Titipan Mata Arwah

Titipan Mata Arwah
Hapsari Arwah Bucin


__ADS_3

Selama di sekolah Hapsari benar-benar tak mau jauh dari Dika bahkan sekarang berita kedekatan mereka menjadi viral di SMU kumbang. Antara nyaman dan tidak nyaman Dika berusaha bersikap biasa saja.


"Kalian beldua pacalan ya?"tanya Sisil kepo dengan logat cadelnya.


"Iya sisil tayang, kita emang pacalan." suara Hapsari dibuat cadel sambil tersenyum.


Mendengar hal itu membuat Nisa benar-benar geram.


"Dasar arwah bucin muka tembok, pengen gue cekek rasanya." geram Nisa sambil mengepalkan jari-jari tangan kanannya.


"Jangan Nis Nis, ntar yang koid Rara." cegah Sasha dengan suara baby nya.


"Haiisstt!" ujar Nisa kesal sambil mengacak-ngacak poninya.


Perubahan Dira menjadi wanita yang feminim dan juga girly membuat teman-temannya heran. Dira yang notabe nya anak baru dan hanya mengenal beberapa orang kini dalam waktu kurang dari 2 jam sudah seperti seorang seleb di kumbang, ditambah lagi dengan penuh percaya diri dia mengumumkan hubungannya dengan Dika.


"Lan, lu dengar kabar nggak kalau sekarang Dika jadian sama secret Riana kW?" tanya Rapi pada Arlan teman satu kelas Selena yang naksir berat pada Selena sejak mereka MOS.


"Serius Lo Pi?" tanya Arlan antusias.


"Serius, ini bukan hoax bro. Hampir setiap grup sekolah kita pagi ini lagi ngebahas mereka berdua." jawab Rapi memberi angin segar dengan informasinya pada Arlan.


Arlan menoleh ke arah belakang tepatnya Selena yang duduk 3 baris di depannya terlihat murung dan juga kesal wajahnya di tekuk sambil sibuk jari jemarinya bermain lincah di atas layar hp-nya.


"Kejar dia bro, mungkin ini saja buat lo jadian sama dia setelah beberapa bulan lu tersakiti karena hubungan mereka berdua." ucap Rapi mengompori Arlan yang memang Cinta mati kepada Selena tapi selalu ditolak.


Arlan tersenyum sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Moga aja bro." saut Arlan tatapan matanya tak lepas dari Selena.


"Gue akan lakukan apapun untuk bikin Lo seneng Len, walaupun penjara sekali pun balasannya." batin Arlan menggigit kuat ujung bibirnya hingga mengeluarkan darah yang terasa asin di mulutnya.


Arlan mengusap sisa darah yang ada di sudut bibirnya dengan jempol tangan kanannya menghisap jempol itu seperti menghisap permen lolipop dengan tatapan dingin sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Dreettt Dreettt Dreettt.,.


Beberapa kali telepon Arlan bergetar menandakan ada notif pesan yang masuk di hp-nya, tapi sikapnya tetap aja tetap saja fokus memperhatikan Selena. Pada saat getar yang ke 6 di layar HPnya di mana nama pengirim pesan terlihat, Arlan buru-buru mengangkat telepon dan membuka isi dari pesan yang dikirim oleh Selena.


Boleh mintol


^^^everything i do for you^^^


ada sesuatu yang mengganggu hatiku dan itu membuatku kesal Lo bisa membereskannya


^^^Okay^^^


^^^2 malam kita habiskan di puncak.^^^


Baiklah setelah semua beres Aku tunggu di tempat biasa


Arlan masih menatap layar HP miliknya dengan senyum menyeringai lalu dia menggigit ujung bibir kanannya dengan sangat kuat hingga darah terlihat keluar dari bekas gigitan itu.


Jempol tangan kanannya dia pakai untuk mengusap darah yang menempel di ujung bibirnya lalu menghisapnya dengan tatapan mata dingin dan juga tajam menakutkan.


***


Selama pelajaran berlangsung di kelas Nisa benar-benar bad mood setiap melihat tingkah Hapsari dalam diri Dira yang terlalu manja sama Dika.


