
Rumah bertema American Classic itu tampak sepi dengan cahaya yang menerangi sekeliling ruangan. Ilyas mengikuti langkah Jiani menuju ruang tengah. Jadinya, Jia mau memperkenalkan saja malam ini dengan papihnya dan adiknya, mumpung mereka ada di rumah.
"Papih! Kai! Cici pulang nih," Teriaknya menggema dalam ruangan.
Ilyas duduk di salah satu sofa itu sambil menunggu sang tuan rumah.
"Mau minum?" Tawar Jia yang sebenarnya basa basi.
"Boleh," Sebagai seorang tamu jelas Ilyas harus menerima kebaikan sang empunya rumah.
"Minum apa?"
"Apa aja, bebas."
Jia mengangguk lalu pergi ke dapur, meninggalkan Ilyas sendiri disana. Ilyas jadi berdeham pelan karna menyendiri di rumah orang lain. Jujur dia tidak terlalu pandai soal beradaptasi dengan seseorang baru.
"Hallo, siapa ini?" Sapa seorang pria tua sudah memakai baju tidur dan di belakangnya ada lelaki tinggi setingginya yang lumayan mirip Jia. Ilyas tebak ia adalah adiknya Jia.
Ilyas berdiri lalu salim pada Papihnya Jia, "Ilyasa, Pak."
"Ilyas? Temannya Jia?"
"Calon suami, Pih." Koreksi Kai yang sudah duduk duluan.
"Hah? Calon suami? Jia mau nikah? Tanpa bilang Papih?" Rentetan pertanyaan dikeluarkan oleh mulut Papihnya Jia dengan keterkejutan.
"Tenang dulu, Om. Maaf, saya mendadak malam-malam begini datang bertamu. Biar saya perkenalkan diri dulu," Ilyas menenangkan Papihnya Jia.
"Jadi kamu siapanya Jia?"
"Saya..." Ilyas menjilat terlebih dahulu bibirnya yang terasa kering karna canggung. "Saya calon suaminya, Jia." Ucapnya dengan mantap.
"Calon suami? Memangnya saya kasih kamu restu? Saya saja belum mengenal kamu."
"Maka dari itu sekarang saya kemari. Maaf, kalau kesannya mendadak."
"Jia yang ngajak dia kesini malam ini, Pih." Jia datang sambil membawa dua cangkir teh lalu menaruhnya di meja, di arah Papihnya Jia dan Ilyas.
"Buat i mana, Ci?"
"You bikin aja sendiri." Jawab Jia dengan enteng lalu duduk di samping Ilyas.
__ADS_1
Kaili mendengus kesal.
"Jia mau menikah?" Tanya Papihnya dengan suara halus pada Jia.
Jia mengangguk, "Iya, sama Ilyas. Kenalin Pih, ini Ilyas Aldrizayn."
"Aldrizayn? Aldrizayn group?"
"Iya," Yang menjawab masih Jia.
"Kok Jia gak bilang-bilang Papih punya pacar dan tiba-tiba mau nikah?"
"Dia tadinya mau kawin lari, Pih." Kompor Kaili di ujung sana.
Mata sipit Jiani melotot kesal pada adiknya, "Heh, sembrangan you!"
"Kenapa tiba-tiba mau menikah?" Tanya Papihnya.
Jia dan Ilyas terdiam. Papihnya tidak mengetahui soal panti itu, Jiani sengaja menyuruh Kaili untuk merahasiakan persoalan itu karna Jia tidak mau menambah beban Papihnya, ditambah keadaan pabrik sedang merosot turun.
"Karna kita sudah sama-sama siap, Om." Ilyas yang menjawab karna Jia hanya mengerjapkan matanya.
Bak seorang Ayah yang enggan melepaskan putri tercintanya, jelas dia harus melindungi dari para lelaki yang sedang mendekati Jia. Papihnya Jia akan selalu bertanya begitu ketika Jia mempunyai pacar, sampai terkadang pacarnya Jia kabur duluan.
"Menurut Om saya harus punya apa agar diizinkan menikahi anak Om?" Bukannya menjawab pertanyaan Papihnya Jia, Ilyas malah membalik pertanyaan.
Kaili yang menyimak itu tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu, harusnya yang ditanya itu Jia. Jia punya apa sih sampai Ilyas mau menikahinya?
