Titipan Mata Arwah

Titipan Mata Arwah
Pura-pura Amnesia


__ADS_3

Lebih dari 6 jam operasi dilakukan dokter untuk luka dan pendarahan di kepala Dira


Tepat jam 9 malam pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter mendorong ranjang pasien yang terbaring dengan perban di kepalanya.


"Keluarga Andira!" panggil dokter muda itu yang langsung di sahut oleh Lina.


"Iya dok! Saya mamanya!" teriak Lina sambil beranjak dari duduknya dan melangkah cepat menghampiri dokter muda itu diikuti Dika di belakang.


"Sayang!" pekik Lina saat tahu pasien yang terbaring di ranjang itu adalah Dira putrinya.


Air mata Lina kembali menetes membasahi kedua pipinya melihat kondisi Dira dengan kepala hampir semua dibalut perban dengan mata masih terpejam.


"Ini barang-barang pasien, mohon diterima Bu." ucap dokter muda itu sambil menyerahkan plastik kecil berisi sepasang anting, kalung dan cincin milik Dira.


Lina langsung menerima plastik itu dan memasukkannya ke dalam tas yang menggantung di pundaknya.


"Apa dia sudah sadar dok?" tanya Lina terpejam sambil mengusap lembut punggung telapak tangan Dira.


"Iya, tapi pasien sedang dalam pengaruh obat bius jadi belum bisa sadar sepenuhnya." jawab dokter muda itu.


"Alhamdulillah." gumam Dika dengan wajah seperti habis terlepas dari beban yang sangat berat.


"Kita bawa pasien ke kamarnya Bu." Ajak dokter muda itu sambil mendorong bangkar di mana Dira terbaring.


"Oh ya Bu, Dira mengalami cedera otak yang lumayan cukup parah, kita tim medis sudah melaksanakan tatalaksana berupa operasi dengan metode tertentu yaitu dengan kraniotomi (operasi kepala) yang dilakukan untuk mengangkat gumpalan darah, memperbaiki tulang kepala yang patah, dan lain sebagainya karena cedera yang dialami. Jika nanti selama proses penyembuhan terjadi hal yang aneh muncul tolong jangan kaget ." jelas dokter Wahyu dokter muda yang bertanggung jawab pada Dira.


"Pada umumnya, proses penyembuhan setelah operasi pasca trauma kepala dapat berlangsung 4-8 minggu lamanya. Kalau nanti ada keluarnya cairan darah dari telinga itu dapat disebabkan oleh bocornya cairan cerebrospinal (cairan otak) yang bercampur dengan darah di mana kondisi ini dapat terjadi pasca operasi maupun adanya indikasi patah tulang dasar tengkorak, dan hal ini akan membaik dalam 3-4 minggu ke depan. Jadi saya harap Ibu jangan kaget nantinya." Kembali dokter Wahyu memberikan penjelasan pasca operasi Dira hal-hal yang kemungkinan akan terjadi.


Dengan seksama Dika memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dokter muda itu, lain halnya dengan Lina yang terus terisak menangis sambil mengusap lembut pucuk kepala Dira.

__ADS_1


"Adapun sebaiknya nanti setelah pulang dari rumah sakit pasien harus melakukan kontrol rutin ke dokter spesialis bedah saraf pasca operasi. Dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut terkait dengan kondisi pasien dan memberikan terapi yang sesuai. Saya rasa penjelasan Saya cukup itu dulu kalau ada apa-apa silakan nanti tanyakan kepada saya sebagai dokter Dira."kata dokter Wahyu mengakhiri penjelasannya tentang kondisi Dira.


"Iya dong Kami mengerti." balas Dika.


"Baiklah kalau begitu saya permisi." Pada dokter Wahyu sebelum pergi meninggalkan ruang perawatan Dira.


Hampir 2 jam Dira masih dalam kondisi setelah sadar, Lina dan Dika tak beranjak dari kamar Dira sampai menunggu dira sadar sepenuhnya.


"Hausss." ucap lirih Dira hampir tak terdengar.


"Diraa!" seru Dika langsung beranjak dari tempat duduknya berjalan mendekati Bankar Dira.


"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar. Dika cepat Panggil dokter beritahu mereka kalau bila sudah sadar." Perintah Lina pada Dika.


Dika langsung memencet tombol panggilan.yang menghubungkan ke ruang perawat dan dokter, tak kurang dari 5 menit seorang perawat masuk ke kamar Dira.


"Putri saya sudah sadar dia ingin minta minum apakah boleh?"tanya Lina pada suster.


