
"Jadi besok kamu langsung pulang ke Malay?"
Lelaki itu mengangguk sambil berjalab diikuti oleh dua gadis yang seperti macab itu.
"Iya, sama kamu kan?"
"Lho? Kok sama Jia?" Jia menghentikan langkahnya di ruang tamu membuat kedua orang itu otomatis berhenti.
"Kan saya mau ngenalin kamu ke keluarga saya yang di Malaysia."
Jia mengangguk-angguk paham, ternyata cukup ribet jadi calon istri Ilyas walaupun tidak serius dan sejujurnya Jia tidak suka meribetkan diri. Tapi lelaki ini memiliki keluarga yang terbagi dua malah membuat Jia prihatin padanya. Menyaksikan kepergian Mamihnya dulu saja membut Jia kalang kabut apalagi menyaksikan kedua orang tua yang terpisah karna kemauan masing-masing dan saling membuat keluarga baru.
"Maafin dia, ya? Emang nih bocah pikunan. Maklum, badan doang boncel aslinya udah tua." timbrung Sera berada di belakang mereka memperhatikan dan mendengarkan dengan serius.
"Ih! Apa sih you nimbrung aja."
"Suka-suka gue lah!"
"Ngapain you ngikutin i sama Ilyas?" tanyanya dengan nada sewot.
Ilyas sekarang tahu. Kalau kedua sahabat ini sepertinya tidak pernah saling berbicara kalem, kah? Mereka selalu meriburkan hal apa saja.
"Heh, dalam Islam hukumnya haram cewek dan cowok berduaan yang belum ada ikatan suci." sekarang Sera merangkap menjadi penceramah.
Ilyas terkekeuh pelan memperhatikan kedua sahabat itu yang selalu bertengkar kecil.
"Besok kita janjian di bandara langsung, ya? Saya gak bisa jemput kamu. Mobilnya mau dibalikin ke Mbak Aia." ucap Ilyas melerai kedua orang yang akan berperang.
"Jia aja yang jemput kamu."
Ilyas mengangguk, "Boleh. Tapi jangan nyetir sendiri. Minta siapa aja gitu setirin mobil kamu."
"Kamu udah tau gimana ugal-ugalan si Jia ini ya, Mas?" tanya Sera diselingi dengan tawa meremehkan pada Jia.
Jia menabok lengan Sera dengan wajah gondok. "Jangan panggil-panggil Mas!" Peringat Jia.
"Lah? Kenapa? Ilyasnya aja gak keberatan tuh."
Ya, memang tidak keberatan sih tapi rasanya dia menjadi panas. Dia juga mau memanggil Ilyas dengan sebutan 'Mas' tapi rasanya agak cukup aneh kalau dia yang memanggil.
__ADS_1
"Iya, tadi Jia nyetir." ucapnya tanpa berniat menjelaskan lebih detail.
"Bikin ribut di jalanan gak? Apalagi sama Ibu-Ibu yang lagi pake motor." bagai sudah terbiasa. Ternyata memang Jia terbiasa bermasalah dengan Ibu-Ibu pantas saja tadi dia tidak merasa takut melawan ras ter kuat di Indonesia.
Ilyas melirik Jia sekilas yang menampilkan wajah cemberutnya, "Nggak kok." jawabannya di selingi senyuman tipis membuat Jia yang memperhatikannya terkesiap. Lelaki ini terlalu bahaya untuk hatinya.
"Tumben. Lagi hari beruntung ya lo?"
Beruntung apanya?! Kalau beruntung Jia tidak akan ribut dengan keluarganya Ilyas.
"Diem you gak usah kepo!"
"Udah... Berantem terus. Mukanya jangan ditekuk terus kamu udah kaya mau berubah jadi kucing garong tau." lengannya menjulur untuk mengelus rambut Jia. Membuat mimik wajah Jia melunak menjadi tenang sambil berkedip-kedip lugu. "Aku pulang, ya? Besok jangan lupa diantar orang. Jangan kesiangan."
Jia mengangguk, "Iya. Hati-hati di jalannya, kabarin kalo udah nyampe." tegur Jia ketika lelaki itu berjalan mendekati mobilnya.
Dia tersenyum mengangguk, "Iya, Assalammualaikum, pamit ya? See you."
"Waalaikumsalam." jawab Jia sambil memegangi dadanya yang semakin menjalarkan degupan aneh.
Jia memperhatikan lajunya mobil Ilyas yang mulai menghilang dari pekarangan rumah luasnya.
"Hah?"
"Kayanya i harus periksa ke Alkan deh. Jantung i kaya gak aman detakannya kaya cepet banget gitu."
