Titisan Avalokitesvara Bodhisatva

Titisan Avalokitesvara Bodhisatva
Kelenteng Xiang Shan Si


__ADS_3

Tak terasa waktu berputar demikian cepat, hampir 5 tahun telah berlalu semenjak kelahiran Guan Yin.


Pagi ini matahari bersinar cerah, cahaya kuning keemasan memancar menyinari sang bumi, menyegarkan kembali rumput - rumput, pohon, dan bunga yang basah oleh embun pagi.


Kokok ayam terdengar saling bersahutan, seolah ingin membangunkan orang - orang yang masih tidur di klan Guan.


Di bawah sebuah pohon di taman belakang rumah, terlihat Guan Yin sedang bersemedi sambil melatih pernafasan.


Baru seminggu yang lalu sang ayah Guan Lu mengijinkan nya untuk berlatih Kultivasi.


Pagi sekali, di saat orang - orang masih tertidur , ia malah sudah memulai diri melatih pernafasan, mengaliri Qi ke seluruh meridian kecilnya.


Baru 3 hari yang lalu meridian Nya terbuka, menandakan ia resmi menjadi seorang Kultivator awal tahap Pondasi tingkat ke 1.


Tingkat terendah dan yang paling awal dalam berkultivasi setelah Meridian nya terbuka.


Udara segar dan bersih di pagi hari tentu meningkatkan kualitas Qi menjadi lebih padat. Aliran Qi masuk terus menerus secara stabil ke dalam Meridian Guan Yin..


" Boooom.."


Ledakan kecil terdengar, menandakan kenaikan ke tingkat 2. Tapi tak ada reaksi apapun terlihat di wajah Guan Yin yang terlihat masih terus konsentrasi.


Aliran Qi terus mengalir masuk ke dalam seluruh jaringan tubuhnya yang semakin lama semakin membesar dan membuka sebagian besar jaringan tubuhnya yang belum terbuka secara sempurna.


Satu jam berlalu tanpa terasa, udara di sekitar Guan Yin terasa semakin padat. Aliran Qi yang masuk pun terasa semakin besar, lalu terdengar kembali suara..


" Boooom.."


Ledakan kecil kembali terdengar menandakan Guan Yin kembali naik tingkat, tingkat ke 3 tahap Pondasi.


Guan Yin menghembuskan nafas, sebelum ia menetralkan diri, lalu kemudian membuka kedua matanya.

__ADS_1


Guan Yin merasakan energi yang lebih padat di dalam tubuhnya dan juga tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya.


Segera ia bangun dan mulai berlatih gerakan dasar yang di ajarkan Guan Lu untuk menguatkan pondasi Nya.


Tak lama kemudian dari arah teras rumah, terlihat Guan Shu melangkah mendekati sang adik yang sedang berlatih,


" Adik , ibu memangil Mu ."


Pagi ini kita semua akan pergi ke kelenteng Xiang Shan Xi, ucap Guan Shu.


Hari ini adalah hari perayaan festival lampion, atau hari terakhir, hari Ke 15 setelah tahun baru Imlek yang di kenal sebagai hari Cap Go Meh.


Kita semua akan pergi sembahyang leluhur di kelenteng Xian Shan Xi, ucap Guan Shu sambil merangkul sang adik dan berjalan ke arah rumah.


" Guan Yin, Ayo lekas bersihkan tubuh Mu."


Ucap Cia Sun Ling yang terlihat sibuk bersiap mempersiapkan semua keperluan saat melihat kedua putri Nya masuk.


Kami semua akan menunggu Mu di Aula depan, ucap Guan Lu yang tersenyum senang melihat aura kenaikan tingkat sang putri saat selesai berlatih.


Tak lama kemudian mereka semua sudah berkumpul di aula depan klan Guan, sebuah kereta kuda muncul dan kemudian mulai bergerak menuju kelenteng Xiang Shan Xi.


Tak sampai sepeminuman teh, kereta kuda yang membawa keluarga Guan tiba di kelenteng Xiang Shan Xi, jarak yang tidak terlalu jauh dari kediaman klan Guan.


Suasana ramai di depan kelenteng, terlihat


puluhan pengemis berjejer rapi, pedagang kaki lima ramai menjajakan dagangan nya di sepanjang jalan masuk menuju pintu gerbang kelenteng.


Suara alunan musik barongsai terdengar dari dalam lapangan kelenteng. Para pemain barongsai bergerak menari - narikan sang naga seolah - seolah menyambut kedatangan para tamu di kelenteng.


Berbagai macam jenis lampion menghiasi sepanjang jalan menuju kelenteng. Sungguh suasana yang begitu ramai, membuat semuanya terlihat bersemangat menyambut festival lampion ini.

__ADS_1


Ketika semua orang terbawa oleh suasana keramaian ini, terlihat Guan Yin pergi memisahkan diri berjalan ke arah kumpulan pengemis.


Dari sakunya keluar sebuah kantong uang dan segera ia berjalan, satu persatu dari tiap pengemis semua nya diberikan sampai habis tak tersisa.


Tiba - tiba seorang pengemis tua yang tidak kebagian sedekah, segera menghampiri Guan Yin.


" Nona,"


Berilah pengemis tua ini sedikit rejeki, ucap nya.


Binggung karena uang di kantong sakunya sudah habis tak tersisa, Guan Yin hanya bisa berdiam diri.


" Nona, "


Berilah aku sedikit uang, orang tua ini belum makan sejak kemarin. Berilah pengemis tua ini sedikit rejeki..


Kembali ucapan itu terdengar lagi.


Tak tega hati Guan Yin segera ia melepas gelang giok di tangan nya dan memberikan kepada pengemis tua itu.


Baru saja ia berikan gelang giok, secepat kilat giok itu sudah berpindah tangan, terselip di dalam kantong baju sang kakek.


" Nona kecil, "


Terima kasih ucap sang kakek tersenyum lebar. Ini hadiah kecil dari Ku ucapnya, sebuah hudhim (Tongkat kebutan kayu yang berbulu) keluar dari cincin penyimpanNya.


Aku tidak memerlukannya kakek, aku ikhlas memberikannya kepadaMu, ucap Guan Yin.


Terimalah, ini adalah titipan sang Buddha untuk Mu. Hudhim ini akan selalu mengiringi Mu kemana pun engkau pergi.


Segera kakek tua melangkah pergi setelah memberikan hudhim itu, sekejap mata lalu hilang tak terlihat lagi.

__ADS_1


Di dalam keramaian Guan Yin segera mencari rombongan nya, lalu kemudian berjalan cepat menyusul ke arah Guan Lu dan keluarganya, masuk ke dalam kelenteng.


__ADS_2