Titisan Avalokitesvara Bodhisatva

Titisan Avalokitesvara Bodhisatva
4. Shan Chai dan Teratai Putih


__ADS_3

Helaan nafas ringan terdengar pelan keluar dari kakek Miao Zhuan. Beban berat pertarungan yang lama tidak ia rasakan lepas sudah.


Sadar akan kejadian sebelumnya segera ia memalingkan wajahnya menatap ke arah sang bocah.


Merasa di tatap oleh kakek Miao Zhuan, segera ia berjalan ke arahNya, sambil mengatupkan kedua tangan dalam posisi soja ( posisi 2 tangan di lipat ke depan ) dan membungkukkan badan, berkata sang bocah,


" Kakek .. "


Terima kasih atas pertolonganMu. Budi baik dan bantuan ini tidak akan Shan Chai lupakan seumur hidup. Terimalah hormat dari anak ini.


" Demikian Shan Chai berucap." sambil memperkenalkan dirinya.


" Hmmmm ... "


Terdengar gumam kecil keluar dari mulut kakek Miao Zhuan. Melihat kesopanan dan tata Krama sang bocah, sambil memandang tubuh dan tulang bocah itu seakan - akan ia sedang memindai sebuah barang.


" Shan Chai.. itukah namamu..?? "


" Benar Kakek.. "


Orang - orang memanggilKu dengan sebutan itu. Aku tidak tau siapa nama asliku.


Sejak lahir aku tidak mengetahui siapa kedua orang tua Ku , dari mana aku berasal, berapa yang pasti usiaku ataupun keluarga besar Ku.


Meskipun begitu, Thian maha agung sampai sekarang aku masih tetap bisa hidup, meskipun nasib harus terus mempermainkan hidupKu.


Dengan jelas Sang bocah menjawab dan bercerita sedikit tentang kehidupannya.


" Heem..."


Mengangguk kecil kakek Miao Zhuan sambil tangan kanannya mengelus - elus jenggot yang tidaklah panjang.


" Lalu, Bagaimana bisa kau berada di tempat ini, dan ceritakan dengan jelas mengapa biksu Gundharva itu ingin membunuhMu..?? " tanya sang kakek sekali lagi sambil menatap wajah Shan Chai.


Saat itu aku berada di Telaga Xi Hu untuk mencari ikan, sudah seharian ini perut belum terisi. Entah kenapa, kail yang ku lempar bergerak sendiri ke arah bunga teratai yang berada di tengah telaga, saat itu warna putih terang keluar memancar dari bunga teratai.


Di seberang telaga Xi Hu, seorang biksu sedang duduk bersemedi sambil memandang ke arah bunga teratai putih itu. Inilah saat Nya.. sebuah ucapan kecil keluar dari mulut sang biksu. Sambil bergerak, melompat terbang ke arah Bungai teratai putih.. Saat tangan Nya akan mengambil bunga itu, Tiba - tiba bunga teratai putih itu juga bergerak terbang, seakan - akan menghindar dari serangan sang biksu dan bergerak menuju ke arah Ku.


Saat itulah aku merasakan dan menyadari bahwa bunga teratai putih yang bercahaya itu telah masuk ke dalam tubuh ini, pada saat itu pula aku merasakan kedamaian di dalam jiwaku.


Tak lama setelah itu, sang biksu melompat mendekat ke arahku, lalu dengan kesal melontarkan amarah Nya..


" Bocah.."


" Siapa kamu.. ??"


" Kembalikan bunga teratai putih itu..?? "


Demikian sang biksu berkata sambil menunjukkan jarinya.


Dengan wajah yang bingung, karena merasakan aura amarah dari sang biksu, Shan Chai segera menjawab,

__ADS_1


" Aku Shan Chai.."


Aku tak tahu kenapa bunga teratai itu terbang menuju kearah Ku dan tiba - tiba masuk ke dalam tubuh ini..


Aku Pun tak tahu bagaimana harus mengeluarkan bunga teratai ini dari dalam tubuh Ku..


Dengan lantang Shan Chai menjawab.


" Sialan.." gumam sang Biksu...


Tanpa basi - basi segera sang biksu bergerak ke arah Shan Chai sambil melepaskan pukulan ke arah perut Nya..


" Buuk.."


Sebuah pukulan telak mengenai perut Shan Chai dan terbang melayang ke belakang, seperti kapas yang terbawa angin, lalu jatuh terduduk di tanah. Tapi tak ada apapun yang keluar dari dalam tubuhNya.


" Aneh.."


Gumam sang Biksu pelan..


" Apakah bunga teratai itu telah menyatu di dalam jiwa Nya.. ?? "


" Bahaya.. bahaya.."


Ini bahaya, ucap sang biksu yang menatap tajam ke arah Shan Chai, sambil memikirkan kemarahan dan hukuman yang akan di terimanya dari Sang Arahat.


