
Jia merasa deja vu pernah nonton adegan ini dari fim yang dia tonton. Walau dia tidak menyukai sinetron. Namun, ia tetap harus tahu kesukaan target pasarnya. Adegan dimana si calon menantu sedang di dalam ujian tes masak dari calon mertua. Sebenarnya, Jia tidak mempermasalahkan soal disuruh masak, masalahnya ada dia disandingkan dengan Nadya juga. Gadis itu ikut andil dalam memasak bersama Ibu Ilyas.
Ilyas menonton dari meja makan. Mata Ilyas fokus pada kedua wanita yang berbeda jauh itu.
"Coba tolong ambilkan kunyit, Jia."
Jia yang merasa dipanggil langsung mengalihkan tatapannya ke arah tempat perbumbuan itu. Dia mulai linglung, kunyit itu yang mana? Seumur hidup dia tidak pernah ikut andil dalam perdapuran, kecuali membuat cake. Dari kecil Jia tidak menyukai acara memasak, dia lebih menyukai membuat adonan kue bersama mendiang Mamihnya.
Mata Jia melirik ke arah Ilyas seolah meminta bantuan. Sebelum membantu Jia, Ilyas malah tersenyum geli melihat raut memelas Jia yang meminta tolong. Bagai kucing yang sedang meminta diberi makan.
Ilyas langsung mengarahkan jarinya menunjuk kunyit di sebelah jahe dan Jia malah mengambil jahe untuk ditunjukan ke Ilyas kalau itu kah yang dia tunjuk? Ilyas menggeleng lalu memberi kode di sebelahnya. Jia bergumam 'ohh' lalu mengambil kunyit dan menunjukan lagi ke Ilyas lalu Ilyas mengangguk dengan senyum.
"Ada gak, Jia?" Tanya Ibunya Ilyas memastikan, melihat ke arah Jia.
Jia langsung menoleh ke arah Ibu Ilyas dan memberikan kunyit itu.
Ibunya Ilyas menerimanya sambil berdehem pelan, "Sama kencur sekalian." kali ini Ibunya Ilyas sambil memandangi Jia membuat Jia kikuk bingung tidak bisa meminta bantuan Ilyas.
Jia melirik sekilas ke Ilyas dan Ibunya Ilyas juga melihat saling tatap dari anaknya dan gadis yang berambut merah menyala itu.
"Kamu tahu kencur yang bagaimana bentuknya tidak?"
"Euh..." Jia menggaruk rambutnya yang tidak gatal kebingunga.
Ibunya Ilyas berdecak, "Nad, tolong ambilkan kencur." perintah Ibunya Ilyas membuat kegiatan Nadya yang sedang mencuci sayuran itu terhenti.
Nadya langsung mengeringkan tangannya lalu mengambil kencur di sebelah Jia dan langsung menyerahkan kepada Ibunya Ilyas.
"Gitu saja tidak tahu. Gimana bisa jadi istri nanti? Mau dikasih makan apa suaminya kalau tidak bisa masak?"
"Kan bisa beli." sayangnya, mulut Jia itu tidak bisa difilter atau dihentikan. Dia akan menjawab apapun yang dia mau omongkan tanpa melihat apakah itu berbahaya atau tidaknya.
"Beli, beli. Menghamburkan uang saja."
"Gapapa, Jia banyak uang kok, Bu." Celetuk Jia dengan wajah polosnya.
"Beli itu rasanya kadang tidak enak."
__ADS_1
"Jia punya chef pribadi kok, Bu. Dan rasanya enak. Biasa bekerja di hotel bintang 5. Dulu juga, dianya belajar masak di Amsterdam."
Ibunya Ilyas mendengus, "Percuma kalau begitu. Ilyas lebih suka makanan yang sederhana tidak mewah-mewah."
Skak! Jia kalah telak. Jia melirik ke arah Ilyas meminta jawaban yang sebenarnya.
Ilyas memandangnya balik dengan senyuman tipis. "Ilyas suka apa aja yang dikasih Jia." Ilyas ikut menimbrung agar gadis itu terasa dilindungi.
"Kamu mau dikasih racun juga?"
Kenapa sih? Kenapa Ibunya Ilyas sangat sensi pada Jia? Padahal Jia diam saja sepertinya salah dimata Ibunya Ilyas itu.
