
Di atas kasur empuk berukuran sedang di kamar, kira meratakan tubuhnya terletak sambil menatap langit di kamar bernuansa biru langit warna kesukaan nya.
"Ppfffff.." Dita menghembuskan nafasnya kasar sebagai bentuk rasa lelah sekaligus kekesalan hatinya.
"Dasar hantu tak tahu terima kasih udah dikasih hati minta jantung sebentar lagi bisa-bisa nyawa gue dia pinta," geram Dira kesal dengan sikap arwah Hapsari yang terus menerornya bahkan sekarang tampak sekali Dira melihat kebencian dalam jiwa Hapsari terhadap dirinya.
"Gue harus cari cara gimana lepas dari arwah itu sebelum arwah itu menghancurkan kehidupan gue. Haiisstt!" geram Dira sambil mengacak-acak rambutnya.
Tok tok
Ceklek
"Mama boleh masuk Sayang?" suara lembut Lina terdengar sementara sosoknya masih mengintip di balik pintu dan hanya menyembulkan sebagian wajahnya.
Dira memiringkan tubuhnya ke arah pintu kamar lalu dia membalas dengan senyum dan anggukan sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Lina.
Lina mengayunkan langkahnya perlahan tapi pasti menuju ranjang di mana Putri semata wayangnya sedang berbaring sambil menyambutnya dengan senyum dan uluran tangan.
Lina menyambut uluran tangan itu lalu menggenggam lembut jari jemari putrinya dan membawa telapak tangan Putri kesayangannya di usapkan di pipi kirinya sambil sekali diberi kecupan di punggung telapak tangan putrinya.
Lina ikut membaringkan tubuhnya di sisi tepi ranjang memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Dira, lalu dia mengusap lembut pipi putih Dira dilanjutkan dengan membelai rambutnya putrinya.
Usapan halus dan lembut tangan Lina begitu hangat dirasakan Dira hingga membuat dia memejamkan matanya.
"Mama malam ini bobo sini ya."pinta Dira tiba-tiba seperti bocah kecil yang manja kepada sang mama.
"iya sayang Mama akan temani kamu malam ini." jawab Lina sambil terus membelai rambut Dira.
"Ma, apa Mama tahu siapa kira-kira orang yang telah mendonorkan mata kiri Dira buat Dira?" pertanyaan yang tiba-tiba terbesit di pikiran Dira meminta mendapatkan jawabannya.
"Mama tidak tahu sayang waktu Mama tanya sama dokter saat itu dokter hanya bilang bahwa si pendonor tidak ingin diketahui identitasnya." ucap Lina menjelaskan sambil terus membelai rambut Dira.
"Apa selama hidupnya dia tersiksa seperti Dira ya mah bertemu dengan makhluk yang tak kasat mata dan juga tak lepas dari teror mereka?" pertanyaan Dira yang lebih tepat seperti sebuah keluhan.
"Hhhfffff." Lina menarik nafas dalam menghembuskan secara perlahan.
Apa yang baru saja ditanyakan Dira langsung menyentil sisi keibuannya akan kemalangan dan juga penderitaan yang dialami Putri satu-satunya.
"Bersabarlah sayang. Mama tahu ini sulit sekali buat kamu, mungkin juga sama seperti yang dialami oleh pemilik mata ini terdahulu. Bisa jadi dia juga mengalami hal yang sama seperti yang kamu alami sayang." jawaban sekaligus kata-kata penyemangat Lina untuk Dira agar tidak pernah menyerah saat menghadapi teror para arwah di sekitarnya
__ADS_1
"Tapi arwah yang satu ini bikin Dira agak khawatir mam." kalau Dira pada Lina.
Lina sepertinya langsung tahu arah pembicaraan Dira arwah siapa yang dia maksud.
"Sayang, bagaimana kalau kita cari seorang ustad atau kyai untuk menghadapi arwah itu?" usul Lina dengan wajah serius menatap Dira.
"Itu bukan solusi yang tepat untuk arwah yang penasaran seperti dia Mama sayang," sanggah Dira.
Dira membalikkan tubuhnya kembali terlentang menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran menerawang mengembara entah ke mana.
"Husstt! diajak ngobrol kok malah bengong ntar kemasukan setan."ucap Lina sambil menepuk pelan pundak Dira.
"Udah biasa kali mah kemasukan setan yang belum pemasukan cinta mah, hehehe,"canda Dira di tengah-tengah pembicaraan seriusnya dengan sang mama.
"Ini anak ya, diajak bicara serius sama orang tua malah bercanda," seloroh Lina sambil mencubit hidung mancung milik putrinya.
"Aaauuuwww! Mama KDRT, ntar Dira laporin sama papa kalau papa sudah pulang," rajuk Dira.
"Kalau menurut kamu, apa sebetulnya keinginan arwah itu sayang?" tanya Lina makin penasaran.
"Mama cantik, mana Dira tahu apa keinginan dia. Dira kan bukan cenayang." jawab Dira mengangkat kedua pundaknya sambil mengangkat kedua telapak tangan di depan dadanya.
