Tolerate It.

Tolerate It.
Ribut di jalanan.


__ADS_3


...----------------...


"Jia lulusan mana? Atau tidak kuliah? Biasanya artis sibuk ngerintis karir aja sampai lupa soal pendidikan." tanya Ayah tirinya Ilyas di sela-sela acara makan mereka.


Acara makannya tenang, hanya obrolan topik ringan walau tatapan Ibunya Ilyas alias Ibu Tami masih sengit saja padanya. Dan sekarang Pak Yasim malah memulai obrolan yang agak sensitif bagi Jia atau memang gadis ini sepertinya sedang sensotif.


Dia agak tidak suka kalau menanyakan dengan embel-embel merendahkan hal lain. Harusnya kalau dia berniat bertanya, yasudah tanyakan saja intinya gak perlu pakai embel-embel lain.


"Kyoto University, Om." jawab Jia sambil menenangkan nada bicaranya.


Tiba-tiba menjadi hening, namun langsung dicairkan oleh Mbak Aia. Sepertinya memang keluarga Ilyas ini mencari-cari kekurangannya kecuali Mbak Aia. Kalau begitu, sebisa mungkin Jia menebarkan kelebihannya.


"Jepang? Serius? Keren banget. Dulu Ilyas pengen kesana tau! Tapi ditolak, hahaha." kata Mbak Aia sambil diselingi tawa canda.


Lalu wajah Ilyas memberengut karna diingatkan moment dimana dia ditolak di Universitas impiannya. Bahkan dia sampai dua mingguan menjadi pendiam, lemas, lesu, bahkan makannya saja menjadi sesuap atau dua suap. Rasanya tidaj nafsu makan katanya walau akhirnya dia keterima di Leiden University, tapi tetap saja, obsesinya pada Kyoto masih menggebu-gebu.


Walaupun otak Jia kalau kata Sera itu hanya seperempat tapi aslinya dia pintar dalam akademi walau tidak pintar-pintar amat tapi dia mau berusaha. Jia memang type orang yang susah dalam belajar, dia harus menekuni hal yang dia ingin kan dengan waktu yang cukup lama dan syukurnya adalah hasilnya memuaskan dengan apa yang telah usahakan.


"Terima kasih, Mbak. Jia juga agak kaget dulu essay-ku keterima. Padahal aku udah ada di titik ambang pasrah."


Mbak Aia berdecak kagum, "Ambil jurusan apa, Mi?"


"Psychology, Mbak."


Mbak Aia berdecak kagum kembali, "Ilyas parah banget. Jago banget milih calonnya, iya kan, Mas?" Mbak Aia meminta validasi pada suaminya.


Suaminya Mbak Aia mengangguk, "Iya, keren."


Jia tersenyum hangat namun pada akhirnya akan luntur begitu saja karna ada saja kejelekannya dicari-cari sampai akarnya.


"Percuma kuliah jauh-jauh dan mahal tapi gak kepakai." sindir Bu Tami.


Namun, dengan santai Jia mempertahankan senyumannya itu, "Kepakai kok, Bu. Namanya Ilmu gak ada yang sia-sia."


Sekarang Ilyas tahu, bagaimana gadis itu pintar dalam mengatur ketenangannya walau pada akhirnya bisa meledak. Ternyata gadis ini benar-benar bisa membuat orang disekitarnya kagum, pantas saja mungkin kalau banyak yang iri pada kehidupan gadis ini. Dia dalam bidang aktingnya saja keren, ditambah ilmunya yang tinggi. Bahkan Ilyas saja rasanya ingin iri karna kampus impiannya itu pernah ditempati oleh gadis yang akan dia sandingkan.

__ADS_1


"Ilmu pendidikan tinggi-tinggi tapi kalau soal agama masih minim, gimana bisa dijadikan seorang istri?" penutupan dari Pak Yasim karna setelah itu semuanya hening dan Jia juga tidak mau membalas karna akan ada ledakan untuk kedua kalinya.


...----------------...


"Kita udahin aja gimana?" tanya Ilyas ketika mereka akan memasuki mobil.


Jia menoleh dengan heran karna mendengar tuturan kata dari Ilyas. "Hah? Tiba-tiba? Kamu baru kepikiran soal agama ku yang minim itu?" tanya Jia kembali.


Mereka berdiam diri sebelum masuk ke dalam mobil, melirik sekilas ke rumah yang telah mereka tinggali.


"Bukan, Ji. Aku ngerasa gak enak aja sama keluarga aku yang udah abis-abisan mojokin kamu."


"Gapapa, santai aja." ucap gadis itu malah kelewat santai.


Yang ada Ilyas tidak santai. Perasaannya campur aduk karna telah menyakiti seseorang walau tidak secara langsung dilakukan olehnya tapi oleh keluarganya.


