
Kalau ditanya bagaimana perasaan Ilyas kali ini? Jelas terkejut dan juga kebingungan. Ditambah yang melihatnya bukan mantan pacarnya saja, yang melihatnya adalah kedua wanita yang dia sayangi juga yaitu Mbaknya dan juga Ibunya. Bagaimana Ilyas tidak pusing kalau dihadapkan dengan kejadian begini.
Jia juga sedang duduk di kamar hotel yang dia pesan tadi. Gadis itu sedang terdiam dan menunduk. Entah mengapa dia menjadi kasihan pada gadis itu pasti sama juga terkejut dengannya.
Namun kalau ingin tahu bagaimana perasaan Jia ketika mencium Ilyas biasa saja. Dia tidak menyesal karna sudah membuat mantan kekasih Ilyas menjadi panas, yang dia sesalkan adalah kenapa takdir tidak merestuinya untuk berbuat semena-mena? Dia malah termakan umpannya sendiri. Kali ini dia sedang memikirkan harus dibuang kemana karna rasa malunya ini. Belum apa-apa dia sudah memberikan impression buruk pada calon keluarganya itu.
"Maaf..." Cicit Jia diujung sana sedangkan Ilyas sedang duduk di ujung kasur sambil memainkan ponselnya entah sedang apa, mungkin sedang mengabari kakak perempuannya.
Tadi, saat kejadian itu berlangsung. Jia langsung menjauhkan dirinya dari Ilyas dan berubah menjadi kaku. Tingkat kepercayaan dirinya luntur seketika. Ibunya ingin mengomeli Ilyas namun ditahan oleh Kakak perempuannya Ilyas yang langsung menenangkan dan fokus pada niat utamanya yang hendak menyusul Nadya untuk pergi ke depan lagi karna tamu masih banyak.
Dan sekarang. Mereka sedang menunggu acara itu berakhir lalu disidang habis-habisan pastinya oleh keluarga Ilyas. Ditambah keluarganya Ilyas itu terpandang dengan agamanya sedangkan mereka sudah membuat hal yang melanggar aturan.
Sungguh menyesatkan. Pasti para setan sedang bertepuk tangan dan para malaikat sedang menggelengkan kepalanya akibat perbuatan manusia ini.
"Gapapa." Ilyas selalu mengatakan tidak apa-apa. Padahal dirinya sendiri juga resah.
Jia bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah Ilyas dan duduk di ujung kasur juga membuat Ilyas mundur mungkin takut gadis itu berbuat hal yang lebih dari tadi.
"Seriusan. Jia ngaku salah. Maafin Jia, please?" Tatapannya terpancar rasa bersalahnya.
Ilyas menyimpan ponselnya di sakunya lalu menatap ke arah Jia. "Gapapa, Jia. Jangan dipikirin. Udah kejadian ini."
"Tapi Jia malu sama Ibu kamu." Katanya dengan nada rengekan ingin menangis.
"Udah tenang aja." Padahal dia tidak tenang namun menenangkan orang lain.
"Gimana bisa tenang kalau Jia udah ngelakuin hal yang salah?"
"Semuanya udah kejadian. Kita tinggal jelasin semuanya ke Ibu. Udah gapapa, kok. Kita kan memang mau menikah ini."
"Tapi ini beda Kak."
__ADS_1
"Apanya yang beda? Dan juga kamu kenapa tiba-tiba mencium saya?" Kali ini Ilyas memberanikan dirinya bertanya.
"Karna... Mau manas-manasin mantan kamu."
Ilyas terkejut mendengar penjelasan Jia, "Mantan? Kamu tahu kalau Nadya mantan saya?"
Gadis itu mengangguk dengan pelan, seakan takut dimarahi. Ilyas mengusap wajahnya dengan pelan.
"Astaga... Jadi kamu ngelakuin itu hanya karna itu? Ya sudahlah. Semuanya udah terlanjur. Lain kali jangan begitu, ya? Kita belum sah."
Kalau sudah sah apakah boleh? Apakah boleh dia mencium Ilyas sepuasnya ketika mereka sudah sah? Mengapa juga Jia malah memikirman hal itu.
Jia mengangguk kembali, "Iya, maaf. Jia boleh nanya?"
"Kenapa?"
"Alasan kamu mau nikah karna cewek itu?"
Ilyas terdiam lalu menjawabnya dengan pendek. "Iya."
