
Dika dan arwah hapsari terpaksa naik angkot di tengah udara panas, untung saja siang ini penumpang angkot tidak terlalu rame alias sepi. Mereka tidak bisa berboncengan motor seperti sebelum Hapsari meninggal untuk menghindari bersentuhan.
"Mine, lu gak salah kan arah yang mau kita tuju?" Dika kembali menegaskan kepada Hapsari yang duduk di depan nya.
"Enggak Mars, aku yakin emang ini arahnya, aku hanya lupa tentang kejadian sebelum mereka membunuhku tapi sesudah nya aku ingat dengan baik. Kamu tau kan Mars ingatanku yang terbaik hehehe." jawab Hapsari memuji diri sendiri.
Dika hanya tersenyum dan memberikan acungan jempolnya. Hapsari membuka kaca jendela angkot yang macet dengan paksa, untuk mencari angin akibat udara yang pengap dalam angkot.
"Geser Mine biar gue yang buka." ucap Dika mulai mengangkat badan untuk pindah posisi di samping Hapsari.
Hapsari menggeser badannya merapat ke belakang mobil angkot menempel pada kaca belakang. Dika dengan sekuat tenaga hingga terlihat otot lengannya mencoba membuka kaca samping jendela mobil dengan susah payah dan akhirnya terbuka.
"Tanganmu Mars!" pekik Hapsari tertahan saat melihat garis merah yang membekas ditelapak tangan Dika.
Tangan Hapsari terulur hendak memegang luka merah di telapak tangan Dika tapi kembali di tarik, Hapsari takut apabila dia bersentuhan dengan Dika pasti langsung terhempas keluar dari tubuh Dira.
"Hiks hiks hiks,"
Hapsari menangis karena sedih, marah, dan juga kesal. Keadaannya sekarang membuatnya terasa punya jarak yang jauh dengan Dika walaupun Dika ada di depan mata tapi dia tidak mampu menyentuhnya.
"Kok kamu nangis." Dika bertanya sambil mengerutkan dahi.
Hapsari menutup wajahnya, membenamkan tangisnya diantara dua telapak tangannya. Dika bertambah bingung duduknya mulai tak tenang, ingin dia menggenggam tangan Hapsari atau bahkan memeluknya seperti yang biasa dia lakukan. Tapi jika itu di lakukan Hapsari akan menghilang, dan Dika tidak menginginkan itu.
"Mine please jangan nangis itu bikin gue sad." pinta Dika menunduk dalam.
Hapsari melihat ke wajah Dika ada kesedihan hingga membuat Hapsari merasa tidak enak.
"Maaf Mars, kamu tau kan ini terlalu sulit untuk aku terima. Keadaan kita membuat hati ku sakit dan terluka. Jarak kita begitu dekat tapi kita tak bisa saling bersentuhan. ini membuat aku benar-benar terluka. Kenapa takdir mempermainkan kita begitu tragis hiks hiks hiks." keluh Hapsari di antara isak tangisnya.
Dika menatap wajah Hapsari, dia pun rasanya sulit menerima kenyataan seperti ini tapi apa yang bisa dia lakukan.
Bug.
Pukulan keras dengan tinju sekuat tenaga Dika lampiaskan pada jok, membuat sopir melotot kearah nya lewat kaca spion.
__ADS_1
"Woii, Jangan rusak angkot gue, kalian kalo lagi berantem turun aja!" teriak pak sopir.
"Sorry Bang." ucap Dika meminta maaf sambil mengangkat telapak tangan kanannya di depan dada.
"Apa masih jauh?" tanya Dika setelah suasana hening untuk beberapa saat.
"Sementara lagi setelah jalanan naik nanti ada turunan, sungainya ada di situ." jawab Hapsari hari tanpa menatap ke arah Dika.
Benar saja apa yang dikatakan Hapsari, begitu setelah jalan menanjak Lalu ada turunan. Tak jauh dari situ ada sebuah sungai yang sangat besar.
"Itu tempatnya," teriak Hapsari bergegas hendak turun padahal mobil belum benar-benar berhenti
Dika yang melihat itu spontan langsung mencekal tangan kanan Dira agar dia tidak terjatuh dari mobil. Tapi begitu tangan Dika menyentuh tangan Dira yang dimasuki arwah Hapsari, seketika arwah itu terpental keluar dari tubuh Dira.
