Titipan Mata Arwah

Titipan Mata Arwah
Perjanjian 7 Hari


__ADS_3

Suasana hening di lantai dua kamar Dira, hanya mata-mata mereka yang berputar di sela tarikan napas cepat. Hawa horor masih begitu terasa terlebih bau anyir darah yang tiba-tiba tercium bercampur bau kapur barus menyengat menusuk Indra penciuman mereka bertiga.


"Please." Dika memohon dengan bahasa bibirnya tanpa bersuara.


Kedipan lemah Dika membuat Dira mulai melunak membalas Dika dengan kedipan pelan sebagai tanda setuju.


"Masuklah lu ke raga gue." ucap Dira pasrah.


"JANGAN!" teriak Lina memeluk tubuh Dira erat.


Ada rasa bersalah dalam Dika melihat pemandangan di depannya.


"Ma." suara serak Dira menatap wajah sang mama dengan mata berembun.


"Please sayang, Mama cuman punya kamu. Mama nggak rela jika arwah itu membuat Mama kehilangan kamu nantinya. Tolong jangan pertaruhkan diri kamu untuk mengikuti keinginan arwah yang tidak masuk akal itu sayang." Lina memohon dengan wajah memelas dan mata yang mulai menggenang.


Dira membalas pelukan Lina dengan erat, tak terasa air mata mulai menetas di kedua pipinya.


"Mama ... hiksss hiksss. Dira janji ini yang terakhir, kita tidak punya pilihan ma. Dira tidak ingin kita berdua celaka." ucap Dira terisak.


"Jangan lakukan Sayang! jangan bodoh kamu. Dia bukan siapa-siapa dan dia tidak akan bisa melakukan apa-apa sama kita, kita berserah diri kepada Allah sayang." tolak Lina sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Ma, Dira sudah pernah berjanji sama dia akan membantu dia dan Dira tidak mungkin mengingkari apa yang sudah Dira janjikan, jadi Dira mohon mama percaya Dira dan jangan khawatir. Biarkan Dira melakukan apa yang harus Dira lakukan. Dira yakin dia akan pergi dan menghilang dari kehidupan kita setelah semuanya selesai Ma." bujuk Dira meyakinkan Lina.


Melihat adegan yang mengharukan antara ibu dan anak membuat Dika tak kuasa menahan rasa frustasinya, di satu sisi dia ingin agar masalah dengan arwah Hapsari cepat selesai tapi di sisi lain dia tidak ingin cewek yang baru saja masuk dalam relung hatinya mempertaruhkan hidup untuk hal konyol ini.


"Gue janji akan selalu jaga Lo dan gue nggak akan pernah membiarkan arwah menguasai raga lo, kalau sampai dia berani melakukan itu gue akan pertaruhkan nyawa gue untuk menghadapinya." batin Dika sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.


Dira menoleh ke arah Arwah Hapsari menatap nya tajam.


"Gue kasih waktu 7 hari, selesai gak selesai masalah arwah Lo kalau sampai Dalam 7 hari masalah lo masih seperti ini, lu tau kan Ka apa yang harus lu lakuin?" kata Dira lalu menoleh ke arah Dika menanyakan kesanggupan nya.


"Iya Ra, lu jangan khawatir gue akan jaga raga lu." janji Dika sambil mengangguk pasti.

__ADS_1


"DIRAA!!DIRAA!!" Lina beberapa kali mengguncang pundak Dira, tapi sepertinya niat Dira sudah bulat, dia hanya ingin semua masalah yang berkaitan dengan Hapsari selesai dalam waktu 7 hari.


"Iya gue janji," sahut Hapsari sambil mengangguk berapa kali.


"Masuklah." ucap gila sambil mengerjakan mata.


Wuuzzzz


Hanya dalam hitungan detik arwah Hapsari sudah bisa menguasai raga Dira, setelah sebelumnya tubuh itu jatuh terkulai lemas di lantai. Lina langsung terduduk di lantai memeluk tubuh Dira dan mencoba membangunkannya.


"Sayang bangun! sayang Mama nggak mau lihat kamu seperti ini. Bangun sayang!" ujar Lina sambil menepuk pipi Dira agar tersadar.


Begitu arwah Hapsari yang ada di dalam tubuh Dira membuka mata, terlihat tatapan tajam dengan bola mata membulat penuh langsung menepis tangan Lina yang memeluknya hingga Lina terkejut melotot ke arah Hapsari yang hendak berdiri.


