
Guan Yin kembali menetralkan dan menstabilkan kondisi tubuhnya, sebelum ia melanjutkan naik ke lantai lima Pagoda 7 Warna.
Baru saja ia mengalami kenaikan, Tingkat ke 2 Tahap penyempurnaan Qi. Mukjizat terus menerus datang memenuhi jiwa Nya seakan - akan membuat iri orang lain jika mengetahui kejadian ini.
Berkah langit yang tidak dapat di terima oleh akal sehat terus menerus terjadi pada diri Guan Yin.
Guan Yin tiba di pojok ruangan, berpikir ujian apa yang akan muncul ketika ia mulai menapaki kakinya ke anak tangga.
Ia menghela nafas sejenak, lalu mulai melangkahkan kakinya naik ke anak tangga. Dari lantai tangga lalu muncul 5 warna, mewarnai anak tangga, yang terus berubah - ubah warna.
5 Elemen dasar dunia terlihat muncul, gambaran warna tiap elemen muncul di setiap anak tangga. tanah, air, batu, angin dan logam terpancar di lantai tangga.
Kaki Guan Yin melangkah ke anak tangga berikutnya, lalu gambaran ilusi muncul seakan kedua kakinya terbenam dalam tanah lumpur di hutan rawa.
Kakinya sulit di gerakkan untuk melangkah. Guan Yin segera mengerahkan seluruh tenaga dalam Nya dan fokus untuk melangkah. Setelah mencoba beberapa kali, baru kemudian kakinya dapat di gerakkan naik ke anak tangga berikutnya.
Lalu gambaran ilusi berubah menjadi sebuah kolam air, semakin dia berjalan maju, air naik semakin tinggi lalu mulai menutupi lehernya.
Sejenak Guan Yin menghentikan langkah, kemudian memaksakan kembali kakinya melangkah ke depan. Air di depannya kembali naik menutupi seluruh tubuh, Guan Yin tenggelam lalu ia berontak seolah ingin berenang kembali ke tepi kolam.
Sesaat kesadaran muncul, ia menetapkan hatinya untuk melangkah kembali, memaksakan kakinya terus melangkah berjalan ke dalam kolam.
Tiba - tiba gambaran ilusi hilang, lalu muncul kembali sebuah gambar ilusi, batu besar sebesar gunung menindih tubuhnya saat ia mulai naik melangkah ke anak tangga.
Guan Yin terus bertahan, menahan beban batu agar diri Nya tidak tertimbun batu besar itu. Dirinya tertekan, berat batu seakan bertambah menekan tubuhnya hingga di luar batas.
Lalu ia terus memaksakan dirinya kembali berjalan naik ke tangga berikutnya. Saat kakinya berhasil melangkah naik, gambaran ilusi lainnya segera muncul.
Saat ini angin tornado besar menyapunya, seakan menyuruhnya untuk segera lari menghindar, gerakan refleks muncul, seolah ia seakan ingin berlari.
Namun ia segera menutup mataNya, kembali menguatkan tekat melangkahkan kakinya melawan hembusan badai angin.
Begitu kakinya naik melangkah, kembali lagi gambar ilusi menghilang lalu berubah menjadi ribuan batu meteor logam berjatuhan dari angkasa seolah menyuruh Guan Yin lari berlindung dari hujan meteor itu.
Kembali Guan Yin menguatkan tekatnya tetap memaksakan diri terus melangkah.
Akhirnya gambar ilusi itu hilang, saat ia sudah berada di ujung anak tangga, dan kemudian kembali terdengar derit suara pintu, lalu pintu terbuka kembali secara otomatis.
Guan Yin akhirnya tiba di lantai ke 5 pagoda 7 warna. Saat memandang ke dalam aula, kembali terlihat ruangan aula kosong. Hanya sebuah patung Buddha dan meja altar.
Sebuah patung Buddha kecil seperti sedang tidur terletak di atas meja altar. Tidak ada hio , lilin merah atau pun alat lainnya untuk bersembahyang.
Hanya sebuah meja sembahyang dan patung. Hening sejenak, Guan Yin kembali memandang seluruh ruangan aula, lalu ia mulai melangkah ke arah altar patung Buddha.
Sebuah Patung kecil, menampakkan Buddha bertubuh gemuk, perut buncit dan lubang pusarnya terlihat besar serta sedang tertidur berbaring sambil tertawa, di ikuti dengan sebuah tangan yang menopang menahan kepalanya agar tidak jatuh, berada di atas meja altar sembahyang.
__ADS_1
Guan Yin yang melihat Patung Buddha itu seketika tertawa...
Hiiiii... hiii... hii...