Lina menatap Dira iba yang kehausan tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sabar ya Sayang, nanti kalau kamu sudah bisa buang angin baru boleh minum," ucap Lina pada Dira sambil mengusap lembut punggung telapak tangan Dira.


Dira hanya bisa menelan air liurnya, tubuhnya yang masih lemas dan pandangannya yang masih belum jelas membuat kembali memejamkan matanya. Rasa kering di tenggorokan benar-benar membuatnya tak nyaman. Tak kurang dari 10 menit ada bunyi yang tak asing di telinga manusia.


Tuuuttttt.


"Alhamdulillah," ucap Lina dan Dika hampir berbarengan.


"Ini sayang, minumlah pakai sedotan. Awas pelan-pelan minumnya sayang." Ucap Lina sambil menyodorkan sebotol air mineral dengan sedotan.

__ADS_1


"Udah,"suara Dira lirih.


Setelah minum beberapa teguk air Dira mulai membuka matanya lalu bola mata itu memutar memperhatikan sekeliling ruangan yang didominasi warna putih kilau lampu sempat membuat matanya mengerjakan karena silau.


Saat menikmatanya jatuh di sudut ruangan dekat jendela bola mata Dira langsung terbelalak kaget melihat sosok yang sangat ia kenal berdiri disudut ruang itu dengan tatapan datar ke arahnya.


"Hap-" ucap Dira terpotong saat melihat telunjuk kanan Hapsari ditempelkan di bibir pucat nya yang berwarna hitam.


Arwah itu melayang mendekati Dira lalu berdiri tepat di ujung ranjang, Dira tidak melepaskan pandangannya dari sosok itu lidahnya terasa kaku seperti ada lem yang menutup lidah itu tidak bersuara.


"Aku sudah tahu siapa orang yang berusaha ingin membunuhmu dan aku yakin dia akan datang lagi kembali kepadamu untuk melakukan hal yang sama sebelum kamu benar-benar mati. Jadi aku minta kepadamu demi keselamatanmu dan juga keinginanku seperti janji kita, kita akan mengungkap siapa dalang dibalik pembunuhan ku maka berpura-pura lah lupa ingatan sampai semua ini terungkap. Karena jika mereka tahu kalau kamu masih hidup mereka akan segera kembali membunuhmu. Dan satu lagi jauhi Dika, karena sepertinya orang yang ingin membunuh dan juga yang telah membunuhku adalah orang yang sama karena punya obsesi ingin memiliki Dika." Kata-kata Hapsari membuat dada Dira bergetar ada rasa takut yang ingin dia hilangkan karena sudah terjebak dalam situasi yang mengerikan di mana nyawanya dan juga mamanya akan menjadi taruhannya.


"Siapa orang itu?" Satu kalimat penasaran meluncur dari bibir Dira.


"Orang yang kemarin menabrakmu adalah Hans, jadi berhati-hatilah dengan dia. Awalnya aku tidak menyangka Hans akan sekejam itu. Tapi kini aku tahu dia udah masuk dalam perangkap narkoba dan karena barang haram itulah dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya termasuk membunuh sahabatnya sendiri," jelas Hapsari membuat Dira merinding kaget hingga dia menutup mulutnya tak percaya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Lina kaget begitu juga dengan Dika.


"Ra. Siapa yang kamu lihat? Apa Mine? Apa Mine ada di sini?" tanya Dika makin penasaran.


Dira tak menyahut pertanyaan Lina ataupun Dika dia tampak bingung sekaligus takut dengan apa yang dikatakan Hapsari.


"Aku pergi dulu Ra. Ingat pesan gue, jadilah amnesia dan menjauhlah dari Dika jika kamu ingin nyawamu dan juga mamamu selamat. Kita akan selesaikan misi ini dan kita akan hukum orang-orang yang telah membunuhku ataupun melukaimu sampai mereka merasakan apa yang kita rasakan." ucap Hapsari dengan sorot mata mengintimidasi dan menakutkan berwarna merah membara.


Dira hanya bisa membalas tatapan itu dengan pasrah. Melihat Dira sudah dalam pengaruhnya Hapsari tersenyum menyeringai sebelum arwahnya menghilang.


"Sayang kamu kenapa?" Kembali Lina bertanya karena cemas melihat kondisi Dira seperti orang lindung begitu juga halnya dengan Dika.


"Anda siapa? Saya di mana?" Dua kalimat pertanyaan yang membuat Dika dan Lina terbelalak kaget karena menyadari bahwa Dira lupa ingatan.

__ADS_1


Bagaimana cerita selanjutnya siapa sosok penjahat yang sebenarnya


Maaf buat pembaca yang setia karya ini terlalu lama up nya 🙏


__ADS_2