
...----------------...
Jia sering makan mie tengah malam bersama Sera kalau sedang kepalang laper. Kedua perempuan itu sama-sama suka makanan. Bedanya, Sera senantiasa menjaga aturan makanannya walau terkadang terobos dikit-dikit. Sedangkan Jia, gadis itu tidak peduli soal makanan tapi kalau ketauan naik berat badan, dia akan ngegym gila-gilaan sampai berat badannya turun dan juga badannya yang turun lemah, letih, lesu.
Dan sekarang, di ruang tengah sambil duduk di karpet padahal ada sofa di belakang mereka. Tapi malah Ilyas dan Jia jadikan sandaran.
Mie Ilyas sudah hampir tandas, sedangkan punya Jia masih ada setengah mangkuk lagi. Gadis itu terlalu fokus pada TV yang menampilkan Film Life Of Pi dari Disney. Ilyas yang menyarankan, karna katanya dia sudah pernah baca bukunya tapi belum kesampaian untuk nonton filmnya. Mumpung dia sedang luang sekarang, dia jadinta memanfaatkan waktunya bersama Jia juga yang menjadi sebagian waktunya.
"Kalau Jia yang disana. Kayanya Jia bakal lebih milih nyerah aja, nenggelamin diri ke laut. Syukur-syukur ada yang nolong di bawah sana."
"Nolong gimana?"
"Ada putri duyung yang nolong. Dan ternyata Jia ini putri duyung yang telah lama hilang, atau kalo gak beruntung ya paling dimakan hiu." Celetuknya dengan santai sambil menyuap mienya.
Ilyas terkekeuh memperhatikannya. Ilyas menyandar pada sofa sedangkan Jia duduk sedikit maju karna mienya berada di meja. Ilyas memperhatikan punggung mungil gadis di depannya padahal niatnya dia ingin menonton film, tapi malah menontonkan Jia.
"Kalau kamu?"
"Hm?"
"Kamu kalau ada di posisi itu bakal gimana, Kak?"
"Hmm... Sama aja sih, kaya kamu. Daripada nyakitin doang capek-capek. Yaudah, pasrah aja."
Dia membalikan tubuhnya menatap Ilyas dengan senyuman lebar, "Tos dulu!" ajaknya sambil mengangkat tangannya mengajak tos.
Ilyas menerima itu dengan senyuman termanis yang selalu membuat Jia salah tingkah.
"By the way, saya udah nyari-nyari informasi soal gedung buat nikahan kita. Kamu mau di kota mana?"
Mendengar hal itu membuat Jia tersedak dan dengan cepat Ilyas meraih gelasnya untuk diberikan pada Jia karna gelas Jia telah kosong.
"Uhuk... Jia cuman bercanda doang soal itu. Jia gak beneran mau nikah di jepang."
"Terus mau di mana?"
__ADS_1
Ilyas kali ini duduk sedikit agak maju agar mensejajarkan diri bersama Jia.
"Di indonesia aja. Jia gak mau kamu repot-repot harus ke Jepang." Ujarnya dengan pelan.
"Saya gak merasa direpotkan kok."
Ya, memang. Karna masalahnya orang ini terlalu banyak uang jadi santai aja. Tapi yang ada Jia jadi pusing.
"Di Indonesia aja. Di bali mungkin masih masuk akal. Jia mau cepet-cepet beresin soal warisan dari Mamih. Kalau di Jepang, nanti urusannya makin panjang."
Ilyas mengangguk, mengerti. "Yaudah. Mau hari apa? Biar saya semua yang langsung urus."
"Soal adat. Kamu mau pakai adat kamu?"
"Senyamamnya kamu aja."
Ilyas akan selalu memikirkan perasaan pasangannya dibanding dirinya sendiri. Mirisnya, padahal Jia bukan sungguhan pasangan lelaki yang sedang membicarakan planning mereka.
"Okay, jangan terlalu ramai, ya? Kita undang sedikit aja."
"Teman kamu kan banyak?"
"Teman saya sih dikit. Cuman, kolega Ayah saya yang ramai."
Sudah pasti, lelaki ini kan seorang pembisnis. Aneh kalau lelaki ini tidak punya jejaring social. Karna menjadi pembisnis itu salah satu kuncinya adalah memiliki jaringan dimana-mana.