Belum pernah dalam hidupnya ia melihat patung Buddha yang lucu seperti itu.
Biasanya patung Buddha melambangkan kesucian yang selalu terlihat di vihara atau kelenteng. Patung Buddha duduk dalam posisi lotus, setengah mata terpejam dan sedang semedi dengan serius serta menggambarkan aura kebijakan.
Belum selesai Guan Yin tertawa...
Sebuah suara tertawa juga ikut terdengar,
Haa... haaa... haaa... haaaaa....
Patung Buddha yang sedang tidur itu tiba - tiba ikut tertawa, lalu wujud patung membesar menjadi penampakan Buddha gemuk persis seperti patung tertidur itu.
Haa... haaa... haaaa.
Kembali Buddha gemuk itu tertawa...
Hey, anak kecil...
kamu anak nakal, membangunkan tidur ku saja..
Ucap sang Buddha Gemuk itu.
Di dalam legenda China Biksu Ji Lai Hud di kenal sebagai Buddha Tertawa ( Smilling Buddhist ). Buddha yang selalu tertawa , dimana pun dan kapan pun serta dalam kondisi apapun ia akan selalu tertawa.
Maafkan aku " Buddha "
Ucap Guan Yin sambil menahan tawanya.
Haaaa... haaa...haaa...
Kembali Buddha Ji Lai Hud Tertawa...
Anak kecil, aku sudah lama menunggu Mu, sampai tertidur cukup lama.
Karena kamu sudah membangunkan tidurKu, mari kita main - main sebentar...
Haaa... haaaa... haaaa....
Kembali suara tawa terdengar menggema, lalu Buddha Ji Lay Hud kemudian bergerak dan menyerang ke arah Guan Yin.
Kaget di serang, Guan Yin refleks menghindar lalu jurus Terbang di atas awan mulai di gerakkan. Guan Yin bergerak cepat menghindari serangan, layaknya Guan Yin sedang terbang.
__ADS_1
Melihat Guan Yin menggunakan jurus dari Dewi Kwan Im, Buddha Ji Lay Hud terus menyerang dengan menambah kecepatannya, seakan - akan menguji kembali hasil latihan Guan Yin.
Jurus demi jurus berlalu, tak terasa satu dupa telah berlalu, akhirnya Buddha Ji Lay Hud kembali tertawa.
Haaaa.... Haaaa.... Haaaa....
Anak kecil, kita sudahi dulu latihannya, cukup sampai di sini, ucap Nya.
Seperti Nya kamu akan lama di sini menemaniKu bermain anak kecil, ucap Buddha Ji Lay Hud sambil tertawa.
Kekuatan dan kecepatan Mu masih lemah dan terlihat lambat, pondasi tubuh serta 5 dasar elemen dalam tubuhMu harus terus di tingkatkan.
Berlatih lah lagi di sini, ucap Buddha Ji Lay Hud.
Guan Yin baru menyadari, bahwa serangan tadi adalah sebuah latihan dari Sang Buddha, sebelumnya ia sempat dongkol karena di serang sang Buddha secara mendadak.
" Baik Buddha " ucap Guan Yin masih tersenyum menahan tawa melihat Buddha yang lucu ini.
" Haaa... Haaa.. Haaa... "
Kembali terdengar tawa Buddha Ji Lay Hud melihat wajah Guan Yin menyadari bahwa ia sedang di amati oleh Guan Yin.
Sebuah lambaian tangan bergerak, lalu sebuah lemari besar tertutup portal muncul. Sebuah sentilan jari meluncur bergerak ke arah portal, lalu tiba - tiba terdengar suara, portal pecah dan kemudian menghilang.
Sebuah lemari besar seperti perpustakaan terlihat, ratusan buku berjejer tersusun rapi di dalam lemari.
" Guan Yin kecil.." ucap Buddha Ji Lay Hud.
Semua buku di dalam lemari itu boleh kau baca, silahkan kamu pilih mana yang terbaik untuk diriMu.
" Ammitaba.."
Buddha Maha Besar,
Maha Kasih dan Penyayang.
Haaaa.... haaaa... haaa...
Tertawa terdengar kembali setelah sang Buddha melantunkan Dharma Doa.
Guan Yin yang melihat tingkah laku Buddha Ji Lay Hud pun ikut tertawa, sebelum ia menjawab,
" Baik Buddha.." ucap Guan Yin..
Aku mau tidur lagi, bangunkan aku jika kau ingin bermain lagi dengan Ku.
__ADS_1
Lalu tubuh buddha Ji Lay Hud kembali mengecil, kembali berbaring merebahkan diriNya di atas meja sembahyang kembali tidur sambil tersenyum.