Titisan Avalokitesvara Bodhisatva

Titisan Avalokitesvara Bodhisatva
Tanda Langit


__ADS_3

Baiknya anak itu belum menguasai niat pedang atau pun jiwa pedang. Beruntung hanya menggunakan jimat, jika tidak bahaya besar dapat datang sewaktu - waktu. SepertiNya aku harus kembali meningkatkan kekuatanKu.


Sambil menghela nafas, setelah merasakan energinya mulai kembali stabil, segera Guan Lu balikkan tubuhnya kembali berjalan ke arah rumah.


Di depan rumah menunggu Cia Sun Ling dan kedua putriNya dengan rasa khawatir.


" Ayah.. Ayah... "


Teriak Guan Shu dan Guan Lie gembira melihat kedatangan ayahNya.


Ayo kita masuk ucapnya dan segera mereka semua kembali ke dalam rumah.


Menjelang tengah malam, cuaca cerah tiba - tiba berubah dalam sekejap. Awan yang tadinya cerah tiba - tiba berubah menjadi gelap, mendung dengan cepat berkumpul menjadi hujan deras di sertai dengan gemuruh petir yang menggelegar.


Rintikan air hujan terdengar deras dari atap rumah, lalu turun membasahi bumi.


" Ayah.. Ayah... "


Tiba - tiba teriakan Guan Shu terdengar, ibu segera melahirkan..


Cepat Guan Lu meloncat berlari ke arah kamar, lalu segera melihat keadaan istrinya.


Guan Fei, bagaimana istriKu ucapnya kepada sang adik..


" Air ketuban sudah pecah sepertinya sebentar lagi istrimu akan melahirkan, " ucap Guan Fei.


Di mana bibi Fu, apakah sudah sampai..??


Kembali Guan Lu bertanya sedikit khawatir.


Tiba - tiba terdengar suara dorongan pintu, segera bibi Fei masuk membawa baskom dan alat bantu melahirkan.


" Aku sudah di sini Tuan ," ucap bibi Fei.


Sebuah teriak tiba - tiba terdengar...


Aaak... aaakh...


Segera bibi Fei mendekat ke arah Cia Sun Ling lalu membuka kedua kakinya lebar - lebar.


Tarik nafas, tekan dan dorong ucapnya, tekan .. iya.. terus... dorong... tarik nafasmu..


Demikian bibi Fei terus berucap mengulang kata - katanya.


Tiba - tiba suara petir menggelegar, sekilas pancaran sinar putih memancar keluar dari langit dan turun secepat kilat menebus ke arah rumah Guan Lu dan masuk ke dalam perut Cia Sun Ling tanpa ada seorang pun yang menyadariNya...


Seketika itu juga suara tangis bayi terdengar...


" Oee... Oee... Oee "


Suara teriakan tangis seorang bayi segera memenuhi ruangan, kembali terdengar tangis ...


" Ooe... Owe..Owe.. "


Sementara di langit keanehan kembali terjadi, awan cerah segera menyapu langit yang tadi gelap, hujan deras seketika itu juga berhenti.


Awan gelap tergantikan oleh awan putih cerah di angkasa bergerak seolah - olah membentuk wujud penampakan sang Buddha ammitabaha.


Seulas senyum terlihat dari wujud Sang Buddha Ammitabaha, seolah mengeluarkan desir suara.


" Putri Miao Shan telah menemukan kembali raga Nya untuk bereinkarnasi."


Cahaya bulan kembali bersinar terang, warna - warni terpancar dari sang rembulan seperti warna pelangi di habis hujan di siang hari yang terus menyinari sang Bumi.

__ADS_1


------ """"". ------


Kelenteng Xian Shan Si, di kota Suzhou tak jauh dari kediaman keluarga Patriak Guan.


Di teras taman belakang kelenteng terlihat seorang biksuni sedang melafalkan doa dan mantra dengan khidmat..


Namo ratna - trayāya


Namo āriyā - valokite - śvarāya


Bodhi - sattvāya Maha - sattvāya Mahā - kārunikāya


Aku bersujud ke hadapan Triratna


Aku bersujud ke hadapan Yang Maha tahu


Bodhisattva, Makhluk Agung, Yang Maha Pengasih.


Padma - kastāya svāhā Narakindi - vagalāya svaha


Mavari - śankharāya svāhā


Namo ratna - trāyāya


Namo āryā - valokite - śvaraya svāhā


Om Sidhyantu mantra padāya svāhā


Pemegang Bunga - teratai, svaha. Pencipta Berleher-biru, svaha


Maha mulia nan agung yang penuh kasih sayang, pemurah, svaha


Aku bersujud ke hadapan Triratna


Doa dan mantra "Kasih Sayang" terus di lafalkan berulang kali, meskipun cuaca dingin menyelimuti area di sekitar kelenteng, Sang biksuni tetap melafalkan doa dan mantra berulang kali.


