
" Aku tidak takut kepada Mu "
Terimalah Serangan Ku ini...
Sambil berteriak, Biksu Gundharva kembali meloncat ke arah kakek Miao Zhuan. Saling serang dan tangkis kembali terjadi lagi semakin lama semakin cepat.
" Tinju Sembilan Naga "
Sebuah pukulan di lontarkan, sembilan pukulan cahaya berlambang kepala naga meluncur cepat ke arah kakek Miao Zhuan ...
Upps..
Gerakan yang sedikit terlambat memaksa kakek Miao Zhuan melangkah mundur. Dengan tergesa - gesa berteriak sambil memukul ke depan,
" Rantai Nebula .."
Teriaknya menangkis pukulan tersebut. Puluhan cahaya rantai tiba - tiba muncul di depannya, terbang dan mengikat sembilan cahaya naga yang bergerak cepat ke arahnya.
" Bless.. Bless.. "
Sembilan naga yang bergerak ke arah kakek Miao Zhuan tiba - tiba terikat rantai Nebula , yang kemudian menutupi tubuh sang naga , lalu menghilang lenyap seketika seperti di telan bumi.
" Hah..."
Bagaimana mungkin desahnya. Tercegang terlihat di raut wajah sang biksu.
" Kau... Apakah kau kaisar Miao Zhuan dari dinasti Zhou yang menghilang ratusan tahun yang lalu dari Alam Nirvana...?? "
" Benarkah..?? "
Kembali pertanyaan dan gumaman kecil keluar dari mulut biksu Gundharva. Terlihat sekilas keraguan di wajah sang biksu Gundharva, sebelum ia kembali menenangkan dirinya.
" Sudah Kubilang... "
Anjing yang akan ku pukul pulang tidak layak bertanya kepada Tuannya..
Sekarang, terimalah pukulan ini...
" Sombong sekali kau.. "
Meskipun kau seorang kaisar tidak akan aku bertekuk lutut di hadapanMu. Jiwa dan ragaku hanyalah milik Sang Arahat, penguasa Kuil Therapada di Alam Nirvana.
" Baik... Baik... , bersiaplah.... "
Sambil meloncat, sebuah tendangan terbang meluncur ke arah kepala biksu Gundharva, refleks sang biksu mengarahkan kedua lengannya ke depan menahan tendangan.
Kembali pertarungan terjadi, semakin lama semakin cepat sampai sulit di lihat dengan mata telanjang.
__ADS_1
Tidak terasa satu dupa telah berlalu, dua dupa kembali berlalu, tiba - tiba terdengar ledakan pukulan beradu terjadi lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Keduanya kembali melangkah mundur, mangatur posisi , langkah dan nafas masing - masing.
" Aku harus mempersingkat pertarungan ini, jika terus berkepanjangan seperti ini, akan cukup berbahaya bagi Ku."
Demikian berkata di dalam hati kakek Miao Zhuan, sambil mengepalkan kedua tangannya rapat - rapat, dan fokus mengalirkan tenaga dalamnya.
Sebuah mantra di lafalkan, tiba - tiba debu, angin yang berada di sekitarnya berterbangan seakan - akan tertarik oleh suatu kekuatan besar yang tak terlihat dan berkumpul di sekitar tubuh kakek Miao Zhuan.
Angin dan debu yang berkumpul membesar, membentuk sebuah pusaran transparan yang semakin membesar dan semakin cepat berputar mengitari tubuh Miao Zhuan.
Melihat gelagat tersebut, segera sang biksu melipat kedua tangan nya sambil merapalkan doa dan mantra. Seluruh tenaga dalam nya di fokuskan, 9 Naga kembali muncul di hadapannya, semakin lama semakin membesar dan bergerak membentuk sebuah tameng yang di kelilingi oleh aksara sanksekerta bewarna emas yang berterbangan di sekitar sang naga.
" Angin Tornado "
" 9 Perisai Naga "
Terdengar suara saling bersahutan, sambil melompat melepaskan pukulan.
" Duaar... Duaar... "
Ledakan besar terjadi lagi ketika dua pukulan saling beradu di udara. Bukan hanya debu dan pasir yang berhamburan di udara, bahkan tanahpun terlihat ikut berterbangan di udara. Pohon dan tumbuhan kecil hancur , patah dan terbang bertebaran di sekitarnya.
Kedua nya mundur puluhan langkah, terdorong oleh kuatnya tolakan kekuatan mereka.
Dari helai jubahnya sang biksu mengeluarkan sebuah cambuk emas, melihat itu kakek Miao Zhuan juga tidak mau ketinggalan, segera ia melepaskan tongkat yang terselip di samping pinggangnya.
Segera sang biksu memainkan cambuknya, sebuah putaran cambuk segera melesat ke arah Miao Zhuan, kitiran cambuk berwarna emas berputar kembali menyerang, layaknya cambuk kuda lumping memukul ke udara.
" Taar... Taar... "
Suara bunyi cambuk yang di iringi dengan tenaga dalam terdengar meluncur deras mengarah ke arah kepala kakek Miao Zhuan.
