
"AAAAHHH!"teriak cowok jangkung berhoodie sambil melindungi kepalanya dari pukulan kursi yang Hapsari layangkan kearahnya.
"Tolong, hentikan dia!" teriak Selena panik.
"PEMBUNUHHH!!" teriak Hapsari melengking.
Putra dan anak buahnya segera berlari ke arah Dira yang sedang mengamuk. Begitu juga dengan Dika dan teman-temannya serta Anisa dan Sasha.
Putra dan Alimi menghalau Hapsari yang ada dalam tubuh Dira untuk tidak menyerang cowok berhoodie dengan memegangi kedua tangan Dira. tapi seperti punya kekuatan super, Dira dengan mudah bisa memberontak cekalan Putra dan Alimi.
"PEMBUNUH! PEMBUNUH!" teriakan Hapsari sudah di luar kendali.
Hapsari kembali menyerang cowok berhoodie, dia menarik hoodie yang dipakai oleh cowok itu hingga membuat cowok itu terjengkang ke belakang dan rubuh ke tanah. Lalu Hapsari menendang sekuat tenaga tubuh cowok itu.
"AAHH!" cowok berhoodie itu berteriak kesakitan.
Putra dan Alimi kembali menghalang Dira dengan mencekal kedua tangannya sekuat tenaga dibantu oleh beberapa petugas.
"LEPASKAN! AKU INGIN PEMBUNUH ITU MATI. LEPASKAN!" teriak Hapsari berusaha meronta.
Melihat kondisi Dira yang sudah di luar kendali karena kerasukan arwah Hapsari, membuat Dika tidak tega dan dia pun langsung memegang lengan Dira. Seketika arwah Hapsari terpental keluar dari tubuh diri dan Dira pun lemas tak sadarkan diri. Untung saja Dika dengan cepat menangkap tubuh Dira hingga tidak terjatuh ke tanah.
"RA! BANGUN!" teriak Dika berusaha membangunkan Dira sambil menepuk pipinya beberapa kali.
"DIRAA!" teriak Nisa dan Sasha hampir bersamaan.
Mereka berdua pun langsung berlari menghampiri Dira yang tergeletak di pangkuan Dika.
"Aaaaahh," keluh Dira mulai sadar dan berusaha membuka matanya perlahan.
Begitu melihat wajah Dika yang sangat dekat dengan wajahnya, Dira terlonjak kaget dan langsung bangun dari tidurnya, saking refleknya kepala Dira membentur dagu Dika.
"Aaaawww!" teriak Dira dan Dika hampir bersamaan.
Dira menggeser tubuhnya menjauh dari Dika sambil mengelus kepalanya.
"Tuh kepala bener-bener batu ya ampe sakit banget dagu gue," gerutu Dika mengusap dagunya.
"Tangkap dia pak polisi!" teriak cowok berhoodie himat dengan telunjuk mengarah ke Dira.
Cowok berhoodie itu terlihat babak belur, kepalanya mengucur darah segar hingga mengalir mengenai wajahnya. Putra, Alimi dan beberapa petugas polisi langsung memegang kedua lengan Dira dan membantunya untuk berdiri.
"Gue akan tuntut Lo cewek gila! Penjarakan dia pak!" dengus cowok berhoodie itu.
"Maaf dek, karena perbuatan adek yang tidak menyenangkan korban terpaksa adik kami bawa ke kantor polisi." Putra berucap sambil menggelandang Dira masuk mobil polisi.
"Pak saya salah apa? Kenapa saya di tangkap?"protes Dira bingung.
"Om, Dira nggak salah Om. Jangan tangkap dia Om," pinta Dika yang persis bawa kerusuhan yang terjadi bukan ulah Dira tapi Hapsari.
"Maaf Om tetap bawa dia ke kantor." Putra berucap lalu pergi meninggalkan Dika dan juga rumah duka.
__ADS_1
"Nis, ini gimana kenapa Dira malah di tangkap polisi. Aduh sebetulnya apa sih yang terjadi dan itu cowok siapa? Kenapa Dira tiba-tiba nyerang dia?" Sasha panik hingga membuat mulutnya tak bisa diam.
"Udah stop Sha! Gue juga bingung?" ucap Nisa sampai berteriak karena shock.
"Kita harus telpon Mamanya Dira," gumam Nisa menyalakan hpnya dan mulai mencari nomor Mama Dira.
"Emangnya lu punya Nis, nomor Mamanya Dira?" tanya Sasha menatap ke arah Nisa.
"Astajim, gue nggak punya. Terus gimana dong Sha?" tanya Nisa mulai khawatir.
"Kita berdoa aja Nis, moga bebeb gak kenapa-napa,"saut Sasha terlihat cemas wajahnya.
Suasana rumah duka Hapsari seketika berubah menjadi heboh dengan kejadian yang timbul akibat ulah Hapsari yang di luar kendali dalam tubuh Dira. Hampir semua mulut bersuara hal ini membuat Selena dan lelaki berhoodie itu tidak nyaman dan buru-buru meninggalkan rumah duka.
Dika yang melihat gelagat mencurigakan dari cowok berhoodie dan Selena langsung pergi mengejar keduanya. Selena masuk ke dalam mobil nya mengikuti cowok berhoodie itu yang mengendarai motor trail. Dika melajukan motor ninja kesayangannya mengikuti mereka dari belakang.
"Gue harus jaga jarak supaya mereka nggak curiga," batin Dika.
