
WUUZZZZ
"AAAUUUWW!" pekik Hapsari saat arwahnya terhempas kasar dari tubuh Dira.
Wajah Hapsari yang putih pucat tanpa darah terlihat tegang dengan mata melotot menatap tubuh Dira yang tersungkur di jalan beraspal.
"Ra..." seru Hapsari nanar menatap tubuh Dira sudah tak bergerak.
Bau anyir darah seketika menyeruak hidung para pengendara bercampur asap knalpot dari jalan beraspal tempat tumbuh Dira tergeletak. Darah segar itu keluar dari luka di kepala sebelah kanan Dira akibat benturan yang sangat kuat.
Hapsari menoleh ke arah motor di penabrak melaju, saat manik matanya menangkap susu dalam balutan celana jeans hitam dan jaket kulit hitam amarahnya langsung memuncak.
"BRENGSEK LO!!" maki Hapsari menatap cowok pengendara motor ninja yang menabraknya saat berada dalam tubuh Dira.
Secepat kilat arwah Hapsari melayang seperti kertas ditiup angin mendekati cowok si penabrak dan ingin sekali menjambak kerah jaket milik si pengendara yang menabrak Dira.
beberapa kali tangan arwah Hapsari berusaha untuk menjambak kerah jaket si penabrak tapi percuma gerakannya seperti terbawa oleh angin Hapsari tidak mampu menyentuh orang jahat itu yang sudah melukai diri.
"Sialan! Gue nggak nggak bisa nyentuh b******* itu! Tapi gimanapun caranya Gue nggak akan pernah biarin b******* itu lepas dari tangan Gue. Gue yakin pasti deh salah satu orang yang sudah membunuh gue!" geram Hapsari menoleh ke arah pengendara sambil menatapnya saja dengan mata merah seperti darah.
"Mampus Lo!" umpat si pengendara itu sebelum kembali melanjutkan motor nya dengan kecepatan tinggi saat lampu hijau menyala.
Arwah Hapsari membonceng di jok belakang motor cowok itu Hapsari ingin mengetahui siapa dia dan alasan apa yang membuatnya sengaja mencelakai Dira. Setelah hampir 35 menit perjalanan dengan kecepatan tinggi motor masuk pintu gerbang bangunan mansion yang sangat mewah dengan bangunan arsitektur ala Romawi kuno dan berpagar sangat tinggi tertutup rapat.
__ADS_1
Begitu sampai di depan pintu depan rumah besar itu motor berhenti dan si pengendara mulai turun dari motornya, dengan seksama Hapsari memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala menunggu si cowok membuka helm full face miliknya.
Begitu helm terbuka betapa terkejutnya arwah Hapsari saat melihat cowok itu adalah Hans sahabat dari Dika dan juga dirinya saat masih hidup.
"Oh my God nggak mungkin, ini nggak mungkin! Kenapa Hans bisa sejahat ini. Ini pasti nggak bener dia pasti bukan Hans yang Gue kenal." debat Hapsari pada dirinya sendiri.
Hans tampak dengan santai dan bersemangat masuk ke dalam rumah yang pintunya sedikit terbuka tanpa salam ataupun sungkan.
"Mana bagian Gue?" pinta nya sambil bertanya pada seseorang yang duduk di kursi membelakanginya memandang keluar jendela.
"Amplop coklat di depan Lo. ambil dan pergilah." ucap suara pria bernada serak tanpa membalikkan badan ke arah Hans.
Sinar mata penuh kesenangan tampak jelas di wajah Hans begitu melihat amplop coklat yang persis ada di atas meja di depannya, dia langsung meraih amplop coklat itu dan membuka lalu menghirup aroma di dalamnya di mana terdapat 5 bungkus bubuk kristal putih dalam plastik kecil.
"Thanks Bro, kalau Lu butuh sesuatu kontak Gue aja dan tangan lu bakal bersih dari urusan yang penting lu kasih jaminan kalau akan siapin apa yang Gue mau." ucap Hans sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya dan memicingkan mata.
Hans pun dengan tanggap langsung membalikan badan berjalan santai dengan senang meninggalkan pria itu di ruangannya.