Sera mengernyitkan keningnya, heran. "Mau meninggoy kali lu."
"Sembrangan anjing!" dalam situasi tertentu walau wajah gadis ini yang lugu, cantik, seperti anak baik-baik tapi aslinya selalu brutal.
...----------------...
Ketika Ilyas sampai di kamar hotelnya, dia mendapat beberapa deretan pesan dari Nadya masuk ke dalam ponselnya. Wanita itu mengirim beberapa pesan yang tidak sepantasnya, apalagi dia baru saja menikah.
'*Kamu serius mau nikahin wanita kaya gitu?'
'Ibu kamu sedih liat kamu bakal nikahin perempuan kaya gitu.'
'Kamu udah gak sayang aku, ya Mas*?'
__ADS_1
Pesan itu seakan menimbulkan suara Nadya dalam benaknya, ditambah dia selalu sering mendengar suara itu. Suara yany pernah menjadi candu untuknya.
Ilyas mengabaikan pesan itu, dia hanya meninggalkan jejak terbaca tanpa berniat untuk membalas, namun sebuat dentingan kembalu masuk.
'Aku masih sayang kamu. Kamu apa gak mau menunggu aku?"
Menunggu apa? Wanita ini membicarakan perihal menunggu padahal dirinya sendiri tidak tahu bagaimana caranya menunggu dengan baik. Dia dulu yang meminta Nadya untuk menunggu kesiapannya, namun gadis ini malah berpaling kepada seseorang yang sudah siap.
Dan juga mengapa rasanya sikap Nadya berbanding balik ketika mereka bertemu sebelum Nadya melancarkan acara pernikahannya? Nadya yang saat itu seperti Nadya yang benar-benar bahagia tanpa bersama Ilyas, namun kali ini mengapa rasanya dia malah menarik kembali Ilyas ke dalam hidupnya.
Dia harus mengabaikan Nadya, mau bagaimanapun Ilyas harus menghormati Nadya yang sudah menjadi milik orang lain dan dia tidak mau menimbulkan fitnah nantinya.
Lalu dia teringat kepada Jia yang belum dia kabari.
Ilyas mengetikan sesuatu di kolom pesan Jia; Saya udah nyampe.
Lalu dengan cepat ada balasan masuk ke dalam ponselnya; Okay! Laporan diterima.
Ilyas terkekeuh membaca balasan dari Jia. Jia ini tipikal pasangan yang menggemaskan. Dan Jia adalah yang akan menjadi partner hidupnya.
Mungkin, Jia dan Ilyas bisa menjadi partner hidup yang baik tanpa adanya rasa cinta, iya kan? Tolong jawab iya. Setidaknya mungkin seiring berjalannya waktu mereka bisa menimbulkan benih-benih cinta walau dalam ketidak mungkinan.
Perasaan ketika bersama Jia itu bagai dia mempunyai adik perempuan, bukan seorang laki-laki normal yang memiliki perasaan pada perempuannya. Bahkan Ilyas sendiri tidak pernah berpikiran akan menjatuhkan dirinya pada Jia.
Dan semuanya sudah terlanjur, walau dia sudah mengingat kalau kelakuannya ini adalah hal yang tidak lazim, namun semuanya sudah terlanjur. Ilyas baru terpikir kalau dia dalam keadaan tertimpa masalah seperti kemarin maka akan bertindak sesukanya tanpa berpikir panjang.
Ilyas menghembuskan nafas panjangnya, semuanya memang sudah terlanjur. Sudah berada di tahap ini, dia sudah seharusnya menjalani saja apa yang ada. Anggap saja menolong Jia dan punya partner hidup dalam kehidupannya. Sepertinya Jia juga partner yang cukup baik. Apalagi dia seorang aktris, dia bisa menjadi profesional kan dalam hubungan mereka? Gadis itu tidak mungkin asal menjatuhkan hatinya kepada Ilyas.
Dering telpon menghamburkan lamunan yang sedang Ilyas rangkai. Dia mengambil ponselnya lalu mengangkatnya dengan cepat.
"Assalammualaikum, Yas. Besok kamu jadi langsung pulang?"
"Waalaikumsalam. Jadi, Mbak. Kenapa?"
"Mbak mau nitip sesuatu buat Ayah. Dititipin ke Mas Dimas, yo? Dia sekalian ngambil mobil."
Ilyas berdeham mengiyakan, "Mbak gak akan ikut kesana? Bertemu dengan Ayah?"
Mbaknya terdiam beberapa detik atau bahkan tidak akan menjawab pertanyaan Ilyas.
__ADS_1