Titipan Mata Arwah

Titipan Mata Arwah
Pilihan Yang Sulit Untuk Dira


__ADS_3

BRAAKKK


Pintu kamar Dira tiba-tiba terhempas keras membuat Lina terkejut dengan mata membulat dan tangan gemetar mengelus dadanya.


"Sa-yang." panggil Lina tergagap sambil merapatkan tubuhnya pada Dira.


rasa takut dan juga cemas mulai menyala di aliran darah Lina hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Hawa dingin yang tiba-tiba muncul dan bertiup lembut bukan memberikan kesejukan siang itu, tapi malah menimbulkan rasa takut akan datangnya makhluk tak kasat mata yang ada di sekitar kamar Dira.


"Aa-pa hantu itu ada sekitar kita sayang? Mama takut sayang," ucap Lina lirih di telinga Dira ketakutan luar biasa sambil memegang kuat lengan Dira.


Dira menggenggam telapak tangan Lina.


"Tenang aja ma, arwah itu nggak bakal berani nyakitin kita," ucap Dira menenangkan Lina.


"Ayo Dira kita keluar saja sayang!"ajak Lina dengan suara sedikit gemetar.


wajah Lina sudah tampak pucat keringat dingin sudah membasahi kedua telapak tangannya.


"Pergilah! Jangan bersikap seperti anak kecil! gue udah muak sama semua apa yang lo lakuin ke gue jadi gue harap pergi lu dari rumah gue dan jauhi hidup gue!" bentak Dira emosi.


Kepala Dira memutar ke segala arah dia benar-benar waspada, kecemburuan Hapsari terhadapnya membuat Dira berpikir bahwa arwah itu bisa melakukan apa saja kepada dirinya atau kepada mamanya.


"DIRAA! DIRAAA!" teriak suara melengking Dika dari depan pagar.


"MARSS!" pekik Hapsari terdengar marah.


Dira tidak mengatakan satu kata pun dia hanya diam berdiri sambil memeluk Lina dan mengawasi ruang kamarnya. Perlahan Dira mulai melangkahkan kakinya, baru 2 langkah tiba-tiba,


PYAARRR


Sebuah botol parfum yang tergeletak di meja samping tempat tidur Dira melayang secepat kilat menimpa kaca lemari Dira hingga pecah berkeping-keping.


"Allahu Akbar!" teriak Lina sambil memegang dadanya.


"Sayang coba kamu bujuk arwah itu supaya dia nggak ngamuk seperti ini, mama benar-benar takut." kata Lina


"Cuman ada satu orang yang bisa membujuk dia ma." saut Dira terus memutar kepala dan juga bola matanya mengitari kamar.

__ADS_1


Sementara di bawah Dika sudah bisa masuk halaman rumah dengan memanjat pagar rumah Dira, sesaat Dika mendongakkan kepala ke atas tatapannya langsung jatuh pada balkon lantai atas yang rimbun tertutup oleh tumbuhan perdu.


"Gue harus cari cara buat naik ke atas." gumam Dika di tengah kepanikannya.


Mata Dika memperhatikan dengan seksama halaman sekitar rumah Dira untuk mencari sesuatu agar bisa digunakan untuk naik ke atas. Dika sudah menyapu setiap sudut dengan teliti setiap tapi dia tidak menemukan tangga atau barang yang bisa dipakai untuk memanjat naik ke atas.


"Sial!" Gak ada tangga!" geram Dika kesal.


Matanya kembali meneliti setiap sudut dinding berharap menemukan sesuatu yang bisa di pakai untuk memanjat ke lantai atas dan saat tatapannya jatuh pada tembok pembatas pagar dengan rumah sebelah, Dika langsung bergegas melangkah menuju tembok itu.


PYAARRR


Mata Dika menatap tajam ke atas begitu mendengar bunyi pecahan kaca atau sejenisnya dari balkon lantai atas. Tanpa berpikir ulang Dika mengambil ancang-ancang untuk menaiki tembok pembatas rumah Dira.


"HUPPP!"


Dengan sekali lompatan kedua tangan Dika mampu menggapai puncak tembok pembatas sambil bergelantungan dia mencoba untuk menaikkan badannya agar bisa mencapai tembok pembatas rumah Dira.


Dika mengerahkan seluruh tenaganya dan hasilnya tidak sia-sia dia kini sudah berada di pucuk tembok pagar pembatas dalam posisi duduk.


"Hhffff, akhirnya." gumam Dika lega.