"Cari calon istri tuh yang kaya Nadya. Dia pintar masak, suka anak kecil, terus baik pula. Jangan perempuan yang bisanya jadi beban aja."
Nadya yang disebut dan dipuji langsung memerah pipinya.
"Kaya Mbak Nadya itu maksudnya yang suka selingkuh, Bu?" Tanya Jia tidak tahan. Dia tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain.
Dan karna ucapannya semuanya hening. Jia bisa melihat bahwa Nadya menatapnya dengan tatapan marah seakan sekarang juga bisa mencakar wajah Jia dengan kukunya itu.
...----------------...
Ilyas menariknya untuk pergi dari dapur daripada terjadi peperangan dunia seorang wanita yang bisa menghancurkan dapur kapan saja. Lebih baik dicegah lebih dulu daripada semakin memanas.
"Maafin Ibu, ya? Tapi saya juga gak suka sama sikap kamu tadi."
"Kenapa? Karna kamu masih ada perasaan sama dia? Jadinya kamu ngebela dia?" Tanya Jia dengan sewotan.
"Bukan begitu. Tapi itu gak sopan Jia dan menyakiti perasaan seseorang."
Ternyata Ilyas salah. Mengenai emosionalnya Jia. Gadis itu bisa kapan saja meledak-meledak bak bom yang dikumpulkan.
"Menurut kamu ucapan Ibu kamu itu sopan atau ngga, Kak? Gini, ya. Persoalan disini adalah bukan soal orang tua dan anak-anak. Tapi Jia sendiri ini manusia. Jia juga punya perasaan kali! Jia gak suka dibanding-bandingin gitu."
Ilyas menghembuskan nafasnya panjang. "Oke, oke. Maafin saya, ya? Kita lupain semuanya. Sekarang kamu tenangin diri kamu dulu.
Jia memalingkan tatapannya ke arah lain yang penting bukan menatap lelaki jangkung yang berada di dekatnya itu. Mengapa Jia harus marah? Harusnya dia berpura-pura tenang. Kemana pengendalian dirinya? Kenapa dia menjadi sangat emosi?
__ADS_1
"Maaf." Cicit Jia disela-sela kediaman mereka di bangku taman belakang itu.
"Iya, gapapa. Mau balik lagi ke dalem?"
"Disini aja. Nanti aja balik laginya pas mau makan aja," pinta Jia. Dia malas berdebat kembali dan takut malah semakin panas.
Ilyas mengangguk, "Tapi panas. Nanti kamu kebakar."
"Gapapa."
"Saya kebakar."
Jia melirik Ilyas. Mengapa dia mengatakan tidak apa-apa pada dirinya tapi tidak memperdulikan orang disekitarnya? Sungguh kebodohan yang telah dia perbuat.
"Maaf, ayok masuk aja deh. Tapi Jia gak mau ke dapur."
"Mau ke kamar Mbak aku? Disana ada anaknya yang dulu nawarin kamu es krim, kayanya sekarang udah bangun."
Mendengar Mbaknya Ilyas disebut otomatis Jia jadi bersemangat. Dia lebih suka berada di dekat Mbaknya Ilyas kaena merasakan aura dingin dan nyaman seperti ubin masjid.
Mbaknya Ilyas dan Ilyas itu membuat magnet yang sama. Orang yang hangat pada siapa pun, orang yang berada di dekat mereka akan merasa nyaman.
"Mau! Ayok! Kenapa kamu gak bilang ada anak Mbak kamu? Jia jadinya gak bawa apa-apa." Tanya Jia sudah berdiri dengan bersemangat.
"Memangnya kamu mau ngasih apa?"
"Es krim? Dulu kan pas ketemu dia lagi makan es krim. Pasti suka es krim."
"Nanti dimarahin Uminya."
Jia tersenyum mendengar itu, "Dia manggil Umi, ya ke Mbak kamu?"
"Iya, kenapa malah senyum-senyum?"
"Gapapa. Lucu aja. Jia juga kalau udah punya anak nanti pengen dipanggil Umi."
Punya anak, padahal entah anak dari siapa. Orang dia menikah saja bukan karna soal cinta. Mereka menikah karna soal kerja sama satu sama lain yang Jia sendiri masih mengetahui apa motif lelaki itu.
__ADS_1
"Iya Umi. Ayok masuk." Giringnya berjalan lebih dulu.