Tolerate It.

Tolerate It.
Nomor telpon.


__ADS_3

Jia tertawa meledek, "Hahaha, candaan yang lucu."


Setelah itu Ilyas ikut tertawa juga.


"Kamu serius mau nikahin orang asing kaya Jia?"


"Memangnya kenapa?" Dia selalu membalikan pertanyaan dengan pertanyaan.


"Kok jadi Jia yang takut ya sama kamu?"


"Memangnya saya ada tampang kriminal?" Dia menunjuk pada wajah membuat Jiani langsung memperhatikan wajahnya.


"Gak sih. Kamu ganteng." Jujurnya.


"Kamu sejujur ini ya orangnya?"


"Salah?"


Dia menggeleng, "Bagus kok. Jadi kamu mau?"


"Oke. Kapan kita kenalan sama keluarga masing-masing?"


"Lusa. Lusa pernikahan saudara saya. Saya akan ajak kesana sekalian kenalkan kamu pada keluarga saya kecuali Ayah kandung saya karna dia sedang berada di Malaysia."


Jiani mengangguk, "Okay, nih." Jia menyodorkan ponselnya pada Ilyas.


"Apa?"


"Simpen nomor kamu. Gak akan mungkin kan kamu bakalan nikahin Jia sedangkan nomor Jia aja gak kamu save." Jelasnya


Lelaki itu langsung mengambil ponselnya dan mengetik nomornya disana lalu memberikan kembali pada Jia.


"Oiya, saya mau nanyain soal koper. Kamu memang suka nyimpen foto di dalem koper?"


Mendengar kata koper menjadi sensitif di telinga Jia. Wajahnya langsung menimbulkan semburat merah, malu.


"Bisa gak usah ngomongin koper? Dan ya, sengaja Jia suka simpen supaya kalau ketuker dia bisa nemuin."


Ilyas tertawa dan Jia mendengar itu seperti ledekan yang diarahkan padanya. "Kamu udah biasa ketuker ya?"


Mendengar itu Jia menutup wajahnya, sebentar lagi mungkin dia akan membuang wajahnya jauh-jauh akibat kejadian ini.


"Biasa aja kali. Bukan saya kok yang geladah koper kamu. Yang geladah kakak perempuan saya." Jelasnya agar membuat Jia tidak terlalu malu walau aslinya Ilyas juga melihatnya.


Tapi kan tetap saja. Jia sudah kepalang malu. Mau siapa pun itu yang membuka kopernya karna kopernya berisi hal privasi. Bayangkan bagaimana malunya menjadi Jia.


"Udah kan? Jia harus pulang. Ada janji sama orang."

__ADS_1


Lelaki itu mengangguk lalu bangkit. "Mau saya antar?" Tawarnya.


"Jia kan bawa mobil. Jadi gak perlu, kalau Jia gak bawa mobil baru perlu." Jia sudah berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


"Okay, hati-hati di jalannya. Kalau ada apa-apa telpon saya."


"Jia bakalan lebih dulu telpon Papih Jia dari pada kamu." Jawabnya dengan nada jutek.


Ilyas terlekeuh lalu membukakan pintu itu untuk Jia. "Terima kasih atas persetujuan kerja samanya Jia." Dia mengulurkan tangannya di ambang pintu sedangkan Jia sudah berdiri di luar.


Jia mengambil uluran itu lalu mereka saling berjabat tangan bak sudah melakukan meeting penting. "Senang bekerja sama dengan anda. See ya, Kak Ilyas."


"Iya, anak kecil." Lambainya dengan senyuman manisnya.


...----------------...


Jia berjalan di parkiran sambil memainkan ponselnya untuk menelpon seseorang. Suara deringan telpon cobaan pertama tidak diangkat, dia kembali mencoba menelpon lagi sampai akhirnya dia angkat oleh seseorang yang berada di Canada itu.


"Hi, babe!" Sapa Jiani sambil membukan pintu mobilnya lalu duduk dengan nyaman di kursi tempatnya menyetir itu.


Jiani bisa mendengar geraman marah saluran telpon itu, "What the hell are doing? Its 12 AM in here!" Sewot gadis itu karna terganggu waktu tidurnya.


"I know. Sorry, but i need your help."


"Emangnya ada emergency apa sih sampe lu harus ganggu waktu tidur gue?!"


"Ilyasa Alriza- What???? Who's he? You mean Aldrizayn group?"


"Ya.. biasa aja kali? Kenapa sih you sama Kai heboh amat soal Aldrizayn group."


