Titipan Mata Arwah

Titipan Mata Arwah
Aku Bukan Dia


__ADS_3

Mentari pagi menyingsing di ufuk timur tanda setiap insan siap memulai aktivitasnya. Hapsari sudah berdandan rapi mengenakan baju sekolah yang dibawa Dika dari rumah Dira.


"Cantik, Akhirnya aku bisa kembali memakai seragam ini dan juga dekat sama Mars." Hapsari terlihat sangat bahagia beberapa kali dia memutar-mutar tubuhnya di depan kaca.


"Mine...," panggil Dika dari luar kamar kost Alena.


"Dia datang." cepat-cepat Hapsari membuka pintu dengan senyum mengembang di bibirnya menyambut Dika.


Ceklek.


Begitu pintu kamar dibuka mata Dika penuh dengan sorot terpesona melihat Hapsari dalam tubuh Dira dengan tampilan yang berbeda.


Beberapa saat Dika hanya diam mematung mengagumi wajah cantik di depannya. Hapsari menggoyang-goyangkan telapak tangan kanannya di depan wajah Dika hingga membuat Dika tersadar dan menjadi gugup.


"Gimana Mars? Aku gak keliatan kucel kaya cewek itu kan?" tanya Hapsari membandingkan dirinya saat ini dengan penampilan Dira yang biasanya cuek.


Dika tak merespon matanya tetap memandang wajah Dira yang di kuasai Hapsari tanpa berkedip. Melihat hal itu membuat Hapsari kesal.


"Halooo...!" seru Hapsari menyadarkan Dika.


Dika berkedip lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Apa wajahnya lebih cantik dari wajahku yang sebenarnya?" pertanyaan Hapsari mulai merajuk.


"Kita berangkat sekarang." Dika membalikkan tubuhnya tak menjawab pertanyaan Hapsari.


Melihat hal itu semakin membuat Hapsari kesal, sambil menghentakkan kakinya Hapsari berjalan cepat mendahului Dika. Dika hanya memandang datar punggung Dira yang dimasuki arwah Hapsari.


”Semoga Lo selalu baik-baik saja Ra." bisik Dika.


Hari ini Dika dan Hapsari berencana untuk menguak satu persatu teka-teki atas terbunuhnya Hapsari. Salah satu petunjuk yang mereka punya adalah Selena karena kedekatannya dengan Leo.


Dika yang biasanya ke sekolah membawa motor sportnya kali ini dia lebih memilih membawa mobil karena ini lebih aman tidak bersentuhan dengan Hapsari.


Hapsari menyalakan pemutar musik yang ada di mobil Dika lalu dia memilih sebuah lagu dari deretan lagu-lagu hits yang ada di daftar list yang terpampang di layar LED berukuran mini. Tangannya langsung menekan salah satu judul lagu yang biasa di nyanyikan Dika saat mereka masih bersama.


Alunan gitar akustik langsung terdengar merdu mengawali lagu wali band yang berjudul baik-baik sayang.


Deg


Ada debar di hati Dika memorinya langsung melangkah mundur ke masa lalu. Hapsari mengikuti setiap lirik lagu itu sambil kepala berayun-ayun mengikuti alunan musik, sementara Dika beberapa kali melirik Hapsari menyungging senyum tipis.


"Coba seandainya itu Lo Ra, gak bakal Lo bersikap seperti ini." batin Dika terselip kecewa di hatinya saat kembali menyadari bahwa sekarang yang ada di tubuh Dira adalah Hapsari.


Begitu sampai pada lirik reff, Hapsari sedikit meninggikan suaranya

__ADS_1


Hanya satu pintaku


Untukmu dan hidupmu


Baik-baik sayang


Ada aku untukmu


Hanya satu pintaku


Di siang dan malam mu


Baik-baik sayang


Karna aku untukmu....


Alunan merdu suara wali band di tambah suara Hapsari membuat mobil tak terasa sudah ada di depan sekolah yang mulai rame didatangi para siswa, bahkan terjadi sedikit kemacetan tepat di pintu gerbang ke arah parkiran.


Begitu selesai memarkirkan mobil Dika dan Hapsari keluar dari mobil, Penampilan Hapsari dalam tubuh Dira terlihat mencolok dengan rambut lurusnya yang digerai ditambah lagi dengan polesan make up tipis dan natural wajahnya benar-benar cantik bertolak belakang dengan keseharian Dira sebelumnya yang selalu tampil cuek tanpa polesan make up sedikitpun.


"Micin, coba Lo cubit pipi gue." pinta Nisa saat manik matanya menatap


Dira dengan terkejut dengan mata membulat.


Penampilan bak model Dira saat ini benar-benar mengalahkan Selena sebagai seleb di SMU mereka. Bukan hanya Nisa yang terkejut dengan perubahan penampilan Dira saja, tapi hampir semua siswa siswi yang berpapasan dengan mereka atau yang sedang bergerombol di pinggir jalan setapak menuju sekolah dibuat kagum dan tercengang.


