Tolerate It.

Tolerate It.
Home.


__ADS_3


...----------------...


Ketika mendengar kata 'rumah Ilyas,' Jia membayang rumah Ilyas seperti apa designya, dia memikirkan pasti rumah lelaki ini, rumah yang dikelilingi kaca dengan rumah minimalis simple dan monoton.


Ketika Jia bertanya pada kedua orang yang baru saja mereka keluar dari tempat makan mengenai mereka akan mengantar Jia ke hotel mana? Karna Kai mengirimnya pesan, menanyakan Jia akan tidur di hotel mana.


Namun, Jila malah menyeletuk seperti ini; "Loh, ngapain tidur di hotel? Di rumah Ilyas aja ada kamar kosong dan kadang tuh rumah ditinggalin berlama-lama." saranya.


Jia berkedip-kedip ketika diberi saran begitu, memangnya tidak apa-apa? Jila yang menyadari raut keraguan dari Jia langsung menambahkanagi seperti ini; "Santai aja. Di rumah itu kan nanti bakal jadi rumah kalian berdua. Jadinya, sekalian kamu percobaan dulu tinggal disana." guraunya.


"Kalau Jia tidur di rumah kamu, Ilyas tidur dimana?"


Bukannya Ilyas yang menjawab pertanyaan Jia, melainkan Jila yang berinisiatip kembali, "Ya, di kamarnya dia yang utama. Memangnya kalian mau tidur sekamar?"


Jia menggeleng dengan cepat dan Ilyas yang memperhatikan raut muka Jia langsung terkekeuh, mungkin karna terlalu gemas melihat raut kelucuan dari wajah Jia.


Maksud Jia, bukan dia ingin Ilyas tidur bersamanya. Walau kemungkinan dia memang ingin, tapi dia merasa tidak enak kalau Ilyas malah tidur di luar dan meninggal Jia di rumah lelaki itu sendirian.


"Saya tidur di rumah juga kok. Tenang aja, ada pembantu juga disana." katanya sambil membukakan pintu mobil untuk Jia.


Dan sekarang, kakinya menginjak pekarangan rumah Ilyas yang jauh berbeda dengan apa dia bayangkan. Dan ini terlalu megah untuk dirinya yang hanya tinggal sendirian.


Rasanya Jia ingin berkeliling di rumah ini, namun harus dia tahan. Posisinya disini, dia sebagai tamu. Bukan orang yang akan menempatkan tempat ini bersama sang empunya rumah.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Jia ketika mereka mulai memasuki rumah.


Jia rasanya mulai merasa nyaman di rumah ini, apalagi dekorasi rumah yang hangat.


"Iya, sama para asisten."


"Katanya ini rumah khusus buat dia tempatin ketika udah nikah dan ini hadiah buat istrinya, Ji. Sorry ya, aku spoiler duluan." ujarnya dengan kekeuhan.

__ADS_1


Kalau ini hadiah untuk calon istrinya nanti, berarti rumah ini dibangun untuk Nadya dulu. Dan Ilyas sudah membayangkan akan membangun rumah tangganya disini bersama Nadya, bukan bersamanya seperti apa yang dipikirkan Jila.


Jia hanya terseyum tipis ketika menanggapinya tanpa tau harus merespon apa.


"Kamu mau istirahat dulu di kamar? Biar Jila yang anterin." seakan mengalihkan obrolan, Ilyas menawarkan Jia untuk segera beristirahat saja di kamar.


"Kamar yang mana?"


"Yang sebelah aku. Udah dibersihin kok sama Ncik Mala."


Mata Jila menyipit curiga, "Kok sebelah kamu? Kenapa gak jauh aja dari kamar kamu? Aku agak curiga nih."


"Hush... Jangan mikir yang nggak-nggak kamu. Ini biar kalau Jia ada apa-apa bisa langsung manggil aku." katanya berusaha menebarkan virus pemikiran positif pada Jila yang terlalu negatif.


"Yaudah... Lets go, Jia. Kita ke bilikmu." Jila berjalan lebih dulu dan Jia mulai mengikuti sambil menyeret koper.


...----------------...


Bagai keterbalikan, ini benar-benar berbeda jauh dengan moment yang kemarin. Saat ini, Jia disambut baik oleh keluarganya Ilyas.


