
Tuk tuk tuk tuk
Bunyi sepatu nyaring terdengar di koridor yang menuju ruang perawatan intensif yang ada di belakang ruang IGD, bunyi sepatu itu datang dari langkah Lina yang berjalan terburu untuk melihat keadaan putrinya manakala dia ditelepon oleh Dika kalau Dira kecelakaan.
"Astaghfirullah! Apalagi kini yang menimpa putriku, tolong lindungilah Putri hamba ya Allah semoga putriku dalam keadaan baik-baik saja." gumam Lina dengan bibir bergetar dan bola kristal yang berembun di kedua sudut matanya.
Puncak kecemasan dan juga kekhawatiran seorang ibu dia rasakan saat ini karena dia belum tahu putrinya separah apa keadaannya. Langkah kaki yang dia paksakan terasa berat membuat tubuhnya berjalan lemas tapi dia harus tetap berjalan tergesa untuk bisa melihat dan menemui putrinya untuk memastikan keadaan Putri kesayangannya.
"Dira!" pekiknya saat manik matanya melihat putrinya tergeletak di atas Bankar salah satu ranjang ruang IGD sedang diperiksa dan di tangani oleh dua orang perawat dan seorang dokter.
"Tante!" panggil Dika berusaha menahan tangan Lina agar tidak masuk ke ruang IGD agar tak mengganggu dokter dan perawat yang sedang mengobati Dira.
"Dira sedang ditangani oleh dokter jadi lebih baik kita tunggu di sini biar dokter bekerja untuk menyelamatkan Dira tanpa harus terganggu." Ucap Dika dengan lemah dan berusaha tenang.
"Hiiiii hiks hiiiiiiii...." Tangis lirih Lina tak mampu untuk ditahan dan pecah di ruang tunggu IGD.
Dika merangkul pundak Lina mengusap lembut untuk memberikan kekuatan dan juga kesabaran menghadapi musibah yang menimpa Dira.
"Kita sama-sama berdoa tante semoga Dira nggak kenapa-napa dan hanya luka ringan. Saya yakin Dira cewek yang kuat, pasti dia bisa ngelewatin ini semua dan dia pasti akan sehat lagi. Percayalah tante," ucap Dika kembali memberikan kata-kata semangatnya untuk menguatkan hati Lina.
Lina yang dalam kondisi lemah menyandarkan kepalanya di bahu Dika lalu Dika memapahnya untuk duduk di kursi ruang tunggu.
"Bagaimana kejadiannya sampai Dira mengalami kecelakaan ini tolong ceritakan sama tante," pinta Lina setelah dia merasa perasaannya sedikit tenang dan tangisnya terhenti.
"Waktu di lampu merah Dira ingin membeli permen jahe dari seorang anak yang menjual asongan di lampu merah itu. Anak itu dalam keadaan cacat kakinya dan itulah yang membuat Dira nekat keluar dari mobil. Pada saat itu kondisi masih lampu merah dan waktu masih menunjukkan 20 menit lagi, tapi tiba-tiba ada sebuah motor sport menabrak tubuh Dira yang baru saja keluar dari mobil." Dengan runtun Dika mulai menceritakan awal kejadian musibah kecelakaan yang menimpa Dira.
"Terus di mana dia? Apa si penabrak itu berhenti dan bertanggung jawab?" tanya Lina terdengar geram dan marah dari suaranya.
Dika menggeleng lemah sambil tertunduk, rasa marah kecewa dan sedih bercampur jadi satu jika mengingat kejadian baru saja yang dialami oleh Dira. Ada sesal luar biasa
Yang memenuhi ruang hati dan pikiran karena tidak bisa menghindari kecelakaan ini terjadi.
"Mars." Ucap Hapsari yang sudah ada di antara mereka berdua sedang berdiri menatap Dika dan Lina dengan tatapan sedih.
