Tolerate It.

Tolerate It.
Pasta margarita


__ADS_3


...He is so dressed well, isnt it?...


...----------------...


Pandangan mata resepsionis itu sudah tertuju padanya, memperhatikan setiap ketukan langkah Jiani dari heelsnya. Rambutnya masih tetap sama bergelombang dengan jepit kupu-kupu terselip di pinggir atas rambutnya. Dress sepahanya berwarna pink membalut tubuhnya.


Jiani sudah terbiasa mendapat tatapan terkagum-kagum seperti itu. Dirinya saja kagum pada dirinya sendiri, siapa yang tidak coba?


"Hallo, selamat siang dan selamat datang di Hotel Dreamies. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa ramah resepsionis itu.


Jiani tersenyum ramah kembali, "Saya mau cari Ilyasa Aldrizayn." Jawabnya to the point.


"Maaf, Kak. Tapi soal identitas siapa saja yang menginap di hotel ini adalah privasi."


"Saya udah punya janji kok sama dia. Saya cuman minta tolong telpon kamar dia dan bilang ada Jiani Wu." Jelasnya.


Resepsionis itu langsung mengangguk dan mulai menelpon kamar yang dia tuju.


Beberapa detik kemudian telpon itu selesai dan resepsionis itu kembali menghadap Jia.


"Kakak, boleh menunggu dulu di restoran hotel ini nanti Pak Ilyas akan menemui kesana.." Arahnya membuat Jia mengkerutkan jidatnya, dia tidak suka dibuat menunggu.


Namun mau tak mau dia harus kesana.


"Oke. Thank you." Jia langsung melenggang pergi mencari letak restoran hotel yang bernuansa seperti kerajaan ini.


Jiani mulai memuji keindahan hotel ini. Arsiteknya keren juga. Berjalan disini sama dengan di rumahnya membuatnya seperti seorang Ratu.


...----------------...


Ketika Jiani memasuki restoran hotel ini, ada beberapa pandangan yang menatapnya ketika mereka sedang bersantap makan siang.


Oh, ternyata memang ini sudah waktunya makan siang. Pantas saja ramai, dia jadi ragu akan mengobrol dengan seseorang disini. Takut akan terdengar orang yang akan menjadi panjang urusannya. Dia malas menghadapi gosip yang menggemparkan.


Jiani lapar, dia tidak sempat makan tadi. Jadi sekarang dia memutuskan untuk memesan makanan sambil menunggu pria yang bernama Ilyasa Aldrizayn itu. Dari pada dia menunggu menjadi patung menjadi sambil makan kan? Perutnya akan senang dengan itu.


Suara lagu mengalun di telinga Jiani, restoran ini mengalunkan lagu We Find Love dari Daniel Caesar. Mengapa rasanya seperti dia sedang mencari cinta sekarang?

__ADS_1


Pesanannya datang, Pasta Margarita dan Maesil Iced Tea karna dia suka yang rasa berasam, menurutnya menyegarkan. Bahkan dia terkadang kalau sedang bosan selalu menggigiti lemon dengan santai namun berbeda dengan orang yang melihatnya, mereka merasa ngilu.


"Hallo? Jia? Maaf ya, saya lama. Tadi ada Technical Meeting sama klien saya." Sapa seorang pria duduk di depan kursinya yang kosong.


Dia memakai kemeja abu dengan baju lengannya yang digulung ke atas juga celana hitamnya. Kacamatanya belum terlepas dari matanya, berbeda dengan yang Jiani lihat kemarin. Perfect dan tampan. Dia suka lelaki yang dressed well.


Jiani tersenyum tipis menyambutnya, "Hi, lunch?" Tawarnya berbaik hati.


"Ya, saya memang kebetulan belum makan siang. Dan sudah pesan tadi."


Jiani mengangguk lalu kembali memakan pastanya.


"Diantar supir tadi?"


"I nyetir sendiri." Jawabnya dengan santai.


"Serius? Memangnya gapapa artis kaya kamu nyetir kemana-mana sendiri?"


Jiani terkekeuh mendengar itu, "I bukan anak presiden atau anak kerajaan yang harus dikawal kali. Biasa aja. I biasa kemana-mana sendiri kok." Jelasnya, lagian fansnya tidak bar-bar terkecuali hatersnya yang kadang suka menyerangnya secara mendadak.


