Tolerate It.

Tolerate It.
The real Medusa


__ADS_3

...Mention of kiss...


...----------------...


Pernikahan ini cukup megah, apalagi ternyata keluarga Ilyas ini adalah orang terpandang di Surabaya. Orang yang mempunyai pondok pesantren terkenal dan juga yang mempunyai bisnis perkebunan. Gak aneh kalau undangannya pun cukup tersebar banyak, bahkan Jiani menemukan artis yang hadir sebagai tamu di undangan ini.


Seperti biasa seluruh mata menatap ke arahnya, di tambah dia menggandeng, tidak menggandeng juga deh, dia hanya berjalan sejajar dengan Ilyas namun jelas lah semua mata memancar padanya, orang itu hobbynya membuat kesimpulan sendiri. Sebentar lagi pasti akan gosip mengenainya dan Ilyas.


"Kamu gak keberatan?" Mereka masih berjalan ke depan belum menentukan akan bersaliman dulu atau makan dulu.


"Soal apa?" Ilyas memandang Jiani yang lebih pendek di sebelahnya.


"Jalan sama Jia? In case kalau kamu lupa, Jia artis jadinya bakalan jadi pusat perhatian terus."


Ilyas malah terkekeuh pelan, "Gapapa. Saya gak peduli kok. Mau makan dulu? Atau duduk nikmatin acara dulu?"


"Makan dulu gimana? Jia laper. Jia sengaja gak makan dari rumah biar bisa makan disini."


Ilyas mengangguk, "Saya aja yang ngambilin. Kamu cari tempat duduk aja, ya?" Pintanya dengan senang hati.


Jia tersenyum hangat, entah mengapa pipinya jadi bersemu merah hanya karna perlakuan begini? Hah, yang benar saja.


"Okay, jangan lama-lama, ya!"


Ilyas tersenyum geli karna gadis itu tidak ingin ditinggalkan lama-lama.


Kaki Jia menemukan kursi dan meja yang kosong, dia menduduki dirinya disana sambil menunggu Ilyas dan menonton acara yang berada di depannya.


Pembawa acara itu sedang mengatur berjalannya acara, Jiani melirik pada pengantin wanita, perempuan yang sedang tertawa karna candaan dari pembawa acara itu terlihat cantik dan sekaligus anggun. Jiani sekarang tahu kenapa bisa lelaki itu jatuh hati pada perempuan itu bahkan sekaligus patah hati karna wanita itu.


Siapa yang tidak akan sakit hati kalau perempuannya ditikung oleh saudaranya sendiri?


"Nih, gak lama kan?" Ilyas datang sambil membawa satu piring makanan dan juga segelas minuman.


"Kok satu doang?" Jiani mengambil makanan itu, menyimpannya di hadapannya.


"Saya gak laper."


"Gak laper atau mau Jia suapin? Kita makan berdua?"


Jia mengatakan itu ketika Ilyas sedang meminum minumannya yang membuat batuk karna mendengar penuturan dari Jia.


"Kamu aja yang makan, Jia." Tolaknya dengan halus.


"Jia gak akan makan, kalau kamu gak makan."


Lelaki itu menatapnya seakan tidak percaya kalau Jia akan mengatakan hal itu. Dia menghembuskan nafasnya seakan menyerah.

__ADS_1


"Oke. Saya minta dulu sendoknya, ya?"


"Ini aja." Kata Jia menahan Ilyas yang hendak pergi.


"Maksudnya?"


"Pakai sendok berdua aja."


"Serius?"


"Iya, emangnya kenapa?"


Ilyas mengerjapkan matanya kebingungan, "Saya ambil sendok lagi aja. Sekalian ambil dessert buat kamu." Katanya lalu kembali meninggalkan Jia.


Beberapa saat kemudian Ilyas kembali sambil membawa cake sebagai dessert. Ini kalau Jia sedang masa diet, pasti dia akan ogah-ogahan makan Cake sehabis makan nasi.


Mereka benar-benar makan berdua, membuat orang di sekitaran mereka melirik ke arah sini. Bahkan, Jia bisa melihat pengantin perempuan sempat melirik kesini dengan keterkejutannya.


Entah mengapa rasanya Jia ingin menunjukan kalau Ilyas sekarang punyanya. Gadis itu seakan ingin menunjukan kalau Ilyas adalah hak miliknya.


"Saya ke belakang dulu, ya? Nanti kita ketemu pengantinnya sekalian aja pas udah selesai acara sama ketemu keluarga saya."


"Nunggu? Lama dong. Ini masih jam 2 dan acaranya pasti sampai sore?"


Iya juga, Ilyas baru kepikiran soal itu.


"Kita nyewa hotel aja?"


"Maksudnya?" Seakan kebingungan dengan perkataan Jia yang sedikit ambigu.


"Buat nunggu acaranya selesai. Kita gak akan ngapa-ngapain di kamarnya. Dari pada nunggu disini."


"Oke, terserah kamu. Saya ke belakang dulu, kamu pesen aja dulu kamarnya."


