Tolerate It.

Tolerate It.
Deep talk


__ADS_3

Mereka sedang duduk di balkon hotel. Menatap gelapnya taman hotel yang sedang dibereskan itu, bekas acara tadi pernikahan kakak tiri Ilyas.


Mereka melamun bersama menatap para tukang yang sedang berberes-beres. Keduanya fokus pada pemikiran mereka masing-masing, bahkan bekas gemericik air tidak membuat mereka berhenti sejenak untuk membereskan serabutan bekas acara tadi itu.


Ilyas tiba-tiba menyampirkan jasnya ke pundak polos Jiani yang hanya dibalut dress dengan tali pendek itu. Jiani menoleh pada lelaki itu yang tanpa menampilkan ekspresi apa pun.


"Dingin. Pake." katanya pendek lalu mereka kembali diam.


Jiani tidak suka kecanggungan dan kediaman. "Ibu kamu gak ngerestuin kita, Kak. Gimana dong?" Rasanya bak seorang kekasih sungguhan yang tidak mendapat restu dari sang calon mertua. Jiani tiba-tiba merasa sedih, "Kamu... Bakal cari perempuan lain?" Tanya Jia dengan penuh kehati-hatian.


Ilyas yang sedang duduk di kursi balkon bersama Jia itu menoleh, "Hm? Nggaklah. Kok gitu sih?"


Lelaki ini terlalu santai untuk ukuran yang habis ditatar oleh Ibunya. Keluarganya Ilyas sudah pulamg ke rumah mereka, kakaknya Ilyas tadi menenangkan Jia bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu mereka mengobrol berdua, entah mengobrolkan apa karna Jia tidak mendengarkannya.


"Seriusan. Kamu serius mau nikah sama Jia? Emangnga Ibu kamu gak akan apa-apa?"


Ilyas tekekeuh, "Memangnya apa yang kamu takutin?"


"Takut kalau kita tetep jalan. Nanti Ibu kamu ngehancurin pernikahan kita."


Ilyas kembali tergelak, kali ini sambil mengusap-usapkan tangannya di kepala Jia. Pipinya menjadi bersemu merah ditambah pipinya yang putih kontras dengan apa yang ditimbulkan warna di pipinya itu, sangat terlihat.


"Kok pipinya merah sih? Kamu kedinginan, ya? Pulang aja yuk? Atau kamu mau tidur disini?" Ajaknya.


"Sama kamu?"


"Hah?"


"Tidurnya sama kamu?" Tanya Jia kembali dengan wajah lugunya, kontra dengan ucapannya yang selalu ambigu.


"Astagfirullah. Kan dibilang kita belum sah."


Jia mengernyit langsung tersenyum sambil menampakan gigi kelincinya. Ilyas baru menyadari hal itu. Kelucuan Jia semakin bertambah kalau tersenyum seperti itu ditambah mata kelincimya yang sipit.


"Kalau udah sah, boleh?" Tanya Jia semakin menjadi-jadi.


"Kita pulang aja yuk? Ujannya juga udah berhenti. Nanti Papih kamu nyariin." Ajaknya kembali sudah bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Jia mengangguk lalu dari duduknya. "Kita akan tetap nikah?"


"Iya." Jawab Ilyas sambil mengambil kunci mobil itu.


"Kamu gak akan cari wanita lain biar bisa direstuin?"


Ilyas sudah berdiri menjulang di depannya. "Ngga, Jia. Udah jangan pikirin soal itu."


Jia suka ketika Ilyas memanggil namanya, rasanya ada sensasi yang membuatnya kepalang melayang. Rasanya dia ingin merekam ulang ucapan itu agar bisa dia dengar kapan pun ketika dia ingin.


"Papih kamu gak akan marah ntar aku antar kamu sampai depan?"


Jia menggeleng, terakhir ketika memperkenalkan Alkan. Papihnya langsung menyambutnya dengan ramah dan membicarakan soal perbinisan. Papihnya suka dengan orang yang akan nyambung dengannya, kalau Ilyas. Jia tidak tahu, tapi dia berhadap bisa nyambung dengan Papihnya yang picky itu, sama sepertinya. Namanya juga sifat anak tidak akan jauh berbeda dengan ayahnya.


