
"Benar-benar wanita tidak tahu sopan santun." ucap Ibunya Ilyas dengan emosi yang tertahan. Ibunya Ilyas menatap kepergian Ilyas dan Jia lalu melirik menantunya itu yang sedang menunduk, "Sabar, ya? Semoga perempuan itu akan mendapat karma dengan cepat."
Nadya tidak menanggapi apa-apa. Mungkin, kalau Jia mendengar itu dia akan kembali mengeluarkan bom protesnya. Ibunya Ilyas membicarakan sopan santun sedangkan dirinya sendiri tidak mengaca, apakah sudah sopan walau kepada seseorang yang berada di bawahnya. Kesopanan itu tidak diukur oleh batas umur, semua manusia harus tata kramanya sendiri mau itu tua atau pun muda.
Jia tidak suka kalau ada yang anak kecil yang menegur kesalahan orang tua tapi si orang tua itu nyesel selalu merasa benar. Padahal tidak ada salahnya memperbaiki dan melihat letak kesalahan pada diri sendiri.
"Ibu gak akan pernah setuju Ilyas menikahi perempuan macam itu." Tambahnya lagi sambil kembali melanjutkan acara masak-memasaknya
Nadya merasa setuju, jika Ilyas tidak bersamanya maka seharusnya Ilyas tidak boleh bersama dengan siapa pun selain dirinya.
"Iya, Bu. Kasian Mas Ilyas kalau sampai punya istri kaya gitu."
Ibunya Ilyas mengangguk, "Ibu harus carikan calon istri yang lain untuknya."
"Jangan, Bu." dengan cepat Nadya menjawab. Jawabnya seperti sedang mengikuti cerdas cermat karna kecepatannya.
"Mengapa?" tanya Ibunya Ilyas itu dengan raut wajah keheranan.
Nadya memutar otaknya mencari alasan yang masuk akal, entah mengapa dia tidak akan rela kalau Ilyas akan menikah dengan wanita lain.
"Euh.. menurut aku, kita harus bisa pisahin dulu Jia sama Ilyas, Bu."
"Iya, ya? Bukan soal kamu cemburu? Ingatloh, kamu sudah jadi istri Kakaknya Ilyas jadi hapus perasaan kamu untuk Ilyas."
Bagai seorang peramal, Ibunya Ilyas malah berbicara seperti itu pada Nadya.
"Iya, nggak kok, Bu."
Ibunya Ilyas berdeham lalu sibuk melanjutkan membumbui masakannya.
"Nanti Ibu akan kenalkan dia dengan anak Ayah. Ada anaknya Ayah pemilik sekolah asrama perempuan, dia punya anak cewek yang katanya baru lulus kuliah."
Jantung Nadya rasanya mencolos. Pasti gadis itu akan ada kesempatan dengan Ilyas kalau sampai Ilyas bertemu dengan gadis itu ditambah kalau iya bisa berpisah dengan Jia.
"Jangan dulu, Bu. Menurut aku Ilyas harus sendiri dulu. Dia pasti butuh waktu buat dirinya sendiri makanya dia tiba-tiba kacau milih calon istri kaya Jia."
"Hm.. Iya juga ya, dia harusnya merenungkan dulu dirinya sendiri. Biar nyadar kalau dia itu udah salah milih calon istri."
__ADS_1
Sekarang dadanya Nadya terasa bebas karna mertuanya itu menyetujui setiap ucapan yang dia keluarkan demi Ilyas. Bagaimana pun caranya, dia harus bisa menahan Ilyas berhubungan dengan gadis lain. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba sesak mengingat Ilyas akan bersanding dengan wanita lain selain dirinya.
...----------------...
Kamar yang berdominan berwarna krem itu riuh karna suara riang dari seorang anak kecil berusia 3 tahunan. Jia merasa ingin mengigit pipi gembulnya itu. Hatinya kembali menghangat, anaknya Mbaknya Ilyas itu bagai obat untuk Jia setelah Jia tertusuk jarum alias omongan tidak mengenakan dari nenek si gembul ini.
"Nah, mumpung ada kalian. Mbak boleh nitipin dulu Jela sama kalian? Mbak mau bikinin dia susu dulu."
Jia mengangguk dengan semangat, "Boleh Mbak. Biar Jia jagain Jela. Jela mau kan main sama Kakak?"
Bocah gembul berambut pendek itu mengangguk dengan pipimya yang ikut naik nurun.