Bahkan ketika mereka dinner, segala makanan disodorkan agar Jia mencicipi segala hidangan yang ada di meja makan adalah makanan khas Malaysia, sengaja mereka masak ketika tahu bahwa Ilyas mau membawa seseorang wanita kesana. Padahal kata Jila ini biasanya yang diutamakan itu Ilyas namun sekarang malah Jia.


"Ck, posisi kamu tergantikan, Yas. Sekarang kamy bukan kesayangan lagi." sindirnya pada Ilyas ketika orang-orang sibuk bertanya mengenai Jia.


Ditambah ketika mereka tahu bahwa Jia adalah seorang aktris, hebohlah sudah mereka. Semakin ria mengobrol dengan Jia.


"Jadi apa yang Jia sibuk sekarang?"


"Jia lagi baru mulai besok meeting soal film baru, Aunty." Jawab Jia. Dengan paksaan, Jia dipaksa memanggilnya dengan sebutan Aunty sama seperti Ilyas yang memanggilnya.


Aunty Rengganis berdecak kagum, "Film apa sekarang? Nanti kabar-kabar ya, Aunty ingin menonton."


Jia mengangguk dengan senyuman, "Iya, nanti Jia kabarkan kalau sudah rilis."

__ADS_1


"Jia kok mau dengan anak saya?" Khas seperti orang tua yang heran ketika anaknya ada yang mau. Bapaknya Ilyas bertanya begitu.


"Iya, ya. Memang sih Ilyas nih tampan walau masih tampanan anakku. Tapi lebih kaya Ilyas. Jia, bagaimana kalau dengan anak Aunty saja?" serobot Aunty sebelum Jia menjawab.


Jia menampilkan raut kebingung. Mau menjawab yang mana duluan. Lalu melirik Ilyas yang sedang memperhatikannya dengan tenang sambil memakan makanannya, sedangkan Jia dari tadi mau menyuap keburu ada yang bertanya sampai makanannya belum tersentuh.


"Jia-nya biarin dulu dong. Dia lagi makan."


Aunty Rengganis langsung mesem-mesem, "Eum... Perhatian banget sama calon istrinya."


"Jadi, Jia kenapa tiba-tiba mau sama anak saya?" Tanya Ayahnya Ilyas kembali, mengulang karna dia masih penasaran dengan jawaban Jia.


"Euh.." Jia memutar otaknya untuk mencari alasan, namun otaknya sedang berada di kapasitas rendah kalau sedang lapar. Jadi berujung dia menjawab asal-asalan. "gak tau, Om. Mungkin, Jia kena pelet."


Lalu semburan tawa dari beberapa orang di meja makan ini mengisi ruang dengan riang.


"Peyet tu ape?" tanya bocah imut duduk di sebelah Ibunya yang pendiam. Bocah perempuan yang mungilnya dibawah Jela itu terlihat kebingungan dengan topik pada orang tua.


Ibunya si anak itu terlihat bingung, membuat Jia menjadi merasa bersalah telah membuat anak orang kebingungan dan menjadi ambigu.


"Pelet itu makanan ikan, Ra." jelas Ilyas pada gadis kecil yang sedang kebingungan.


Aamara yang telah diberi tahu itu langsung ber oh ria, lalu melanjutkan kembali makannya dengan fokus.


"Lanjut makan aja, abisin." tegur Ilyas yang duduk di samping Jia. "Mau nambah?" tawarnya.


Nambah bagaimana, ini saja belum dia habiskan dan masih banyak membuat Jia menggeleng-geleng bermaksud menolak.


"Nggak. Ini aja banyak banget. Jia takut gak bisa ngabisin kalau gak habis gak enak padahal keluarga kamu udah nyiapin."


Ilyas terkekeuh dengan raut kekhawatiran Jia, "Gak apa-apa. Padahal kamu bukannya gampang laper?"


"Nanti aku gendut gimana?!" tanyanya dengan sensi.

__ADS_1


Habitat perempuan kalau makan banyak pasti akan bertanya seperti itu, membuat Ilyas teringat Nadya yang pernah protes sama seperti yang Jia lontarkan.


__ADS_2