"Ngga. Dia bakalan seneng." Sepertinya, tapi kalau dibicarakan soal pernikahan sih, tidak tahu ya, Papihnya itu juga kan sama posesifnya, bahkan ketika bersama Alkan saja mereka sering tidak diizinkan jalan berdua, ditambah agama mereka yang beda membuat Papih sering kali memintanya putus walau Papih menyukai Alkan.


"Okay, ayok." Mereka berjalan keluar menuju parkiran, pulang ke rumah dan Ilyas pulang ke hotelnya.


...----------------...


Ketukan pintu itu membuat Ibunya Ilyas menoleh, "Ibu? Ini Naia." Panggilnya di luar sana.


"Masuk aja Mbak!" Izinya masih fokus merajut sweater rajut yang Naia tebak pasti itu untuk Ilyas. Karna warna bolanya berwarna biru tua.


"Kok belum tidur, Bu?" Naia berjalan mendekat untuk duduk di kasur samping Ibunya. "Bapak tidur lagi sendiri dong hari ini?" Guraunya. Bapak yang dimaksud Naia adalah Bapak tiri dia dan Ilyas.


"Biarin aja lah."


"Kasian Bapak."


"Kamu sana. Tidur, kasian suamimu tidur sendiri."


"Dia tidur sama anakku kok, Bu." Jawabnya dengan santai sambil merebahkan dirinya.


"Kamu ini gimana sih jadi istri? Moso suamimu itu tidur gak ditemenin."


"Ibu juga gimana sih jadi istri? Moso bapak tidurnya sendiri gak ditemenin? Ibu malah tidur di kamar belakang." Sindirnya balik.

__ADS_1


Ibunya memukul pelan bahu Naia membuat wanita itu tertawa pelan. "Ampun, Bu." Lalu tangan Ibunya kembali sibuk dengan rajutan itu.


"Ibu gak ngantuk?" Tanya Naia memperhatikan Ibunya dari arah tidurnya.


"Nggak. Kamu tidur saja sana,"


"Mbak mau tidur sama Ibu, boleh?"


"Ya, boleh. Ngopo seh harus izin dulu?"


Naia tersenyum pelan mendengar itu, sejujurnya dia juga merindukan Ibunya. Walau mereka sering bertemu, tapi dia merindukan Ibunya dalam artian lain. Dia merindukan masa-masa ketika dia masih kecil hidup bersama Ilyas. Saat Ilyas pergi dengan Ayahnya, Naia sedih sekali. Namun, dia akan lebih sedih kalau meninggalkan Ibunya. Jadi dia disini, tetap bersama Ibunya.


"Bu..." Panggilnya pelan.


"Iyo? Napa Mbak?"


"Ibu sayang Ilyas?"


"Opo seh pertanyaanmu iku? Yang sudah pasti sayang. Mana ada orang tua yang nda sayang anaknya."


Naianya berdeham, mengerti. "Kalau sayang. Harusnya Ibu menghormati permintaan Ilyas soal melanjutkan pilihan hidupnya selagi itu tidak membahayakan Ilyas."


Mengerti jalan pembicaraan anak perempuannya itu, Ibunya menaruh rajutan itu di meja samping kasur itu. "Ibu gak suka sama pilihannya. Wanita itu tidak cocok buat Ilyas."


"Kalau gak suka sama wanitanya. Ya jangan gak suka sama jalan pilihan Ilyas juga dong, Bu."


"Menurut Ibu, wanita itu tidak baik, Mbak."


"Ibu kan baru sekali ketemu. Gimana kalau nanti Ilyas bisa merubah wanita itu? Jadi pahala kan buat dia." Bujuknya.


Naia sendiri masih belum mengerti soal motif adiknya itu yang tiba-tiba. Namun, sebagai seorang kakak, Naia akan selalu menghormati keputusan Ilyas kecuali saat adiknya ke jalan yang sesat, namun ini kan soal kebaikan, lelaki itu mau menikahkan seseorang walau masih terlalu rancu.


"Ibu mau kan ngerestuin mereka? Ilyas itu, dari dulu anak yang baik, Bu. Dari dulu dia gak pernah minta ini itu, beda sama Mbak. Kali ini dia cuman minta restu aja, masa Ibu gak kasih?"


Ibunya terdiam, mungkin sedang merenung. Sebenarnya Ibunya masih belum merelakan bahwa Nadya tidak jadi bersama Ilyas, dia malah bersama anaknya yang lain. Dan anaknya malah memilih wanita sangat keluar batas dari yang biasanya.


"Iya, Ibu restuin dia."

__ADS_1


__ADS_2