Jia mengangguk lalu kembali bangkit dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam. Jia sempat melirik dahulu ke tempat pengantin duduk, disana, pengantin perempuan tidak ada.


...----------------...


Jia sudah mengirim pesan pada Ilyas namun tak kunjung dibalas oleh pria itu, yang jadinya Jia memutuskan untuk mencari lelaki itu.


Mencari kemana pun yang dia bisa. Dia menuju ke wc umum di hotel ini yang berada di ujung hotel. Namun sebelum dia menjangkau kesana, dia menemukan Ilyas berada di depan kamar seseorang dan bersama pengantin perempuan itu alias mantannya.


Jia memperhatikan mereka sambil menyenderkan dirinya di tembok, dia bersedekapkan tangannya demi menonton dan juga menguping pembicaraan mereka.


"Ilyas, aku kira kamu gak akan datang." Suaranya lembut tidak seperti Jia yang seperti anak kecil.


Mengapa dia jadi membandingkan dirinya dan perempuan itu?

__ADS_1


"Datang. Aku diundang sama Mbak."


Mbak yang dimaksudnya mungkin kakaknya, karna dia pernah mencertitakan mempunyai kakak perempuan.


Perempuan yang sudah berganti gaun menjadi berwarna biru itu terdiam, "Ilyas, aku nyesel. Maafin aku. Ini semua, karna aku ngerasain kesepian karna kamu sibuk dan jauh."


Jia terkekeuh ketika mendengar itu, ternyata wanita ini cukup manipulatif dan juga playing victim. Pada dasarnya orang yang selingkuh memang tidak suka jika disalahkan.


"Semuanya udah terlanjur berjalan sampai sini. Gak baik kamu ngomong gitu, status kamu sudah jadi istri orang."


Ilyas terlalu baik untuk perempuan itu. Untung saja dia sudah lepas dari wanita ular itu dan terperangkap bersama Jia si kucing garong.


"Ilyas, tolong. Ini belum sejauh itu, kamu bisa kan bawa aku kabur?"


Hah? Benar-benar gila wanita ini. Jia jadi menyesal sudah memuji wanita itu cantik dan anggun. Ternyata wanita anggun itu bisa berubah menjadi medusa.


"Jangan gila, Nadya. Semuanya udah terlanjur. Sesuai apa kata kamu kemarin, kita masih bisa berteman tapi kalau kamu ingin kembali seperti dulu. Semuanya udah berubah."


Jia bisa melihat dari mata gadis itu yang sebentar lagi akan menangis.


"Apa karna perempuan itu? Dia siapa, Yas? Bahkan dia gak cocok sama kamu."


Perempuan mana yang dimaksudnya? Apakah Jia? Kalau Jia tidak cocok jadi maksudnya yang lebih cocok adalah dia? Jadi menjadi kesal ingin membuat gadis itu kesal juga.


Jia menegakkan tubuhnya lalu berjalan mendekat, "Kak Ilyas!" Panggil Jia dari belakang, gadis itu berlari kecil dengan high heelsnya.


Ilyas dan Nadya menoleh ke belakang mendapati Jia yang berjalan ke arahnya lalu berdiam diri di samping Ilyas.


"Jia nungguin di kamar ternyata malah disini. Padahal Jia udah ngantuk, tapi gak bisa tidur gak ada kamu Kak." Katanya dengan sengaja ditambah nada manjanya.


Nadya melihay itu terkejut bukan main.


"Maaf, tadi saya ketemu Nadya. Jia kenalin ini Nadya." Katanya malah memperkenalkan Jia.


Jia menatap wanita itu lalu tersenyum pura-pura ramah. "Hallo, Jiani." Katanya mengulurkan tangan untuk bersalaman namun tidak digapai oleh wanita itu. Dia malah menolehkan pandangannya ke arah lain.


Jia jadi berdecih dalam hatinya kesal, "Kak Ilyas." Panggil Jia agar pandangan lelaki itu padanya sepenuhnya.


"Iya, Jia?"


"Bibir kamu kenapa?" Jia memegang kedua pipi Ilyas dengan kedua tangannya karna Jia bisa menatap wajah Ilyas.


Jia bisa melihat kegugupan dan rasa terkejut dari Ilyas. "Kenapa? Bibir sa-aku kenapa?"


"Gak tau. Coba Jia liat." Bukannya melihat secara benar, Jia malah berjinjit mencium bibir lelaki itu membuat kedua orang disana terkejut atau bahkan bukan cuman kedua orang.


"ILYAS?!" Ternyata seluruh manusia di belakangnya.

__ADS_1


Jia memundurkan wajahnya namun lengannya masih pada pipi Ilyas. Jia menoleh ke belakang, disana, ada dua perempuan yang Jia tebak adalah Kakak dan Ibunya Ilyas.


Mati sudah dirinya sudah mempermalukan dirinya sendiri. Dia memang memanas-manasi Nadya tapi dia juga mendapat bonus kejadian memalukan.


__ADS_2