"Kita party malam ini. Beb." gumamnya sambil menyelipkan 5 bungkus bubuk heroin di kaos kakinya.
Terlihat jelas bibir Pria yang duduk di kursi salah satu ruangan di mansion mewah itu hanya tersenyum Smirk mendengar gumaman Hans.
"Hmm, akan selalu ada kerbau kerbau dulu yang bisa ku manfaatkan." sarkas nya sambil menghisap sebatang rokok merk terkenal di tangan dan menikmati setiap bulan asal yang keluar dari hidungnya.
__ADS_1
Hapsari yang memperhatikan semua kejadian dari awal hingga akhir bukan hanya dibuat geram dan juga amarahnya luar biasa karena dia tahu siapa orang dibalik rencana pembunuhan terhadap Dira dan dia yakin orang ini pasti terkait dengan pembunuhan yang terjadi pada dirinya 6 bulan yang lalu.
"Pak Mamat? Bagaimana mungkin dia yang hanya seorang penjaga sekolah berotak kejam dan jahat dan nggak mungkin juga dia memiliki rumah ini siapa dia sebenarnya? Dan apa alasan dia sampai ingin mencelakai Dira? Aku yakin dia pasti terkait pembunuhan terhadap diriku, dan aku yakin, pasti dia pria tua berbadan gendut itu." ucap Hapsari begitu yakin saat melihat syarat seperti iblis yang terpancar di mata Pak Maman seorang laki-laki tua berbadan gendut yang selama ini dia kenal sebagai penjaga sekolah di SMA Nusantara.
"Halo tuan, semua tugas sudah diselesaikan dengan sangat baik semoga putri tuan bisa tidur nyenyak malam ini dan malam-malam seterusnya." ucap Mamat di telepon dengan seseorang yang entah siapa yang dia panggil Tuan.
Setelah pembicaraan telepon berakhir Mamat yang bersandar pada kursi kebesaran di ruang kerja membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu ruang kamar kerja lalu pandangannya menyapu ke seluruh ruangan kamar sambil tersenyum dengan sangat sombongnya.
"Suatu Hari Nanti aku juga akan bisa seperti ini mungkin hari ini aku baru duduk di tempatmu tapi lain kali Aku akan pastikan Akulah pemilik tempat ini." dengus nya di antara sumpah yang dia ucapkan.
Mamat beranjak dari kursi kebesaran yang menjadi impiannya, sebelum pergi meninggalkan ruang itu dia masih kembali menoleh ke arah kursi itu dengan senyum menyeringai.
"Dengan satu flash disk ini semua kejahatanmu dan juga kejahatan keluargamu beserta kejahatanku akan bisa menghancurkan semua yang jadi milikmu saat ini. Tunggu itu Glenn." tandasnya sebelum pergi melangkah keluar meninggalkan ruang kerja seseorang yang dia panggil Glenn.
***
Sementara di sebuah gedung pencakar langit di lantai 13 yang ada di kota Tangerang di kawasan bisnis elit tampak seorang pria paruh baya berdiri menghadap dinding kaca menatap langit, salat matanya tajam seperti mata pisau dengan alis hitam yang tebal hampir saling bersambung dan juga rahang yang kuat.
Pria itu adalah Glen Johnson seorang pemilik perusahaan ban terbesar di kota tempat Dira sekarang menetap, dia juga memiliki beberapa sekolah yang berada dalam naungan suatu yayasan miliknya.
Salah satu sekolah itu adalah sekolah bonafit yang terkenal di kota itu yaitu SMA Nusantara tempat di mana Dira dan Dika serta Selena bersekolah.
"Aku tidak akan pernah membuat putriku meneteskan air mata karena apapun dan siapapun jika ada orang yang membuat putriku sedikit saja tersakiti aku akan menguburnya hidup-hidup." sumpahnya dengan tatapan bengisnya.
__ADS_1
Siapakah Glenn Johnson sebenarnya dan siapa pula Mamat apakah kedua orang ini yang terlibat pembunuhan terhadap Hapsari dan juga rencana pembunuhan terhadap Dira. dan alasan Apa yang membuat Hans menjadi kaki kanan mereka.
Ikuti episode selanjutnya.