
..."Gimana perasaan kamu kalau kamu selalu dimanfaatkan orang tapi orang itu tidak tahu rasa sakit mu"...
...~Dira~...
JANGAN LUPA LIKE KOMENTAR KAKAK🙏
...~~~~~~~...
Kalau dilihat dari goresan luka, Selena tidak benar-benar ingin bunuh diri. Bahkan dia cukup cerdik membuat luka itu hampir saja menyentuh urat nadi pergelangan tangannya.
"Jangan lakukan hal ini lagi, kalau kamu lakukan bisa saja akan benar-benar fatal akibatnya," pesan dokter Fadli yang masih merupakan kerabat Selena.
Fadli tahu benar sifat ponakannya yang satu ini cenderung obsesif, dia akan melakukan hal nekat sekalipun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Lena hanya ingin menggertak dia Om." Saut Selena tersenyum smirk.
"Masih saja Dia yang jadi obsesimu?" tanya Fadli sambil melirik Selena lalu matanya berpindah ke arah luar di mana Dika sedang duduk dengan wajah cemasnya.
"Dia Cinta Pertama Lena Om dan dia akan jadi cinta terakhir Lena." suara datar tapi dingin dari mulut mungil Selena.
Fadli hanya melirik tajam dengan ujung matanya sambil menggelengkan kepala.
"Sayang!" teriak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan elegan berjalan tergesa dengan wajah cemas.
Selena menoleh ke arah sumber suara sambil mengembangkan senyum.
"Mama!" saut Selena.
"Apa yang terjadi sayang? Mama dengar kamu coba bunuh diri. Kenapa kamu lakukan itu sayang? Kamu selalu membuat Mama cemas."
"Ma, udahlah Lena baik-baik aja kok cuman luka dikit doang." jawab Selena dengan santai.
"Tante Lisa, bisa kita bicara sebentar berdua." ajak Fadli kepada Lisa.
"Sayang, Mama tinggal dulu ya. Jangan lakuin hal bodoh seperti ini lagi! Kalau kamu tidak ingin Mama mati mendadak."pesan Lina kepada Selena yang hanya dibalas dengan kedipan mata.
Selena menatap Dika dari kejauhan lewat jendela kaca ruang IGD.
"Gue nggak peduli lu cinta atau Obsesi gue, gue cuma nggak ingin ada orang lain yang dapetin lu selain gue." batin Selena.
Arwah Hapsari yang berdiri di sisi ranjang Selena menampakan wajah seram penuh kemarahan melihat sikap Selena yang bermuka ganda.
"Cuih dasar cewek muna, sok kek malaikat padahal hatinya busuk. Qhh... kasian Mars udah di tipu sama malaikat berhati iblis." maki Hapsari.
Dika terlihat berdiri dan berjalan menuju bankar Selena, ada senyum terpaksa yang terkembang dikedua sudut bibirnya. Selena membalas senyum Dika dengan senyum manis di bibirnya.
"Maaf." satu kata yang keluar dari bibir tipis Selena.
__ADS_1
Dika mengusap kepala Selena.
"Gue nggak bisa terima keputusan lo ka. Gue nggak bisa mikir Ka, gue beneran kaget dengan putusan elu, sampai akal sehat gue enggak gue pakai dan putus asa. Hiks hiks hiks." Selena memeluk pinggang Dika dan membenamkan tangisnya.
Dika tak bersuara tangannya lunglai, tatapan matanya kosong, dia ragu dengan hati nya melihat kondisi Selena. Ada rasa bersalah yang tak bisa dia tepis segitu saja.
"Gue janji Ka, bakal ngelepasin lu. Tapi tolong pelan-pelan agar rasa sakit hati gue nggak terlalu dalam. Lu ngerti kan Ka maksud gue." ratap Selena mengiba.
"Mars Lu gak boleh lemah, gue mohon Mars! Jangan kembali sama dia lagi. Dia akan jadi belenggu rasa iba dan juga rasa bersalah lo!" pekik arwah Hapsari seperti angin.
"Sudahlah Len, walaupun kita nggak jadi pasangan, gue akan menjadi teman terbaik buat lu. Oke, kita akan pelan-pelan untuk saling menjauh agar lu nggak merasa kehilangan banget." janji Dika sambil tangannya menepuk punggung Selena pelan.
"Dasar cewek psikopat! Arogan tak tahu malu, orang cowok udah nggak mau masih aja di kejar-kejar sampai mau bundir segala." gerutu arwah Hapsari.
"Gue harus nemuin Dira." ucap Hapsari merasa emosinya di dekat Dika dan Selena percuma saja.
***
Teettttttt.
Bel sekolah berbunyi tanda waktu pulang tiba. Segerombolan siswa mulai berhamburan ke luar dengan semangatnya.
