
Suasana gembira terpancar di wajah Guan Shu, Guan Lie dan Guan Yin. Jarang sekali mereka dapat keluar berpergian bersama dengan seluruh keluarga.
Riuh ramai dan penuh sesak juga sama terjadi seperti di area luar kelenteng Xian Shan Xi. Baru saja selesai bersembahyang, segera mereka berhamburan keluar dengan wajah riang.
Guan Shu dan Guan Lie segera keluar ke arah para pedagang di depan kelenteng, mereka berdua terlihat asik melihat barang - barang yang di jual, terutama barang - barang kecantikan.
Wajar saja saat ini mereka sudah memasuki usia remaja, gadis kecil yang mulai merasakan masa - masa puber nya.
Sementara itu Guan Ying berjalan mengelilingi area di dalam kelenteng. Hatinya lebih tertarik melihat suasana area dalam kelenteng.
Sebuah bangunan menara tinggi menjulang berdiri di belakang kelenteng, terpancar warna - warni dari menara terlihat tak kala sinar matahari memantulkan cahayanya.
Pagoda 7 warna demikian namanya di kelenteng Xiang Shan Xi, merupakan pagoda kuno yang terkenal. Biasanya setiap 10 tahun sekali baru dapat di buka untuk ujian para biksuni dari seluruh kekaisaran.
Kaki Guan Yin terus melangkah berjalan memasuki ke dalam area pagoda 7 warna, dan berdiri di depan pintu masuk pagoda.
Tiba - tiba seutas cahaya memancar keluar dan pintu pagoda terbuka dengan sendiri. Pintu yang biasanya hanya dapat di buka 10 tahun sekali oleh ketua kelenteng Xiang Shan Xi, kini terbuka seakan - akan membuka jalan untuk Guan Yin.
Melihat pintu terbuka, segera Guan Yin melangkah masuk. Baru saja ia sampai di dalam ruangan, tiba - tiba pintu pagoda tertutup kembali.
Guan Yin kembali memandang sekeliling dengan sedikit bingung karena pintu pagoda tertutup dengan tiba - tiba.
Terlihat ruangan besar di dalam aula pagoda, ruangan doa Dharma. Aula ujian lantai dasar bagi para biksuni di seluruh kerajaan terlihat di matanya.
Dahulu kala konon cerita nya pagoda ini di bangun oleh Dewi kebajikan, Tian Shan Shen Mu untuk menguji para biksuni menuju ke jalan kesempurnaan.
Ratusan faachi ( alat-alat untuk sembahyang ) tergeletak di lantai aula. Ratusan ghanta dan muyi ( alat doa berupa kayu seperti gong kecil, yang di pukul - pukul dengan kayu kecil seperti sumpit ) serta bantal doa terlihat di depannya.
Cukup lama ia berkeliling di aula pagoda, sambil melihat - lihat dan mengamati keadaan pagoda. Rasa lelah muncul setelah cukup lama ia berputar di dalam aula pagoda.
Guan Yin lalu duduk bersila di di atas sebuah bantal doa dengan sikap lotus seperti dalam sikap semedi.
Sebuah kayu pukulan berbentuk sumpit, lalu sebuah Ghanta dan sebuah muyi terlihat di depan Nya.
__ADS_1
Segera kayu pukulan itu di ambil dan di amati, rasa penasaran timbul di hati Nya, lalu ia mencoba mengetuk - ketukan ke Ghanta dan muyi di depan Nya.
Tiba - tiba suara alunan doa (Musik refleksi Dharma) menggema di dalam aula. Cahaya mantra dan doa keluar dari dalam Ghanta dan muyi.
Terlihat ribuan aksara kuno dalam bahasa sansekerta berbentuk cahaya memancar seperti irama musik refleksi mengalir di dalam aula pagoda.
Ghanta :
Satu pukulan ghanta terdengar menggema berulang - ulang tidak hilang dan masih terdengar, kemudian Melawan.
Muyi :
Sekali pukul atau bahkan ratusan kali pukul bunyinya langsung menghilang.