"Sayang!" seru Lina sambil memegang lengan Dira yang sudah dirasuki oleh tubuh Hapsari.


Hapsari menoleh ke arah Lina sambil menatapnya tajam.


"Aku bukan anakmu! Dia akan kembali 7 hari lagi, tunggu dia kembali dan jangan mengusikku." ucap Hapsari dingin lalu menoleh ke arah Dika dan berjalan menghampirinya.


"Ya Allah lindungi Dira." sebait doa tersirat di batin Dika.


Hapsari dan Dika jalan beriringan tanpa bersentuhan keluar dari rumah Dira, sementara Lina hanya bisa memandang kepergian kedua insan itu dengan derai air mata.


***


Dika membawa Dira ke sebuah tempat kost milik salah satu saudara Dika yang dia pinjam untuk sementara waktu.


"Masuk Mine." ajak Dika mempersilahkan Hapsari masuk.


Mata Hapsari menyapu ruangan 4 * 4 yang lumayan luas juga bersih dan rapi, ada satu tempat tidur berukuran sedang, lemari pakaian dan juga sebuah meja belajar. di salah satu dinding yang berhadapan dengan tempat tidur ada seperangkat teater home berukuran sedang dan sebuah kulkas kecil.


"Kamar siapa Mars?" tanya Hapsari sambil berjalan ke sisi ranjang dan mendudukkan bokongnya di salah satu tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Elena, kamu ingatkan? dia sepupuku sekarang dia sedang KKN di luar kota jadi kamarnya untuk sementara kosong dan bisa kamu pakai." jawab Dika sambil menarik kursi belajar dan duduk berhadapan dengan Hapsari.


"Mine apa yang terjadi malam itu?" pertanyaan serius meluncur keluar dari mulut Dika.


Hapsari yang sedari tadi wajahnya tak lepas dari senyum seketika berubah menjadi muram. Untuk beberapa menit suasana menjadi hening hanya hembusan nafas mereka yang terdengar bersahutan dengan detak jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Mine." panggil Dika lirih dengan suara seraknya.


mata Hapsari mulai menerawang mengingat sesuatu, tepatnya Dia sedang berusaha mengingat kejadian 6 bulan yang lalu.


"Aku hanya ingat saat itu aku sedang duduk di kelas menunggumu karena kita berjanji akan pergi ke Balai kota untuk membeli novel baru yang terbit."


"Iya, aku ingat waktu itu aku sedang sparing basket dengan anak STM 13 dan hujan turun dengan derasnya hingga aku terjebak banjir di jalan masuk menuju sekolah. Tapi begitu aku sampai di kelas aku mencari mu kemana-mana dan aku tidak menemukan." balas Dika boleh ikut mengingat kejadian 6 bulan yang lalu sebelum pembunuhan yang menimpa Hapsari.


"Mungkin saat itu mereka sudah membunuhku." suara Hapsari penuh kebencian dan dendam.


"Mereka? Apa itu artinya pembunuh itu ada lebih dari satu orang?" tanya Dika makin antusias dan penasaran.


"Iya mereka berdua, yang satu perawakannya mirip sekali dengan teman Selena yang waktu itu aku pukuli. Kamu masih ingat kan Mars?" tanya menguatkan ingatan Dika.


"Leo?" tebak Dika sambil kembali mengingat kejadian waktu pemakaman jasad Hapsari.


Hapsari mengangguk membenarkan tebakan Dika.


"Kenapa kamu menuduh dia salah satu orang yang membunuhmu malam itu?" tanya Dika meminta alasan.


"Selain fisiknya yang sama aku mencium aroma Citrus dari tubuhnya." jawab Hapsari menguatkan tuduhannya.


"Tapi aku rasa polisi tidak akan menjadikan ini sebagai alasan untuk menangkapnya dan menjadikannya tersangka, yang paling penting adalah harus ada barang bukti dan juga saksi." kata Dika berpikir sambil menopang dapur dagu dengan tangan kanannya.


"Mars, apa selama ini kamu merindukan ku?" pertanyaan Hapsari meluncur di tengah pembicaraan serius mereka.


Rindu itu berat

__ADS_1


kata Dilan


To be continued......


__ADS_2