"DIRAA," teriak Dika sekuat tenaga sambil setengah berlari menuju pintu balkon.


"Mars." Hapsari yang berdiri tak jauh dari pintu langsung menoleh ke arah pintu depan balkon dengan mata berbinar bercampur kesal.


"Jangan mendekat!" teriak Dira saat melihat


Dika berlari ke arahnya.


"Dia ada di sebelah Lo." ucap Dira memberitahu Dika tentang keberadaan Hapsari yang persis sedang berdiri di sampingnya.


"Mars, gue kecewa sama Lo. Kenapa Lo jatuh cinta sama diaaaa!!" teriak Hapsari histeri saat menyebut kata dia sambil menunjuk ke arah Dira dengan mata melotot tajam berwarna kemerahan.


Dira mencoba untuk tenang. Tapi tetap saja hal yang paling dia takutkan adalah keselamatan mamanya.


"Apa dia bisa mendengar perkataan gue?" tanya Dika pada Dira.

__ADS_1


Dira menjawab dengan anggukan kepala.


"Mars," panggil Hapsari lirih sambil berlinang air mata.


"Ra, tolong bantu gue. Gue pengen banget ngomong sama Mars." dengan wajah memelas Hapsari memohon kepada Dira agar mau meminjamkan tubuhnya.


Dira diam tak menyahut, rasa kesal akan ulah arwah Hapsari kepada dia dan keluarganya benar-benar membuat Dira berada pada puncak kemarahannya kepada Hapsari.


"Gue sudah berusaha ngebantu Lo! Tapi lo selalu teror Gue hanya karena rasa cemburu Lo yang buta. sekarang Lo mau minta gue untuk meminjamkan tubuh gue? Apa lu pikir gue mau nyerahin raga gue sama orang yang selama ini benci sama gue? Apa gue mau pertaruhkan nyawa gue dan membahayakan orang yang sangat gue sayang yaitu mama gue!" Dira ngomel mulutnya tak berhenti meluapkan semua kemarahan yang sudah sampai pada puncaknya kepada Hapsari.


"Please Ra, maafin gue. Gue janji nggak akan cemburu lagi sama lu dan nggak akan teror keluarga lu lagi. Tapi tolong pinjamkan raga lu untuk kali ini saja buat ngomong sama mars hiks hiks." ucap Hapsari di sela Isak tangisnya.


Bibir Dira tertutup rapat. Permintaan Hapsari rasanya terlalu berat untuk diturutin, terlebih lagi saat ini Hapsari sedang di kuasai emosinya dan sudah tidak bisa berpikir secara logis dia hanya mengikuti emosinya yang selalu berubah.


"Ra! kenapa diam? Apa dia mengatakan sesuatu?" seru Dika penasaran menatap Dira tajam.


"Dia... dia ingin meminjam ragaku agar bisa berbicara dengan mu." saut Dira balik menatap Dika bimbang.


Mendapat jawaban seperti itu Dika diam sejenak, Dika tahu ini pasti pilihan yang sulit buat Dira. Itulah yang ada di pikiran Dika.


"Gue yakin arwah itu tidak bisa membaca chat wa gue sama Dira." batin Dika.


Dika lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi nomor kontak Dira, walaupun jarak mereka sekarang tidak lebih dari 3 meter tapi apabila salah langkah akan bisa membahayakan Dira dan juga mamanya.


Dengan jari 1000 Dika menulis pesan melalui wa ke nomor Dira.


Onica onica


Bunyi nada dering terdengar dari ponsel Dira tanda pesan wa masuk, saat Dira melihat notif itu dari Dika, Dira menatap Dika sambil mengangkat alisnya dan dibalas dengan anggukan kepala sebagai kode agar Dira membaca notif darinya.


Dira melirik Hapsari dengan ujung matanya yang terlihat sedang tertunduk sambil menangis sebelum akhirnya membaca pesan dari Dika.


Pinjamkan raga lo, gue jamin lu aman. Kalau dia macam-macam, gue akan langsung pegang Lo kalau perlu gue akan peluk.lo


Setelah selesai membaca pesan dari Dika Dira menengadahkan wajahnya menatap Dika yang berada jarak 3 m di depannya dengan mata melotot tajam. Menatap mendapat tatapan seperti itu Dika hanya mengangguk pelan dengan tatapan memohon.


😕😕😕😕😕

__ADS_1


Kira-kira bakal mau nggak ya Dira meminjamkan raganya untuk Hapsari yuk ikuti episode selanjutnya Kaka 🙏🤗


__ADS_2