Tolerate It.

Tolerate It.
Banding-banding.


__ADS_3

Perjalanan menuju Bandara di pagi buta, sejujurnya rasanya Jia ingin memejamkan matanya karna sangat mengantuk. Tapi, mengingat yang mengantarkannya bukan Ilyas alias Jila jadi dia agak tidak enak.


Ilyas tidak mengantarnya karna mendadak mendapat kabar harus cepat menanda tangani berkas yang akan segera dikirim kepada klien. Mau tak mau Ilyas jadi meminta bantuan Jila, padahal ada supirnya tapi Ilyas menginginkan diantar oleh Jila agar Jia merasa ada teman.


Sepertinya supir di rumah Ilyas memakan gaji buta. Karna katanya memang jarang disuruh-suruh tapi kalau persoalan gaji tetap full. Siapa yang tidak mau coba jadi supir Ilyas? Ada yang mau daftar? Tapi kalau Jia sih tidak. Dia maunya jadi istri Ilyas.


"Kamu gak kaget kalau tiba-tiba Kak Ilyas bawa Jia?" Tanya Jia karna tiba-tiba penasaran dengan respon keluarga Ilyas yang mengenai Ilyas yang tiba-tiba membawa perempuan berbeda dengan apa yang selalu dia ceritakan mereka.


"Hm?" Jila memutar stirnya sambil memikirkan cara enaknya bagaimana untuk menyampaikan jawaban itu, "Kalau terkejut sih pasti. Siapa yang tidak terkejut nampak Ilyas tiba-tiba bawa orang yang berbeda sama apa yang selalu ditunjukan sama Angkel Firas, tapi ya mungkin ada sesuatu hal lain yang Ilyas belum ceritakan. Jadi kite hargai jeu dulu sama tamu yang datang."


Walau sebenarnya perasaan Jila menggebu-gebu ingin menanyakan sesuatu tapi dia juga senang karna mendapat yang Ilyas bawa adalah seseorang artis idolanya.


Jia tersenyum tipis mendengar itu, keluarga Ilyas disini memang benar-benar baik hati.


"Jia seneng sama keluarga kalian. Kalian baik hati banget."


Jila terkekeuh, "Masa kita jahat sama tamu yang sudah datang jauh-jauh sih?"


Tapi nyatanya kan, keluarga Ilyas yang disana memang jahat padanya. Tapi seharusnya Jia tidak membandingkan hal ini. Ini terlalu keterlaluan, walau kadang Jia selalu tidak menyukai seseorang tapi beberapa jam pun dia akan melupakan orang itu alias dia tidak akan peduli soal itu. Dia akan lupakan rasa benci pada seseorang.


"Kamu udah sarapan?"


"Sudah, tadi dibikinin salad buah."


Jila mengangguk-angguk. Tadi Jila tidak sempat masuk ke dalam rumah Ilyas, dia menunggu di luar. Di dalam mobil karna katanya biar cepet. Karna kebetulan dia juga mau keluar nyari barang untuk pekerjaannya.


Jia baru tau Jila ini seorang designer perhiasan. Keren banget keluarganya Ilyas.


"Jadi kapan kalian ngelangsungin pernikahan?"


"Bulan depan. Ini akhir bulan, tanggung. Perkiraan tanggal 12 atau 13."


"Kalian serius kah nikah? Bukan soal main-main aja? Habisnya, aku masih ngerasa aneh sama kalian tiba-tiba mendadak mau nikah dan tiba-tiba putus juga tuh Ilyas."

__ADS_1


Jia tidak menjawab, mau bagaimana pun kalau dibilang serius. Memang mereka tidak serius. Mereka menikah karna tujuan masing-masing, bukan satu tujuan bersama. Lantas Jia harus menjawan apa? Apa harus dia berbohong kembali? Rasanya sepanjang ini Jia terus-terusan membohongi tiap orang.


...----------------...


Ini gila, terlalu gila. Rasanya Sera seperti kembali jadi anak SMA. Hatinya berdebar-debar karna tiba-tiba Kai ke Jakarta lalu mengajaknya nonton.


Astaga... Apa-apaan ini. Bahkan Sera menganggap ini ngedate atau mungkin Kai hanya menganggap mereka menonton bareng biasa saja. Tapi masalahnya, Sera ini seperti gadis kasmaran yang sedang menggila.


