Titipan Mata Arwah

Titipan Mata Arwah
Jangan Ambil Mars!


__ADS_3

Hujan deras di tengah - tengah cuaca panas tiba-tiba turun seperti air bah yang tumpah tanpa bisa di halau, Dira berdiri di ujung koridor gedung sekolah tempat kelasnya berada sambil mengerutkan dahi menatap hujan.


Dira memeluk tubuhnya sendiri, hawa dingin seketika membuat tulang-tulang nya terasa ngilu.


"Deras hujannya." suara datar cowok persis di belakangnya yang akhir-akhir ini begitu familiar di telinganya.


Deg.


Jantung Dira sekali berdetak kencang dan sempat membuat perasaan aneh menjalar di seluruh tubuhnya.


"Gak mungkin gue suka dia. Tapi kenapa tiba-tiba perasaan gue nggak karuan gini? suara itu bikin jantung gue berdebar. Oh my God jaga hati gue, gue nggak mau berurusan sama arwah itu hanya karena perasaan kayak gini." batin Dira menggigit bibir bawahnya sambil jari jemarinnya saling meremas Karena rasa gugup yang tiba-tiba muncul.


"Lo yakin, hujan kayak gini nyokap Lu pasti datang jemput Lo?" pancing Dika dengan kaki mulai melangkah persis dan sejajar berdiri di samping Dira.


Dira diam tak merespon atau melirik sekalipun ke arah Dika, wajahnya benar-benar dia buat cuek dan datar sedemikian rupa seperti biasa dia tidak ingin Dika tahu akan perasaannya saat ini yang sedang berperang di dalam hati.


"Suek bener nih cowok bikin gue grogi abis. Ngapain juga dia deket-deket gue." batin Dira mulai grogi.


DUARRRRR


"AAA!" Dira tersentak kaget sambil mengangkat pundaknya saat tiba-tiba suara guntur menggelegar begitu dekat di telinga.


Dika menoleh ke Dira menelisik wajah yang tepat ada di sampingnya.


"Sama-sama cantik tapi beda pribadi." gumam Dika yang terdengar jelas di telinga Dira.


Dira melirik Dika dengan sudut matanya.


"Gaje lu." saut Dira seperti bicara pada diri kita sendiri.


Dika kembali meluruskan wajahnya ke depan menatap derasnya hujan yang turun dari langit di serta kilat dan guntur bergantian. 15 menit berlalu sementara lebatnya hujan yang turun bukan semakin mereda tapi semakin deras hingga membuat genangan air terlihat di halaman sekolah.


"Kek nya nyokap lu kejebak banjir di daerah Green Pasadena, kalau hujan kayak gini perumahan itu udah langganan banjir di atas lutut," dengan santai jika memberi informasi tanpa menoleh ke arah Dira.


Dira yang pendatang baru di daerah tempatnya tinggal sekarang tidak mengetahui hal-hal seperti itu dan apa yang disampaikan Dika membuatnya membulatkan mata menoleh ke arah Dika.

__ADS_1


"Serius Lo?" tanya Dira terkejut.


Dika tidak menjawab Dia hanya melirik Dira dengan ujung matanya sebagai tanda mengiyakan dengan ujung matanya.


Dira memutar kepalanya ke arah belakang samping kanan lalu terakhir ke kiri terlihat beberapa siswa bergerombol di koridor menanti redanya hujan. Tak sedikit beberapa siswa yang kebanyakan cowok menerjang derasnya hujan berlari ke arah parkiran.


"Masih menolak tawaran gue? Hummm.,. atau lu milih bermalam di sini?" tanya Dika lebih seperti menggoda.


Dira menoleh ke arah Dita sambil melotot tajam membuat Dika menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Yaelah tuh mata kayak gitu amat sih, gue cuma nawarin nganterin lu pulang bukan mau nyulik lo. Nggak usah pakai melotot gitu kali sans aja." kritik Dika santai.


ucapan Dika membuat tatapan Dira ketika berubah dengan bola mata menari dan melemparnya ke arah lain karena gugup.


Dika memiringkan kepalanya mendekat ke arah Dira.


"Gue baru nawarin lo ngantar pulang. Bukan ngajak lo kencan jadi nggak usah gugup kayak gitu." goda Dika membuat Dira makin gugup.


