Tolerate It.

Tolerate It.
Mie


__ADS_3

Jia sudah mengganti bajunya dengan baju tidur. Untuk pertama kalinya dia memakai kembali baju tidur yang berbentuk celana dan baju karna Sera berpesan tidak memakai dress tidur. Karna, katanya dia sedang menumpang di rumah orang. Gak sopan kalau memakai dress tidur dan bisa membawa hawa nafsu seseorang.


Dan sekarang, dia sedang duduk di kamar yang ia tempati, menyandar sambil bertelepon ria bersama Sera. Kamar ini seperti tidak beda jauh dengan kamar Ayahnya yang tak terhias apa pun. Hanya kasur, lemar, nakas, jendela serta gordennya, dan juga kamar mandi.


"Jadi gimana tadi?" tanya Sera diujung sana dengan segala keingin tahuannya.


"Makanannya enak." jawab Jia tanpa dosa walau Jia tahu pertanyaan dari Sera tidak berniat kesana.


"Bukan itu dodol! Makanan aja lu pikiran. Maksud gue, gimana tadi dinner lo?" katanya dengan gerutuan kesal dan tidak sabaran ingin tahu.


"Gitu. Seru, asik, eum... Apalagi, ya? Pokoknya gitu deh. Keluarganya Ilyas yang disini seru-seru."


"Ada yang mirip tok dalang gak?"


"Gigi you, i bikin jadi kaya tok dalang, ya?! Pertanyaan yang bermutu dong!"


Sera tergelak di ujung sana, "Lo ditanyain apa aja? Ditanyain masih perawan gak?"


"HEH!"


Lalu suara gelakan kembali memenuhi telinga Jia. Sedangkan Jia sudah cemberut, marah.


"Berbeda balik dong sama keluarganya yang di Indo, ya?"


Jia mengangguk walau tidak akan terlihat dari Sera karna mereka sedang melakukan telpon biasa bukan video call.


"Jadi lebih suka mana?"


"Suka Ilyas." jawab Jia dengan cepat berbeda dengan menjawab dari pertanyaan sebelumnya.


"Dianya kagak suka sama lo!"


"Tapi dia bakal nikah sama i."


Sera berdecak kesal, "Nikah tanpa cinta aja sombong!"


Jia tidak sakit hati karna mendengar penuturan dari Sera karna jelas itu adalah kenyataanya. Namun, Jia saja yang menjadi gila malah kebawa perasaan dengan Ilyas. Dan berencana ingin membuat Ilyas jatuh cinta padanya, malah dia yang jatuh duluan.


"Ser..."


"Hah? Eh, gue sambil kerja gapapa, ya? Jadi lo denger suara ketikan keyboard gue."


"Ya..."


"Kenapa?" tanyanya mengulang.


"Rasanya i betah deh disini. Pas i nginjek pekarangan rumahnya Ilyas, i jadi ngehalu, ngebayangin gimana nanti hangatnya keluarga i. Nanti anak-anak i sama Ilyas bakal main di pekaeangan rumah, berenang di kolam berenang, minum teh di halaman belakang, terus i mas-"

__ADS_1


"Lo gak bisa masak." potongnya. Dia menggagalkan skenario haluan yang Jia buat.


"Ish! You ngancurin aja haluan i. Nanti i belajar masak, liat aja nanti. I bakal ngalahin chef-chef di luar sana."


"Iya, dah. Percaya sama orang yang masak indomie aja airnya sepanci penuh terus pas di mangkokin penuh banget dah tuh airnya sampe gak kerasa bumbunya."


"Jangan mengungkit masa lalu dong. Tiap orang kan pasti berubah."


"Perubahan lo gak ada kemajuan. Terus, ya. Masak telor cemplok pake mentega sebungkus. Lo mau bikin telor cemplok apa adonan kue?"


"Sera!" teriak Jia karna kelewat kesal ketika kebodohannya diungkit-ungkit. "itu kan karna i kebiasaan bikin adonan kue."


"Halah emang bego aja lo. Jadi gimana? Rasanya serumah sama Ilyas?"


Bertepatan dengan itu suara ketukan kamar dari luar berbunyi.


"Ji? Kamu udah tidur?"


"Ser, ntar i telpon lagi. Ilyas manggil." katanya berpamitan.


