Tolerate It.

Tolerate It.
Kuala Lumpur.


__ADS_3

...



Kuala lumpur....


"Jangan lama-lama." tegur Ben ketika dia dan Jia sampai di bandara menemui Ilyas.


"Iya." Jia menjawab simple karna masih menscroll instagramnya.


"Jangan bawa dia lama-lama. Dia lusa ada jadwal di Jakarta." karna merasa terabaikan oleh Jia, akhirnya Ben bicara langsung pada Ilyas.


"Iya, santai aja. Besok langsung pulang kok."


Akhirnya Ben hanya mengangguk merasa aman.


Ilyas tidak jadi dijemput oleh Jia karna pria itu lebih dulu pergi ke bandara pakai taksi sedangkan Jia, gadis itu kesiangan. Hampir saja akan ketinggalan pesawat kalau tidak buru-buru dibangunkan oleh Ben, sedangkan Sera. Wanita itu sudah balik ke Jakarta pada saat malam karna katanya besok pagi dia ada meeting mendadak.


"Yaudah gue balik. Safe flight," pamitnya sambil mengusak kepala Jia yang membuat gadis itu kesal karna rambutnya habis dicatok malah diacak-acak oleh si tangan besar.


"I potong ya tangan you kalo begitu terus." ancamannya tidak pernah diindahkan oleh Ben, pria itu acuh tak acuh, "Duluan bro! Nitip si mungil." pintanya pada Ilyas.


Ilyas terkekeuh lalu mengacungkan jempolnya menandakan 'siap.'


"Ayok, mau sarapan dulu?" tanya Ilyas sambil mendorong punggung Jia karna gadis itu terus-terusan memperhatikan ponselnya. Merasa tidak ada jawaban Ilyas bertanya kembali, "Ji? Mau sarapan dulu gak?"


Jia mengalihkan tatapannya dari ponsel ke Ilyas, "Hah? Nggak. Langsung aja."


"Udah sarapan?" tanya kembali sambil mengambil alih koper Jia. Entah mengapa gadis ini malah membawa koper padahal hanya seharian bahkan dia membawa koper yang berukuran lumayan besar.


"Belum."


"Yaudah sarapan dulu. Ayok beli roti kalau mau makan yang simple." katanya sambil menuntun Jia, "lagi liat apa sih?" Ilyas melirik ponsel Jia yang sedang menampilkan kolom komentar.


"Ini. Review soal novel yang bakalan diangkat jadi film."


"Kamu yang bakalan jadi pemainnya?" tebak Ilyas.


"Iya, aku jadi pemeran utama lagi."


Ilyas mengangguk-angguk, "Tentang apa?"


.


"Heunggg... Gak tau. Aku belum baca, baru baca blurbnya. Katanya sih tentang perempuan yang lagi berjuang buat keluar dari keluarganya yang toxic."

__ADS_1


"Kamu nerima kerjaan tanpa tau itu isinya apa?"


"Iya, yang ngatur segalanya Ben. Dia udah tau mana yang aku suka sama yang gak aku suka. Jadi ya, terserah dia."


Ilyas terdiam mendengarnya, "Kamu, Sera, sama Ben sahabatan dari lama?"


"Iya, dari lama banget. Udah kaya kembar tiga aja walau aku paling muda diantara mereka."


"Serius? Beda berapa tahun?" tanyanya sambil memesan roti di tempat pembelian makanan.


"Setaun doang. Aku lebih dulu sekolah jadinya sekelas sama mereka."


"Sekolah dimana dulu?"


"SPH."


Tidak kaget sih. Memang pasti dari kalangan mereka bersekolahnya di SMA PELITA HARAPAN. Yayasan yang terkenal rata-rata yang masuknya adalah kalangan orang berada.


"Kamu aslinya dari Jakarta?"


Jia mengangguk sambil memakan roti, "Iya, dulu tinggal di Jakarta Selatan dari kecil terus Papih pindah ke Surabaya pas Mamih meninggal sambil ngelola pabrik baru yang disana."


"Maaf, ya."


"Lah kenapa minta maaf?" Jia memasukan kertas bekas rotinya ke dalam tempat sampah lalu mereka mulai berjalan bersiap untuk menaiki pesawat.


Jia menggeleng sambil mulai diperiksa diri oleh pegawai bandara, "Gapapa. Santai aja."


Dia sudah mulai terbiasa oleh rasa sakitnya, jadi ketika dia mengingat kembali sudah tidak merasakan sakit lagi.