Tak lama kemudian, sutera doa dan mantra terhenti, mata sang biksuni terbuka lebar memandang ke arah langit menyaksikan tanda - tanda kuasa semesta.


Ammitabaha.. Buddha maha besar, maha kasih dan penyayang..


Sungguh beruntung hidup ini, masih bisa melihat kuasa Sang Buddha... Ammitabaha, semoga Buddha memberkati.. ucapnya.


------------- """""" ------------


Danau Xi Hu, di kota Hanzhou


Di tepi danau Xi Hu, berdiri Miao Zhuan sambil memandang ke arah langit, menyaksikan tanda - tanda kuasa semesta yang muncul di angkasa.


Melihat Sang Buddha Ammitabaha tersenyum, seuntai kata dan doa keluar dari mulutnya.


" Buddha maha agung " ucapnya..


" Putri Ku.. "


Maaf kan Aku...


Butiran air mata mengalir turun membasahi wajah Miao Zhuan.. Kenangan lama kembali terurai di dalam memori Nya..


Sambil mengusap air matanya, kemudian ia melafalkan mantra dan doa..


Buddha maha agung, Semoga Buddha memberikan kehidupan dan kedamaian kepada putriKu..


Shan Chai yang ikut berdiri di samping kakek Miao Zhuan hanya bisa berdiam diri, memandang langit dengan penuh tatapan keheranan.

__ADS_1


Tiba - tiba cahaya putih bersinar terang keluar dari dalam tubuh Shan Chai, seolah - olah ikut merasakan kegembiraan langit dan semesta, sekejap kemudian redup dan menghilang seolah kembali masuk ke dalam tubuhnya.


Sambil memandang ke arah Shan Chai, Miao zhuan segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Danau Xi Hu di iringi oleh Shan Chai di belakangnya.


------------- ""'''''' ------------


Kuil Therapada, di Alam Nirvana.


Di dalam ruang hukuman doa, Biksu Gundharva sedang khusuk melakukan Pabbaja Samanera, atau kegiatan doa pelatihan bagi umat buddha.


Suara bisikan terdengar dari dalam jiwanya, untuk segera keluar menghadap sang Arahat...


Di halaman Kuil, Di bawah pohon kehidupan terlihat Sang Arahat sedang bersemedi sambil melafalkan doa dan mantra.


Namo Buddha Kunami,


Namo Dharma Mahadi,


Namo Sangha Tayeni,


Dhri Bhubhi Sattva Yam Namo.


Buddha Maha besar,


Maha Kasih dan


Maha Penyayang.."


Doa dan Sutera mantra terus di lafalkan berulang kali.


Matanya kembali terbuka saat biksu Gundharva tiba, kemudian beralih menatap ke arah langit.


Sekejap suasana tanda langit muncul seperti kejadian yang di alami di alam bumi. Tanda - tanda langit muncul dan kemudian Sang Buddha Ammitaba terlihat muncul dalam wujud awan.


Ammitaba, Buddha maha besar ucap biksu Gundharva seketika menyaksikan sang Buddha Ammitaba menampakkan dirinya.


Suara berat dan parau kemudian terdengar...


Namo Buddha Kunami,


Namo Dharma Mahadi,


Namo Sangha Tayeni,


Dhri Bhubhi Sattva Yam Namo.


" Buddha Maha besar,


Maha Kasih dan


Maha Penyayang.."


" Gundharva, Sang Arahat kemudian berucap.. mungkin inilah kehendak Sang Buddha, kita harus ikhlas menerimanya, tak usah kau menghukum diriMu lagi di dalam ruang hukuman doa.."


Kegagalan Mu membawa kembali bunga lotus putih berkelopak 33 dari dunia bumi merupakan kehendak sang Buddha Ammitaba.


Mungkin ini keinginan putri Miao Shan setelah memakan buah persik dewa dari Sang Buddha Ammitaba.


Bereinkarnasi dan mencari jalan untuk mencapai pencerahan menjadi seorang Boddhisatva ( Kesempurnaan ) di alam dunia bumi sebelum kembali menuju ke alam Nirvana.


Biarkan Kehendak Semesta berjalan sesuai dengan keinginan, demikian Sang Arahat berucap sambil menutup matanya kembali, kemudian lantunan suara doa dan mantra terdengar kembali.


--------- """''''. ----------

__ADS_1


__ADS_2