"Iya juga sayang. Nanti kalau kamu ketemu dia, coba kamu tanya keinginan dia apa sayang." pesan Lina yang terdengar aneh di telinga putrinya hingga membuat Dira menarik tubuhnya ke samping sambil berkerut dahi.
"Upss. Maaf sayang! Bukan begitu maksud Mama, maksud Mama kalau dia tiba-tiba datang cling! Nah kamu tanya mau dia itu apa. Gitu loh Sayang maksud Mama." bicara makin ngelantur membuat Dira mendelik ke arah Lina sama mama.
"Astagfirullah! Sabar sabar, nggak Mama nggak si hantu itu kerjanya cuman bikin hati Dira makin bad mood aja." Dira terlihat kesal sampai dia berkata sambil mengulas dada dan menggelengkan kepala.
"Mama salah ya Sayang maaf bukan maksud Mama bikin kamu tambah kesel dengan keberadaan hantu itu." ada sesal di antara kata-kata Lina.
Dreett dreett dreett
Bunyi getar HP Dira menghentikan percakapan ibu dan anak itu, pandangan keduanya beralih kepada HP Dira yang tergeletak di atas meja rias.
Mata Dira terbelalak saat melihat nomor kontak sang menelepon adalah Dika.
"CK, ngapain lagi sih dia nelpon." decak Dira terlihat kesal.
Dira membiarkan panggilan telepon itu berdering mengangkatnya hal ini membuat Lina heran mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Siapa sayang? Kok nggak diangkat? Terus itu wajah kenapa malah ditekuk kayak gitu?" Lina mulai heran dan mengajukan beberapa pertanyaan.
"Gak penting Ma." jawab Dira singkat dan acuh.
Getar telepon terus bergetar dan menimbulkan bunyi, getar telepon itu berhenti sebentar lalu berbunyi lagi sehingga membuat Lina merasa penasaran lalu Dia menggeser tubuhnya dekat meja rias untuk mengambil ponsel milik Dira karena penasaran ingin tahu siapa yang menelepon putrinya tapi dia mengacuhkan.
"Squidward?" ucap Lina heran saat membaca nama si menelepon yang aneh dan familiar seperti nama seorang tokoh kartun serial favorit putrinya di TV.
"Angkat dulu sayang siapa tahu penting."perintah Lina kepada Dira karena getar telepon yang tak berhenti berdering.
Dengan malas Dira mengambil HP miliknya yang diulurkan Lina kepadanya.
"Ngapain?" pertanyaan Dira begitu menerima panggilan telepon dari seseorang di seberang telepon.
"Ckckck. Sayang bisa lebih sopan dikit nggak sih terima teleponnya, masa begitu?" kritik Lina melihat sikap putrinya.
Dira terlihat menarik nafas panjang mendapat protes sang mama.
"Gue ada depan rumah Lo, bisa nggak Lo keluar bentar." pinta sang penelepon yang tak lain adalah Dika.
"Gue mau istirahat."jawab Dira dingin.
"Kalau lu nggak keluar nemuin gue. Gue bakal loncat pagar dan langsung naik ke balkon kamar lu. Gue tahu kamar lu ada di atas." ancam Dika membuat Dira mulai memerah wajahnya karena kesal.
"Dasar cowok keras kepala! Huuhhhhh!" geram Dira geregetan.
"Sudah Sayang jangan uring-uringan mendingan kamu temuin Squidward sebentar." bujuk Lina.
Dengan langkah malas Dira menyeret kakinya keluar kamar, baru dua langkah kakinya mendekati pintu tiba-tiba lonceng genta angin Fengshui yang berjumlah dua dan terpasang di sisi kanan dan kiri balkon kamarnya berbunyi berisik dan nyaring sekali padahal tidak ada angin yang berhembus di cuaca panas siang ini.
"Astaghfirullah, Audzubillahiminasyaitonirojim La haula wala quwwata illa Billah." Lina langsung mengucapkan doa untuk mengusir setan dan menenangkan hatinya.
Dira tertegun melihat lonceng genta anginnya berbunyi nyaring, keanehan yang terjadi ini dia tahu adalah ulah arwah Hapsari.
"Gue tetap di sini atau turun nemuin dia tetap aja dia akan nekat nemuin gue. Jadi terserah, lu bolehin gue keluar kamar atau dia yang masuk ke kamar gue." suara Dira menantang Hapsari tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Sayang apa arwah itu ada di sini?" tanya Lina sambil mendekat ke arah Dira dan mulai memeluk lengannya.
Wuzzzzz
__ADS_1
Angin tiba-tiba berhembus kencang tepat melewati sebelah sisi kiri Dira, lonceng genta angin terus berbunyi makin berisik. Saat manik mata Dira menatap kaca cermin meja riasnya, mata Dira terbelalak membaca tulisan di cermin itu dengan warna merah darah.
"JANGAN DEKATI MARS!!"