Astaga, rasanya tangan Jia gatal ingin mencubit pipi gembulnya itu tapi dia harus menahan karna ada Ibunya disini. Kan tidak enak kalau asal mencubit anak orang. Jadi kita harus diam-diam saja.
"Okay, kalau gitu Mbak tinggal, ya?"
Mbaknya pergi tanpa menutup pintu kamar. Karna di dalam ruangan ini terdapat Ilyas, Jia, dan juga Jela yang sedang berkedip-kedip menatap Jia.
Bocah kecil itu bergerak mendekat ke arah Ilyas, mengalungkan tangannya di leher Ilyas lalu berisik tapi masih terdengar oleh Jia. Jia merasa iri karna melihat tangan kecil itu bebas menyentuh Ilyas.
"Mas Asa, itu tapa heu?" tanya bocah kecil itu sambil matanya melirik Jia.
"Ateu Jia?" ulangnya membuat Jia tersenyum gemas.
Jia mendekat ingin melancarkan misi menjiwil pipi bocah itu. Pipinya sangat berisi membuat Jia kegemasan saat mencubitnya.
"Lucuu banget sihhhh!" tangannya langsung melepas cubitan itu membuat bocah gendut itu meringis dan berteriak meminta dipeluk Ilyas. Semakin erat mengalungkan tangannya.
"Mas Asa, ateu hahat! (jahat.)" Teriaknya membuat Ilyas langsung menenangkan gadis itu.
"Hey, hey. Nggak, tantenya gak jahat Jel. Dia baik, look at her. She is nice oke?"
Jia langsung tertawa melihat interaksi itu. Lucu sekali, rasanya Jia jadi membayangkan bagaimana perhatian Ilyas kepada anaknya. Pasti akan sangat beruntung jika mempunyai ayah seorang Ilyas dan yang lebih beruntung anak jadi Ibu dari anak-anaknya Ilyas.
"Sorry, Jela."
Jia meminta maaf karna merasa gadis kecil itu takut kepadanya.
__ADS_1
"Maafin ateu dong. Nanti ateu beliin es krim."
Dia mengendurlan pelukan kepada Ilyas lalu menatap ke arah Jia. "Ice cream? Really?" tanyanya dengan mata berbinar cerah.
"Yes, do like ice cream, right?"
Bocah kecil itu mengangguk dengan wajah menggemaskan. "Es krimna nana?"
"Euh... Nanti, ya? Kalau kita main bareng."
Gadis itu mengangguk dengan bersemangat.
"Ateu tau princess?" tanya pada Jia.
Jia mengangguk, bagaimana dia tidak tahu kalau dia selalu bertingkah layaknya seorang princess. Apalagi kamar dan dressnya rata-rata seperti princess yang berada di dunia nyata.
"Ateu rantik seperti princess."
Jia terkekeuh, jadi malu. Pipinya bersemu merah karna dipuji anak kecil. Dia tidak pernah merasa salah tingkah kalau dipuji seseorang, ia akan narsis. Tapi kalau yang memujinya anak kecil maka dia akan merasa malu-malu kucing.
"Iya kan, Mas?" Tanyanya pada Ilyas meminta validasi.
"Heem..." Ilyas berdeham menyetujui peekataan Jia.
"Hi, ngomongin apa nih? Kayanya seru banget." ibu si bocil gembul itu telah kembali dengan membawa botol susu yang sudah terisi.
Bocah kecil itu langsung bangkit dari duduknya di pangkuan Ilyas dan mendekat ke arah Ibunya mengambil botol susu itu.
"Bubu, ateu tantik." tunjuknya pada Jia.
"Cantik? Iya, dong. Calon istri Mas Ilyas cantik."
Jia semakin bersemu merah. Astaga, dia memerlukan kaca untuk melihat kedua pipinya ditambah kulitnya yang putih itu pasti akan tercetak jelas kalau menimbulkan warna merah.
"Lihat, ateunya salting hahaha. Udah, yuk kita makan siang dulu." Ajak Mbaknya Ilyas lalu bangkit sambil menggendong Jela keluar kamar.
Ilyas menatap Jia melihat pipi gadis itu malah tersenyum geli, "Ayok kita makan. Kamu suka makanan sederhana gitu?"
__ADS_1
Jia ikutan bangkit agar berjalan sejajar dengan Ilyas, "Jia suka makanan apa aja kok." Bohongnya, padahal dia adalah manusia pemilih dalam makanan.