
...----------------...
Jia paling tidak suka acara mendadak. Apalagi disaat dia ada jadwal. Sebenarnya, jadwalnya hanya photo untuk endorse. Namun, tetap saja ada kesalnya karna dia lebih suka menjalani sesuai dengan to do list-nya.
Tapi, lihat sekarang. Ilyas mendadak mengirim pesan pagi-pagi mau mengajaknya keluar alias ke rumahnya. Sudah bisa tebak segimana hebohnya Jia? Apalagi Sera yang masih tiduran malah diseret oleh Jia agar gadis itu bisa mendadani Jia. Walau Jia sudah cantik tanpa make up pun, namun rasanya dia harus tampil wah. Apalagi ke rumah calon mertuanya, walau hubungannya dengan Ilyas tidak seserius itu, tapi soal penampilan harus menampilkan yang terbaik, kan?
Sera dengan wajah malasnya dan mengantuk mendandaninya dengan gerakan lesu tanpa tenaga.
"Bisa gak sih you yang beneran dikit ngerias-nya?" Jia jadi ikutan kesal karna Sera meriasnya asal-asalan seperti ingin merias Jia menjadi badut mampang.
"Gak usah banyak komen! Suruh siapa ganggu waktu tidur gue disaat gue libur?!"
"Heh! Udah numpang, gak tau diri lagi. Diminta tolongin gitu aja malah gamau."
Sera mendengus, "Ampun, Nyi Roro."
Akhirnya kuas blush on itu digerakan dengan gerakan benar kali ini. Lalu ketika kuas blush on itu sudah memberikan taburan merah ke pipi putih Jia, akhirnya tangan Sera mengambil liptint berwarna merah muda yang akan menghias bibir cantik Jia itu.
"Ck, gue iri banget sama lo."
"Iyalah, siapa yang gak iri sama i?" Bukannya tersanjung karna secara tidak langsung, gadis itu malah mengeluarkan jurus narisnya. Memang artis paling narsis.
"Tai. Gimana ya, caranya gue bisa secantik lo?"
"Gak bisa. Semua orang punya sisi cantiknya masing-masing. Cuman orangnya aja yang suka gak nyadar karna terlalu fokus ke kecantikan orang."
"Sial. Omongan lo ketika ada sisi anak psikologinya tuh bikin gue percaya kalo lo ada kewarasanya dikit."
Jia mendelik karna dikatai tidak waras. Liptint itu sudah menempel dengan sempurna di bibir cantik Jia. Sera berdecak pelan, selalu merasa kagum dengan visual seorang Jiani Wu. Sepertinya gadis ini memakai susuk yang paling kuat.
"Lu pake susuk dukun dimana sih?"
"Susuk? Susuk tuh apaan? Susuk sate?"
Sera lupa kalau anak ini cukup kurang update. Apalagi gadis itu selama tinggalnya di tanah kelahiran keluarga buyutnya alias China.
"Udahlah. Males ngomong sama orang bego."
__ADS_1
Sera berdiri menuju lemari Jia. Lalu membuka lemari itu dengan luwes, mencari baju yang cukup pantas dipakai. "Lu mau pake baju mana? Gak ada yang waras apa baju lo?"
"Maksud you, baju i gak waras-waras?"
"Iyalah anjir. Lihat nih! Baju kurang bahan semua."
Jia memutar matanya, "Pakai yang itu." Tunjuknya pada dress bunga-bunga pendek sepahanya namun lengannya panjang.
"Lo lupa, ya? Kalau keluarga Ilyas itu terpandang sama agamanya yang jelas bajunya harus muslimahlah. Harusnya lo pake gamis."
"Hah? Gerah begini!"
"Hadeuh. Yaudah pake ini aja nih!" Sera mengambil baju berwarna putih dan rok panjang berwarna biru langit. "Baju panjang doang gak usah pakai hijab. Asal sopan, bukan baju kaya mau ke clubbing."
"Tapi i gak pernah ke clubbing."
"Iya dah anak baik. Udah buruan ganti. Ilyas udah di depan noh."
Akhirnya Jia dengan buru-buru mengganti dress tidurnya dengan baju yang dipilihkan Sera lalu berdiri bercermin.
"Rambutnya diiket aja, ya?" Pinta Jia.
"Enak aja! itu gue udah capek-capek nyatokin lo. Gerai aja, jangan sampai lo menyebar leher cantik lo itu."