Ilyas menghela nafasnya panjang lalu keheranan ketika Jia mengulurkan telapak tangannya bagai sedang meminta uang.


"Kenapa?"


"Kunci mobil. Biar Jia aja yang nyetir." katanya dengan berkedip-kedil lugu.


"Jia mau nyetir." kekeuhnya, masih dengan keinginannya bahkan sampai tidak mau masuk mobil.


Kalau Jia sedang kesal memang rasanya Jia selalu ingin nyetir. Dia suka menyetir mobil tapi Ben selalu melarangnya bahkan jika ketauan menyetir sendiri maka sudahlah dia habis diceramahi 24/7 jam.


"Yaudah nih,"


Jia tersenyum senang karna mendapat apa yang dia inginkan padahal untuk ukuran manusia yang habis ditatar oleh calon mertua harusnya dia murung.


"Leggo!" katanya dengan berlari mengitari mobil untuk masuk ke kursi supir.


...----------------...


Kalau ditanya apa hal yang paling Ilyas sesali adalah memberikan kunci mobil pada Jia. Sumpah serapah dalam hati Ilyas berjanji tidak akan pernah mengizinkan Jia kalau gadis itu ingin menyetir sendiri. Ini namanya menantang maut, gadis ini benar-benar bagai pembalap yang sedang berada di arena tapi masalahnya ini adalah area jalanan umum! Banyak kendaraan lain yang berlalu-lalang. Bukan hanya mereka berdua yang terancam terengut nyawanya, namun sebagian orang yang berada di dekat mereka.


Bahkan tadi sampai ada yang menekan klakson pada mobil yang mereka tumpangi karena Jia menyelip asal tanpa memberi arah.

__ADS_1


Dan sekarang momen yang tidak pernah Ilyas bayangkan, dia lakukan. Menengahi kedua wanita yang sedang ribut karna masalah jalan.


Ibu-ibu berdaster dan berhijab itu mengomel panjang lebar karna Jia hampir menabrak si Ibunya.


"Kamu tuh bisa nyetir nggak? Kalau nggak balik lagi sana belajae nyetir!" ucapnya dengan sewot.


"Loh, ya bisa! Makanya i bisa ngendariin, bisa nyetir. Harusnya Ibu sana yang balik baca aturab tata tertib pengendara. Orang udah lampu merah harusnya berenti, ini Ibu malah maen nyerempet aja." Jia bahkan lebih sewot dengan muka kucingnya yang mulai memerah ditambah panas terik.


Ilyas memjit pelipisnya pening mendengar keributan ini.


"Heh! Gak sopan ya, kamu sama orang tua. Dikasih tau malah balik ngeyel." Jarinya mulai menunjuk-nuniuk Jia dengan menantang.


"Lah Ibu juga ngeyel!" sewotnya maju namun ditahan oleh Ilyas.


"Kamu ini disekolahin gak hah?! Emang orang kaya kebanyakan songong! Kaya duit bapaknya halal aja!"


"Lah Ibu sok tau banget duit bapak i halal atau nggaknya. Kaya pernah nyobain aja."


Ilyas menahan pundak Jia, "Shhh.. Udah-udah, udah jangan ribut malu. Diliatin Ibu warung yang disana. Nanti kamu viral di tiktok atau instagram mau?"


Mendengar hal itu membuat Jia terdiam, dia baru kepikiran. Dia lupa kalau dia adalah publik figure yang bisa mengguncangkan dunia kalau sampai viral keributannya.


"Bu, saya mohon maaf, ya? Biar saya tanggung jawab. Ibu gak ada luka apa pun, kan?"


"Nggak! Tapi motor saya ampir aja ketabrak sama mobil situ!"


"Yaudah, biar saya ganti rugi, ya?" Ilyas mengeluarkan dompetnya lalu memberi beberapa lembar uang berwarna pink itu kepada Ibu yang songong.


"Kok malah kamu kasih uang sih? Orang motornya gak kenapa-kenapa."


"Suutt... Udah gapapa. Biar cepet beres. Maaf ya, Bu." Ilyas dengan senyumannya membuat si Ibu sewot itu luntur amarahnya.


Jadi mesem-mesem ganjen, "Iya, makasih Mas uangnya. Lain kali jangan diizinin nyetir tuh istrinya, begajulan begitu di jalan raya bahaya tau, Mas."


"Iya, Bu. Terima kasih dan sekali lagi maaf, ya? Saya permisi ya, Bu."


Ibu itu mengangguk-angguk sambil menghitung uang pemberian Ilyas. Ilyas mendorong pundak Jia agar masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang sebelah tempat Ilyas menyetir.

__ADS_1


Bahkan Ilyas setelah mereka masuk mobil tidak ada sepatah katapun. Lelaki itu menyetir dengan diam membuat Jia jadi merasa bersalah.


__ADS_2