
" Tujuh Buddha masa lampau "
" Ribuan Buddha dari bharda kalpa "
Terdengar suara berat dan parau membaca dan melantunkan sutera doa.
" Tujuh Buddha masa lampau "
" Ribuan Buddha dari bharda kalpa "
menyusul suara nyaring dan lantang terdengar, suara anak - anak yang berusaha menirukan nada sutera doa suara pertama.
" Sekarang dan yang akan datang "
" Seribu lima ratus Buddha "
kembali suara berat dan parau itu terdengar lagi.
" Sekarang dan yang akan datang "
" Seribu lima ratus Buddha "
kembali suara anak kecil tadi mengulang kata - kata itu.
Suara saling susul menyusul yang di ucapkan suara parau dan kemudian di tiru suara anak kecil itu adalah sebagian kecil ujar - ujar atau kutipan dari kitab Mahayana yang berbunyi sebagai berikut :
Tujuh Buddha masa lampau
__ADS_1
Ribuan Buddha dari bharda kalpa
Sekarang dan yang akan datang
Seribu lima ratus Buddha
Lima belas ribu Buddha
Lima ratus Buddha kemenangan bunga
Seratus Juta Buddha harta vajra
Buddha cahaya tetap
Enam Buddha dari enam penjuru dunia
Apabila suara - suara sutera doa ini terdengar di dalam kuil ataupun kelenteng, hal itu tidaklah perlu di perhatikan lagi, karena memang lumrah dan wajar kalau seorang biksu membacakan atau melafalkan sutera doa ataupun memberi pelajaran kepada anak - anak muridnya tentang sutera ataupun mantra doa.
Akan tetapi anehnya dua suara yang saling susul menyusul ini terdengar dari dalam sebuah hutan lebat yang jarang di datangi manusia dan menjadi sarang hewan buas ataupun manusia - manusia aneh seperti perampok, garong dan sebangsanya.
Melihat ke dalam hutan liar itu dan mengetahui siapa orang yang melafalkan sutera doa dari kitab Mahayana itu, ternyata bukanlah seorang biksu, biksuni, ataupun pendeta Tosu, melainkan seorang kakek tua renta jembel yang membawa tongkat kayu butut sebagai alat bantu untuk berjalan.
Kakek ini berpostur tinggi, tubuh kurus kering, kulit hitam hangus terbakar matahari, berusia lebih dari 100 tahun. Rambut panjang terurai tak beraturan, muka pucat dan layu serta matanya agak besar dengan sorotan tajam. Dia bernama kakek Miao Zhuan seorang aneh yang terlihat memiliki latar belakang yang tersembunyi.
Tidak jauh di belakangnya, berjalan seorang anak laki - laki berusia kurang lebih 10 tahun. Pakaiannya penuh tambalan, rambut di ikat Gelung ke belakang. Mukanya putih agak pucat pasi, terlihat jelas kelelahan terpancar di raut wajahnya. Mata sipit dan tajam menatap ke arah sang kakek. Melihat kondisi Anak ini sangatlah miskin sampai - sampai bersepatu pun tidak.
Di dekat mata kakinya sebelah kanan ada bekas luka yang belum mengering, memanjang sebesar jari kelingking sehingga tampak jelas jalannya agak terpincang - pincang. Tubuh, tangan, dan wajahnya terlihat penuh dengan luka cambukan yang masih memerah, menandakan luka itu belum lama terjadi.
__ADS_1
Meskipun begitu anak itu terlihat tampak gembira setelah melihat kakek tersebut.
Sudah seminggu ini anak itu berlari ke dalam hutan, berlari dari pengejaran seorang biksu aneh yang menggenakan sorban berwarna orange yang hampir saja membunuhnya jika ia tidak lekas lari dan bersembunyi di dalam hutan.
Ke tidak sengajaan dan sebuah keberuntungan kecil membawanya ke dalam suatu masalah, ketika ia menemukan sebuah teratai putih ( Bunga Lotus ) aneh yang terbang melayang menghampiri dirinya saat sedang mencari buah - buahan di tepi telaga dekat pinggiran hutan.
Sebuah bunga teratai putih ( Bunga Lotus ) aneh, berkelopak 33 daun atau lembar memancarkan cahaya putih terang dan terbang masuk ke dalam jiwanya. Ketidak sengajaan inilah yang menyebabkan ia harus berlari dari kejaran maut Giam Lo Ong atau Dewa Kematian ( Yan Luo Wang ).
Tiba - tiba dari atas pohon meluncur seorang biksu bersorban berwarna orange, memotong langkah sang anak yang hendak menuju ke arah sang kakek.
" Bocah "
Lekas serahkan fragmen bunga lotus putih yang kau temukan itu.
"Berkata sang biksu kepada si bocah".
Terkejut dan gemetar terlihat di raut wajah sang bocah setelah berhari - hari lari dan menghindari pengejaran, ternyata sang biksu telah tiba dan berdiri di depannya dengan niat dan tatapan membunuh yang terlintas jelas di wajahnya.
Meskipun terkejut dan takut tapi sang bocah terlihat tenang.
" Hai Biksu "
Sudah kukatakan bahwa bunga teratai putih ( bunga lotus ) itu sudah tidak ada lagi padaku. Harus berapa kali ku ulangi lagi agar kau percaya padaku.
Suara lantang sang bocah terdengar jelas di telinga sang kakek yang menyebabkan dia segera menghentikan langkahnya.
Kau harus mati, jika bunga lotus putih itu telah menyatu ke dalam jiwamu, teriak sang biksu.
__ADS_1
Tak mungkin aku kembali ke Theravada, menunggu hukuman dari sang Arahat. Lebih baik aku kembali membawamu hidup ataupun mati , biarkan sang arahat yang akan mengambil fragmen lotus putih itu dari dalam jiwamu, demikian berkata sang biksu.