Hapsari menengok ke arah ranjang di mana tubuh Dira yang berlumuran darah di wajah hingga menetes ke bajunya tergeletak dalam keadaan masih tak sadarkan diri di mana Dia sedang diperiksa oleh seorang dokter dan dua orang perawat perempuan.
Arwah Hapsari dengan gaun panjang putih dan rambut terurai panjang hingga ke punggung terbang seperti kapas mendekat ke arah ranjang di mana Dira dibaringkan
__ADS_1
"Ra, Lu harus hidup. Gue tahu siapa orang yang sudah bikin lo celaka kayak gini. Mungkin gue juga akan bisa menemukan siapa orang di balik kematian gue" Hapsari mengucapkan kata-kata itu penuh harap dan kesedihan.
Monitor pemantau detak jantung yang terpasang di dada Dira tiba-tiba menunjukkan garis lurus dengan bunyi nyaring dokter tampak begitu cemas begitu juga dengan dua perawat yang membantu.
Kepulan asap putih terlihat keluar dari tubuh gila perlahan kepulan itu membentuk wujud arwah daerah, mata Hapsari seketika mendelik kaget menatap arwah Dira yang sudah terpisah dari jasadnya hingga dia pun menjerit kaget.
Dira pekik Hapsari dan langsung mendekat ke arah dia Dira dengan tatapan kaget sekaligus takut.
"Elu....?" Tanya Dira datar.
"Cepat lu masuk ke tubuh loh! Cepat!"pekik Hapsari sambil mengibaskan tangannya menyuruh dia untuk masuk kembali ke dalam raganya.
"Lu ngomong apa sih gue kagak paham."saut Dira kesal bingung.
"Lu nggak boleh mati sebelum misi kita selesai dan menangkap orang-orang jahat itu gue sudah tahu siapa mereka yang sudah mencelakai gue sekaligus elu. Sekarang yang penting lu harus masuk ke tubuh Lu! Lu harus berjuang supaya lu hidup kembali, Lu nggak boleh mati!" Perintah Hapsari seperti seorang bos pada bawahannya.
"Hah mati? Siapa yang mati? Gue?" Tanya Dira makin bingung dengan perkataan Hapsari.
"Lu nggak lihat apa?Jasad yang terbaring di depan lo itu siapa?" Pertanyaan Hapsari sekaligus menyadarkan Dira.
Dira pun menundukkan kepala dan betapa terkejutnya saat melihat bahwa tubuhnya terbujur kaku di atas bankar rumah sakit.
"Ayo Ra please, Lu masuk kembali ke tubuh Lu. Buruan Ra, berjuanglah. Elu masih punya kesempatan hidup, enggak kayak Gue. Please please balik ke tubuh Lu. Liat mama Lu, dia sedih banget sekaligus shock kehilangan Lu dan gue nggak bisa ngebayangin seandainya Lu bernasib sama seperti Gue." Ratap Hapsari memohon sambil berlinang air mata.
Dira mematung tak mampu berkata wajahnya tegang karena shock melihat kalau dia saat ini sudah mati.
"Mama, Mamaaaaaaa!!"teriak Dira sekuat tenaga tapi sayang tak ada telinga yang mendengar di ruang IGD itu kecuali Hapsari.
Beberapa kali Dira menengok ke arah Lina yang sedang menangis dalam pelukan Dika sambil memandang tubuhnya yang terbujur kaku dan sedang diupayakan oleh dokter agar kembali berdetak jantungnya dengan alat kejut jantung atau Deflibrilator.
Lalu pandangannya beralih kepada tubuhnya dengan mata terpejam dan kulit mulai pucat tanpa darah.
"Ayo Ra, Lu harus berusaha masuk ke tubuh Lu lagi cepat Ra! Sebelum waktunya terlambat,"perintah Hapsari pada Dira.
"Ya Allah beri Dira kesempatan hidup sekali lagi, Bismillahirrahmanirrahim."
Dengan sekali hempasan jiwa Dira mencoba masuk kembali ke dalam raganya.
__ADS_1
Tut....Tit....tit....
