
...----------------...
Kalau Ilyas bisa berkomentar dan memuji gadis yang sedang berjalan menuju ke mobilnya, dia pasti sudah memuji habis-habisan penampilan gadis itu selalu cantik. Seluruh pergerakan dari gadis itu cantik dan juga lucu.
Ilyas disuruh menunggu di depan rumahnya tanpa masuk terlebih dahulu karna disana hanya berisi temannya saja yang akan heboh katanya. Dia tidak mau membagikan pemandangan Ilyas pada temannya, kata-kata itu membuat Ilyas tertawa seketika itu juga.
Jia masuk ke dalam mobil itu disertai dengan senyuman manisnya, "Hi! Gak lama kan? Pakai mobil siapa ini jadinya?" Tanyanya lalu memakai seatbelt.
"Nggak kok. Rental sehari." Katanya diselingi tawa.
Seluruh mobil Ilyas berada di Malaysia dan di Qatar satu. Jika ke Indonesia, biasanya dia meminjam mobil Mbaknya atau meminjam merental mobil beberapa hari.
Jiani mengangguk lalu memperhatikan penampilan Ilyas, dan ya. Lelaki itu tampan, keputusannya saat meminta Ilyas untuk diam saja di mobil sudah tepat karna jika menyuruhnya keluar, Sera akan heboh seketika itu juga atau mungkin malah ingin ikut. Namun sebenarnya Sera ada kerjanya juga, hasil make upnya cantik. Dia tidak perlu memesan MUA yang biasa dia pakai ketika ada acara, jika ada Sera, ya Sera lah yang akan dia suruh untuk meriasnya. Selain pintar menjadj marketing, dia juga merias walau terkadang bego dalam hal memilih cowok.
"Ganteng banget mau ke nikahan kakaknya." Sengaja Jia tidak membahas soal Nadya, karna dia hanya ingin menunggu Ilyas menjelaskannya walau entah kapan akan pria jelaskan. "Kenapa kamu gak ikut rombongan keluarga aja? Malah misah gini."
"Kan saya jemput kamu." Alibinya, padahal dia memang engga.
Jiani mengangguk-angguk lalu berdeham. "Boleh nyalain musik?" Izinnya karna dia tidak menyukai perjalanan tanpa di dampingi oleh musik.
Bahkan sepertinya apa pun yang dia lakukan harus di dampingi oleh lagu-lagu yang mengalun, bahkan sedang mandi saja dia memutar lagu sambil bernyanyi walau dia tahu suaranya jelek.
"Boleh."
Jiani langsung menghubungkan audio itu pada ponselnya agar memutar playlistnya. Lagu Bon Iver memutar mengisi mobil ini.
"Saya juga suka Bon Iver."
Jia membeliak ketika mendengar itu, karna menurutnya yang mendengar Bon Iver itu jarang. Bahkan temannya saja tidak padahal sudah Jia berkali-kali rekomendasikan lagi itu.
"Oh ya? Kamu punya selera musik yang keren berarti." Jia bertepuk tangan dengan riang bagai menemukan hal yang menyenangkan.
Ilyas terkekeuh melihat itu, "Iya, saya bahkan punya kaset vinylnya."
Mata Jiani berbinar-binar. "Oh my gosh, Jia mau denger!" Pintanya.
__ADS_1
"Nanti ya, kalau saya ajak kamu ke Malaysia. Kamu maunya kapan?"
"Lusa? Besok keluarga Jia free mana tau kamu mau melamar Jia secara langsung."
Kekeuhan itu kembali terdengar secara halus ke telinga Jia. "Saya kenalan dulu lah. Atau ya bisa jadi saya langsung lamar kamu. Mau pakai apa? Cincin juga?"
Pertanyaan ini sungguh random. Tidak ada inisiatifnya, dia malah bertanya. Memang tidak niat-niat amat sih, sepertinya yang penting mereka menikah kan?
"Kamu datang aja ke rumah bilang mau nikahin Jia."
"Memangnya bakal langsung direstui?"
"Bisa. Kamu pakai nama belakang kamu, pasti mata pembisnis papihku langsung berbinar kaya dapat lahan gratisan." Jelasnya dengan santai.
Ilyas menganggukan kepalanya seakan mengerti, "Privilege memang ada ya dan sangat menguntungkan."
