Titisan Avalokitesvara Bodhisatva

Titisan Avalokitesvara Bodhisatva
Buddha Ji Lay Hud (2)


__ADS_3

Suara ngorok tertidur tiba - tiba terdengar keras.


Ngok... ngroook...


Seketika Guan Yin kecil kembali tertawa terpingkal - pingkal, sambil matanya memandang patung Buddha Ji Lay Hud. Baru saja ia berkata mau tidur suara dengkuran langsung terdengar.


Guan Yin kemudian menenangkan hati dan pikiran Nya. Suasana hatinya terlihat gembira saat ini setelah bertemu dengan Buddha Ji Lay Hud.


Setelah pikirannya tenang ia kemudian mulai bergerak ke arah lemari, melihat kitab - kitab yang ada. Ratusan kitab berjejer di dalam lemari buku, tersusun rapi.


Barisan pertama, tersusun buku - buku tentang ajaran Buddha. Satu demi satu mulai ia buka, seakan mencari sesuatu yang menarik hatinya.


Sebuah buku kuno terlihat di tengah susunan rak menarik hati Guan Yin, dan ia mulai membaca tentang Sejarah Buddha.


Di mulai dari India, berlandaskan ajaran Sidartha Gautama dan kemudian terus berkembang dan menyebar hingga ke daratan China bahkan ke seluruh dunia.


Ajaran Buddha meliputi beragam ilmu, nilai tradisi, filosofi, kepercayaan, meditasi dan praktek spiritual.


Ajaran Buddha menjelaskan bahwa hidup adalah untuk menderita. Jika di dunia ini tidak ada penderitaan, maka Buddha pun tidak akan menjelma turun ke dunia.


Semua hal yang terjadi pada manusia merupakan wujud dari penderitaan itu sendiri


Ajaran dasar Buddha, adalah " Empat Kebenaran Mulia " atau " Empat Kebenaran Arriya "



Ariya tentang Dukkha ( Dhukkha )



Dukkha berarti sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban. Dukkha menjelaskan tentang penderitaan manusia.



Ariya tentang Asal Mula Dukkha ( Sumber Dukkha )



Setiap penderitaan pasti memiliki sebab, dan setiap sebab pasti memiliki akibat.



Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha ( Berhentinya Dukkha )



Menghapus Penderitaan dilakukan dengan menghapus keinginan, sehingga tidak ada lagi tempat untuk keinginan tersebut.



Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha ( Jalan menuju berakhirnya Dukkha )



Jalan pelepasan merupakan cara-cara yang harus ditempuh kalau kita ingin lepas dari kesengsaraan.

__ADS_1


" Inti dasar dari ajaran Buddha adalah "


" Senantiasa Memperbaiki Diri "


Buddha mengajarkan setiap orang untuk selalu belajar dan mendidik dirinya sendiri untuk menjadi manusia yang bijaksana.


Pencerahan Guan Yin terhadap Buddha semakin mendalam setelah ia selesai membaca buku tentang Buddha, dan kemudian aura terang memancar dari tubuhnya. Pengetahuan tentang Buddha semakin mendalam.


Kemudian ia menutup buku, dan mulai mencari - cari buku lain yang mungkin menarik hatinya.


Sebuah Kitab suci lusuh dan lapuk terlihat di atas lemari, menarik perhatian Guan Yin, segera ia mengambil dan membacanya.


8 Jalan Kebenaran Sang Buddha


Pandangan benar,


Niat benar,


Ucapan benar,


Perbuatan benar,


Mata pencarian benar,


Usaha benar,


Perhatian benar dan,


Konsentrasi benar.


Berbagai kitab suci, Dharma - Dharma doa, di dalam perpustakaan banyak sudah ia pelajari.


Hari berganti hari di lewati Guan Yin di dalam pagoda lantai lima. Kegiatan membaca dan berlatih segala ilmu yang dia dapatkan terus di latih setiap harinya. Semakin hari terlihat semakin berkembang dengan baik.


Jika lapar atau jenuh, ia akan bermain di dunia kecil nya di dalam gelang giok hijau. Terkadang ia melepas lelah di sana melepas semua kerinduan tehadap keluarganya.


Tak terasa setahun lebih telah berlalu di dalam pagoda lantai ke lima. Pagi ini Guan Yin baru saja kembali dari Dunia Kecilnya.


Sebuah keinginan muncul dalam dirinya untuk membangunkan Sang Buddha Ji Lay Hud yang terlihat masih tertidur.


Setahun ini ia mengalami kesulitan untuk naik ke tingkat berikutnya, semenjak ia bertemu dengan Sang Buddha Tertawa Ji Lay Hud.


Guan Yin belum menyadari bahwa kecepatan kenaikan KultivasiNya jauh melampaui siapapun. Kekuatan Pondasi nya selama inilah yang belum terbentuk sempurna menyebabkan setahun ini belum terjadi peningkatan dalam KultivasiNya.