" Tapi.. Bagaimana bisa..?? "


" Kenapa Bunga itu bisa menerima tubuh sang bocah begitu saja..?? "


Berbagai pertanyaan muncul di dalam benak sang biksu, entah kenapa hati kecil Nya merasakan suatu kejanggalan dan keanehan terhadap anak ini.


Ketika ia sedang memikirkan kejanggalan ini, dan merasa dalam kebingungan Nya, Tiba - tiba Shan Chai bergerak bangun dan segera berlari ke arah hutan yang berada dekat telaga Xi Hu itu.


Refleks sang biksu menendang sebuah batu kerikil kecil yang berada dekat kakinya ke arah mata kaki Shan Chai.


" Sreet."


Batu kerikil itu tepat mengenai kaki Shan Chai, kira - kira 2 jari di atas mata kakinya. Robekan kecil terlihat mengeluarkan darah, namun segera Shan Chai bangun dan kembali lagi berlari menuju ke arah hutan di depan matanya.


" Brengsek .."


Bocah ini masih saja ngeyel hendak lari, jerit Nya dalam hati. Sebuah cambuk berwarna emas tiba - tiba muncul keluar dari dalam jubah Nya. Segera ia memutar cambuk dan melecutkan ke arah Shan Chai.


" Taar... Tarr... "


Berkali - kali cambukan berputar meluncur deras ke arah tubuh, kaki, tangan dan wajah Shan Chai, yang membuat ia mengerang merasakan perih dan kesakitan.


Dengan kesal sang biksu segera memasukkan kembali cambuk Nya dan berjalan melangkah mendekati Shan Chai.


Tangan kanan nya segera menggenggam leher baju Shan Chai dan membungkuk hendak mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


Tiba - tiba seberkas sinar putih terang menyilaukan mata keluar dari dalam tubuh Shan Chai menyorot tajam ke arah kedua bola mata sang biksu..


" Akkhh..."


Teriak sang biksu yang segera melepaskan genggaman tangannya, lalu segera melompat menjauh dari tubuh Shan Chai.


Melihat kesempatan ini, segera Shan Chai bangun dan kembali berlari masuk ke dalam hutan. Cukup lama sang biksu menutup matanya, tak terasa 1 kali waktu minum teh berlalu, matanya masih juga belum dapat di buka, hingga beberapa saat kemudian helaan nafas di hembuskan oleh sang biksu sambil pelan - pelan membuka kedua matanya.


Segera ia menenangkan hati, pikiran, jiwa dan matanya, lalu cepat bergerak melompat ke arah larinya Shan Chai menuju ke dalam hutan dan mengejarnya.


Begitu lah cerita sebenarnya kakek, selanjutnya apa yang terjadi di sini kurasa kakek sudah mengetahui Nya dengan jelas.


Sambil menghela nafas panjang Shan Chai segera menyelesaikan cerita Nya.


Sebuah anggukan kecil terlihat dari Miao Zhuan, setelah mendengarkan cerita dari si bocah Shan Chai. Seruas senyum kecil lalu terlihat di bibir Nya.


Kenangan lama sekilas kembali di benak pikiran Nya, memikirkan kembali kisah hidup Nya yang penuh dengan lika liku kehidupan.


" Bunga Lotus Suci .." telah kembali muncul, ini kah tanda - tanda Nya..?? Seperti Nya tidak sia - sia aku turun ke bumi ini, pikir Nya dalam hati.


" Shan Chai , lalu apa tujuan Mu sekarang..?? "


Bertanya kakek Miao Zhuan kepada sang bocah.


Sedikit terkejut Shan Chai mendengar pertanyaan ini, lalu sejenak berdiam diri, berpikir kembali sebelum menjawab Nya.


" Kakek.. "


Jika kakek berkenan, ijinkan Shan Chai mengikuti Mu , membalas Budi baik kakek menyelamatkan hidup Ku, demikian Shan Chai menjawab setelah hati kecil Nya berbisik merasakan suatu hal baik dan besar akan terjadi jika ia mengikuti kakek Miao Zhuan.


" Baik.."


Jika itu ke inginan Mu... Tapi ada syarat yang harus ku ajukan kepada Mu, jika ingin kau mengikuti..


" Apa itu kakek .."


sambil bertanya keheranan Shan Chai berpikir.


" Jadilah murid Ku.. ?? "


Maka kau bisa ikut dengan Ku..


" Apakah kau mau..?? "


Mendengar pertanyaan ini, segera Shan Chai menjatuhkan diri Nya , berlutut dan memberikan 3 kali Pai ( hormat ) kepada kakek Miao Zhuan..


" Hormat kepada Guru "


" Hormat kepada Guru "


" Hormat Kepada Guru "

__ADS_1


" Bangunlah.. "


Ayo bangun, lekas kita pergi, matahari sudah mulai kembali ke ufuk Nya . Sudah waktu nya untuk kembali.


__ADS_2