
Selena mulai menempelkan karter ke urat nadi lengan kirinya, sambil meminjamkan mata dia menekan karter itu hingga kulitnya yang putih mulus mulai tergores. Aliran darah mulai mengucur lewat karter terus mengalir di sela-sela jarinya..
"Nona! Tolong jangan lakukan itu saya mohon nona." pekik Lilis berusaha mencegah tanpa berani mendekat dengan wajah sangat manis melihat kenikmatan Nona muda nya.
Selena tak menghiraukan kata-kata rilis semakin menekannya hingga darah semakin banyak dari luka goresan itu.
"Hiks hiks hiks." isak tangis terdengar dari bibir Selena.
Ting tong tong tong
bunyi suara bel pagar mengejutkan Lilis hingga terpecah perhatiannya l antara Selena dan rasa penasaran siapa tamu yang datang pagi-pagi. begitu mandi mata rilis menangkap wajah di ka di layar CCTV kamar Selena, hatinya tiba-tiba bersorak lalu tanpa sadar dia berteriak,.
" Mas Dikaa!!"
teriakan Lilis seketika menghentikan aktivitas Selena untuk mengakhiri hidupnya. Matanya langsung terbuka membulat sempurna dan karter di tangannya jatuh ke lantai bersimbah darah.
"Yank." ucap Selena langsung berjalan cepat hendak keluar kamarnya.
"Nona!" pekik Lilis sambil telunjuknya mengarah ke lengan kiri Selena yang masih mengucurkan darah segar.
Selena menunduk melihat tetesan darah di lantai lalu pandangannya beralih pada lengannya.
"cepat ambil kotak obat dia tidak suka melihat aku melukai diriku sendiri seperti ini." perintah Selena kepada Lilis tanpa memandang ke arahnya.
Tatapan mata Selena datar tanpa rasa takut atau jijik pada lengannya yang yang masih mengeluarkan darah.
"Mari Nona, saya akan obati luka nona." kata Lilis mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
Plak
Selena menepis kasar lengan Lilis sambil melotot tajam ke arah Lilis.
"Jangan pernah berani kamu menyentuh bagianq tubuhku! buka pagar dan suruh dia nunggu gue di bawah." tandas Selena dengan tatapan tajam ke arah Lilis, membuat Lilis tertunduk dan tak berani menatapnya.
Lilis berbalik badan dan berjalan keluar kamar Selena, sepeninggal Lilis Selena mengontrol luka di lengannya.
"Lo datang di saat yang tepat ka, takdir sepertinya masih menginginkan gue hidup lebih lama untuk ada buat Lo." sambil mengobati lukanya sendiri.
Ada senyum smirk yang tersungging di bibir tipisnya.
Sreett
Begitu pintu pagar terbuka tatapan mata Lilis langsung bertatapan dengan mata elang milik Dika yang tajam dan dingin.
"Silahkan masuk Mas." suara pelan hampir tak terdengar Lilis hanya gestur tubuhku saja yang jelas mempersilahkan Dika untuk masuk.
"Silahkan tunggu di sini Mas, sebentar lagi Nona akan segera turun." dengan tetap menunduk dan suara pelan Lilis berbicara.
"Hmm." jawab Dika acuh.
"Saya permisi Mas." pamit Lilis sebelum berbalik badan pergi meninggalkan Dika di ruang tamu yang sangat luas dan mewah.
Dika menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil matanya menyapu ruang tamu yang di dominasi putih campur moccha dengan perabotan mewah berikut hiasan dinding berupa lukisan keluarga Selena karya pelukis terkenal yang terpampang besar di salah satu dinding ruang tamu.
"Hai Ka." suara tenang Selena terdengar saat menuruni tangga.
__ADS_1
Dika hanya membalas sapaan Selena dengan seulas senyum tipis yang hampir tak terlihat.
"Tumben pagi-pagi kesini, pasti ada sesuatu yang lu cari." tebak Selena tanpa basa-basi.
"Sorry gue ganggu istirahat pagi tuan putri." saut Dika sambil melempar senyum.
"Tiap hari aja lu ganggu Ka, hidup gue bakal makin indah." goda Selena manja.
"Btw, gue ke sini pengen tau tentang Leo." ucap Dika serius seperti juga dengan wajahnya.
Selena menatap sejenak manik Dika sebelum kemudian dia mendudukkan bokongnya di sofa yang berhadapan dengan Dika.
"Siapa dia? N seberapa dekat Lo kenal dia?" dua pertanyaan yang membuat Selena menarik nafas panjang sebelum menjawabnya.
"Apa dia ada hubungannya dengan kematian Mine?" pertanyaan Dika yang terakhir membuat Selena menelan slavina nya.
"Kenapa Lo punya pemikiran kek gitu Ka? Gue emang kenal Leo dah lumayan lama dan di selama ini tinggal di Australia baru seminggu yang lalu dia pulang dari Australia. Dan dia tidak mengenal Sari. Bagaimana mungkin Lo punya pikiran kalau Leo ada hubungannya dengan kematian Sari." dengan santai dan tenang Selena menjawab pertanyaan Dika.
Tatapan Dika menelisik perkataan yang keluar dari bibir Selena. Selena yang menangkap keraguan Dika mulai mengatur duduknya lebih santai dengan menyilang kan kakinya yang jenjang dan putih mulus.
Sikap Selena membuat Dika tidak nyaman, Dika menarik tubuhnya ke depan dengan kedua lengan kekarnya bertumpu pada ke dua pahanya menatap serius wajah cantik Selena mantan pacarnya yang duduk menggoda santai di depannya.
"Dia anak mana?" tanya Dika menatap lurus ke bola mata Selena.
Mendapat tatapan seperti itu Selena tau jika Dika sedang tak ingin di goda, dia pun mulai berdiri dan menghindari Dika agar tak terpancing pertanyaan Dika lebih jauh.
"Sorry ka gue lagi gak mood ngurusin hidup orang lain, kalau Lo datang ke sini bersikap seperti seorang penyidik lebih baik Lo pulang Ka." usir Selena menantang.
__ADS_1
"Bukan maksud gue maksa Lo Len, cuma lu harapan gue satu-satunya untuk tau siapa pembunuh Mine. Dan feeling gue Leo ada kaitannya atau-"
"Stop! Pulang lah Ka gue lelah." ujar Selena lalu berbalik pergi ke kamar nya meninggalkan Dika yang masih berdiri mematung di ruang tamu.