"Cih! amit-amit ya ada arwah yang genitnya lebih-lebih dari cabe-cabean." geram Nisa kesal.


"Hooh Nis Nis, gue aja pernah ya lihat sinetron si manis jembatan Ancol, hantu yang paling cantik sejagat persetanan nggak ada tuh yang genitnya kayak dia, kalo ada mah paling juga hantu ngonde." timpal Sasha dengan suara khas manja alay lebay sambil memainkan tangannya tak bisa diam.


"Pengen Jambak rasanya gue sama dua orang itu!" geram Nisa sambil mukul-mukul meja.


Duk Duk Duk Duk


suara berisik angry birds yang ditimbulkan oleh pukulan Nisa pada meja membuat Hapsari menoleh ke belakang, matanya menatap tajam ke arah Nisa dan tatapan itu sungguh menyeramkan.

__ADS_1


"Nis Nis, Udah dong jangan pancing dia nanti keluar lho taringnya." Sasha terlihat mulai takut.


"Ngapain kita takut sama dia? Dia cuman arwah yang gentayangan karena belum bisa menerima kenyataan kalau dia harus kehilangan cinta sejatinya dasar arwah bucin!" dengus Nisa semakin geram.


"Males gue di kelas, cabut yuk Sha. Kita healing aja." ajak Nisa pada Selasa sambil menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja.


"Hah? Gak ahh, sebentar lagi kita mau ujian ntar kalau kita banyak bolos, yang ada kita nggak lulus Nis Nis." tolak Sasha lalu beranjak pergi hendak menuju kelasnya.


Saat Nisa melewati Dika dan Hapsari yang sedang berbicara serius samar-samar Nisa mendengar percakapan mereka.


"Kalau menurut lo selain Leo siapa lagi orang yang lu curigai?" tanya Dika berbisik kepada Hapsari.


"Waktu itu ada dua orang yang satu seperti Leo dan yang satu lagi dari suaranya seperti wakepsek kita." bisik Hapsari tepat diterima Dika tanpa menyentuhnya.


Dika langsung membulat penuh saat Hapsari menyebut orang itu adalah wakil kepala sekolah atau Pak Yogi.


"Kenapa lu punya pikiran kalau dia salah satu yang udah ngabisin nyawa lu malam itu selain Leo?" tanya Dika sambil menarik tubuhnya agak sedikit menjauh dari Hapsari.


"Aku apa suaranya Mars, itu suara Pak Yogi." ucap Hapsari begitu yakin.


"kalau cuma berdasarkan feeling atau keyakinan kamu itu tidak bisa dijadikan barang bukti. oh ya kamu ingat kah di mana ponsel kamu terakhir kali sebelum kejadian itu Kalau tidak salah aku sempat meneleponmu malam gimana kejadian itu terjadi." bertanya sekaligus mengingatkan.


"Iya aku ingat, Kalau tidak salah kamu menelepon 5 menit sebelum dua orang itu datang membunuhku." ucap Hapsari mengiyakan dan kembali mengingat kejadian.


"Lalu kapan terakhir kali kamu memegang telepon itu, mungkin saja saat itu kamu sedang bernyanyi. Kamu kan paling suka ngerekam suaramu di Apk karaoke favorit mu?" tanya Dika sedikit demi sedikit mengurai kembali ingatan Hapsari.


"MARS! KAMU SMART!" teriak Hapsari memuji Dika sambil merentangkan tangannya hendak tapi tergantung di udara saat dia menyadari bahwa itu nggak boleh terjadi.


Hapsari langsung menekuk wajahnya cemberut tambah sekali kekecewaan dari raut wajah itu.


"Cieeeee... yang jadian mana pj-nya bro." ledek Hans sambil menyenggol pundak Dika dan mengangkat kedua alisnya.


"Kalau mau PJ bayar dulu hutang Lo ke gue pas Lo beli Jaket Erdigo Apparel!" tagih Hapsari tanpa sadar membuat Hans langsung kaget setengah mati.

__ADS_1


"Lo tau darimana kalau gue punya hutang sama Hapsari?" tanya Hans membuat Hapsari yang berada dalam tubuh Dira juga ikut kaget.


To be continued....


__ADS_2