Lalu keduanya tertawa, memang nyatanya privilege itu nyata. Maka dari itu carilah kesempatan jika mempunyai privilege, jika tidak punya ya berusaha untuk mendapat privilege.
"Aniway, ketika kita akan nikah nanti. Kamu ada rencana mau nikah dimana?"
"Bali? I don't know, sih. Karna kita beda negara ya, gimana kalau Jepang?"
Dia mengendikan bahuny, "Gak tau kepikiran aja."
"Serius mau Jepang? Saya ngikut kamu aja."
Sepertinya ucapan Jia akan terealisasikan jika itu benar keinginan Jia.
"Nggak. Jia cuman bercanda. Tapi kalau kamu setuju boleh."
Ilyas mengetukan jarinya pada setirnya, "Okay, aku pikirin dulu gimana caranya kalau kamu mau di Jepang."
...----------------...
Sebagai seorang wanita dan sahabat, Sera jelas punya feeling dan khawatir pada sahabatnya. Dan terkadang feeling seorang sahabat lebih terbukti dan terjamin dari pada feeling seseorang yang mereka khawatirkan, ketika melihat Ilyas dari celah jendela depan, Sera terus memperhatikan dan memikirkan nasib sahabatnya itu.
Apa dia sudah benar-benar memikirkan keputusannya itu? Apa dia sudah benar-benar yakin? Sera terus memikirkan hubungan orang lain dari pada dirinya.
"Lu takut gak sih?" Tanya Sera pada Ben yang sedang sibuk memakan buah-buahan di meja makan Jiani.
__ADS_1
"Takut kenapa?" Tanyanya balik sambil memotong apel merah. Padahal Jia sengaja membeli itu hanya untuk dirinya sendiri, namun Ben adalah pencuri handal.
"Takut si Jia tiba-tiba mau kawin aja."
"Nikah." Koreksi Ben.
"Ya, itulah sama aja." Katanya kesal dengan koreksian Ben.
"Bedalah. Nikah itu pernikahan, perayaan. Sedangkan kawin penyatuan."
Sera langsung melempar kelengkeng pada Ben yang berada di depannya, orang ini kadang-kadang harus dihajar atau digebuki masal agar sadar diri.
"Apa sih?!" Protes Ben karna kesal juga dilempari buah mini itu yang terkena dadanya.
"Serius! Gue kok takut ya, Jia malah bakal baper sendiri, terus dia yang sakit sendiri."
"Gak akan. Dia kan profesional, buktinya main film romantis aja dia gak baper-baper." Jelasnya.
Memang faktanya Jiani selalu disandingkan dengan aktor tampan namun mereka juga cinta lokasi hanya untuk settingan demi menaikan viewers mereka.
"Ini bedaloh, ini kehidupan asli masalahnya. Gue takut Ilyas bakal nyakitin Jia."
Ben menaikan alisnya kali ini menatap keresahan Sera.
"Katanya lo ngefans sama cowok itu? Bahkan itu type ideal lo."
Sera bedecak pelan, "Lo gimana sih? Kerja di dunia entertain tapi gak ngerti-ngerti. Ya, gue kan suka tampang luarnya doang, gak tau dalemnya gimana. Sifat aslinya gimana. Kebaikan seseorang di luar itu kadang kan cuman demi branding."
"Sama kaya lo, ya?"
"Sialan lo!" Kali ini bukan kelengkeng yang di lempar. Namun anggur yang ungu merona bagai menggoda untuk dimakan, namun malah dilempar demi menyalurkan kemarahan.
Ben tergelak dengan melihat emosi Sera, dia mengambil anggur yang dilempar gadis itu lalu memakannya. "Menurut gue. Bukan Ilyas yang bakalan nyakitin Jia, tapi Jia sendiri yang bakal ngerasa sakit sendiri karna dirinya sendiri."
"Gak mungkin dia nyakitin dirinya sendiri. Orang dia cinta mati sama dirinya sendiri."
"Maksud gue, soal ekspetasinya. Dia bakal mati karna ekspetasinya dan alur yang dia harapkan itu. Lo ngerti kan maksud gue? Ditambah dia hidup sama laki-laki yang bisa aja bikin dia jatuh cinta. Itu yang gue maksud ekspetasi."
Kali ini Sera terdiam, memikirkan ucapan Ben yang sebenarnya tidak masuk-masuk amat ke otaknya.
__ADS_1