"By the way, Ji."
"Hah?"
"Gue sekarang nyadar, emang gue gak bisa secakep keluarga lo. Tapi anak gue bisa."
"Hah?" Hahnya kembali karna tidak mengerti apa yang diucapkan Sera.
"Asalkan gue nikah sama adek lo."
Detik itu juga perang dunia telah dimulai. Padahal gadis itu sudah rapih-rapih.
...----------------...
Rumah dengan nuansa sejuk di tengah-tengah panasnya Surabaya itu ternyata cukup menghibur Jia. Rumah keluarganya Ilyas bertema dengan kayu-kayu yang halus dan menyejukan, ditambah beberapa pepohonan besar semakin membuat kesejukan.
__ADS_1
Jia dan Ilyas berjalan bersampingan. Ilyas dari tadi melirik Jia.
"Kamu gak gugup?"
"Hah? Nggak. Emang kenapa harus gugup?"
Tidak seperti Nadya saat pertama kali diperkenalkan ke keluarganya. Nadya ketika dulu terlihat sekali kegugupan di tangannya. Bahkan sampai gemeter dan tidak ingin ditinggalkan oleh Ilyas ketika mereka mengobrol dengan keluarganya. Gadis itu dulu terus-terusan menanyakan penampilannya apakah dia sudah cantik? Atau semuanya rapih gak?
Dan Jia. Ilyas tau kalau gadis itu cukup pandai mengendalikan emosionalnya. Makanya, gadis itu bisa menjadi artis yang terkenal dan berbakat. Dia bisa menghandle segala prilaku dalam dirinya. Bahkan, ketika kemarin di hotel saja, Ilyas cukup kagum dengan jawaban Jia. Mungkin, kalau perempuan lain akan diam saja atau menangis saat itu juga. Sedangkan Jia, dia lempeng-lempeng saja.
"Kita mau ngapain emang pagi-pagi begini?" Tanya Jia ketika mereka sudah berada di teras rumah keluarga Ilyas.
Tidak pagi-pagi amat sih, cuman sekarang sudah memasuki pukul 10 pagi. Jadi, ya agak aneh aja bertamu pagi-pagi begini.
"Saya juga gak tau sih. Kata Mbak saya, Ibu nyuruh ngajak kamu biar kita makan siang bareng-bareng."
Makan siang tapi disuruh datangnya pagi. Jia jadi sedikit agak curiga. Namun, ia harus menyingkirkan pemikiran begitu.
Akhirnya mereka sampai di ruang tengah. Disana, terdapat Ibu, Bapak, Mbaknya, Mas Iparnya, Kakak tirinya, dan juga Nadya.
Mata Jia langsung terfokuskan pada Nadya yang sedang duduk disana. Wanita itu juga menatap kedatangan Jia dan Ilyas dengan diam, yang asalnya Jia lihat gadis itu sedang tertawa-tawa anggun.
"Assalammalaikum."
"Waalaikusalam." Jawab seluruh manusia yang berada disana.
Ilyas memberi salam lalu menyalam pada keluarganya dan diikuti Jia di belakang.
Ketika Jia ingin menyalam Ibunya Ilyas, Ibunya itu seperti enggan tangannya terpegang oleh Jia. Bak Jia ini adalah kuman yang akan menyebarkan virus, sedangkan ketika dia bersalaman dengan Mbaknya Ilyas, wanita cantik yang berumur diatasnya itu selalu ramah sama seperti pertama kali mereka bertemu dan terakhir Jia bersalaman dengan Nadya, wanita itu juga sama dengan Ibunya Ilyas yang tidak berminat bersalaman dengan Jia.
"Lama banget kamu ini." Protes Ibunya Ilyas ketika Ilyas baru saja menduduki dirinya di sofa, sedangkan Jia duduk di samping Mbaknya Ilyas karna langsung ditarik oleh wanita itu.
"Maaf, Bu. Tadi agak macet."
Bohongnya, padahal Ilyas lama karna menunggu Jia yang sedang bersiap.
"Ck, Ibu nunggu lumutan iki."
"Memangnya kenapa harus nunggu Ilyas? Mau ngapain?"
__ADS_1
"Yo, mau ngajak calon istrimu iku suruh bantu masak di dapur."
Tuhkan, Jia memang selalu memiliki firasat yang tepat.