Suara alunan ketukan Ghanta dan muyi terus menerus terdengar berulang - ulang di dalam aula.
Suara Ghanta mencerminkan keburukan, kemudian terdengar mengalun melayang ke dalam telinga, jiwa dan pikiran Guan Yin.
Godaan dan hasutan mulai merasuki ke dalam pikiran Guan Yin.
Godaan terus menerus merasuki pikiran Guan Yin, menggoda pikiran dan jiwa Nya.
Entah suatu kebetulan atau karena usia nya yang masih kecil, serta semua sifat kepolosan anak - anak segala godaan itu hanya lewat begitu saja seperti jiwa anak kecil yang belum memahami terlalu dalam hal - hal yang berkaitan dengan keduniawian.
Tentunya akan sangat jauh berbeda jika orang dewasa yang mencoba menahan segala godaan dan kenikmatan duniawi.
Kemudian, alunan suara Muyi terdengar.
Suara Muyi mencerminkan kebaikan terdengar, kemudian terdengar mengalun melayang ke dalam telinga dan pikiran Guan Yin.
Sebuah cahaya gambaran dunia terlihat masuk ke dalam pikirannya. Segala bentuk kebajikan, sikap welas asih terus merasuki relung hati dan kemudian menyegel pikiran dan jiwanya.
Segala sikap ajaran Dharma Buddha mengalir terus meresap masuk ke dalam jiwa dan pikiran Guan Yin.
__ADS_1
Kemudian di ikuti oleh irama Dharma refleksi sang Buddha, dalam wujud cahaya dan mantra doa dalam tulisan sanksekerta yang mengalir deras memasuki tubuh Guan Yin.
Cahaya, doa dan mantra dalam tulisan Sansekerta terus menerus masuk, mengalir tiada henti hingga tubuh Guan Yin bersinar terang.
" Boooom.. Boooom... Boooom ..."
Terdengar tiga kali ledakan kecil, cahaya terang keluar terpancar dari tubuh Guan Yin, tiga tingkat seketika Kultivasi nya naik menjadi tahap Pondasi tingkat 6.
Di dalam saku baju Nya, sebuah tongkat hudhim seakan - akan bergetar kemudian cahaya bertuliskan sansekerta muncul di seluruh gagang hudhim (kebutan).
Wajah terang bersinar memancar keluar. Kekuatan aura jiwa yang cukup dalam terlihat memancar dari wajah Guan Yin.
Suara alunan irama Dharma doa samar - samar mulai terdengar melemah, kemudian lenyap seakan - akan tertelan angin.
Aula Dharma doa kembali tenang, hening seketika. Di ujung aula sebuah portal cahaya yang menutupi tangga, samar - samar mulai redup dan menghilang.
Terlihat undakan tangga menuju ke lantai ke dua. Suara derit pintu terdengar, lalu terbuka seolah membuka jalan Guan Yin untuk segera naik ke lantai berikutnya.
Melihat tangga yang muncul di ujung aula, Guan Yin segera bangun kemudian berjalan dan naik ke lantai berikutnya.
Di luar pagoda 7 warna, sinar matahari mulai redup seolah menandakan sang Surya segera kembali pulang ke rumah.
Kesibukan Keluarga Guan Lu terlihat, semua nya sibuk mencari Guan Yin yang sedari tadi tak menampakkan batang hidungnya.
Suasana dongkol mulai terlihat di wajah Guan Lu. Cukup lama ia dan semua anggota keluarga berputar di area kelenteng mencari Guan Yin.
Tiba - tiba cahaya putih terang keluar memancar keluar dari pagoda lantai satu, menerangi seluruh area kelenteng Xian Shan Xi menandakan seseorang telah berhasil melewati ujian di dalam pagoda dengan sempurna.
Terkejut Guan Lu dan segera berjalan menuju ke arah pagoda.
Dari teras kelenteng di area taman, seorang biksuni sedang melakukan doa, seketika terkejut melihat pagoda bersinar terang berderang.
" Ammitaba.. " ucapnya.
__ADS_1
Segera dia bangkit dan berlari menuju ke arah pagoda 7 warna.