"Aaauuuwww! Sakit oge!" bentak Nisa menepis kedua tangan Sasha yang ada di pipinya.


"Tadi kan kamu bilang minta aku cubit pipi kamu Nis Nis." protes Sasha dengan suara manjanya.


"Dah skip. Lo lihat cewek yang lagi jalan sama Dika itu beneran Dira kan?" tanya Dira sambil membalikkan wajah Sasha menatap ke arah halaman depan sekolah.


"OMG! DIRAA!" saya langsung beranjak dari dudukmu berlari centil menghampiri Dira.


"Lo Dira kan?" tanya Sasha ini meyakinkan penglihatannya.


Tidak ada senyum di wajah Dira seperti biasanya saat bertemu dengan kedua sahabatnya.


"Hai," sepatah sapaan yang terasa canggung di telinga kedua sahabat Dira.


"Are you okay Beb?" tanya Nisa khawatir melihat tatapan mata Dira kali ini beda tak seperti biasa.


Apa yang dilihat dan dirasakan Nisa sama seperti yang Sasha rasakan, tatapan mata itu begitu dingin dan hampa. Nisa dan Sasha saling berpandangan sambil mengedikkan bahu, sementara Hapsari malah mengalihkan pandangannya cuek seperti sedang mencari seseorang.


"Ra kita ke kan-."

__ADS_1


Belum sempat Nisa menyelesaikan kalimatnya, Hapsari ngeloyor begitu saja meninggalkan mereka berdua berjalan cepat seperti sedang mengejar seseorang.


"Apa yang terjadi?" tanya Nisa curiga pada Dika sambil melotot.


Sejenak Dika memandang Nisa dan Sasha bergantian ada kebingungan dari sorot mata Dika hingga membuat Nisa menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres dengan Dira. Dua langkah Nisa mendekati Dika dengan tatapan siap menerkam.


"Jujur gak Lo!" tandas Nisa mendengus.


"Dia Mine." akhirnya pengakuan itu keluar dari mulut Dika.


Wajah tenang masih terlihat jelas di wajah Dika saat menyampaikan berita itu.


"Shitt! Kalian bertiga bener-bener gila!" geram Nisa.


Nisa mundur selangkah tampak dia menarik nafas dalam lalu menghembuskan dengan kasar hingga pori-pori kulit wajah Dika masih bisa merasakannya.


"Pantas saja dia cuek sama kita." ucap Sasha kecewa.


"Mars! Come here!" panggil Hapsari sambil melambaikan tangannya.


Hapsari tampak sedang menyapa Selena tak seperti biasanya yang acuh bahkan tergolong berani jika berhadapan dengan Selena, hal ini menimbulkan keheranan dalam diri Selena.


"Dira, kenapa dia begitu ramah sama gue hari ini?" batin Selena memasang wajah pura-pura ramah seperti biasanya.


"Len, aku minta maaf ya kejadian pas waktu itu sama temen kamu Leo." Hapsari meminta maaf dengan bersikap seolah-olah menyesal.


"Aku?Kamu? Gak salah? Tumben gak preman kaya biasanya. Apa dia baru kesambet hantu baik nan sopan?" beberapa pertanyaan langsung berputar di pikiran Selena .


"Len, lu masih suka berkuda?" tanya Hapsari tiba-tiba meluncur dari mulutnya.


Selena tersentak kaget dengan mata membulat penuh.


"Bagaimana mungkin dia tahu hobi gue sementara gue nggak deket sama dia?" batin Selena dengan satu pertanyaan yang membebani isi kepalanya.


Dari kejauhan tampak Nisa menatap Hapsari yang ada dalam tubuh Dira dengan tatapan sangat marah sampai-sampai dia mengepalkan telapak tangan kanannya siap meninju. Dengan memasang kuda-kuda siap perang Nisa melangkah dengan tatapan tajam mendekati Hapsari.


Dika yang melihat hal itu langsung mencekal kuat dengan Nisa.


"Jangan lakukan hal bodoh yang bisa membuat Dira celaka!" cegah Dika membalas tatapan tajam Nisa.


"Lepasin gue!" bentak Nisa menarik lengannya kuat.


"Jangan lakukan hal bodoh yang bisa bikin Dira celaka!" kembali Dika mengulangi kata-katanya kali ini lebih sebuah ancaman untuk Nisa.


"DASAR BUCIN AKUT LO! GARA-GARA LO CINTA SAMA DIA LO KORBANIN SOHIB GUE! COWOK BRENGSEK LO!" teriak Nisa sambil menunjuk ke arah Hapsari yang ada dalam tubuh Dira.

__ADS_1


Hampir semua yang ada di dekat mereka menoleh dan memperhatikan pertengkaran itu termasuk Selena dan Hapsari.


"What! Dika mencintai kunyuk ini?" tanya Selena dalam hati sambil meremas botol air minum yang ada di tangannya.


__ADS_2