"Ekhem... Mau ngapain tuh, malem-malem berduaan."


"Otak you besok i rebus."


Lalu Jia mematikan telpon secara sepihak dan langsung berjalan ke arah pintu untuk membuka.


"Kenapa, Kak?"


Jia terdiam, bukan merasa kebawa perasaan semakin jatuh cinta, melainkan karna malu. Malu karna dia ini sangat gembul soal makanan. Bahkan sampai Ilyas menawarinya lagi makan, padahal beberapa jam lalu mereka habis dinner di rumah utama keluarganya.


Walau sebenarnya dia betulan lapar, tapikan dia gengsi dan sebagai wanita Jia jelas menjungjung tinggi kegengsian.


"Ngga." dengan gelengan pelan, menolak.


"Beneran?" tanya Ilyas memastikan.


"Iya..."


"Yaudah, kalau laper ke dapur aja, ya? Saya mau masak mie."


Ketika mendengar Ilyas akan memasak mie, Jia langsung ingin menyiyakan tawaran lelaki itu namun ingat dia kan sedang pura-pura menolak, ditambah dia juga takut naik berat badan.


"Ngga. Kamu aja."


Ilyas mengangguk lalu berpamitan pergi ke bawah tidak lupa mengucapkan kalimat penutup.


"Kalau laper ke dapur aja, ya? Mumpung saya mau bikin mie juga."

__ADS_1


Jia mengangguk lalu menatap kepergian Ilyas.


Dengan cepat Jia balik menelpon Sera lalu diangkat tidak selang lama oleh gadis yang berada di negri sebrang itu.


"Apaan? Ganggu aja lo."


"Ser, i laper..." adunya dengan suara rengekan.


"Ya terus ngape lu ngadu ke gue? Minta aja ke Ilyas."


"Malu..."


"Lah punya malu juga lo?"


"SER IH!" gertak Jia karna kesal diledeki terus. "sebenernya Ilyas tadi nawarin. Katanya dia mau masak mie, kalau i laper sekalian dibikinin."


Terdengar suara helaan nafas di ujung sana, "Hadeuh kalo gue jadi lo sih gas aja, ya. Kapan lagi coba ngeliat pemandangan pertama kali cowok ganteng masak walau cuman masak mie tapi kan lumayan berharga."


Mendengar penuturan itu, Jia jadi membayangkan betapa kerennya Ilyas ketika sedang di dapur dan Jia duduk menatap Ilyas yang sedang lihai dalam memask.


"I matiin, ya? Bye!"


Sepertinya di ujung sana, Sera langsung mendengus jijik dengan kelakuan masa puber Jia.


Jia dengan langkah cepat menuju dapur rumah Ilyas yang luas ini.


Dia melihat pemandangan punggung Ilyas yang sedang menggunting bungkus bumbu mie, membuat Jia tersenyum mesem-mesem seperti orang gila.


"Kakak..." panggil Jia dengan suara lembut.


Kalau Ben dan Sera ada disini, mungkin mereka akan berakting muntah-muntah melihat sikap Jia sok lembut tanpa sangar.


"Kenapa? Laper, ya?"


Jia mengangguk lalu duduk di kursi meja makan yang menampilkan pemandangan Ilyas sedang meliriknya.


Ilyas terkekeuh pelan, sudah menebak kalau Jia akan menyusulnya. Maka dari itu, dia sudah memasak dua bungkus mie. Satu untuknya dan satunya lagi untuk Jia. Inisiatif feelingnya benar-benar kuat.


"Tambahin satu lagi mie, Kak. Buat Jia." pinta Jia.


"Udah kok."


"Hah?"


"Udah saya tambahin. Saya udah nebak kalau kamu bakal nyusul saya kesini. Jadinya sekarang udah saya masak 2 bungkus mie."


Astaga...

__ADS_1


Demi apapun rasanya Jia kepalang malu. Belum pernah Jia semalu ini karna makanan dan Ilyas mengetahui kalau jadwal makan Jia itu gak jelas gampang laper, itu membuat Jia malu membuat pipinya menjadi panas, memerah. Sepertinya dia harus mulai diet atau makan secukupnya walau perutnya ini adalah perut karet dan mulai besok harus bisa diajak kerja sama.


Tolong ya perut, harus mau diajak kerja sama!


__ADS_2