Sera pernah jalan dengan Kai. Tapi bukan berdua begini, mereka biasanya jalan bertiga atau berempat bersama Ben dan Jia juga. Tapi yang ini kan berbeda, mereka hanya BERDUA. Capkan itu, BERDUA. Jelaslah dia berubah menjadi reog.


"Kak, kamu mau pesen popcorn?"


Boleh tidak Sera menjawab kalau dia maunya kamu. Alias dia hanya mau Kai. Tolong ya, jangan adukan pada Jia yang akan merembet masalahnya kemana-mana.


"Hah? Euh... Iya,"


"Rasa apa?"


"Samain aja."


Haduh, Sera harus menyatat soal momen langka ini. Ini terlalu spesial.


Sebemarnya, dulu Sera hanya iseng selalu mengeceng Adiknya Jia karna adiknya itu tampan! Bahkan Rizky Nazar saja lewat dengan ketampanan adiknya Jia. Jelaslah Sera terpana lalu sering jail ingin menggebet Kai tapi lama kelamaan Sera jadi menumbuhkan perasaan nyata pada Kai. Namun, dia hanya bisa diam saja kalau dikasih tahu pada Jia sih urusannya bakal berabe. Dia bahkan sepertinya akan menjari renggang kalau ketauan seperti itu.


"Ayok, Kak. Kita nunggu disana dulu."


Tunjuknya pada tempat duduk yang di dekat pot daun dan tempat duduk biasa yang dipakai tempat para manusia disini menunggu.


"Kamu ngapain ke Jakarta?" Tanya berbasa-basi.


"Kangen aja rumah lama. Kak Sera masih suka nginep di rumah?"


Sera memang sering menginap di rumah Jia, rumah dulu Mamih dan Papihnya sebelum pindah ke Surabaya. Kadang-kadang, karna terkadang Jia suka merasa kesepian di rumah besar gadis itu. Jadinya, mau tak mau Sera jadi sering menemani padahal terkadang Ben suka menginap disana bahkan sudah punya kamar sah disana, tapi hanya terkadang ujungnya sama seperti Sera selalu balik ke Apartemen.

__ADS_1


"Nggak. Aku lagi harus ke kantor pagi terus jadi tinggal di Apart. Kalau di rumah kamu terlalu jauh nanti bisa-bisa aku telat terus dipecat gimana?"


Kai terkekeuh pelan, "Ya gak apa-apa. Nanti aku yang naflahin."


Hahahaha... Mungkin, Sera akan tertawa keras sambil salting brutal. Tapi ditambah kentataan pahit bahwa mereka jelas tidak bisa bersama. Bentengnya terlalu kuat dan terlalu tinggi. Entah siapa yang membangun benteng itu dan dari semeng apa alias ini tidak bisa dirobohkan.


Bisa sih, kalau salah satunya. Login menjadi satu agama.


"Hahahaha. Bisa aja kamu." katanya dengan kekeuhan dibuat-buat.


"Nanti abis ini kita mau kemana?"


Sera berpura-pura berpikir padahal dia tidak tahu mau kemana, alias diajak kemana saja mau asal bersama Ilyas.


"Gak tau. Makan aja paling?"


Kai mengangguk, "Oke. Mau makan apa?"


"Udon yuk?" Ajak Sera dengan semangat.


"Ayok!" Lalu dibalas dengan lebih semangat oleh Kai terlihat seperti pasangan yang lucu dan menggemaskan.


Sera terkekeuh tidak menanggapi kembali, takut dia semakin jatuh semakin dalam pada Kai.


"By the way, kamu kenapa tiba-tiba ngajak aku nonton? Gak biasanya. Biasanya sama temen nongkrong kamu itu yang nyebar dimana-mana."


Kai benar-benar mirip dengan Jia. Mempunyai teman dari ujung negara sampai ujung dunia. Alias temannya ini ada dimana-mana, tersebar di beberapa permukaan bumi.


"Tadinya aku mau ngajak Ica tapi dia gak bisa. Katanya ada kerjaan." Jelasnya.


Oalah, Ica Babi. Umpat Sera dalam hatinya.


Ica adalah mantan Kai saat Kai kuliah di Universitas Indonesia. Jelas Sera tahu karna Sera menjadi saksi kebucinan adiknya Jia itu.

__ADS_1


Dan sekarang dia merasakan diajak terbang ke atas awan lalu dijatuhkan dengan ditendang secara langsung.


__ADS_2