"Yaudah, terserah kamu aja kaya gimana. Jia ngikut." Finalnya, "tapi sehari aja, ya? Maksudnya jangan bikin adat yang berhari-hari. Kita nikah biasa aja gitu seharian."
"Iya... Coba kamu tanya Ben. Waktu luang kamu kapan? Biar saya bisa nyocokin tanggal sama jadwal saya."
Jia mengangguk lalu meraih ponselnya untuk mengirim pesan pada Ben. Tengah malam begini pasti lelaki itu sedang push rank game. Sedangkan kalau disuruh push rank usaha keluarganya dia malas.
Memang agak sinting sahabatnya ini.
"Abisin mienya." tegur Ilyas ketika melihat mie Jia yang masih tersisa.
"Aku kenyang. Maaf, gak dihabisin..." jawabnya jujur kali ini. Tapi sebenarnya tidak enak juga tidak dihabiskan padahal Ilyas sudah bersedia membuatkannya.
__ADS_1
"Yaudah, gapapa. Mau langsung tidur?"
Jia menggeleng pelan, "Mau nonton dulu ini sampai beres. Kamu udah ngantuk?"
Ilyas melihat jam dinding dulu, jam yang menunjukam pukul 1 malam, seharusnya mereka sudah bergemulung di kamar dengan selimutnya dan memasuki alam mimpi masing-masing.
"Belum. Tapi kamu besok flight pagi."
"Gapapa. Aku biasa begadang terus digempur subuhnya harus berangkat lagi."
Ilyas terkekeuh, "Derita jadi artis, ya?"
"Ya, begitulah." jawabnya lalu menaruh kembali ponselnya ke meja dan mulai memperhatikan kembali tv.
"Selain syuting kamu ngapain aja kegiatannya?"
"Aku suka merajut, minum teh, ngegambar, dan jadi model majalah atau model iklan."
Benar-benar multitalent. Maka, siapa yang tidak bangga mempunyai seseorang seperti Jia? Seorang Jiani anak pemilik pabrik terkenal di beberapa kota dan juga menjadi artis terkenal.
"Ibu dan Mbak saya suka merajut. Mereka suka bikin rajutan buat mantel anak kecil terus dikasih ke anak panti."
Jia mendengar itu langsung tersenyum hangat memikirkan kalau nanti dia dan keluarganya Ilyas bisa merajut bareng sambil meminum teh. Pasti akan mengasyikan, namun haluannya buyar ketika mengingat interaksi kekuarga Ilyas dengannya. Keluarganya Ilyas yang berada di Surabaya tidak menyukainya kecuali Mbak Aia. Bagaimana bisa Jia mengajak merajut kalau calon ibu mertuanya saja sangat membencinya.
"Jia suka ngerajut topi atau apa pun yang menurut Jia lucu. Kayanya Jia kepikiran mau ngasihin itu juga nanti ke panti asuhan peninggalan Mamih."
Ilyas tersenyum tipis memperhatikan raut muka Jia yang sedang berceloteh. Bahkan, film yang di depan mereka tidak lagi menarik selain kedua orang yang sedang tarik menarik perasaan mereka. Atau ya, hanya Jia yang menarik.
"Mau kamu jadikan apa panti asuhannya?"
"Mau Jia kembamgin. Dan Jia usir aja sodara Jia yang udah menggelapkan dana."
"Gak kamu laporin?"
Jia menggeleng, "Kasihan. Mereka punya anak kecil. Masih SD. Jadi Jia biarin di luaran."Jelasnya dengan sesekali menatap Ilyas, "Jia bakal tambah juga sekolah buat disana. Bukan tempat bertampung menjadi rumah doang."
Senyum Ilyas semakin mengembang, tangannya seolaj mengikuti naluri untuk menyentuk kelala Jia lalu mengelusnya secara perlahan membuat Jia menjadi gugup dan berkamuflase menjadi patung saking gugupnya.
__ADS_1
"Jadi orang baik terus, ya? Kamu manusia terkeren."
Tolong, tolong bicara pada Ilyas segera lepaskan tangannya yang bertengger di kepalanya. Sebelum Jia kesurupan menjadi reog atau salting brutal membuat dirinya kelihatan bodoh.