Putaran tongkat sekejap di mainkan , memutar cepat membentuk kitiran putar di depan nya menahan ledakan yang menuju ke arah sang kakek. Tumbukan terjadi dan Cambuk berbalik arah, kembali menuju ke arah Sang biksu yang dengar segera memutar kembali arah serangannya.
Namun, sebelum itu terjadi, kakek Miao Zhuan meluncur ke arah biksu Gundharva, mengikuti arah Balik cambuk sang biksu, sambil memukulkan tongkatnya.
Serangan balasan, memaksa biksu Gundharva melakukan pertahanan, putaran kincir cambuk terus berputar melindungi tubuhnya dari serangan tongkat. Melihat keunggulan serangan tongkat nya, Miao Zhuan terus menekan. Serangan demi serangan dengan gencar terus dilakukan sambil mencoba menyerang dari celah kosong.
" Breet... Breet...."
Satu - dua pukulan ringan berhasil bersarang menyerempet tubuh dan pakaian sang biksu Gundharva. menyadari kerugian bertarung jarak dekat dengan tongkat, segera dia cepat melompat mengambil jarak untuk bertarung jarak jauh, namun dengan sigap kakek Miao Zhuan mengejar dan mempercepat serangannya terus menekan, tanpa memberikan kesempatan biksu Gundharva untuk menjauh.
Di tekan terus menerus membuat sang biksu jenggah dan lengah, sebuah celah kosong terlihat terbuka lebar untuk di serang.
" Tongkat Pemukul Anjing "
__ADS_1
Teriak kakek Miao Zhuan tiba - tiba, sambil mengarahkan tongkatnya menusuk ke arah ulu hati sang biksu.
Melihat serangan datang dari celah kosong yang di buatnya, dengan terburu - buru Biksu Gundharva membuka genggaman tangan pada gagang cambuk yang di pegang nya, sambil mengarahkan ke arah tongkat yang menyerang ulu hatinya.
" Trak... Trak.. "
Ujung tongkat dan gagang cambuk dari besi saling beradu, segera Miao Zhuan memutar kembali tongkat pemukul anjing nya mengarah ke arah punggung sang biksu.
" Kibasan Tongkat Dewa "
Kembali, putaran cepat Miao Zhuan mengibaskan tongkatnya ke arah punggung di sisi kirinya, setelah pukulan di sisi kanan sempat di tahan dengan kedua lengan tangan nya.
" Bruuk.. "
Aaakh... Terdengar teriak keras ..
Sebuah pukulan tongkat dengan telak mengenai punggung sang biksu, tak sampai di situ saja, serangan susul menyusul terus di luncurkan Miao Zhuan.
" Tongkat Berpilin "
Putaran tongkat seperti putaran bor listrik melesat cepat lurus ke arah tubuh dan dengan tepat mengenai dada lawan, di ikuti dengan sebuah tendangan kilat menyebabkan sang biksu terpental jauh terhempas jatuh meluncur ke belakang.
Seteguk darah keluar dari mulut biksu Gundharva, ia mencoba bangkit namun kembali jatuh terduduk di tanah. Darah kembali mengalir lebih deras keluar dari mulutnya. Luka dalam yang di alami nya terlihat parah.
Tangan kirinya segera mengambil pil penyembuh, dan menegak nya sambil mengatur nafas mengaliri qi dan tenaga dalam ke bagian tubuh yang terluka dalam.
Matanya menatap sayu ke arah kakek Miao Zhuan, sambil berkata dengan lemah,
" Aku sudah Kalah "
" Bunuhlah.. " jika kau ingin membunuhku. terdengar ucapan lirih yang keluar dari mulut sang biksu.
" Sudah Ku Bilang "
Kembali lah ke Therapada, aku akan mengampuni jiwaMu dan sampaikan kepada Sang Arahat, biarkan takdir mengikuti kehendak sang semesta.
Apa yang ada di dunia bawah ini tidak untuk di perebutkan oleh dunia atas. Biarkan kehendak ilIahi yang akan berjalan mengikuti kehendak sang semesta.
Dengan tatapan lemah biksu Gundharva memandang kakek Miao Zhuan , walaupun ia tidak takut akan kematian namun alam bumi memang bukanlah duniaNya.
Segala kekuatan di dunia Alam Nirvana tidak dapat di gunakan sepenuhnya di bumi ini. Segel Semesta Alam membatasi segala sesuatu yang ada di dunia ini hingga terjadi keseimbangan di alam semesta.
Pasrah akan keadaan dan kondisinya saat ini, biksu Gundharva segera mengeluarkan sebuah batu hitam berbentuk dadu yang berisi mantra dan tulisan Sansekerta dari dalam cincin ruang penyimpannya.
Setelah ia menekan dan menghancurkan batu hitam itu, kembali menatap kakek Miao Zhuan,
" Akan kah kita akan bertemu lagi di Alam Nirvana.. ?? " Aku akan menantikan kesempatan untuk bertarung kembali dengan Mu..
__ADS_1
Tak lama kemudian sebuah cahaya terang bulat berbentuk array kecil dengan tulisan mantra kuno muncul di sekeliling tubuhnya, dan kemudian redup menghilang sekejap mata kembali di teleportasi ke alam dunia Nirvana.