"Berarti tandanya gue sama Kai jodoh."


"I colok ya, mata you biar gak jelalatan. Inget umur!" Sengitnya.


Sera selalu bercanda soal ingin menggebet adik Jia. Entah itu hanya candaan atau seriusan tapi jika bersama Kai beneran, dia selalu menjadi malu-malu kucing seperti anak SMA sedang kasmaran.


Kekeuhan dari gadis itu keluar dari ponselnya. "Ya siapa sih yang gak kenal sama Aldrizayn?"


"I am?"


"Ya lu mah emang otaknya ngabisin duit doang bukan soal perbisnisan. Dan memangnya lo ada hubungan apa sama Pak Firash Aldrizayn? Sampe nyuruh-nyuruh gue buat cari tau."


"I mau nikah sama dia. Dah ya, pokoknya tolong cariin informasi tentang dia." Sehabis itu telponnya dia putuskan secara sepihak tanpa menunggu izin dari pihak sana.


Dan sudah Jia langsung men-silentkan ponselnya, karna sudah dipastikan akan terus berdering dengan puluhan telpon dari Sera.


Gadis itu jika sudah kepo, otaknya akan mengebul jika tidak mencari tahu jawabannya saat itu juga. Dan Jia tebak pasti gadis itu akan terbang langsung pulang ke Surabaya tanpa mampir terlebih dahulu ke Jakarta, rumah orang tuanya.

__ADS_1


...----------------...


Dering telpon mendering di atas kasur. Ilyas keluar dari kamar mandi. Dia wudhu untuk melaksanakan Sholat Isya. Ilyas mengambil ponselnya dan melihat bahwa yang menelponnya adalah ayahnya.


"Assalammualaikum, Yah? Kenapa?"


Ilyas mendengar suara ricuh di sebrang sana, pasti Ayahnya sedang berada di rumah Atok dan sedang berkumpul dengan para adik kakaknya. Karna Ilyas bisa mendengar suara para ricuh dari saudaranya.


"Yasa, sedang di Indonesia keuh? Ayah kira masih di London. Mengapa tak cakap dulu pada Ayah?" Ayahnya dengan logat Malaysianya yang kental.


"Maaf, Yah. Yasa lupa. Ayah tau dari mana?"


Sedangkan Yasa, dari kecil paling dekat dengan ibunya jadi dia lancar berbahasa Indonesia sedangkan Malaysia dia berbicara ketika diperlukan saja, contohnya ketika dia sedang berkumpul dengan keluarga di Malaysianya atau menemui klienya yang orang Malaysia.


"Dari Mbakmu. Suke kali kau ini lupa pada Ayahmu sendiri." Guraunya. "Sedang apa kau disana, Yas? Rindu pada pacarmu kah?" Tanyanya membuat Yasa terdiam.


"Yasa ke Indo mau menghadiri pernikahan Nadya, Yah."


"Loh, die kawin dengan siapa? Memangnya sejak kapan kau sudah putus dengan die?"


"Sama Radit, Yah."


Ayahnya tidak langsung menyaut, dia berdiam beberapa detik entah sedang apa.


"Radit itu... abang tiri kau keuh?"


"Iya, Yah. Panjang ceritanya. Kapan-kapan Yasa ceritakan." Katanya ingin segera memutuskan topik pembicaraan itu.


"Oh... kau yang sabar ya? Kau anak Ayah paling kuat kan?"


"Ya anak Ayah kan aku doang."


Lalu terdengar suara tawa ayahnya. "Oiya, ya. Tapi Ayah Yasa itu orangnya hebat. Tak apa, nanti kita cari yang baiklah."


"Yasa udah ada kok, Yah."


"Apa maksudmu?" Tanyanya kebingungan.


"Yasa mau nikah. Udah ada calonnya. Nanti Yasa kenalin ke Ayah ketika habis selesai urusan disini."


"Kau serius keuh? Jangan macam-macam, Yas."


"Iya, sudah ya, Yah? Yasa mau sholat dulu. Saya tutup ya telponnya? Assalammualaikum." Lalu Yasa matikan telpon itu ketika Ayahnya akan bertanya lagi.


Yasa menyimpan ponselnya di nakas lalu mengeluarkan sejadahnya. Suara dering telpon kembali terdengar, Yasa meliriknya sekilas siapa tau itu Ayahnya menelepon kembali.


Tapi ternyata bukan, nama yang terpampang menyala-nyala di ponselnya itu berbeda. Menampilkan nama Nadya Mayara.

__ADS_1


__ADS_2