
Rasa kenyang membuat Dira di serang kantuk, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Dira yang tadinya berniat untuk pulang ke rumah akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat di mana dia tadi terbangun yaitu kamar kost sepupu Dika.
Begitu sampai kamar kos dilarang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur
"Hooammm." Dira menguap lalu tak lama kemudian dia sudah terlelap dalam tidur.
Sesudah kumandang adzan subuh setengah jam kemudian Dira sudah terbangun tapi yang ada di dalam tubuhnya bukanlah Dira melainkan Hapsari.
"Hooeekkkk hoooeekk!" Hapsari bergegas bangun dari tempat tidur berjalan tergesa menuju kamar mandi karena rasa mual yang dirasakan.
Begitu sampai kamar mandi Hapsari muntahkan semua isi perutnya hingga cairan kuning pun dia muntahkan. Hapsari menyadarkan tubuhnya di dinding lemas setelah mengeluarkan semua isi perutnya.
"Astajimmm! Pantes aja gue muntah-muntah si Rara ternyata makan nasi goreng Pete." keluh Hapsari dengan nada lemas.
Tok tok tok
"Mine, Mine lu udah bangun belum." suara panggilan Dika dari luar kamar tanpa ada sahutan dari dalam.
"Mine!"
Tok tok tok.
Kembali Dika mengetuk pintu kamar dan memanggil Hapsari dengan nada lebih tinggi, tapi tetap saja tak ada sahutan.
"Apa dia keluar? Nggak mungkin, dia nggak mungkin keluar. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan dia di dalam kamar?" otak Dika mulai travelling cemas.
"MINEEE!" teriak Dika tanpa menghiraukan tetangga satu kost yang mulai terlihat terganggu dengan menyembulkan kepala dan memandang ke arahnya.
Ceklek
"Mars." suara Hapsari lirih sambil menyadarkan tubuhnya yang lemas di pintu.
"Mine! Kamu kenapa?" tanya Dika panik berniat memegang bahu Hapsari yang ada tubuh Dira tapi di urungkan.
"Hff....hff.... hhfll ..." beberapa kali Hapsari menarik nafas untuk memulihkan tenaganya.
"Kamu kenapa Mine?" tanya Dika cemas melihat wajah Dira yang pucat pasi seperti tanpa darah.
"Dia makan nasi goreng Mars, Lu tahu kan Gue alergi sama pete." jawab lirih Hapsari.
__ADS_1
"Kita ke dokter Mine?" ajak Dika cemas dengan kondisi fisik Dira yang lemah.
Hapsari menggeleng pelan, Dia berjalan menuju ranjang membaringkan tubuhnya perlahan dengan posisi miring sambil memegangi perutnya.
"Mine, sakit banget ya?" tanya Dika cemas.
"Gue nggak ke sekolah hari ini ya Mars, Gue pengen tidur aja," pinta Hapsari lirih.
"Kan kita memang rencananya hari ini nggak ke sekolahan Mine tapi kita akan pergi ke kantor Om putra ada bukti baru yang ditemukan." jelas Dika.
"Siapa om Putra?" tanya Hapsari sambil mengerutkan dahi.
"Dia petugas kepolisian mengepalai untuk mengungkap kasus pembunuhan mu Mine." jelas Dika.
"Om Putra bilang ada satu petunjuk yang ditemukan yaitu sebuah linggis. Kalau kamu tidak sakit sebetulnya aku berencana untuk membawamu ke kantor polisi dan melihat linggis itu siapa tahu ingatanmu tentang kejadian itu akan terbuka begitu melihat linggis itu Mine." kembali Dika menjelaskan tentang maksud kedatangannya pagi ini.
Seketika Hapsari beranjak dari tiduran lalu duduk menghadap persis di depan Dika yang sedang duduk kursi belajar.
"Linggis?" tanya Hapsari sekali sedang mengingat sesuatu tentang benda itu.
"Iya apa kau ingat?" tanya Dika bersemangat hingga dia memajukan tubuhnya lebih mendekat ke arah Hapsari.
"Kenapa?" tanya Hapsari sedikit tersinggung dengan sikap Dika yang tiba-tiba dia rasa menjaga jarak.
"Sorry Gue AQ takut khilaf." balas Dika tak ingin menyinggung perasaan Hapsari.
