan adegan kekerasan itu.
Dira heran dengan sikap guru yang acuh dan semua muridbdiam tanpa ada yang memprotes hukuman gak masuk akal di sekolah baru nya. Dira mengambil kembali buku tugasnya diantara tumpukan buku tugas-tugas siswa yang sedang ada ditangan Dika.
"Ngapain lu ambil lagi?" tanya Dika menatap heran ke arah Dira.
__ADS_1
Dira tidak menyahut dia memasukkan buku itu ke dalam tas lalu dia berjalan ke depan, Dika yang melihat sikap Dira hanya diam melongo tak mengerti apa mau Dira.
" Saya juga tidak mengerjakan tugas Pak." ucap Dira dengan mata menatap Pak Haris.
Ucapan Dira membuat Dika dan Nisa terkejut karena mereka tahu benar bahwa Dira sudah mengerjakan tugas, bahkan dia sudah mengumpulkan bukunya tapi dia berbohong di depan Pak Haris bahwa dia belum mengerjakan tugas.
"Gila emang tuh cewek maunya apa lagi." batin Dika apa yang ada dalam pikiran Dira.
"Siapa nama kamu? Kamu anak baru ya?" tanya pak Haris beruntun.
"Iya saya anak baru Pak, nama saya Andira." jawab Dira tegas tak tampak ketakutan sedikitpun dari wajah atau kata-katanya.
"Lakukan hukuman seperti dia," perintah Pak Haris sambil matanya melirik ke arah Bimo yang sedang memukul kedua pipinya bergantian.
Dari dekat Dira bisa melihat pipi Bimo yang sudah memerah, entah udah berapa puluh tamparan yang di darat kan di pipinya. Tangannya pun sudah mulai tidak bertenaga tapi dia terus menampar pipinya berulang kali.
"Saya tidak mau menampar pipi saya." dengan tegas Dira menolak salah satu hukuman dari Pak Haris.
"Kalau begitu kamu ikut saya!" perintah yang beranjak dari duduknya.
Melihat hal konyol yang dilakukan Dira menantang jiwa pemberontak yang ada dalam diri Dika untuk tahu apa sebetulnya maksud dan tujuan Dira berbuat hal konyol seperti itu.Dan sepertinya Dika tahu bahwa ini adalah bentuk protes yang dilakukan Dira kepada hukuman yang diberikan Pak Haris.
"Dia emang beda dengan cewek lain." batin Dika.
"Pak buku tugas saya juga ketinggian." ucap Dika berbohong setelah mengambil buku tugas dalam tumpukan buku-buku siswa lain dan memasukkannya ke dalam tasnya.
Pak Haris menatap tajam ke arah Dika dengan mendengus, Dia seperti nya tahu kalo yang sedang mempermainkannya. Wajah sangarnya tersenyum menyeringai ke arah Dira dan Dika.
"Baiklah kalian berdua ikut saya." perintah Pak Haris dengan suara dingin.
Mereka bertiga keluar dari ruang kelas 12 IPS 2 diiringi tatapan heran saling memandang diantara masing-masing siswa yang ada di kelas itu.
"Njiir! Drama horor apa lagi kali ini?" gumam Robi.
...👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻...
Akan di bawa ke mana Dira dan Dika oleh the killer teacher.
__ADS_1
Yuk ikuti episode berikutnya
Maaf author lama up nya👃