Monitor pemicu detak jantung kembali normal membuat dokter perawat dan terutama Lina serta Dika menarik nafas lega.
"Alhamdulillah." Rasa syukur terucap keluar dari bibir Lina dan Dika hampir bersamaan saat melihat jantung Dira kembali berdetak.
"Cepat siapkan operasi!" Perintah dokter di IGD yang menangani Dira.
Dokter muda berwajah tampan itu berjalan menghampiri Lina dan Dira yang berdiri di ruang tunggu.
"Apa Anda Ibu pasien yang bernama Dira?" tanya dokter muda itu pada Lina yang dibalas dengan angkutan kepala cepat dan linangan air mata.
"Anak ibu harus secepatnya dioperasi jadi saya minta Ibu ikut sama saya untuk mendatangi surat persetujuan operasi yang akan dilakukan." Jelas dokter muda itu yang bernama Faris dari tulisan bordir yang melekat di baju dokternya.
"Apakah luka putri saya sangat parah dok?"tanya Lina dengan suara bergetar penuh kecemasan dan juga ketakutan.
"Dia belum melewati masa kritisnya, sekarang hidupnya masih dibantu dengan alat-alat medis kita akan melihat setelah pasca operasi. Ada pendarahan di bagian otak kirinya akibat benturan yang keras yang menimbulkan luka di kepalanya. Semoga saja setelah operasi dia akan bisa melewati masa kritisnya dan bisa pulih kembali. Itu harapan kami." Dengan sabar dokter Faris menjelaskan tentang kondisi Dira apa adanya.
"Apakah kemungkinan yang besar bisa sembuh jika operasi itu dilakukan Dok?Tolong jawab jujur." Tanya Lina minta kepastian.
"Kemungkinannya mungkin fifty fifty tapi paling tidak kita sudah melakukan yang terbaik untuk Putri Ibu masalah umur itu bukanlah hak kami sebagai dokter jadi tolong ibu bantu dengan doa. Saya rasa itu yang putri ibu butuhkan" Kata-kata dokter Faris menjadi sebuah harapan sekaligus ketakutan untuk Lina.
"Tante, kita sama-sama berdoa. Dika yakin Dira akan bisa melewati operasi ini dengan baik. Dira itu cewek yang kuat juga tanggung dia pasti akan bisa bertahan. Tante harus yakin itu." Kata-kata semangat Dika memberi sedikit angin sejuk untuk mengenangkan hati Lina.
"Iya Tante juga yakin seperti itu, hiksss hiksss hiksss." Saut Lina sambil menyeka air matanya.
Setelah Lina menandatangani semua berkas persetujuan operasi dan mengurus administrasi Dira pun langsung dibawa ke orang apa diiringi Lina dan Dika. Lebih dari 5 jam operasi dilakukan dengan melibatkan beberapa dokter spesialis.
Entah sudah berapa puluh kali Lina menatap lampu merah yang sedang menyala tepat di tengah pintu operasi tanda operasi sedang dilakukan dengan perasaan takut cemas dan juga harapan.
Setiap pintu terbuka dan keluar seorang pasien yang didorong di atas bankar, Lina berharap itu adalah Dira tapi ternyata bukan. Beberapa pasien yang keluar adalah orang lain.
"Sabar Tante, kita harus tawakal kepada Allah." ucap Dika beberapa kali memberikan kekuatan pada Lina yang terus menangis sambil berdoa untuk nyawa putrinya yang sekarang sedang bertarung Di ruang operasi.
"Apa kamu mulai benar-benar menyukainya Mars." Ucap lirih Hapsari yang bersandar lemah di dinding tempat di depan Dika sambil menatap lurus wajah itu yang terlihat jelas sekali cemas dengan keselamatan Dira.
"Menyebalkan, hiksss hiksss." Gumam Hapsari sebelum menghilang begitu saja.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan kisahnya apakah nyawa Dira masih bisa diselamatkan ikutin next episode di tatapan mata arwah