"Dengar, Ilyas. Kalau soal financial, saya punya dan Jia punya penghasilannya sendiri. Tapi, bukan berarti kamu bisa nganggur."
Mau nganggur bagaimana? Ini orang kaya loh? Keluarganya selalu masuk ke dalam majalah bisnis.
"Jadi, yang saya inginkan. Hanya kamu harus punya rasa tanggung jawab dan bisa menyayangi anak saya seperti saya menyayanginya. Kamu sanggup?"
Ilyas terdiam, mereka menikah bukan soal karna rasa sayang atau pun cinta. Mereka menikah karna memang soal saling memanfaatkan situasi. Tapi kalau soal rasa bertanggung jawab, Ilyas bisa menyanggupi itu. Karna Ilyas sendiri sudah berani berjalan mengajak anak orang untuk hidup bersamanya.
"Sanggup, Om." Jawab Ilyas untuk sementara waktu.
Jia melirik Ilyas, hatinya terasa terenyuh mendengar itu. Mengapa dia menjadi manusia yang selalu membawa perasaan? Harusnya dia bisa berprofesional dan harusnya dia yang bisa membuat Ilyas jatuh cinta karna misinya itu.
"Hm... Saya sebenernya tergantung Jia. Kalau dia memang ingin, akan saya restui. Tapi kalau kamu sampai berani menyakitinya saya akan langsung menghajar kamu, ngerti?"
__ADS_1
Ilyas mengangguk seakan mengerti, "Iya, Om. Saya gak akan berani nyakitin anak Om."
"Jadi, kalian mau bertunangan dulu atau langsung menikah? Saya belum ketemu keluarga kamu juga."
Ilyas memandang Jia yang berada di sebelahnya untuk meminta bantuan menjawab karna mereka saat datang kemari tidak briefing dulu.
"Langsung nikah, Pih. Jia mau langsung ngasih cucu ke Papih." Jawabnya dengan senyuman manisnya.
Sedangkan lelaki disebelahnya tersedak pelan karna terkejut. Semua perkataan Jia itu selalu ambigu selalu membuat orang salah pahan saja.
"Memangnya kamu bisa ngurus anak kecil?" Tanya Papihnya Jia.
Jia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, "Euh.. Nggak sih." Jawabnya dengan cengiran. "Tapi kan Jia bakal belajar kalau Jia punya anak nanti."
"Kamu mau punya anak?" Bisik Ilyas.
"Nggak. Sut, diem dulu." Bisiknya kembali membuat kedua orang di depannya memperhatikan.
Papihnya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi kapan rencana kamu akan mempertemukan saya dengan keluarga kamu?"
"Rencananya saya mau ngajak Jia ke Malaysia besok, karna keluarga saya disana. Mau memperkenalkan dulu Jia, maka dari itu saya minta izin sama Om buat ngajak Jia pergi ke negri sebrang."
"Keluargamu gak ada yang di Indonesia?"
"Ada, Ibu saya, Om. Tadi Jia sudah bertemu dengan Ibu saya." Jawab Ilyas dengan jujur namun tanpa menjelaskan lebih lanjut. Soal Papihnya Jia tahu latar belakangnya itu bisa belakangan, atau mungkin nanti Jia yang akan menjelasian pada papihnya itu.
"Hem... Ibumu menyetujui kamu menikahi putri saya? Saya tau keluarga kamu itu cukup beragamis, Ilyas. Dan bukan saya menjelekan putri saya, tapi dia ini, euh... Cukup nakal dan susah diatur."
"Papih!!" Jia merengut kesal mencebikan bibirnya karna dikatai begitu.
"Kenapa sih? Kan memang benar. Papih cuman ngomong apa adanya."
Jia diam saja dengan menampilkan wajah cemberutnya.
"Jadi gimana? Ibumu setuju?"
Ilyas diam soal itu, dia takut menjawab hal yang salah. Apalagi kalau Papihnya Jia mengetahui soal Ibunya yang tidak merestui mereka berdua. Apakah nanti Papihnya Jia juga tidak akan merestuinya?
"Ibunya Ilyas setuju kok. Papih tenang aja, semuanya aman." Jia menjawab dengan wajah tanpa beban.
Ilyas tidak meragukan lagi kehebatan acting gadis di sampingnya ini. Dia benar-benar pandai dalam menyesuaikan situasi. Mimik wajahnya saja bahkan tenang bak tidak ada pikiran yang mengganggunya.
__ADS_1