Cuaca di siang hari ini memang sangat cerah tetapi juga panas sehingga membuat siapa pun ingin beristirahat dengan tenang. Dari depan pintu gerbang sekolah terlihat tiga orang sedang berjalan bersama yaitu Dira, Nisa dan Sasha.
"Aduh buruan cans panas banget!" ajak Sasha yang berada di tengah menarik kedua tangan sahabatnya.
Tapi Sasha cuek saja dan malah berlari diantara kerumunan siswa yang berjalan menuju parkiran atau gerbang sekolah. Langkah Sasha berhenti saat matanya menangkap sosok Ardan yang bersandar pada pohon Akasia di depan halaman sekolah.
Dira memandang Nisa dan menyenggol lengannya.
"Gebetannya." ucap Nisa dengan menggunakan bahasa bibir.
"Ooh." Dira membulatkan mulut nya.
"Ehem," Nisa berdeham membuat Sasha yang sedari tadi menatap Ardan menengok ke belakang.
"Kalian duluan aja ya, gue bareng dia." ucap Sasha malu-malu.
"Dia? Bu Diana maksud lu? Hahaha." goda Nisa tertawa terbahak.
Begitu juga dengan Dira yang ikut tertawa mendengarkan candaan Nisa.
"Huzz... huzz. Jomblo menyingkir!" balas Sasha tak mau kalah.
"Yaelah sohib dah di samain kek kucing aja kalo udah ketemu bebebnya." cebik Nisa.
"Udah Nis, kita mlipir aja cari kopi sayang sambil nunggu jemputan yuk. Biar gak ada yang ayang-ayang kita tapi masih bisa minum kopi sayang yang penting ada kata sayang hehehe." Dira menarik tangan Nisa yang masih pura-pura kesal.
__ADS_1
"Sorry lama," ucap Sasha yang di balas dengan senyum tipis Ardan.
Ardan menggandeng tangan Sasha dan mengajaknya ke tempat parkir untuk mengambil motornya. Begitu sampai di salah satu motor fairing yang biasa di sebut dengan motor Ninja warna hijau langkah kakinya terhenti
Ardan memakaikan helm ke kepala Sasha sambil memberi isyarat kepada Salsa dengan matanya untuk naik, Ardan memacu motornya perlahan keluar dari area parkir dan juga halaman sekolah.
"CAN'S DULUAN!" teriak Sasha saat melihat kedua sahabat nya sedang mengantri kopi sayang dibawah terik matahari.
"Mereka pacaran ya?" tanya Dira berbisik di telinga Nisa.
"Gak tau, Sasha gak pernah ngaku kalau mereka pacaran mungkin takut di todong PJ kali hahaha." jawab Nisa berseloroh.
"Bukan karena PJ kali, mungkin karena hal lain. misalnya si cowok yang belum nembak terang-terangan." saut Dira menyeruput kopi sayang rasa taro kesukaannya.
"Bisa juga, Ardan orangnya dingin dan cuek anti ama yang baper-baper kek di drakor atau dracin beda banget ama si carmuk." celetuk Nisa memainkan sedotan di putar-putar dalam gelas plastik kopi sayang rasa Mocca.
Mereka berdua berjalan menuju pohon kersen
yang ada di pinggir jalan depan sekolah untuk berteduh dari terik matahari sambil menunggu jemputan.
"Carmuk? Maksud lu?" tanya Dira antara tau dan ragu orang yang di maksud Nisa.
"Tuh manusia nya datang." saut Nisa sambil mengarahkan matanya ke arah Dika yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Ikut gue! Urusan kita belum kelar!" perintah Dika begitu langkahnya berhenti di tempat Dira dan Nisa.
"Bagaimana dengan Selena, apa dia baik-baik saja." Dira menghiraukan perkataan Dika dia malah bertanya tentang keadaan Selena.
"Dia baik-baik saja. Sekarang lu ikut gue!" sekali lagi Dika memerintah dengan menatap tajam ke arah Dira.
"Gak ada urusan di antara kita, lupakan tentang tas gue." saut Dira acuh.
"Bukan masalah tas itu tapi masalah to-" Dika tidak melanjutkan ucapannya matanya melirik kearah Nisa.
"pasti ini masalah Hapsari." cetus Nisa membuat Dika terhenyak, ternyata Nisa juga sudah tahu tentang arwah Hapsari.
...🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨...
Apa Dira mau menuruti Dika
Dan apa yg ingin Dika lakukan dengan mengajak Dira pergi.
Bagaimana dengan Selena bisakah dia melepas Dika pelan-pelan.
Ikuti episode selanjutnya Titipan Mata Arwah.
Jangan lupa Like Vote Gift dan Komentar nya kakak 🙏🙏
__ADS_1