"Hebat." Pujinya dengan senyuman hangat dan itu membuat Jiani salah fokus dengan tahi lalat di dekat bibirnya entah mengapa selalu terlihat manis?


"Ternyata makanan kita sama, hahaha." Tawanya menguar ke dalam telinga Jiani, tawanya amat merdu.


Bagaimana ya jika pria ini bernyanyi? Karna suaranya halus dengan khas mendalam.


"Jadi kita akan mulai dari mana? Maaf sebelumnya kalau saya lancang kemarin dan tadi pagi subuh mengirim proposal itu tanpa izin." Dia memulai inti pembicaraan.


"Gapapa. Boleh gak kita gak ngobrolin hal itu disini? Eum... terlalu berbahaya kalau terdengar orang." Suaranya memelan namun masih bisa terdengar.


"Oke terus dimana?"


"Kamar you gimana?"


Ilyas langsung batuk tersedak ketika mendengar itu dan membuat Jiani tertawa peka bahwa pasti pria itu memikirkan hal yang aneh-aneh.


"Sorry, maksud i kita ngobrol doang di kamar you. Gak akan ngapa-ngapain ini kan? Selain ngobrol." Jiani berbicara dengan santai sambil meminum minumannya.


Ilyas berdeham pelan, "Sure."

__ADS_1


...----------------...


Kamar dengan kasur king size itu terlihat rapih untuk ukuran yang baru saja di tempati dan pasti bukan cleaning service yang membersihkan karna disana masih ada sisa-sisa mangkok bekas makan dan juga gelas yang kosong.


Jiani duduk di single sofa yang menghadap cermin dan langsung menampilkan pemandangan kolam renang yang disana sedang ada anak kecil sedang bermain air.


"Maaf ya, agak berantakan. Saya tadi cuman beres-beres sebagian doang." Ucapnya sambil mengambil leather jacketnya yang tersimpan di kasur itu lalu dia masukan ke dalam tasnya.


"Gapapa. I bukan tamu agung yang harus kamu hormati sampai semuanya diberesin."


Ilyas terkekeuh mendengar itu. Lalu dia duduk di ujung kasur yang menghadap ke arah Jiani.


"Jadi... kenapa you milih i?"


"Sebelumnya, maaf, Jia. Apa boleh kamu ngomong dengan cara biasa ketika bersama saya? Bukan i dan you seperti itu?"


Jiani mengedipkan matanya dengan pelan, baru kali ini ada yang koreksi soal cara bicaranya.


"Saya pernah nonton film kamu. Dan cara bicara kamu sama kaya orang Indonesia biasanya."


"Ya, karna itu kan i lagi berakting. But, okay, Jia ganti cara bicara kita. Jadi kenapa kamu milih Jia buat kamu nikahin? Euh, salah. Kenapa kamu mau bantu Jia mencalonkan diri buat nikah? Karna kamu belum menjelaskan kenapa kamu mau menikah." Tanyanya dengan rentetan.


"Untuk soal alasan. Saya boleh keep untuk saya sendiri? Saya gak bisa jelasin ke kamu."


"Oh, ya? Ya, oke lah. Terus kenapa dengan cepat kamu milih Jia buat jadi calon kamu? Emang kamu gak takut kalau sebenarnya Jia ini orang jahat atau psikopat gimana? Kamu mau punya istri psikopat?"


"Memangnya kamu pernah melakukan tindakan kriminal?" Dia malah bertanya balik.


"Eum... ngga sih."


"Yaudah, berarti kamu orang baik kan intinya? Dan saya milih kamu itu karna kebetulan aja."


Kebetulan dan kebetulan. Kebetulan mereka terlalu rancu, mana ada kebetulan seperti ini? Ini seperti film yang sudah settings.


"Kamu bukan penguntit kan? Entah mengapa Jia ngerasa aneh karna kita ketemu terus."


Ilyas terkekeuh mendengar ketakutan Jiani. Dia mengerti apa yang dipikirkan gadis sipit di depannya ini.


"Siapa tau memang kita jodoh kan?" Tidak ada gurat bercanda disana.

__ADS_1


__ADS_2