"Aaaaa!" teriak Dira hampir saja jatuh jika dia tidak memegang lengan Dika dengan kuat, karena begitu arwah Hapsari keluar dari tubuh Dira, Dika melepaskan cekalan tangannya karena kaget.
"Gila lo! Mau bikin gue celaka ya!" bentak Dira melotot tajam ke arah Dika.
"Sorry gue kaget." dengan santai tanpa rasa salah jika menjawab tanpa melihat ke arah Dira.
"Nih Bang. Ambil aja kembaliannya." kata Dika sambil mengulurkan uang Rp20.000 kepada Abang angkot lalu dia bergegas mengejar Dira.
"BERHENTI!" teriak arwah Hapsari di telinga Dira hingga membuat Dira bergidik dan memejamkan matanya.
"Enggak usah teriak kali! Gue kan nggak budek!" Dira balik membentak menatap Hapsari yang berdiri tanpa menyentuh tanah yang Dira pijak.
Dika yang melihat sikap Dira hanya bisa tersenyum, bagaimana dia tidak tersenyum Dira seperti orang gila yang bicara sendiri tanpa sadar padahal mereka sedang berjalan di jalan yang cukup ramai. Bahkan beberapa orang yang ada yang melihat heran ke arah Dira sambil menggelengkan kepala atau menaruh telunjuk di keningnya.
"Cantik-cantik stress kasihan banget untung anak gadisku gak stress walaupun gak cantik." gumam seorang penjual gorengan di pinggir jalan yang mereka lalui.
"Ra, Please bantuin kita nemuin tong itu," dengan suara lirih Hapsari memohon.
Dira menghentikan langkahnya, dia menoleh ke samping menatap Hapsari lalu menengok ke belakang melihat ke arah Dika, membuat Dika menghentikan langkahnya lalu tatapannya kembali tertuju pada Hapsari Dira melipat kedua lengan di depan dadanya
"Gue orang yang selalu nepatin janji, jadi nggak usah lu khawatir. Sekarang di mana Tong itu berada, coba lo tunjukin sama gue." perintah Dira kepada Hapsari.
__ADS_1
Hapsari berjalan di depan, Dira mengikutinya dari belakang Begitu juga dengan Dika.
"Di sebelah situ." Tunjuk Hapsari pada sebuah batang pohon kering yang tumbang di pinggir kali dengan sebagian batangnya menjorok terendam ke sungai.
Dira menatap tempat yang di tunjuk Hapsari, Tiba-tiba hatinya sedih. Tak terbayang rasa yang harus Hapsari telan dan rasakan melihat jasad nya terlantar dan teraniaya dengan sadis saat sudah tak bernyawa, kebiadaban apa yang Orang-orang lakukan terhadap Hapsari saat jelang ajalnya.
"Lu udah tau di mana tong itu?" tanya Dika menatap Dira.
Dira mengangguk telunjuk tangan kiri nya mengarah pada batang pohon kering yang tumbang di sungai. Mata Dika tertuju ke arah batang pohon itu.
"Maksud Lu di bawah pohon itu?" tanya Dika memastikan.
"Iya." jawab Dira lemah.
Dika langsung melemparkan tas dan melepaskan sepatunya, begitu juga dengan baju dan celana seragamnya. Kini dia hanya mengenakan kolor berwarna hitam, melihat hal itu Dira langsung menutup matanya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Lu tunggu kalau dalam 5 menit gue gak nongol di permukaan air sungai, cepat cari bantuan. Ngerti lu." pesan Dika sebelum mencebur ke sungai.
"Tunggu! Kenapa kita nggak nyari bantuan aja, itu terlalu beresiko. Apalagi arus sungai cukup deras." saran Dira terlihat khawatir takut terjadi apa-apa dengan Dika.
"Kelamaan."
Byuuurrrr.
"Eh lo! jaga cowok lu, Takut terbawa arus." ucap Dira pada Hapsari cemas.
"Jangan khawatir, Mars jago menyelam." Ucap Hapsari tersenyum melihat ke arah Dika menyelam.
...🥺🥺🥺🥺🥺🥺...
Apakah tong itu ketemu sama Dika
ikuti episode selanjutnya Titipan Mata Arwah.
Terima kasus like vote dan gift komentar nya 😊🙏🙏
__ADS_1