"Ini cowok ternyata lemes juga." batin Dira mulai menguasai kegugupannya.


"Sekarang." ucap Dira seperti pada dirinya sendiri tanpa menoleh ke arah Dika tatapan matanya tetap lurus menembus lebatnya hujan.


"Pulang, emang apalagi yang barusan kita bahas selain pulang kan?" pertanyaan jutek keluar dari bibir Dira membuat Dika sedikit tergagap.


"Ohh iya. BTW emang nggak apa-apa hujan-hujanan?" tanya Dika memastikan keinginan Dira.


"Mending kehujanan daripada kemalaman." saut Dira sekejap kemudian dia berlari kecil menerobos hujan menuju parkiran meninggalkan Dika yang masih bengong melihatnya.


"Cewek aneh tapi makin bikin kepo jiwa jomblo gue."


"MARSSSS!!!" langking Hapsari persis di belakang Dika dengan wajah merah dan kedua tangan mengepal karena kesal bercampur marah terbakar rasa cemburu.


Di bawah guyuran hujan deras Dira menengadahkan wajahnya ke langit menantang rintik-rintik hujan sambil sesekali mengusap wajahnya dengan senyum mengembang, dia seperti sedang menikmati guyuran air hujan yang menusuk seperti jarum akupuntur di wajahnya.


Dika yang melihat perilaku bocil Dira hujan-hujanan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan lalu berlari kecil menyusul langkah Dira.

__ADS_1


"Masa kecil kurang bahagia."monolog Dika yang masih terdengar jelas di telinga Dira.


"Masih mending bisa nikmati kembali masa kecil daripada nggak pernah bahagia sama sekali." balas Dira membuat Dika mengernyitkan dahi.


"Cewek satu ini selalu punya kata-kata untuk melawan omongan gue."batin Dika sambil membuat lengkungan di kedua sudut bibirnya ke bawah.


"Pakai," titah Dika saat tangannya mengulurkan helm pada Dira.


kedua muda-mudi itu pun berkendara motor menerobos hujan lebat, Dira berpegang kuat pada jok motor walaupun posisi seperti ini sangat tidak nyaman untuk Dira.


"BERHENTI!!" lengking Hapsari yang terbang persis di samping motor yang mereka kendarai di bawah derasnya hujan.


Dira tersentak kaget hingga membuat dia berpegang kuat pada kemeja Dika.


"Turunin gue sekarang juga!" teriak Dira di telinga Dika.


Tapi derasnya hujan membuat suara Dira hilang dan terdengar samar-samar di telinga Dika.


"APAAN!"teriak Dika sambil menoleh sekejap ke belakang.


"CEPAT TURUNIN GUE SEKARANG JUGA!!" jawab Dira dengan berteriak


"KENAPA?"tanya Dika heran.


"DIA MARAH! CEWEK LU MARAH! TURUNIN GUE SEKARANG JUGA!" teriak Dira sambil menepuk pundak Dika


"DI MANA LU LIHAT DIA DI MANA?" tanya Dika makin penasaran.


"DIA ADA DI SAMPING KITA DIA TERBANG GUE NGGAK MAU TERJADI HAL BURUK SAMA KITA! TURUNIN GUE CEPAT!"jawab Dira sambil berteriak mulai panik


"PEGANG GUE! DIA NGGAK AKAN KELIHATAN KALAU LU PEGANG GUE ITU KAN YANG LU BILANG?"


"IYA TAPI!"


Hujan deras membuat jarak pandang begitu dekat, tapi derasnya hujan masih tetap membuat Dira samar-samar melihat bayangan Hapsari dengan mata merah seperti darah memandang ke arah mereka.

__ADS_1


"HASSTT! KELAMAAN LO!" teriak Dika sambil menggenggam erat tangan kiri Dira dan meletakkan tepat di atas pusarnya.


"LO NGGAK BISA LIHAT GUE TAPI LO BISA DENGER KATA-KATA GUE! GUE NGGAK AKAN PERNAH TERIMA LU DEKET DAN NGAMBIL MARS DARI GUE INGAT ITU! JAUHIN MARS GUE KEMBALIKAN MAS GUE SEBELUM GUE BIKIN HIDUP LO BENAR-BENAR HANCUR DIRA!" ancam Hapsari membuat bulu kuduk Dira benar-benar merinding.


__ADS_2