Karna ketidak sengajaan dan juga kebetulan.
"Karna kamu gak akan bisa bikin saya jatuh cinta. Karna itu saya milih kamu. Kamu profesional kan?"
Apa katanya? Ya, Jia memang profesional. Tapi memangnya ada orang yang tinggal bersama terus bersama Jia tidak jatuh cinta? Kecuali keluarganya. Memangnya ada yang benar-benar menolak pesonannya? Jia jadi sedikit tersindir akibat penuturan kata itu.
Lelaki ini sungguh penuh dengan kepercayaan diri dan teguh pada pendiriannya. Entah kalau nanti, apakah prinsipnya itu akan luntur? Seakan Jia merasa tertantang untuk membuat lelaki itu jatuh cinta padanya.
"Gitu, ya? Oke kalau gitu. Kita lihat nanti."
...----------------...
__ADS_1
Ingin tahu sesuatu yang membuat Jia kelewat kesal? Tatapan dari Ibunya Ilyas. Jia terbiasa mendapat tatapan ini, namun kali ini berbeda. Biasanya dia mendapati dari orang-orang yang tidak menyukainya akibat kesyirikan mereka sendiri.
Jia bisa menebak kalau Ibunya Ilyas tidak menyukainya apalagi dari pandangannya yang memandangnya dengan remeh. Jia merasa seperti ditelanjangi karna dia terus-terusan menatap penampilan Jia dari atas sampai bawah. Apalagi rambut Jia yang berwarna merah membuat Ibunya Ilyas terus-terusan melihatnya.
"Aku kaya pernah lihat kamu. Tapi bukan di TV atau pun layar lebar. Bener-bener ngingetin ke sesuatu tapi apa, ya? Lupa." Mbaknya Ilyas dari tadi duduk di dekatnya seakan menemani Jia agar tidak usah merasa takut.
Mata Jia mengerjap pelan, Jia tidak pernah merasa bertemu dengan wanita itu lalu dia melirik ke arah Ilyas meminta bantuan Ilyas.
"Mbak pernah lihat fotonya yang ada dikoper yang tertukar itu."
Koper lagi, koper lagi. Kapan pembahasan koper ini akan terkubur?
"Oh! Yaampun... Pantesa aja kaya gak asing. Ternyata itu koper punya kamu, ya? Lain kali jangan ceroboh gitu dong."
"Koper yang ketuker itu? Koper aja ketuker saking cerobohnya gimana mau jadi istri? Pasti tidak akan becus." Ucap Ibunya Ilyas secara terang-terangan memperlihatkan ketidak restuannya.
Ilyas tadi memperkenalkannya sebagai calon istrinya di depan keluarganya ketika berkumpul semua. Sekarang sisa keluarga inti yaitu Ibu, Ayah, Mbak, Suami Mbaknya, dan kedua pengantin baru itu menyaksikan.
"Saya cuman manusia yang pernah melakukan kesalahan, Bu. Saya bukan malaikat yang sempurna." Ujar Jia dengan tegas.
Ibunya berdecak dengan pelan. "Ilyas kamu serius mau menikahkan perempuan seperti itu?" Tanya Ibunya pada Ilyas yang sedang duduk di depan Jia.
"Wanita seperti apa yang dimaksud Ibu?"
Jia bisa merasakan aura dari nada bicara Ilyas bahwa dia tidak menyukai penuturan dari Ibunya.
"Lihat saja penampilannya. Aurat kemana-mana, rambutnya merah sudah seperti wanita nakal tidak benar." Penuh dengan kesinisan.
Memangnya apa salahnya dengan rambut yang diwarnai? Dia hanya mempercantik dirinya, bukan menjual diri. Dan juga dia memakai baju, bukan sedang bertelanjang.
"Bu, ini hidup Ilyas. Ini juga pilihan Ilyas, Ilyas harap ibu menghormati pilihan hidup Ilyas. Ibu seharusnya tahu batasan dalam mengurus urusan anaknya." Tutur kaya Ilyas membuat Ibunya diam dan semakin kesal.
__ADS_1
Seluruh orang disini diam, menatap ke arahnya. Jia juga sempat melirik ke arah Nadya yang terus-terusan menatap ke arah Jia.
"Ibu tetap tidak menyukainya bahkan tidak akan merestui kamu." Lalu Ibunya pergi dari sana meninggalkan kecanggungan mereka.