Baru saja ia ingin membangunkan dan berbicara dengan patung Sang Buddha, sebuah tawa terdengar...


Haaa... haaa... haaa..


Anak kecil, apakah hari ini kau ingin bermain - main dengan Ku lagi, ucap Sang Buddha sambil tertawa lepas. Wujud patung Sang Buddha Ji Lay Hud yang berbaring tidur itu membesar kemudian berdiri di depan Guan Yin sambil tertawa.


Wajah Guan Yin terlihat senyum ceria, setahun lebih sudah ia menunggu sang Buddha Tertawa muncul kembali.


Pagi ini ia ingin berlatih kembali dengan Sang Buddha setelah Guan Yin cukup lama berlatih seorang diri.


Suara tawa terdengar lagi.

__ADS_1


Haaa ... haaa... haaaa...


Tiba - tiba sebuah dorongan tenaga besar meluncur menuju ke arah Guan Yin. Baru saja muncul Sang Buddha Tertawa sudah melepaskan sebuah pukulan ke arah Guan Yin.


Refleks Guan Yin mundur, namun sedikit terlambat. Tubuhnya terdorong terhempas ke belakang. Baru saja kembali memantapkan posisi, sebuah serangan kembali meluncur.


Serangan mengalir deras ke arah Guan Yin, kali ini serangan lebih cepat dan lebih berisi dari sebelumnya. Pukulan demi pukulan terus terjadi.


" Tapak Api.. " ucap Guan Yin.


Salah satu jurus dari 5 Elemen Dunia keluar meluncur menyerang Buddha Ji Lay Hud


Sebuah pukulan muncul, Tapak tangan berwarna merah seperti api muncul di tangan Guan Yin menyerang ke arah Buddha Ji Lay Hud.


Segera Buddha Ji Lay Hud meniupkan mulutNya. Air mengalir membasahi cahaya api yang keluar dari lengan Guan Yin dan warna merah panas menghilang kemudian dengan segera di tangkis. Guan Yin cepat meloncat mundur melihat seranganNya dengan mudah di tahan oleh Sang Buddha.


Buddha Ji Lay Hud segera meluncur saat Guan Yin melangkah mundur, lalu menyerang kembali dengan lebih cepat.


" Dewi Tangan Seribu "


kembali Guan Yin berteriak,


Seribu cahaya tangan muncul bergerak bertahan menahan serangan Buddha Ji Lay Hud dan setelah itu mulai menyerang sang Buddha. 1000 tangan bergerak cepat membuat Buddha Ji Lay Hud kewalahan, lalu gantian Sang Buddha Tertawa yang meloncat mundur.


Melihat Sang Buddha mundur, Guan Yin segera mengalirkan Qi ke telapak tangannya dengan seluruh tenaga dalamnya. Sebuah gelombang cahaya muncul.


Sebuah tenaga gelombang besar, mendorong ke depan mengalir menyerang Sang Buddha Tertawa.


" Gelombang Samudera " teriak Guan Yin.


" Cahaya Buddha Tertawa." Ucap Buddha Ji Lay Hud.


Suara Buddha tertawa terdengar jelas, dari suara tawanya keluar Cahaya tertawa mengalir menabrak gelombang samudera.


Gelombang samudera pecah dan menghilang, lalu sisa cahaya tertawa yang agak redup masih meluncur menyerang ke arah Guan Yin.


" Suara Telepati " teriak Guan Yin,


Sebuah jurus dari wujud Dewi Kwan Im dengan burung Kakatua muncul, terdengar bisikan mengalun menutupi cahaya tawa lalu semua tawa hilang lenyap seketika.


Cukup.. Cukup... anak kecil, suara Sang Budha Ji Lay Hud kemudian terdengar di iringi suara tawa.


Haa.. Haaa... Haa..


Bagus.. bagus... ucap Sang Buddha, sudah saat nya aku kembali. Lalu Sang Buddha Ji Lay Hud mengarahkan jari nya ke arah Guan Yin, seberkas energi cahaya muncul lalu meluncur menembus dahi.


" Boooom... Boom... "


Suara ledakan terdengar 2 kali dari tubuh Guan Yin, lalu aura energi terpancar dari tubuhnya. 2 tingkat kali ini ia alami menjadi Tahap penyempurnaan Qi tingkat ke 4.


Lalu suara tawa keras terdengar kembali,


Haa... haaa.. haaa...


Anak kecil, sampai berjumpa lagi di lain kesempatan. Tubuh Buddha Ji Lay Hud lalu merubah menjadi Patung kembali, lalu portal muncul menutupi perpustakaan dan kemudian hilang.

__ADS_1


Dari pojok ruangan aula pagoda lantai ke lima muncul kembali sebuah array, kemudian samar - samar pudar dan terlihat tangga menuju ke lantai ke enam pagoda 7 warna.


__ADS_2