...----------------...


Seumur hidupnya, Jia tidak pernah menginjakan kakinya di Kuala Lumpur. Padahal ini adalah negara tetangganya, dan ketika dia sering berpergian ke luar negri saja tidak kepikiran untuk mampir ke Malaysia. Dan sekarang dia menginjakan kakinya di Negara sebrang bersama dengan pria yang akan menjadi pendamping hidupnya sementara, mungkin.


"Kamu pernah kesini?"


Jia menggelengkan kepalanya. Mereka sedang mencari jemputan, katanya yang menjemputnya adalah sepupu Ilyas.


Disana seorang wanita seumuran dengan Jia melambai-lambai dengan senyuman ramah. Wajahnya tidak mirip dengan Ilyas, gadis itu mempunyai lesung pipi di kedua pipinya membuat tampak manis.


"Hallo! Hows flight? Anyway, hi Jia! Aku Najilah panggil Jila aja. Oiya, Kamu cantik banget lebih dari yang sering aku liat di film-film yang kamu mainkan." Pujinya.


"No bad," jawab Ilyas soal menanyakan bagaimana perjalanan terbang mereka.


"Hi, Jila. Thank you ahaha. Nice to meet you. Kamu lancar bahasa Indonesia?"

__ADS_1


Perempuan yang lebih tinggi darinya itu mengangguk, "Yap, aku belajar dari Ilyas. Apalagi terkadang aku suka nonton beberapa film dari Indonesia."


Jia mengangguk paham, "Keren. Nanti ajarin aku juga bahasa Malaysia, ya?" canda Jia walau kalau betulan diajari sih mau.


""Boleh. Minta Ilyas aja, dia bakalan jadi guru paling sabar. Jadi, tujuan kita mau kemana ini?" tanyanya sambil memuka pintu mobilnya.


"Ke rumah Yasa aja dulu."


Jia agak sedikit terkejut Ilyas memanggilnya memakai namanya sendiri dan itu terdengar sangat membuka Jia ingin tersenyum mesem-mesem namun harus dia tahan sebisa mungkin.


"Gak akan keliling dulu nih?" tanya Jila ketika mereka sudah siap jalan.


"Jia capek?"


Jia menggeleng, Jia duduk di belakang sendiri. Sedangkan Ilyas bersama dengan Jila di depan.


"Jadi mau jalan-jalan?"


"Kita makan siang aja deh di luar, nanti dinner di rumah Opah kan, Jil?"


Jila mengangguk sambil memutar stirnya, mereka akan keluar dari area parkiran.


"Iya, udah nyiapin masakan banyak banget tuh demi menyambut kamu. Mentang-mentang Cucu kesayangan, ditambah bawa kabar calon istri lagi. Makin gempar gak tuh di rumh."


Ilyas terkekeuh ketika mendengar celotehan dari Jila.


"Jarang banget pulang. Sekali pulang bikin sibuk seluruh keluarga wajib hadir seakan kau ini presiden." katanya dengan berdecih, "Jia mau makan apa?"


"Euh... Gak tau. Terserah kalian aja."


"Okay, kita makan yang enak. Yang bayar Ilyas." ujarnya dengan diselingi tawa meledak.


"Iya, iya. Pilih deh mau makan apa."


"Assam laksa gimana? Setuju gak?"


"Jia mau?" bukannya menjawab iya atau tidak. Ilyas malah bertanya balik kepada Jia.


"Assam Laksa makanan kaya gimana?"


"Mie gitu. Kamu pasti bakal suka deh, mau?"


Jia mengangguk walau tidak akan terlihat oleh kedua orang di depannya, "Mau. Apa aja Jia mau asal gak diracunin."


Jila terkekeuh, "Gak mungkinlah. Yang ada aku bakalan masuk penjara sebelum nyusul nikah Ilyas."

__ADS_1


Lalu mereka bertiga saling melemparkan tawaan dan saling mengobrol ringan, bertanya-tanya soal cuaca, makanan, ataupun industri perfilman.


Dari sini Jia menyatakan, kalau Jila adalah sosok yang humble, dia sosok yang bisa menjadi teman yang menyenangkan. Jia jadi teringat Jasmine, mereka sedikit mirip walau berbeda gaya style. Najila ini stylenya sedikit tomboy, sedangkan Jasmine sangat feminine sama sepertinya.


__ADS_2