"Emang kenapa? Lu nggak suka?" tanya Hapsari sedikit merajuk.
"Bukan nggak suka, kalau kita bersentuhan bukankah Lu tahu akibatnya?" banyak tanya Dika menatap datar ke arah Hapsari.
"Oh iya, Gue lupa kalau kita beda alam." jawab Hapsari seperti menyadari keberadaannya saat ini.
"Skip Mine. BTW kalau lu mau istirahat di rumah, Gue cabut sekarang ya ke Polsek." pamit Dika mulai beranjak dari duduknya sambil menggendong tas ranselnya.
"Wait Mars, Gue ikut Lo." Hapsari pun mulai bangun dari duduknya dan berdiri di depan kaca rias untuk merapikan rambut dan wajahnya.
"Tapi perutmu sedang sakit, lebih baik lu di rumah aja." saran Dika kepada Hapsari.
"Nggak pa pa, udah nggak sakit kok," balas Hapsari lalu berjalan mendahului Dika keluar kamar mereka.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya Hapsari yang ceria suka berdendang kini lebih banyak diam selama perjalanan menuju Polsek. Hapsari lebih banyak memejamkan mata sambil tangan kanannya tak lepas memegangi perut.
"Masih sakit? Kita ke rumah sakit dulu aja ya Mine." ajak Dika terlihat khawatir.
Hapsari tak menjawab Dia hanya menggeleng lemah dengan mata tetap terpejam. Setengah jam kemudian mobil yang dikendarai Dika sampai di sebuah perempatan lampu merah yang tak jauh dari polsek di mana Putra bertugas.
"PERMEN JAHEEE!!" teriak suara anak kecil yang sedang menjajakan permen jahe di pinggir jalan.
Mata Hapsari langsung terbuka, jari telunjuk kirinya menekan tombol jendela membuat kaca jendela langsung terbuka. kepala Hapsari menyembul mencari sumber suara lalu memperhatikan satu persatu orang yang berdiri menjajakan makanan di lampu merah.
Saat manik mata Hapsari menangkap sosok anak kecil yang menenteng plastik berisi permen jahe sedang berdiri di dekat lampu merah dengan bertumpu pada satu kaki, sementara kaki satunya ditopang oleh tongkat penyangga yang dikepit di ketiaknya membuat Hapsari merasa trenyuh.
"Mars, kasih Gue uang seratus ribu," pinta Hapsari tanpa menoleh ke arah Dika tapi tangannya terulur ke arah Dika.
Dika mengeluarkan dompetnya lalu meletakkan uang seratus ribu di telapak tangan kanan Hapsari. Begitu menerima uang itu Hapsari langsung membuka pintu mobil.
"Mau ke mana Mine?" tanya Dika heran.
"Gue mau beli permen dulu, lagian lampu merahnya masih lama. Sebentar Mars." jawab Hapsari langsung turun dari mobil.
"Mine jangan keluar! Panggil aja!" seru Dika karena khawatir jalan raya yang padat walaupun dalam keadaan menunggu lampu hijau.
"Sebentar!" seru Hapsari sambil berjalan setengah berlari menuju tempat di mana gadis penjajah permen jahe berada.
Begitu selesai di layani gadis pincang penjual permen jahe, Hapsari menyerahkan uang rp100.000 dan saat akan dikembalikan Hapsari menolaknya.
"Rezeki adek, ambil aja." kata Hapsari sambil berbaring badan hendak menuju mobil tiga yang tak jauh.
Tinggal beberapa langkah dari mobil Dika lampu hijau menyala Hapsari mempercepat langkahnya hingga dia kurang berkonsentrasi.
BRUKKKK
Sebuah sepeda motor ninja warna hitam menabraknya dengan kecepatan cukup tinggi dan langsung kabur. Tubuh Hapsari langsung rubuh tergeletak di jalan aspal dengan bersimbah darah.
"MINEEE!" pekik Dika terkejut dan langsung turun dari mobil.
Sementara dari kejauhan si pengendara motor ninja sempat menoleh ke belakang.
"Momen yang tepat." gumamnya.
__ADS_1
Siapakah pengendara motor ninja warna hitam itu apakah dia salah satu orang suruhan? ikuti episode berikutnya.