Setelah hampir setengah jam mobil Selena dan motor trail cowok berhoodie itu memasuki sebuah rumah lantai 3 yang dijaga ketat oleh beberapa security.
"******, rumah sapa itu. Siapa cowok itu? Bisa saja dia salah satu pembunuh Mine, gue harus tahu tahu tentang itu," gumam Dika kembali memacu motornya meninggal rumah misterius.
***
Di kantor polisi.
Dira duduk dihadapan Putra keduanya saling menatap tak ada rasa gentar atau takut pada diri Dira karena dia merasa tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa.
Dira menatap tajam ke arah Hapsari sambil mengatupkan mulutnya dengan rahang mengeras, hati dan pikirannya benar-benar ingin meledak meluapkan kemarahan dan juga emosi atas apa yang dilakukan Hapsari hingga menyeretnya sampai ke kantor polisi.
"Cuih! Gampang amat lu minta maaf, emang dengan minta maaf masalah ini bakal bisa selesai?" hardik Dira dengan suara tinggi hingga membuat Putra dan Alimi yang ada di ruangan interogasi kaget dengan sikap Dira.
"Dek! Kamu yang sopan bisa kan!" kata Putra tegas.
Dira menatap tajam penuh amarah ke arah Hapsari membuat Hapsari tertunduk dan mengucap "Maaf."
"Maaf Om, bisa." saut Dira kesal dengan mulut cemberut.
"Saya tanya sekali lagi. Apa alasan kamu melakukan pemukulan terhadap korban yang bernama Leo?" tanya Putra untuk yang ketiga kali.
Selama pemeriksaan hampir 45 menit Dira selalu menjawab tidak tahu dan hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, sehingga membuat Putra sedikit jengkel apalagi dengan sikap Dira yang barusan yang membentak tanpa alasan.
"Tak tau Om, harus jawab apa kalau Dira tidak tahu," saut Dira kesal.
"Lagian saya juga nggak kenal om sama yang namanya Leo, itu beneran Om sumpah deh kalo Om gak percaya." ucap Dira beragumen hingga mengeluarkan kata sumpah.
"Sekarang saya akan rubah pertanyaannya tapi tolong dijawab dengan jujur, apa yang kamu ketahui kenal dekat dengan Almarhumah Hapsari?" tanya Putra.
"Kenal," saut singkat Dira sambil memegang telinganya mengusap-ngusap nya.
Dira memiliki kebiasaan unik jika dia dalam keadaan tegang atau panik dia akan mengusap telinganya untuk menenangkan hati dan pikirannya agar lebih relaks.
__ADS_1
"Kamu murid baru kan di sekolah itu?" tanya Putra mulai menelisik.
"Iya Om," jawab Dira.
"Kapan terakhir kamu ketemu dengan almarhum Hapsari?" tanya Putra kembali.
"Sekarang," jawab Dira dengan wajah serius.
"Bisa nggak dek kamu tidak bercanda, ini kantor polisi tolong jawab pertanyaan dengan benar." kata Putra dengan nada tegas.
"Om! Dira nggak bohong, memang sekarang Sari ada di samping Om bukan jasadnya tapi arwahnya dan om perlu tahu yang Dira kenal bukan jasad Hapsari tapi arwah Hapsari. Selama Sari hidup Dira tidak kenal sama sekali," saut Dira jujur.
Putra menengok ke samping kanan dan kiri dia tidak melihat siapapun lalu tangan kirinya memegang tengkuknya.
"Om nggak percaya apa yang Dira bilang?" Dira menatap tajam kearah Putra.
Dira berdiri dari duduknya menatap tajam ke arah Hapsari yang berdiri di samping Putra.
"Heh, Lu yang bikin gue sampai ada disini. Sekarang gue minta sama lo buat ngebuktiin sama mereka, kalau omongan gue itu nggak salah dan ini semua adalah ulah lo. Kalau sampai lo gak mau jangan harap gue bakal penuhi semua janji gue sama lu ingat itu!" geram Dira ketus.
"Oke, terus gue harus gimana?" tanya Hapsari sambil mengangkat kedua alisnya dan menyilangkan tangan di dadanya.
"Kasih kode kalau Lo ada," jawab Dira.
Putra dan Alimi yang melihat Dira bicara sendiri saling memandang dan bingung sambil mengangkat bahu.
"Cipil," saut Hapsari.
Hapsari mengambil pistol yang terselip di pinggang Putra perlahan, Dira terkejut dengan apa yang Hapsari lakukan tapi dia diam karena hanya cara ini akan dipercaya oleh polisi.
"Bang!" teriak Alimi yang kaget setengah mati melihat pistol Putra melayang di udara menodong tepat berada ada di samping kepala Putra dengan jarak yang amat dekat.
Ceklek Ceklek
Wajah Alimi makin panik saat posisi pistol dalam keadaan siap tembak. Putra melirik dengan ujung matanya ke arah pistol yang tepat berada di pelipisnya hanya berjarak beberapa inci.
"Om percaya kan sekarang, semua yang terjadi bukan ulah Dira tapi arwah Hapsari," ucap Dira datar menatap Putra.
"Jangan main-main dengan pistol ini, cepat singkirkan." suara Putra bergetar karena rasa takut dan panik
-
-
-
Apa yang bakal terjadi apakah arwah Hapsari akan melakukan perbuatan nekat lagi.
Ikuti episode berikutnya di Titipan Mata Arwah.
Terima kasih untuk dukungan dan juga jejaknya dukung terus ya biar author semangat untuk up
__ADS_1